Kasus Prachatai dan Ancaman Kebebasan Pers di Indonesia

Pada tanggal 4 Pebruari 2011, saya meliput salah satu sidang dari rangkaian persidangan kasus ‘Prachatai Vs Raja’. Prachatai adalah harian online independen yang tengah menandang tuduhan menghina kerajaan melalui berbagai pasal jeratan. Ruang sidang ini mengingatkan saya pada peristiwa persidangan tiga aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat enambelas tahun silam, hanya saja ada perbedaan yang bersuasana jurnalistik, di dalam ruang pengadilan di Bangkok ini hadirin tak diijinkan membawa alat perekam. Sambil mendengarkan penuturan penerjemah bebas, saya mulai mengguratkan pena pada kertas kosong, menggambar suasana persidangan.

Adalah Chiranuch Premchaiporn, Direktur Eksekutif dan salah satu pendiri Prachatai, menjadi orang pertama yang dianggap paling bertanggungjawab atas forum online “Pro-demokrasi dan Anti-Kediktatoran” di dalam Prachatai. Melalui forum yang dimoderasinya ini, pembaca Prachatai mendiskusikan, menyatakan pendapat, dan pikiran mereka dengan bebas. Kebebasan adalah ruh Prachatai, yang memang frasa itu berarti “Orang Bebas”.

Prachatai didirikan pada Juni 2004 oleh sekelompok warga Thailand yang memiliki kepedulian akan kebebasan dan demokrasi, anggota senior Dewan Pers Thailand, seorang dosen terkenal di bidang Jurnalisme, sejumlah wartawan senior, dan sejumlah pemimpin LSM termasuk Chiranuch Premchaiporn di dalamnya, juga dua anggota Senat Thailand, yang salah satunya adalah Jon Ungpakorn, seorang penganjur hak asasi manusia yang memenangi Magsaysay Award. Prachatai hadir sebagai respon terhadap periode pembredelan media arus utama di bawah pemerintahan PM Thaksin Shinawatra. Prachatai menjajikan berita yang dapat diandalkan bagi masyarakat selama era peredaman kebebasan media di Thailand. Media ini terus memainkan peran penting setelah kudeta militer pada bulan September 2006 hingga periode berlakunya keadaan darurat sehubungan dengan situasi politik dalam negeri Thailand. Keadaan darurat dikenakan pada banyak provinsi termasuk Bangkok sampai dicabut pada akhir 2010. Tabiat penguasa selalu sama dalam kecenderungan menundukkan kebebasan. Hal ini menyesakkan dan memiliki akibat buruk terhadap hak kebebasan untuk berekspresi, khususnya bagi media semacam Prachatai yang teguh menggenggam elan kebebasan.

Maka bukan sesuatu yang mengejutkan ketika pada tanggal 6 Maret 2009, tiga mobil berisi lebih dari sepuluh polisi menggerebeg kantor Prachatai. Berbekal surat perintah pencarian dan surat perintah penangkapan, para petugas menangkap Chiranuch. Tuntutan yang dibacakan adalah pelanggaran Ayat 15 Computer-Related Crime Act (CCA). Dikarenakan sebuah topik forum berisi fitnah terhadap monarki yang diposting oleh anggota forum pada tanggal 15 Oktober 2008. Dia membantah se
mua tuduhan, namun para petugas menyita laptopnya sebagai barang bukti. Tak sampai dua tahun, pada tanggal 24 September 2010, sekembali dari menghadiri konferensi “Internet at Liberty 2010” di Budapest, Hungaria, Chiranuch kembali ditangkap di pos pemeriksaan imigrasi Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok.

Dari banyak pasal dalam undang-undang yang mengepung Chiranuch dan kebebasan berekspresi di Thailand, ada dua yang menarik untuk diperbandingkan dengan kebebasan menyatakan pendapat di Indonesia. Pertama adalah Pasal 112 KUHP Thailand yang mendefinisikan seseorang dikatakan melanggar hukum “Lese Majeste Thailand” apabila yang bersangkutan “Memfitnah, menghina, atau mengancam raja dan keluarga kerajaan”, dan kedua adalah Ayat 15 CCA yang menyatakanSengaja mendukung atau menyetujui tindak kejahatan yang terkait dengan penggunaan komputer”.

