SERU SERAU ARUS SARU

Tahukah Anda bahwa sesungguhnya kita tak benar-benar memiliki istilah asli dalam bahasa Indonesia untuk ‘Sesuatu yang bernilai susila buruk’? ‘Asusila’? Bukan, karena ‘Asusila’ bukanlah istilah yang berdiri-sendiri melainkan bentukan bertingkat dari ‘Sila’ (Dasar/Adab) yang mendapat penambahan ‘Su’ (Tinggi/Baik) dan awalan Sansekerta ‘A’ (Tidak/Bukan). Arti utuhnya menjadi ‘Tidak memiliki adab yang baik’. Dari sini mustinya kita bisa memopularkan kosa kata baru ‘Asila’ untuk hanya ‘Tak beradab’, mendampingi ‘Asu’ untuk ‘Tak baik’ saja.

Namun kemudian bahasa Indonesia tampak malu-malu meminjam istilah dari bahasa Jawa, kata itu adalah ‘Saru’. Bukan ‘Mesum’ ataupon ‘Cabul’, karena itu hanya elemen dari ‘Saru’. Jangan pula lupakan nilai rasa dalam berbahasa. Kata ‘Saru’ bernilai netral, sedang ‘Mesum’ dan ‘Cabul’ kental dengan nilai rasa negatif. Peminjaman itu juga seperti terpaksa, karena berkonsekuensi homonim dengan ‘Saru’ yang berarti ‘Samar’. Sebagaimana ketika diberi awalan ‘Me’, menjadi ‘Menyaru’ yang berarti ‘Menyamar’. Karena tak membaku dan tak terdengar resmi, bahasa Indonesia lebih suka mengadopsi dari bahasa Inggris ‘Porn’, maka jadilah ‘Porno’ milik kita. ‘Saru’ sebagaimana ‘Porno’ dalam konteks berbahasa adalah kata bernilai rasa netral. Dia tak perlu diucapkan dengan berbisik saat ngobrol atau dalam diskusi. Sebelum tergelincir jauh ke arah pembahasan bahasa, saya hentikan saja sampai di sini.

Si Asu dan Si Asila

Baiklah, mari kita bersaru-saru dahulu, bersopan-santun belakangan. Saru adalah tindakan seseorang yang dilekatkan dengan kegiatan susila. Kesusilaan adalah moralitas yang acap disampaikan dengan tanda-tanda, simbol, dan pesan metaforis. Sopan-santun adalah satu bentuk simbol susila. Simbol hanya berlaku bila ada orang lain yang memaknai. Artinya salah apabila ada pesan kesopanan boker di kakus duduk dengan melarang berjongkok di atasnya. Sebab boker adalah kegiatan soliter alias bukan sedang bersosialisasi atau pentas. Tidak ada ‘Audience’ yang memaknai posisi boker Anda. Tak ada yang mengetahui sepak-terjang boker Anda, artinya tak saru. Dalam hal itu Anda tak bisa dikatakan sedang berbuat ‘Asila’, beda dengan korupsi, tindakan ini tetap tak baik alias ‘Asu’ meski tak ada yang tahu. Orang Indonesia sepertinya lebih sebal dengan pasangan yang ke-gap saat bercumbu di kosan daripada duitnya diembat koruptor. Pelaku ‘Asila’ bisa diarak telanjang keliling kampung, tapi koruptor dan para ‘Asu’ lainnya aman melenggang bersama senyuman. Kriminalitas lebih bermartabat dari percumbuan birahi. Makanya jangan heran kalau para koruptor yang tengah diadili selalu tampil ‘Susilais’. Memang kita hidup di dunia rejim simbol yang sederhananya boleh Anda terjemahkan dengan rejim citra. Dunia simbol adalah dunia kekuasaan. Siapa menguasainya, dialah yang akan mendominasi adab masyarakat.

