Bang Ali Sudah Habis

“Buatlah Jakarta ini kebanggaan seluruh rakyat Indonesia, malahan jadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini”.

— Bung Karno usai melantik Bang Ali sebagai Gubernur DKI, 28 April 1966 –.


Tak lama Sukarno dikudeta Orba, dan hingga sepeninggalan Ali Sadikin, Jakarta tak bisa dikendalikan siapapun. Jangankan menjadi kekaguman bangsa-bangsa dunia, menjadi kebanggaan rakyat Indonesia saja hanyalah sekadar perayaan tahunan. Ia ibarat bocah tua nakal yang lahir bersama kutukan. Tulisan ini saya sajikan untuk merayakan Bulan Bung Karno sekaligus untuk mengenang Bang Ali dan Ultah Jakarta. Bersama ini saya sertakan hasil wawancara imajiner saya dengan Bang Ali di Tabloid Telegraf News edisi Juni, setahun yang lalu.
———————-

>Jakarta Butuh Darah Muda!

Malam Kamis, 16 Juni 2011 adalah saat yang amat saya tunggu. Inilah malam yang tepat untuk saya memulai pengembaraan spiritual menemui arwah Bang Ali. Ya, malam ini telah terjadi gerhana bulan terlama dalam sejarah. Setelah bebersih diri, saya mulai bermeditasi dalam keheningan… dan kami bertemu dengan khusyu…

Telegraf News (TN): Selamat malam Bang Ali…

Bang Ali (BA): Selamat malam.. kita lakukan dengan seksama selama purnama tertutup bumi ya..

TN: Baik bang, langsung saja, apa yang bisa abang katakan dari usia Jakarta yang sudah menginjak 484 tahun?

BA: Ah, ni yang abang prihatinkan. Sepeninggalan abang, Jakarta tampak semakin terpuruk. Kasihan jakarta semakin tua, namun pengelolaannya semakin tak dewasa. Bukankah seharusnya Jakarta bisa menjadi tolok ukur kota besar di Asia Tenggara atau bahkan dunia?

TN: Apa alasannya bang?

BA: Jakarta itu kota yang sesungguhnya mempunyai potensi untuk berkembang leih bagus. Lihatlah, segalanya ada, khususnya sumberdaya penduduknya yang tinggal di dalamnya. Bukankah di sana banyak tinggal pemuda yang kreatif dan penuh semangat? Tapi lihatlah, mereka tak mendapat kesempatan yang seharusnya milik mereka.

TN: Tapi bang, bukankah persoalannya tak sesederhana itu? Amat banyak yang harus dihadapi seperti banjir, sampah, dan kemacetan?

BA: Tentu saja kita sama-sama tahu keruwetan itu, tapi pasti ada yang bisa mengurai semua itu, yaitu Orang Muda!

TN: Lantas kenapa semua itu tak terjadi?

BA: Ya jelas tak terjadi.Mereka kaum muda itu tak mendapat perlakuan adil. Sistem tak memberi keadilan kepada mereka. Dan itu terus terang mereka alami sejak Orba.

TN: Tapi bukankah itu juga artinya jaman abang sedang berkuasa?

BA: Betul, tak abang pungkiri, sistem yang menguntungkan buat abang. Tapi abang tahu diri, dengan tanggung jawab itu abang harus memudakan program-program pembangunan Jakarta. Abang memang kaum tua, tapi semangat abang harus mencerminkan semangat kaum muda.

TN: Tentu sulit ya bang?

BA: Pasti! Seperti yang kalian tahu dari catatan sejarah, betapa program-program semangat muda itu mendapat penentangan sengit! Tapi abang terus maju, itulah semangat muda.

TN: Betul bang, kalau tak begitu, tak ada TIM, Ancol, dan pusat budaya yang lain.

