SN, SI, SNI, dan Petisi

SN SI SNI Petisi

Yang termasuk prestasi itu adalah bahwa kita memiliki sebuah Standar Nasional, namanya juga cukup standar; Standar Nasional Indonesia (SNI).

Betapa tidak, bangsa yang gak punya aturan pada banyak hal ini tiba-tiba kudu manut aturan yang dirumuskan oleh WTO ~ Code of good practice dalam memproduksi barang dan jasa. Dan itu susah. Tapi, dan maka, <- (Baru nih 😃 ) ada pilihan lain yang lebih masuk akal untuk urusan dagang dan sebangsanya, yaitu ikut standar MUI saja. Murah-mahalnya tergantung frekuensi silaturahmi dan ketabayunan, tapi yang jelas untuk urusan calon konsumen, standar MUI yang tak lain adalah “Label Halal” ini dijamin lebih marketebel.

Ya, Label Halal, saya tak punya kompetensi membincang hal itu, dan dengan lebih tertarik membicarakan urusan Standar Nasional juga bukan berarti saya paham banget soal ini. Saya hanya merasa ada kegairahan masa kanak-kanak yang berbeda ketika membandingkan Standar Nasional dan Label Halal. Masa-masa di mana saya dikenalkan bapak tentang Nasionalisme secara sederhana, tentang #BelaNegara dengan mengangkat senapan pelepah pisang. Tentang bagaimana menjadi bocah patriot yang mengusir penjajah, dan – tiba-tiba setting waktu bergerak cepat menjadi masa SMP, – sebagai anak abangan yang mewaspadai “Islam”. Kemudian saya beranjak SMA. Sebagaimana tradisi remaja SMA, Nasionalisme dan Islam tak henti tawuran di benak saya. Ketika Nasionalisme menang, saya menjadi semacam Ahmad Dhani di masa mendatang, dan saat Islam menang, saya menjadi sejenis Felix Siauw, juga di masa depan. Dan entah bergaul dengan siapa saat kuliah, keduanya; Nasionalisme dan/atau Islam menjadi tak lagi menarik minat untuk saya ikuti. Mungkin standar saya yang sudah berubah bahkan ketika Ahmad Dhani masih asyik-asyik aja men dan Felix Siauw belum lahir.

Dan sekarang sampai di kekinian. Di depan saya ada sosmed, di layar betebaran SN inisial Setya Novanto dan SI inisial (PT) Semen Indonesia. Ini sial banget, dari kombinasi inisial SN dan SI ini saya tergeret ke SNI tadi. SN, langsung atau tidak telah mengutip duit kita buat sowan ke Amrik dan lantas menjadi semacam boneka Si Tongky untuk mengiyakan Donald Trump secara “Highly”. Selain itu, inisialnya juga meriuhkan lini masa gegara mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden agar mendapat saham di Freeport. Lantas apa hubungannya dengan SNI? Alamak, dia ini Ketua DPR-RI, wakil rakyat yang terhormat, representasi konstiuen, yang kalian suka atau tidak, dia merasa berhak bahkan pantas menghitungkan diri sebagai Standar Nasional Indonesia. Setidaknya sampai tulisan ini dimuat, kepantasan dia masih sah mempecundangi kalian. Sampai nanti, sampai hukum yang adil membahagiakan kalian. Salah satu upayanya adalah dengan turut mengisi petisinya1), bukan dengan hanya memanjatkan doa.

Inisial berikutnya adalah SI, Inisial untuk PT. Semen Indonesia ini juga mengharu-biru lini masa, selain mengharu-biru Warga Kendeng. Di lini masa twiter saya, bendera SI dikerek di tiang Merah-Putih, dikibarkan oleh akun-akun bot ProSemen. Dan kemudian mudah ditebak, sebuah drama nasionalisme tergelar. Nama “Indonesia” di dalam Semen Indonesia menjadi bernilai “NKRI Harga Mati”, sedang para aktivis penolak pabrik semen dipagari secara chauvinistik oleh penguasa setempat dengan “Wong Kendeng” dan “Bukan Wong Kendeng”. Di sinilah kita menemukan SNI yang dibeton menjadi Standar Nasionalisme Indonesia. Mereka yang menolak Semen Indonesia, adalah menghambat pembangunan nasional, menghambat pembangunan nasional artinya tak nasionalis, dan yang tak nasionalis layak dilibas kata Luhut. Sedang mereka yang pro pembangunan pabrik semen layak menyandang gelar sebagai orang-orang yang nasionalis. Orang yang berjiwa nasionalis tak layak dipapuakan. Kaum nasionalis mendapat semen gratis jika membangun rumah tembok. Ha ha ha, ya enggak lah! Nasionalisme artinya memberi kepada negara, bukan menerima gratis dari perusahaan. Artinya, tak guna juga mendukung pabrik. Biarlah dikata tak nasionalis kalau kelak cuma menjadi buruh korporasi pemerkosa Ibu Bumi, sebab masih ada pilihan bermartabat menjadi Marhaenis di tanah garapan milik sendiri. Bagaimana menjaga semua ini? Ada upaya kecil yang nilai probabilitasnya lebih besar setelah pemanjatan doa, yaitu cukup dengan menandatangani petisinya2).

Penutup; Ahmad Dhani dan Felix Siauw tak riuh betebaran di lini masa saya bukan karena inisial mereka AD dan FS tak menyerempet SNI, tapi karena akun twiter saya diblock. #CurcolColongan. Tapi kalau toh mau sedikit bersia-sia stalking, saya yakin banyak bahan tentang standar nasionalisme dari mereka yang layak dibahas. Atau kira-kira perlu tidak ya memetisi mereka?

Terima kasih, saya penulis yang suka tahu petis.

_______________________________

1)[https://www.change.org/p/pecat-ketua-dpr-setya-novanto-yang-mencatut-nama-presiden-joko-widodo-dan-wapres-jk?source_location=trending_petitions_home_page&algorithm=curated_trending]

2)[https://www.change.org/p/hentikan-operasi-tambang-amp-pabrik-semen-di-rembang-ganjarpranowo-bravonur-rembangmelawan?utm_source=action_alert&utm_medium=email&utm_campaign=267336&alert_id=hdZJpGdVav_pbjjipcJCpIzVDm8cHncQ2CMJb3%2BHS8I8guJNl3AbTI%3D]

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to SN, SI, SNI, dan Petisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s