Bahkan saat simbol itu bertemu dengan masyarakat, belumlah tentu menemu pemaknaan yang sama. Pun juga ketika menemu pemaknaan yang sama, tak selalu menjadi kesepakatan yang harus diterima. Seringkali dibutuhkan kearifan menanggapi simbol dan pemaknaannya. Buru-buru mencerca simbol tertentu sebagai produk tak beradab hanyalah akan menampilkan ketakbijakan – untuk tak bilang ketololan – sang penghujat sendiri. Penghujatan biasa dilakukan oleh mereka yang pada umumnya terdoktrinasi oleh satu nilai, sehingga misalnya tak bisa menerima tanda dan simbol dengan ketenangan apalagi berharap keriangan.

Fuck You, Fuck Me, Fuck Together!

Tanda kata ‘Fuck’ telah mendapat tanda visual berupa Jari tengah teracung. Tanda visual itu bermula dari penyiratan logis bagi laki-laki akan jari mana yang secara ergonomik paling mudah masuk didalam lubang vagina perempuan (Entah untuk apa, itu urusan belakang, eh depan). Penggunaan tanda itu awalnya jelas bias jender karena hanya pria – dengan asumsi bahwa kecil kemungkinan ditemukan oleh kaum lesbian -, yang layak mengacungkannya kepada perempuan. Bukan pria kepada pria, apa lagi perempuan kepada pria. Untuk terlebih dulu dipahami, bahwa tanda diterjemahkan dengan pengartian dan simbol diterjemahkan dengan pemaknaan. Sehubungan dengan itu, maka pada perkembangannya tanda visual itu kehilangan arti dan berubah menjadi simbol visual dengan makna yang egaliter, karenanya – pada dataran simbol -, perempuan sah saja mengacungkan jari tengah kepada lelaki.

Bagaimana dengan sejarah kata ‘Fuck’ sendiri? Dikisahkan terjadi pageblug alias wabah tertentu yang mengakibatkan kematian dan penurunan kualitas penduduk di Inggris pada abad ke 15. Untuk mengendalikan laju dan sekaligus memurnikan generasi, keluar aturan “Fornication Under Consent of King” (Perzinahan dibawah persetujuan raja), yang menghasilkan akronim ‘FUCK’. Akronim ini digantung di pintu kamar sebagai tanda mereka direstui dalam berasyik-masyuk. Anda bisa menyetarakan dengan tanda gambar di pintu rumah para keluarga jaman Orba yang menyatakan mereka memakai alat kontrasepsi jenis apa dalam ber-KB. Kisah lain yang menyaingi adalah dari Irlandia. Adalah kisah tentang tertangkapnya pasangan pezinah dan mereka terjerat undang-undang perzinahan “For Unlawful Carnal Knowledge” yang juga menghasilkan akronim ‘FUCK’.

Kisah manapun yang Anda percayai dari keduanya hanyalah menjadikan Anda sebagai salah satu korban etimologi palsu banyolan sejarah asal kata ‘Fuck’. Sejatinya kata ini bukan bermula dari akronim bentukan, namun Ia berasal dari rumpun bahasa Jermanik sebagai kosa kata tak resmi bahasa Inggris sejak abad 15. Dalam rumpun bahasa ini beberapa yang tercatat senada dan bermakna senggama adalah; ‘Fokken‘ (Belanda), ‘Fukka‘ (Norwegia), ‘Focka’ (Swedia), dan ‘Ficken (Jerman). Lima abad kemudian kisah nakal tentang akronim itu dicipta para seniman anonim.

Seniman masa berikutnya mengembangkan tanda jari tengah dan kata ‘Fuck’ menjadi simbol. Mereka menebarnya di berbagai karya seni berupa lagu, gambar, satra, tari, teater, dan film. Penebaran ini membebaskan tanda dari kungkungan adab feodalistik. Budaya perlawanan memang tak membiarkan tumbuh-kembangnya tradisi kontra kesetaraan yang berbalut norma. Kaum borjuasi Eropa masa lalu, juga para bangsawan Jawa memberi aturan ketat dalam berinteraksi. Etiket, adab, tradisi, sopan santun, bersikap, dan berbahasa, selama berabad-abad telah lebih menjadi salah satu mekanisme kendali kekuasaan dan jarak, dibanding niat utama menciptakan keharmonisan sesama. Tradisi kaum muda yang berbeda dari aturan main dan pola komunikasi para tua akhirnya menjadi perlawanan tatanan sosial yang bertabur kemunafikan. Konsekuensinya keterbukaan dan tradisi baru dikatakan tak beradab. Hal ini bisa disebandingkan dengan predikat sesat dalam konteks agama.