[Bulan masih tertutup bumi, tapisemakin bergerak membuka. Tak terasa waktu bergerak amat cepat di dunia ruri ini]

TN: Bang, bagaimana dengan kasino, dan pusat hiburan malam yang menjadi ide kontroversial itu?

BA: Ah, itulah mereka yang sok tahu. Kalau mau konsisten, mereka harusnya tak bermobil di atas jalanan Jakarta. Haram atuh! Kumaha urang duit pembangunannya dari APBD kok. Dari mana duit APBD?

TN: Tapi tidak berlanjut ya bang?

BA: Ya, begitulah, padahal niat baiknya kan justru untuk menjaga agar judi terlokalisir, kemaksiatan tidak menyebar. Nah sekarang lihat sendiri, duit para cukong dan taipan itu pada lari ke luar negeri, Tanah Genting, Singapura, dan laut lepas. Sementara kita cuma dapat maksiatnya doang.

TN: Bang, kira-kira hal tiu bisa diwujudkan kembali tidak ya?

BA: Ah, mana mungkin? Jakarta terlanjur kacau, dan pengelolaannya semakin tak dewasa. Jakartanya doang yang semakin tua. Parahnya lagi banyk preman yang semakin kanan. Program berjiwa muda hanya tinggal kenangan. Kalau mau mewujudkan lagi, Jakarta harus dipimpin oleh orangmuda yang benar-benar gila! Itu saja.

TN: Okay bang, terima kasih, silakan kembali beristirahat.

[Bulan telah kembali terbuka, menampilkan wajah yang tak tertutup persada. Menjelang pagi, keriuhan dan asapkemunafikan kembali menyelimuti Jakarta]

———————-

Hari ini, pada ulang tahunnya yang ke 485 ini, Jakarta semakin liar. Mal bertumbuhan, menjadi ruang pertemuan para muda, tapi kaum muda sampah kapitalis. Kelab malam merimbun, menjadi ruang berhimpun kaum muda, tapi kaum muda hedonis. Para muda yang semangatnya tidak diingini oleh orang seperti Bang Ali, juga oleh orang hebat seperti Bung Karno. Keduanya sosok yang menaruh hormat hanya kepada kaum muda revolusioner. Mereka yang bila berkumpul ibarat bisa memindahkan Mahameru. Meski mengidamkan jiwa-jiwa muda nan perwira, Bung Karno ataupun Bang Ali bukan berarti tipe orang tua yang kaku dan menolak hiburan. Mereka tidak menafikan keriangan.
dilarang pacaran

Saya bangun Lapangan Monas, saya bangun Ancol. Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. Awas lu ya, kalau mengganggu. Kalau melacur tidak boleh. Tapi kalau pacaran, lho itu kan anugerah Allah. Sudah pernah pacaran? Kan senang, bahagia… Makanya tidak boleh diganggu. […] Ini saya hayati. Berikan tempat untuk berhibur. Nah, orang tidak mengerti bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata. Dus, pikiran kita harus sampai ke sana”.

— Ali Sadikin, Gubernur Jakarta 1966 – 1977, Majalah Tiara, 4 Agustus 1991 –

Nah, di sekitar perayaan hari lahir Jakarta tahun ini ada ritual politik pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Siapapun yang kelak menjadi DKI 1, saya berharap dia memiliki kebijakan mendekati Bang Ali, yang memberi ruang aman dan nyaman bagi kaum muda. Atau seperti Bung Karno, salah seorang yang pada hari lahir Jakarta 1945 merasa harus membebaskan sebuah naskah dari beberapa kata tak membebaskan. Tapi kalau bangsa ini memang sudah kehabisan orang hebat, atau Jakarta akan menjadi kota mati, hijrah saja kata Iwan Fals. Untuk itu bahkan Bung Karno telah merencanakan ibu kota pengganti Jakarta.


Dirgahayu! Tiup lilin..

This entry was posted in Budaya and tagged . Bookmark the permalink.