Pasal 112 KUHP Thailand adalah setara dengan pasal 134, 136 bis, dan 137 KUHP di Indonesia yang berisi delik penghinaan terhadap Kepala Negara. Pasal-pasal tersebut terkenal sebagai ‘Haatzaai Artikelen‘ atau ‘Pasal-pasal penabur kebencian’. Berita bagusnya adalah alat pemukul kebebasan berpendapat itu telah dihapus oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK nomor 013-022/PUU-IV/2006, karena bertentangan dengan UUD 1945 dan dinyatakan tidak lagi mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Berita buruknya terjadi euphoria berpendapat dan ‘berberita’. Sejak dihapuskannya Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP), terjadi ledakan media yang sayangnya tak dibarengi dengan kualitas pemberitaan di dalamnya. Kaidah jurnalisme diabaikan, kalimat menyerang bahkan yang menusuk wilayah keyakinan dan penghinaan kemanusiaan menjadi penyedap agar lakunya dagangan. Taburan kebencian tidak lagi ditujukan kepada penguasa, namun justru menyerang sesama. Keadaan seperti ini akhirnya menemu keliarannya di ruang maya, ruang di mana sesiapapun bebas berbicara atas nama kebebasan tanpa nama, namun tetap dengan bangga menyandang Citizen Journalism. Dan ini sejatinya sebentuk ancaman jurnalistik tersendiri yang rasanya perlu dipikirkan oleh para penggiat pemberitaan.

Ancaman berikutnya yang dapat dipetik dari kasus Prachatai adalah berkenaan dengan CCA. Undang undang yang dibuat tahun 2007 ini berpadan dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) di Indonesia. UU ITE adalah produk undang-undang yang lebih bersuasana tiran daripada niatan melindungi kebebasan warga negara pengguna internet terlebih penggiat media. Ayat-ayatnya memiliki daya jerat ketat bagi semangat kebebasan berpendapat dan akses informasi. Ambil saja satu contoh Pasal 27 ayat (3) UU ITE;

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik“.

Ayat ini, dan beberpa ayat lain di dalam UU ITE adalah sebuah harga yang teramat mahal demi keinginan pemerintah membatasi akses pornografi. Tak pelak hal ini juga sebuah ancaman yang sesegera mungkin harus dipikirkan untuk ditinjau kembali.

Kembali ke sidang Prachatai, Chiranuch Premchaiporn akan terpidana 50 tahun penjara apabila tuntutan jaksa penuntut umum dipenuhi oleh hakim. Sebuah vonis yang juga bakal menentukan posisi Thailand akan penghormatan terhadap kebebasan media. Tahun 2010, Reporters without Borders mencatat betapa Thailand berada di tempat buruk, urutan 153 dari 178 negara, dan Indonesia 36 poin lebih tinggi, yaitu pada urutan 117. Namun dengan dua jenis ancaman yang ada di atas, rasanya para penggiat media belum layak untuk buru-buru mengambil rehat. Meski begitu, masihlah layak diberi ucapan; “Selamat Hari Pers Nasional!”.

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

123 Responses to Kasus Prachatai dan Ancaman Kebebasan Pers di Indonesia

  1. martoart says:

    Postingan ini untuk solidaritas kepada Jiew dan Prachatai, sekaligus merayakan Hari Pers Nasional.Ilustrasi persidangan saya gambar di tempat, dan kemudian saya olah sedikit dengan photoshop

  2. rirhikyu says:

    thanx cakikut merayakan Hari Pers Nasionalknapa aku makin miris ya, dari senin sampai hr ini. apalagi baca postingan ini

  3. anotherorion says:

    opo sak iki nek gawe media ga ono SIUP e kang? pantesan ae okeh berita lebay yo?

  4. afemaleguest says:

    euforia ‘penyalahgunaan’ kebebasan berpendapat ini .. apakah hanya terjadi di developing countries menurutmu Kang?

  5. nitafebri says:

    Bu Peb..Quotenya benerin tuuh..nyangkut semua..

  6. rirhikyu says:

    nitafebri said: Bu Peb..Quotenya benerin tuuh..nyangkut semua..

    udah, inet lg error niy😦

  7. nitafebri says:

    vonis 50 thn di Thailand..weeeis.. lamaa amaat..di sini aja koruptor gak sampe 10 thn kuk yaa..

  8. t4mp4h says:

    liat ilustrasine jadi inget sidang di Amrik, btw mantep tenan Cak !!

  9. nitafebri says:

    Caak.. ntu gambarmu yaa…detil amaat..kereen looh cak.. hitam putih..