Mereka yang terbiasa nyaman dengan harmoni justru acap memasung peradaban dengan hipokrisi. Berbagai peraturan pengekangan terus dihadirkan atas nama undang-undang, norma, tradisi, adab, agama, atau apa saja. Dunia bisa mengalami musim dingin distopis gegara semua itu, dan seakan menjadi semacam tugas bawah sadar bagi kaum muda atau mereka yang berjiwa terbuka untuk menjaga hangatnya dunia. Maka, mari bertempik; “Nyalakan api, Fuck Hypocrisy!”

————————-

Tulisan ini didedikasikan bagi kaum petani atas kesuksesan menduduki Bastilles yang terjadi pada tanggal ini, 14 Juli, 222 tahun yang lalu. Banyak faktor yang menyebabkan Revolusi Perancis (1789 – 1799) tersebut, satu di antaranya adalah karena sikap tatanan lama kaum borjuasi yang terlalu kaku dalam menghadapi perubahan dunia. Avante!

This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

96 Responses to SERU SERAU ARUS SARU

  1. martoart says:

    Gambar Si Kacrut Ngehe’ karya saya.Gambar 100 Ways of Saying Fuck You diambil dari Standard Madness 2008″Tempik” dalam tulisan tersebut hendak kembali mengingatkan salah satu kosa kata terlupakan dalam bahasa Indonesia:1tem•pik n pekik keras; — sorak berbagai-bagai pekik dan sorak (dl perang dsb): ketika didengarnya — sorak, mereka (pun) berlarian; ber•tem•pik v memekik nyaring-nyaring; menjerit kuat-kuat: margasatwa ~ riuh menyambut fajar; ia ~ sorak kegirangan; me•nem•pik•kan v memekikkan; meneriakkan; menjeritkan; tem•pik•an n jeritan; teriakan: kita mendengar ~ berulang-ulang Kamus Besar Bahasa Indonesia.(KBBI)

  2. martoart says:

    Kemudian penting juga untuk melengkapi pengetahuan berbahasa Inggris ini, silakan menikmati:

  3. martoart says:

    Apa saran Anda terhadap tulisan ini kiranya?

  4. arddhe says:

    gambar attachment diatas sangat berguna!! #langsungprint

  5. rengganiez says:

    sikkk…harus baca dua kali untuk memahaminya…kadingaren mbah?

  6. itsmearni says:

    aduh panjang…..mau baca sampe bawah tapi terhenti digambar kacruthihihi

  7. rawins says:

    fuck you sek mbah…mocone keri…

  8. arddhe says:

    martoart said: Tulisan ini didedikasikan bagi kaum petani

    walah….kirain tulisan ini didekasikan sebagai ajang kampanye menuju pemilihan award itu, sebagai akun tersaru…jangan2 ini punya makna ganda…hmmm

  9. timurcahaya says:

    martoart said: Tahukah Anda bahwa sesungguhnya kita tak benar-benar memiliki istilah asli dalam bahasa Indonesia untuk ‘Sesuatu yang bernilai susila buruk’? ‘Asusila’? Bukan, karena ‘Asusila’ bukanlah istilah yang berdiri-sendiri melainkan bentukan bertingkat dari ‘Sila’ (Dasar/Adab) yang mendapat penambahan ‘Su’ (Tinggi/Baik) dan awalan Sansekerta ‘A’ (Tidak/Bukan). Arti utuhnya menjadi ‘Tidak memiliki adab yang baik’. Dari sini mustinya kita bisa memopularkan kosa kata baru ‘Asila’ untuk hanya ‘Tak beradab’, mendampingi ‘Asu’ untuk ‘Tak baik’ saja. 

    tulisanmu apik, Mang…..seneng dengan yang ini… jadi ada yg beradab dan ga…. pengandaian saya memang adab itu selalu baik….. jadi kalo kata susila… kayaknya ada istilah yang mubazir deh……yang kedua kata ‘saru’ yang artinya ‘serupa’ kok kayaknya ga pas…. saru artinya samar kali yak…. samar artinya ‘ga jelas’

  10. martoart says:

    arddhe said: jangan2 ini punya makna ganda.

    elo boleh istilahkan; KAMCOL Dhi. hihihi…

  11. martoart says:

    timurcahaya said: kata susila… kayaknya ada istilah yang mubazir deh……

    Susila berarti Adab yg tinggi atau kebaikan yg tinggi.