47 Responses to Bang Ali Sudah Habis

  1. martoart says:

    Tidak begitu terlambat untuk mangayu bagya harlah ibu kota republik tertua di Asia Tenggara Foto pelantikan Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta, dan foto sepasang remaja di dekat spanduk larangan pacaran diunduh dari internet tanpa permisi kepada fotografernya lantaran tidak tahu siapa. Gambar ‘Monas Padam’ karya saya sendiri.Tema pacaran yang masuk dalam sebagian postingan harlah Jakarta ini terinspirasi tulisan “Pada Sebuah Jembatan”, Majalah Bung! edisi ke tiga.Silakan baca sambil menikmati lagu dari Bang Iwan Fals

  2. bimosaurus says:

    semoga api lilin monas jangan mati ketiup

  3. orangjava says:

    Ach ya……..Monas……1965-1966…….

  4. Dirgahayu juga…..*sebul api monas*

  5. Serahkan pada kumisnya aja

  6. rirhikyu says:

    Cuma mo bilang, banyak typo nya *grin*Situ dah tua ya? Ehhh, tp semangat kudu teteup muda cak *kedip* (kelilipan asepnya monas)

  7. anazkia says:

    Mbah, preman kanan kuwi maksute opo?

  8. karonkeren says:

    pindahin ibukota ke palangkaraya … at least fpi gak bakalan mengacau karena takut dikayau sama orang dayak … bhuehehehe

  9. martoart says:

    anazkia said: preman kanan

    Pelaku kriminalitas yang berbuat jahat karena sadar punya kekuatan atas nama apapun, dalam hal ini atas nama agama. Dulu sekadar atas nama nasionalisme.Sedang preman ‘kiri’ melakukan kejahatan atas dasar miskin dan butuh hidup. Sederhananya gitu. Trims pertanyaan jelinya Nas.

  10. itsmearni says:

    asik…mau pacaran dulu ah

  11. wib711 says:

    cak marto ikut jadi pemilih ga?

  12. martoart says:

    wib711 said: cak marto ikut jadi pemilih ga?

    Kali ini masih bingung. Biasanya Golput.

  13. martoart says:

    rirhikyu said: banyak typo nya

    Kasih tahu Feb kalo lagi ga repot*Jadi mikir jangan2 emang udah tua gw

  14. martoart said: Kali ini masih bingung.

    You will choose the fat pig or the mustached fucker?

  15. rirhikyu says:

    Kalau pake lappie gw kasih tau typonya ya.Mana KaTePenya, sini aku liat *grin*

  16. 25102004 says:

    martoart said: . Nah sekarang lihat sendiri, duit para cukong dan taipan itu pada lari ke luar negeri, Tanah Genting, Singapura, dan laut lepas. Sementara kita cuma dapat maksiatnya doang.

    keduman apes-e

  17. ohtrie says:

    Kata Foke; “Yang -berjiwa- muda itu belum bisa ngebedain antara banjir dan genangan air, so belum saatnya maju jadi jago pemimpin Jakarta.”Masih mau ngeyel lagi..?Kata Bang Foke selanjutnya; “Sapa suruh dateng Jakarte..!” #JalanLempeng :))

  18. rengganiez says:

    Kalo Ali Sadikin masih jadi Gubernur, piye yoh FPI ama FBR, apa eksis juga yohhh??

  19. martoart says:

    edwinlives4ever said: You will choose the fat pig or the mustached fucker?

    tertarik yg tak berkumis, tak berjenggot, tak pula berjanggut.

  20. martoart says:

    rengganiez said: Kalo Ali Sadikin masih jadi Gubernur, piye yoh FPI ama FBR, apa eksis juga yohhh??

    Pas wawancara di sela gerhana itu aku lupa nanya.

  21. afemaleguest says:

    nice posting*ga pernah ngerasain tinggal di Jakarta sebagai penduduk, paling pendatang cuma sehari dua hari*

  22. orangjava says:

    martoart said: Kali ini masih bingung. Biasanya Golput.