  10. rirhikyu says:

    t4mp4h said: liat ilustrasine jadi inget sidang di Amrik, btw mantep tenan Cak !!

    ciamik illustrasinya

  11. Kalo mengingat asal-usul ditetapkannya tgl 9 Februari sbg Hari Pers Nasional, sebenarnya sangat ironi.Ditetapkan di tgl 9 Februari, krn mengambil dasar hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pd tgl 9 Februari 1946. Dan pada 9 Februari 1985, Soeharto pernah (dan selalu di setiap tgl tsb selama pemerintahannya) mengingatkan para wartawan untuk menahan diri dan menerapkan sensor diri. Ini lekat banget kaitannya dg sikap represi & penekanan thd media massa, pemberitaan, dan wartawan pd masa kekuasaan ORBA. Kenyataannya bhw hari yg diperingati ini justru melambangkan hari-hari ketika pers mengalami tekanan dari pemerintah dan tidak dapat menghirup kebebasan. Sungguh ironi, bukan?Terimakasih sharing sidang kasus Prachatai-nya, mas Marto.

  12. ohtrie says:

    Tag tempat sik sambil menyampekan DMnya Pakdhe Blontank iki mBahh….macane mengko bar tangi turu, nuwunn….Cikeas, Cikeusik…cuma beda as (sebagai) dan usik (munculkan disharmoni). So, Cike itu siapa? Si Pengusik?Pemerataan kerusuhan! Ahmadiyah & gereja dirusak/bakar di mana-mana… Para pemimpin dungu tak punya malu!!!Curiga ada desain kerusuhan… pemanasan digencarkan di mana-mana….. Kalau ada yg pingin berkuasa, jangan korbankan rakyat dongKita tunggu, apakah Mr. Prihatin akan nangis lagi…. tak yakin ia masih punya sisa air mata untuk jemaat gereja, Ahmadiyah dan IndonesiaIntel polisi, agen Densus, cukup banyak yg berada di dalam laskar-laskar Islam. Mustahil mereka tak tahu shg tak bisa antisipasi… padahal soal terorist mereka sok jadi jagonya…Kemungkinan rekomensasi konsultan pencitraan: Presiden batalkan datang di peringatan Hari Pers, lalu disuruh pasang mimik sedih saat konpers~edit hurup

  13. seblat says:

    moga2 oleh2 dr thailand ga cuma ini.. ada yg “anget2” gitu..:))*menungguundanganmimik*

  14. ohtrie says:

    seblat said: *menungguundanganmimik*

    kulandeyekkk…

  15. zaffara says:

    Selamat Hari Pers Nasional*Baca dulu*

  16. rengganiez says:

    kang…kuwi isi penghinaannya apa je? sampai bikin kerajaan berang

  17. jadul1972 says:

    Mantab… nang Thailand cak? mampir nang ……………..

  18. debapirez says:

    o…gegara ini toh Cak Marto kesana…wah, hukumannya berat jg yak…

  19. zaffara says:

    wah gambar suasana persidangannya keren mas , so detail

  20. zaffara says:

    martoart said: Sejak dihapuskannya Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP), terjadi ledakan media yang sayangnya tak dibarengi dengan kualitas pemberitaan di dalamnya. Kaidah jurnalisme diabaikan, kalimat menyerang bahkan yang menusuk wilayah keyakinan dan penghinaan kemanusiaan menjadi penyedap agar lakunya dagangan. Taburan kebencian tidak lagi ditujukan kepada penguasa, namun justru menyerang sesama. Keadaan seperti ini akhirnya menemu keliarannya di ruang maya, ruang di mana sesiapapun bebas berbicara atas nama kebebasan tanpa nama, namun tetap dengan bangga menyandang Citizen Journalism. Dan ini sejatinya sebentuk ancaman jurnalistik tersendiri yang rasanya perlu dipikirkan oleh para penggiat pemberitaan.

    Saya kira ini kata kunci yang sekarang harus diangkat menjadi issue penting di Indonesia, di tengah semakin brutal-nya masyarakat dalam menghadapi perbedaan. Pers berperanan sangat penting dalam membentuk karakter bangsa. Pertanyaannya, bagaimana kita menemukan cara untuk healing kondisi pers di Indonesia saat ini agar menjadi pers yang bertanggung jawab, pers yang mempunyai itikad baik dalam proses pendidikan bangsa, pers yang proporsional dalam pemberitaannya, pers yang independent, dan pers yang mencerdaskan.

  21. okeboo says:

    Gbrnya bagus banget mas!