  12. martoart says:

    timurcahaya said: kata ‘saru’ yang artinya ‘serupa’ kok kayaknya ga pas…. saru artinya samar kali yak…. samar artinya ‘ga jelas’

    Sepertinya Anda betul. Akan saya edit nanti. Terima kasih Her.

  13. rawins says:

    kalo memang dasarnya dari basa jawakok iso saru jadi serupa, mbah..?perasaan di jawa saru cuma bermakna tentang ketidaksopanan, mbajug dan tidak sampai diancukserupa masih teramat netral, sopan apa engga tergantung menyerupai apa atau siapa dulukalo nyerupain kaum susilais ya memang itu saru banget…

  14. martoart says:

    rawins said: kok iso saru jadi serupa

    Udah dikoreksi Heru tuh.Homonamenya ketika dibawa ke ranah Bhs Indonesia.

  15. timurcahaya says:

    martoart said: Sepertinya Anda betul. Akan saya edit nanti. Terima kasih Her.

    sama-sama………

  16. timurcahaya says:

    martoart said: Susila berarti Adab yg tinggi atau kebaikan yg tinggi.

    hehehee…setuju….. ada kebaikan yang rendah ya, pengandaiannya…..

  17. rirhikyu says:

    bentar, gw tag dulu.. seperti biasa blog mu puanjanggggggg

  18. renypayus says:

    martoart said: Tulisan ini didedikasikan bagi kaum petani

    hym……… ini buat everyone, juga buat yang dulu ngamuk ngamuk sama sampeyan kan? *smirks*

  19. martoart says:

    timurcahaya said: ada kebaikan yang rendah ya, pengandaiannya….

    Saya pernah didongengi bapak ttg orang yg membantu orang teman dan orang yang membantu musuhnya. Kata bapak saya, itu kebaikan yg beda nilainya.Ah, mungkin ini contoh yg tak begitu pas.Tapi dlm khasanah Jawa ada Sastra dan Susastra. Ada nilai yg diukur di sana. Nggak tahu deh, tapi rasanya juga kalo ‘Kebaikan’ susah ngukurnya.

  20. martoart says:

    renypayus said: hym……… ini buat everyone, juga buat yang dulu ngamuk ngamuk sama sampeyan kan? *smirks*

    Tadi Ardhi udah menghubungkan tulisan ini dengan kampanye, keluar KAMCOL. Nah,elo menghubungkan dengan entuh,.. he he.. istilahnya apa ya?

  21. rawins says:

    martoart said: Udah dikoreksi Heru tuh.Homonamenya ketika dibawa ke ranah Bhs Indonesia.

    kirain menyerupa ki ada kaitannya dengan menyatu karena saking serupane sampe susah dibedain kalo itu sebenarnya dua hal yang beda.yowes nek ternyata enggaberarti menyetubuhi tidak sama dengan meyarui

  22. martoart says:

    rawins said: berarti menyetubuhi tidak sama dengan meyarui

    Setubuh!

  23. timurcahaya says:

    martoart said: Nggak tahu deh, tapi rasanya juga kalo ‘Kebaikan’ susah ngukurnya.

    hahahahahaaaaaa…. bukan menertawakan dikau… tapi emang bener…kadang bahasa itu emang lucu kalo dipikir mulu….hehehehee

  24. fendikristin says:

    Cak Marto, ninggalin kueh dulu deh di mari…besok aku balik lagi yawww

  25. Berarti istilah “Kategori MPer Tersaru” itu kurang tepat ya?

  26. martoart says:

    fightforfreedom said: Berarti istilah “Kategori MPer Tersaru” itu kurang tepat ya?