    Kebanyakan Golput, yang terpilih nanti yang bloon lagi…

  23. Komentar photo Monas:Itu kalo dibikin model gif animated bisa lebih keren lagi. Api lilinnya bisa gerak krn ketiup, kemudian padam, trus tinggal asapnya aja.

  24. Kebijakan Bang Ali memang kontroversial banget, melawan arus, dan jelas akan sulit diterima oleh penduduk Jakarta yg mayoritas muslim. Saking kontroversialnya, beliau pernah bilang: “Demi judi, saya rela masuk neraka” Itu disampaikan saat beliau berupaya bikin program spt Genting Highland.

  25. ohtrie says:

    fightforfreedom said: “Demi judi, saya rela masuk neraka”

    Pandangan Cak Iwan ndiri tentang judi n kehidupan esek-esek lainnya itu gimana Cakk..?Setuju dengan Bang Ali karena terlokalisir dan ada uang masuk, ato seperti kebanyakan saat ini yang sudah ada…?*Aku serius nanya lho ini Cak

  26. ohtrie said: Pandangan Cak Iwan ndiri tentang judi n kehidupan esek-esek lainnya itu gimana Cakk..?Setuju dengan Bang Ali karena terlokalisir dan ada uang masuk, ato seperti kebanyakan saat ini yang sudah ada…?*Aku serius nanya lho ini Cak

    Mas Tri, saya rasa melegalkan judi n kehidupan esek-esek lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya.Bagi yg meyakini dan mengimani bahwa segala bentuk perjudian itu adalah haram, maka mereka akan menolak adanya program legalisasi tsb, krn merasa berdosa saat menikmati hasil pembangunan dari judi & lokalisasi. Nah, jumlah yg menolak pasti banyak, demikian juga yg mendukung program tsb tentu juga tidak sedikit. Kondisi pertentangan ini berpotensi menimbulkan friksi di masyarakat itu sendiri. Ini salah satu mudharat-nya. Gesekan akan mudah terjadi di arus bawah, yg mudah sekali digosok oleh opini media.Kenapa Malaysia bisa mewujudkan proyek Genting-nya? Menurut saya itu krn pendekatan (pemaparan program) yg dilakukan penguasa (pemerintah) di sana bisa diterima seluruh masyarakat di sana, shg tidak menimbulkan friksi. Regulasi dan implementasinya bisa tegas dilaksanakan (tanpa/minim penyimpangan). Kalo di sini, baru sebatas wacana saja, sudah muncul demo besar-besaran untuk penolakan; dengan dalih selain soal bila dikaitkan dg agama, juga krn krisis kepercayaan kpd pemerintah dlm implementasi regulasi lokalisasi (judi ‘n esek2), ya karena korupsi sudah jadi budaya di sini.Dalam perspektif lainnya, apakah negara ini sudah sedemikian miskin shg harus menjadikan perjudian atau lokalisasi esek2 sbg pemasukan kas daerah atau negara? Kenyataannya memang, Indonesia adalah negara yg punya SDA yg beraneka ragam. Hanya saja gak optimal memanfaatkannya, karena ketidakbecusan pemerintah dalam mengelolanya, selain juga kerusakan mental para aparatnya yg akhirnya justru dinikmati oleh bangsa lain.Jadi, hal utama bila benar-benar ingin meningkatkan pemasukan kas daerah / negara ya fokus dulu ke pemanfaatan SDA yg melimpah ruah itu, dikelola dg baik.

  27. martoart says:

    fightforfreedom said: akan sulit diterima oleh penduduk Jakarta yg mayoritas muslim.