    Tepat sih, cuma menjelaskan kedalaman ideologis aja tentang itu.

  27. mas e, kira kira duluan mana ya, pengambilan kata “asusila” dengan penamaan salah satu binatang di dalam bahasa jawa ( guk guk) soale ada kemiripan…

  28. anotherorion says:

    nek partai susilois sik keno kasus kae mlebune grup band asila yo?berarti leh ku misuh asu salah no?

  29. agamfat says:

    For Unlawful Carnal Knowledge

  30. agamfat says:

    Kalau etimologi diancuk gimana?

  31. orangjava says:

    A SILA…A nyong sila(woco boso Jowo)Sila disini kan artinya lain yak pAk Guru….lungguh silo ning ngisor…lha nek tempeik iku dudu tempe tho..Kepik wedok yo nduwe tempik…Demit Berlin sing ra mudeng arep nang ngendi boso Indonesia nek dicampur aduk karo Inggris2an…..

  32. penuhcinta says:

    Membaca dan berpikir dulu sebelum komentar.

  33. martoart said: Apa saran Anda terhadap tulisan ini kiranya?

    You should send this to Foke.

  34. ohtrie says:

    bakal ada pelebaran pokok bahasan kearah pengkategorian pornoaksi n pornografi gak ini mBah..?*mendadak kelingan UUITE

  35. afemaleguest says:

    saru-saruan denganmuuu????hayuuuuukkkkk Kang!!!

  36. t4mp4h says:

    ASUSILA BAMBANG YUDAYANA ….

  37. t4mp4h said: ASUSILA BAMBANG YUDAYANA ….

  38. seblat says:

    kirim nang rubrik “bahasa” majalah tempo dab.. honore iso nggo ngebir :))

  39. finding3mo says:

    dorme mecum(latin)… saru tur mecum..

  40. martoart says:

    seblat said: kirim nang rubrik “bahasa” majalah tempo dab

    Kapok wis tau ditolak

  41. martoart says:

    edwinlives4ever said: send this to Foke.

    Done!

  42. nitafebri says:

    Yaaa ampuuun gambar kacrut tangannya gak yang kanan n kiri..SARU!!Sinii kacrut sama tante nita selama di tinggal ke belanda, biar jadi anak baek n kalem

  43. manikamanika says:

    Utekku ra tekan mbah..

  44. ris007bond says:

    literature research-nya mantap..disajikan dengan gaya pop…popak dah..pokoknya

  45. martoart says:

    agamfat said: For Unlawful Carnal Knowledge

    For Alternative Knowledge Elaboration (FAKE)Trims Gam koreksinya.

  46. t4mp4h says:

    martoart said: Kapok wis tau ditolak

    mung pisan ditolak njur kapok

  47. martoart said: mari kita bersaru-saru dahulu, bersopan-santun belakangan

    bisa2 ini jadi peribahasa yang saru mas..eh baru..:p

  48. wikan says:

    sarungan disik🙂

  49. papahende says:

    Mas Marto, setuju banget, korutor memang asu, sudah dikasih tunjangan reformasi brikokrasi, masih mencari tahi, bahkan korjam (korupsi berjamaah). Kalau soal FUCK itu, bukan nama Forum yang kaya di jkt itu kah?

  50. debapirez says:

    ah…Jancuk kamu,Cak…

  51. jadul1972 says:

    tulisan yang berbobot sarunya

  52. ardiyunanto says:

    Eh, larangan jongkok di atas toilet duduk itu lebih supaya tatakan paha itu nggak jebol karena terlalu berat dijongkoki orang apalagi yang berbadan jumbo. Hehe. Tulisan okeh, top markotop, Marto. Ngomong-ngomong, mari kita populerkan lagi tanda jempol masuk jari tengah dan telunjuk kayak di ilustrasi tulisan ini. Itu lebih orisinil ketimbang jari tengah teracung ngaceng. Juga meneriakkan “ngentot!” yang lebih kasar daripada “fuck” yang kekasarannya terhaluskan oleh jarak bahasa. Ngentot!

  53. karonkeren says:

    martoart said: “Tempik” dalam tulisan tersebut hendak kembali mengingatkan salah satu kosa kata terlupakan dalam bahasa Indonesia:

    ngomong kayak gini kalo di jawa timur bisa bisa digang bang orang sekampung … hahahatapi yang jelas kata Tempik secara pengucapan memang jauh lebih tegas ketimbang kata Pussy ataupun Vulva … jadi gak perlulah kita “kemenggres” kalo urusan saru menyaru … hehehebtw mari kita budayakan berbicara bahasa saru ala Indonesia yang baik, benar dan tegas … hahahahaFuck = Ngentot, Jancuk (jawa timur), Martole Jonjong (batak)Shit = TaekDick = Kontol, Peler, Pantek (padang)Motherfucker = Mbok’e Juancuk (jawa timur), Dohat Onakmu (batak)Bitch = Lontesilakan dilengkapi sendiri … sapa tau bisa jadi kamus … hahahaha

  54. thebimz says:

    arddhe said: gambar attachment diatas sangat berguna!! #langsungprint

    sama gw juga dah save as

  55. thebimz says:

    karonkeren said: Fuck = Ngentot, Jancuk (jawa timur), Martole Jonjong (batak)Shit = TaekDick = Kontol, Peler, Pantek (padang)Motherfucker = Mbok’e Juancuk (jawa timur), Dohat Onakmu (batak)Bitch = Lonte

    wew.. macam kamus nih, hahaha

  56. martoart says:

    ardiyunanto said: Juga meneriakkan “ngentot!” yang lebih kasar daripada “fuck” yang kekasarannya terhaluskan oleh jarak bahasa. Ngentot!

    baik, kita mulai “Ngentot Loe Di!”

  57. martoart says:

    karonkeren said: le Jonjong

    Marga gw tuh

  58. sepunten says:

    Ngeres, cabul secara visual, bahkan menemukan devinisi baru… ga cuma kata…Pengembangan kata semisal “Jijay”… walaupun tak populer dalam bahasa redaksional, walaupun maknanya terlalu lebar… cukup mewakili ungkapan senada…Intinya yg namanya devinisi itu akan selalu berkembang… (ingat kata lucu’, garing, ember… kan?)satu lagi… sepertihalnya halnya “Penulis”… kalau mau kaku, hari gini rasanya sudah seharusnya PENULIS diganti dg sebutan PENGETIK… :))

  59. martoart says:

    womeninfreedom said: binatang di dalam bahasa jawa ( guk guk)

    burung hantu?

  60. martoart says:

    anotherorion said: leh ku misuh asu salah no?

    salah keknya, karena asu lebih bermartabat dari pejabat parte moralis susilais namun pornografis

  61. martoart says:

    agamfat said: Kalau etimologi diancuk gimana?

    mungkin berangkat dari dasar yg sama; Kencuk (Entot dlm bhs Jawa Timuran). Dikencuk (dientot) – Diencuk – diancuk -jiancuk – jancuk.

  62. martoart says:

    membaca saru, berpikir saru, komentar saru.(satukan pikiran, kata, dan perbuatan)

  63. martoart says:

    ardiyunanto said: larangan jongkok di atas toilet duduk itu lebih supaya tatakan paha itu nggak jebol

    Ya tulis aja begitu. Ga ada hubungannya mo sopan apa nggak kan?

  64. karonkeren says:

    martoart said: Ya tulis aja begitu. Ga ada hubungannya mo sopan apa nggak kan?

    yups …serta juga lebih menghormati cewe dari segi kebersihan toilet … karena sebenarnya tatakan paha itu secara fungsional diciptakan buat mereka kok

  65. arddhe says:

    karonkeren said: Tempik

    puki, pepek, cunek, meki ?#halah

  66. ganesth says:

    Jadi inget ama si kembar fukyu dan fukmi di austin powers..