    Diterima sih, wong sebenarnya peraturan pajak dari judi itu udah ada. Masyarakat ga risau. Bang Ali hanya merespon agar lebih dilokalisir. Artinya dibikinkan tempat agar lebih terkontrol, uang penjudi besar yg masuk, bukan kelas bantingan kuli Senin (dimana dia dapat ide ini).Yang risau justru kalangan dpr. Percayalah, kalau itung2an mayoritas, muslim jelas ga terkalahkan di Jakarta. Tapi kalau ngitungnya dari kelakuan, muslim penjudi vs muslim alim akan kalah saat itu.Nah, ketika duit gedhe para taipan ngacir, era berikutnya duit rakyat miskin yg dikeruk lewat SDSB, Porkas, dst.Demokrasi bukan urusan suara terbanyak.

  28. duabadai says:

    kalo lokalisasi Kramtung itu dulu peninggalan siapa?

  29. arddhe says:

    baru 4 tahun punya ktp jakarta, masih piyik🙂

  30. martoart says:

    duabadai said: kalo lokalisasi Kramtung itu dulu peninggalan siapa?

    Bang Ali

  31. daybydai says:

    Jakarta bukan lagi Jaya Karta …mohon ijin share di tempat lain yo, Cak…

  32. martoart says:

    daybydai said: mohon ijin share di tempat lain yo, Cak…

    Sila..

  33. andai ada calon yang punya visi menjadikan jakarta sebagai kota sekuler…

  34. karonkeren says:

    womeninfreedom said: andai ada calon yang punya visi menjadikan jakarta sebagai kota sekuler…

    komporin marto biar nyalon gubernur jakarta

  35. debapirez says:

    Jakarta Butuh Darah Muda? maka pilihlah kak Rhoma Irama sbg gubernurnya🙂

  36. martoart says:

    debapirez said: Rhoma Irama sbg gubernur

    wah, therrlhaaluu…!

  37. debapirez said: pilihlah kak Rhoma Irama sbg gubernurnya🙂

    memang sungguh ther-la-lu, bang haji-nya malah jadi jurkam foke.http://www.republika.co.id/berita/menuju-jakarta-1/news/12/06/28/m6bsxy-keluarga-besar-rhoma-irama-jadi-jurkam-fokenara

  38. liamahyudin says:

    Hmmm…aku nonton ajah, bukan warga Jakarta😀

  39. rirhikyu says:

    martoart said: TN: Apa alasannya bang?BA: Jakarta itu kota yang sesungguhnya mempunyai potensi untuk berkembang leih bagus.

    lebih bagus.

  40. rirhikyu says:

    martoart said: TN: Bang, kira-kira hal tiu bisa diwujudkan kembali tidak ya?BA: Ah, mana mungkin? Jakarta terlanjur kacau, dan pengelolaannya semakin tak dewasa. Jakartanya doang yang semakin tua. Parahnya lagi banyk preman yang semakin kanan.

    kira-kira hal itu…banyak preman

  41. martoart says:

    wa… oh nooo… banyakkk..

  42. rudal2008 says:

    Menarik sekali wawancaranya, Aku juga penggemar Bungkarno, Kemarin aku sempat kaget menemukan buku ttg soekarno saat kunjungannya ke jerman thn 1956, Bliau foto bersama dgn Adenauer pada thn tersebut menjabat sebagai Bundeskanzler di jerman. Judul bukunya “Indonesien Heute” Menarik sekali ceritanya.

  43. martoart says:

    rudal2008 said: Menarik sekali wawancaranya

    Trims bung, beruntung Anda nemu buku yg sepertinya langka. Sila berbagi kisah di MP.

  44. Waktu Golkar kalah dari PPP di Jakarta tahun 1977, Ali Shadiqin tidak merasa salah. Dia bilang, “Saya bukan Gubernurnya Golkar.”

    • martoart says:

      Ini senyampang (bener ga ya istilahnya?), dengan ucapan Kennedy bahwa, “Sekarang saya persiden USA, bukan wakil partai.

      Ingatan saya nih salah pa bener ya? (Ah, setidaknya mulai belajar ngereply di WP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s