  67. penuhcinta says:

    Terus terang, secara pribadi kalau “cuma” membaca atau melihat simbol, aku cuma sedikit terganggu. Apalagi kalau misalnya itu cuma ungkapan yang tertulis dalam sebuah naskah fiksi. Tapi beda kalau sudah mendengarkannya. Kata-kata saru yang biasanya dipakai untuk makian ini pasti bikin aku merasa jengah. Dalam pikiranku pasti ada pertanyaan, “Memangnya tidak ada kata lain yang bisa digunakan untuk mengekspresikan perasaannya?” Apalagi kalau itu ditujukan buat diriku sendiri…huh… pasti terbakar emosiku. Kata atau simbol saru yang tertulis atau terlukispun akan membuat aku jadi jengah kalau misalnya ada anakku di sampingku saat aku kebetulan melihatnya. Psikologi orang tua memang begitu Cak, pasti maunya melindungi anak2nya yang masih kecil dari jenis2 kata yang demikian. Dengan sendirinya, akupun juga menjaga supaya sebisa mungkin tidak mengeluarkan kata2 yang di rumahku termasuk kata2 “terlarang”. Tentu saja aku juga tak adab yang baik itu kalau buatku tidak hanya sekedar di bibir saja tapi menyeluruh. Aku juga akan melihat konteksnya terlebih dahulu ketika mendengar atau melihat seseorang mengeluarkan kata2 jenis saru ini.

  68. martoart says:

    penuhcinta said: menjaga supaya sebisa mungkin tidak mengeluarkan kata2 yang di rumahku termasuk kata2 “terlarang

    Ya, intinya regulasi. Itu yg perlu diatur. Setiap keluarga punya batas masing2 untuk menentukan seterlarang apa kata2 itu.

  69. martoart says:

    penuhcinta said: Memangnya tidak ada kata lain yang bisa digunakan untuk mengekspresikan perasaannya?

    Tentu banyak banget.Pada dasarnya manusia secara fitrah ‘terkutuk’ untuk mengekspresikan emosinya. Orang2 baik mengkhawatiri peluapan emosi melalui ekspresi, salah satunya dianggap berkecenderungan mencipta konflik. ‘Pendekatan keamana’ melalui bangunan sopan santun menjadi perlu dibangun.Kemudian terjadi ‘depisuhanisasi’ (sebut aja gitu), dari pisuhan yang sudah tercipta sebelumnya agar lebih halus. Sebut saja misal;Asu => Asem,Jancuk => Jangrik => Jambu,Ngentot => Ngewe’ => NgewiNamun sebagaimana bentuk eufimisme berbahasa, kelamaan penghalusan kata tersebut dianggap tak mencukupi lagi. ‘Orang baik’ terus mencipta penghalusan berikutnya. Contoh kasus;Lonthe => Pelacur => Wanita Tuna Susila => Pramuria => Kupu2 Malam => Wanita Idaman (Jawa Timur dem!) => dst, yg harus makin santun penyebutannya.Jadi kalo ada yg misuh Afu di MP, itu salah satu upaya meredam emosi dan kurang ekspresif. Sebagaimana iklan bilang; “Mana ekspresinyaaaa… Su?”

  70. arddhe says:

    martoart said: ‘depisuhanisasi’

    WIN!!

  71. penuhcinta says:

    martoart said: Namun sebagaimana bentuk eufimisme berbahasa, kelamaan penghalusan kata tersebut dianggap tak mencukupi lagi. ‘Orang baik’ terus mencipta penghalusan berikutnya. Contoh kasus;Lonthe => Pelacur => Wanita Tuna Susila => Pramuria => Kupu2 Malam => Wanita Idaman (Jawa Timur dem!) => dst, yg harus makin santun penyebutannya.Jadi kalo ada yg misuh Afu di MP, itu salah satu upaya meredam emosi dan kurang ekspresif. Sebagaimana iklan bilang; “Mana ekspresinyaaaa… Su?”

    Sebagaimana aku pernah ingin sekali mengganti kata-kata kebun binatang yang sering keluar dari mulut kerabat dekat menjadi: “Bakwan lu! Bunga kol lu!” Latar belakang kenapa aku alergi sama ungkapan verbal bernada makian kebun binatang dan yang saru2 adalah karena waktu kecil aku sering dimaki seperti itu oleh bapak sendiri. Jadi memang tak bisa pukul rata karena semua orang punya masa lalu masing-masing.

  72. martoart says:

    penuhcinta said: ungkapan verbal bernada makian kebun binatang dan yang saru2

    Jadi memang perlu pemahaman pemilahan sebagaimana yg acap terdengar semacam ‘Inamal a’malu binniat’ gitu deh. Kalimat ‘saru’ yang tak dilambari hate speech tak perlu diresapi dengan gundah-gulana, sebaliknya betebaran nasihat moralis namun tampak benar kebenciannya. Itu bagian yg sebenarnya ada di tulisan ini.(Bapakku bukan tipe pemaki, ibuku suka bercanda saru, jadi darimana kiranya sarugrafiku ya? he he..)

  73. penuhcinta says:

    martoart said: (Bapakku bukan tipe pemaki, ibuku suka bercanda saru, jadi darimana kiranya sarugrafiku ya? he he..)

    Lah itu jawabannya ada di situ. Mungkin terpengaruh Freud. Ha…ha…ha.

  74. ohtrie says:

    penuhcinta said: Mungkin terpengaruh Freud. Ha…ha…ha.

    bwehehheehe…dan semoga tak mengkambinghitamkan nama tempat kuliahnya… :))*abis lum lanma ada sih yang bilang gituuu, tuh waktu case-nya si BB….

  75. cenilhippie says:

    terimakasih untuk bacaan pagi ini…:)

  76. penuhcinta says:

    ohtrie said: bwehehheehe…dan semoga tak mengkambinghitamkan nama tempat kuliahnya… :))*abis lum lanma ada sih yang bilang gituuu, tuh waktu case-nya si BB….

    Enggak lah yaw… bukan lokasinya yang menentukan tapi lokalisasinya…hi..hi…hi.

  77. martoart says:

    komentar kek… eh, malah kampanye.

  78. klewang says:

    penuhcinta said: mengganti kata-kata kebun binatang yang sering keluar dari mulut kerabat dekat menjadi: “Bakwan lu! Bunga kol lu!”

    “…MIKROBA !!”

  79. penuhcinta says:

    klewang said: “…MIKROBA !!”

    Hi….hi…hi. Ini makiannya guru biologi. Kalau yg bakwan, makian penjual gorengan.

  80. martoart says:

    bambangpriantono said: vulgaarrrr

    segar vulgar su!

  81. martoart says:

    Dapat link dari Bung Iwan FFF:

  82. Aku tambahi yo…Musik nge-blues gini sayang banget kalo dilewatkan.Iki ngetop pas jamanku kuliah mbiyen.

  83. martoart says:

    Trims! Pernah denger grup ini dulu. Sekarang bubar sepertinya.Ayo siapa lagi yg mo berbagi pisuhan. Sangat diterima.

  84. karonkeren says:

    Jangan Asem bukannya anak anak Surabaya ya ?

  85. karonkeren said: Jangan Asem bukannya anak anak Surabaya ya ?

    Betul. Lebih tepatnya mereka dulu itu mahasiswa Unitomo, dari UKM Mapalas. Kebetulan kampusnya dekat rumahku, jadi sering lihat mereka tampil di lapangan parkir Unitomo. Mereka pernah tampil bareng Lontar Band & Blue Khu Thuq. Mereka langganan acara – acara kampus lah🙂

  86. karonkeren says:

    fightforfreedom said: Lebih tepatnya mereka dulu itu mahasiswa Unitomo, dari UKM Mapalas.

    oaalaahhh arek unitomo tah …

  87. martoart says:

    karonkeren said: Ngentot

  88. martoart says:

    “Take away the right to say “fuck” and you take away the right to say “fuck the government”.(Lenny Bruce)

  89. vanillasmile says:

    di blog saya banyak kata : saru, lendir, fuck, juga birahi hahahha…

  90. karonkeren says:

    vanillasmile said: di blog saya banyak kata : saru, lendir, fuck, juga birahi hahahha…

    bhuahahaha … hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s