  22. martoart says:

    rirhikyu said: apalagi baca postingan ini

    Pasti yang bagian jertan UU ITE ya?Percayalah, bahwa memang produk itu bisa dengan amat mudah, sekali lagi amat mudah memukul siapapun. Tapi apabila kita takut berekspresi dan tak berani menulis di blog gegara itu, kita ibarat terpukuli tiap hari.Jangan takut!

  23. martoart says:

    Dah lama, jauh sebelum kita main internetan kayaknya.

  24. cenilhippie says:

    lanjut nunggu cerita jalan2nya…..:)selamat hari pers nasional!

  25. wikan says:

    apa nggak justru sebaliknya mas marto? banyak yang merasa kebebasannya terancam gara2 pers.

  26. martoart says:

    Gak juga sih, di Amrik makin banyak orang lebay dan tolol sejak 911, di Belanda, si Greet Wilders sendiri yg pekok.Memang lebih karena manusianya, tapi manusia sebagai komunitas akan terbentuk berdasar negeri yg terbangun peadabannya. Tak melulu dibaca terbangun perekonomiannya (meski kadang melekat dengan itu). Katakanlah U E Arab jauh lebih tinggi tingkat perekonomiannya dibanding Belgia, tapi tak berarti Belgia terpuruk. Belgia tak lebay, sementara amat banyak pembatasan dari penguasa UEA

  27. martoart says:

    nitafebri said: 50 thn di Thailand..

    mereka pakai sistim menjumlahkan kenaan hukuman.Begini; Di forum Prachatai itu ada 15 komen anggota forum yg dituduh menyudutkan sistem Monarki. Satu tuduhan dipidana 5 tahun penjara, nah kalikan 15 komentar. Jiew, Nick name terdakwa itu, adalah moderator yg menanggung semua tuduhan karena azas melindungi Narasumber. Dia menolak membuka data para anggota forum.Kalo kita pake sistem penjumlahan hukuman, para koruptor itu bisa kena 900 tahun penjara. Kata Dhono Warkop, kalo udah mati, kubur aja di dalam penjara.

  28. martoart says:

    t4mp4h said: liat ilustrasine jadi inget sidang di Amrik,

    Aku memang sengaja ngikutin sistem sketsa persidangan ala Amrik dengan alasan yg sama dab.

  29. martoart says:

    rirhikyu said: ciamik illustrasinya

    tengkiyuuu…

  30. martoart says:

    nitafebri said: detil amaat..kereen looh cak.. hitam putih..

    Detil karena persidangannya lama. Aslinya hitam-putih, tapi sedikit kuolah monochromatic di photoshop.

  31. martoart says:

    fightforfreedom said: Ditetapkan di tgl 9 Februari, krn mengambil dasar hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pd tgl 9 Februari 1946.

    Betul, dulu sempat ada semangat menolak tanggal ini sbg Hari Pers Nasional karena barengan dengan PWI, tapi beberapa wartawan senior di AJI yg juga keluar dari PWI menasehati agar tak perlu bersikap kekanakan.Tradisinya aja yg harus dirombak dari pengekangan menjadi Kebebasan.

  32. martoart says:

    rengganiez said: sampai bikin kerajaan berang

    Biasalah… penguasa yg narsis, foto di mana2 di setiap sudut negara, kalo mo nonton bioskop ada lagu buat raja dan kamu harus berdiri (kek jaman ORLA), maka ketika eksistensinya diusik, sensitifitasnya kebakar. Itu tabiat fasisme.Baca juga jawabanku untuk komennya Nita.

  33. martoart says:

    jadul1972 said: Thailand cak? mampir nang ……………..

    Mesjid?Oh, jarang ada di sana.

  34. martoart says:

    debapirez said: o…gegara ini toh Cak Marto kesana…wah, hukumannya berat jg yak…

    Iya Ded, bukan karena Studi Banding.Kenapa berat? Baca jawaban komenku di Nita dan di Anis.

  35. martoart says:

    zaffara said: gambar suasana persidangannya keren mas , so detail

    Terima kasih Win, Itu ilustrasi gaya persidangan Amrik. Detail karena sidangnya lama.

  36. anazkia says:

    Menyimak aja yah, Mbah?

  37. martoart says:

    zaffara said: ini kata kunci yang sekarang harus diangkat

    Betul. Tapi selalu ada pertanyaan abadi: Siapa yg paling berhak menetukan pendapat itu layak dan memiliki kepantasan publish?Ada teman Politikana yang amat kuat bertahan menyatakan bahwa tak ada hak sama sekali menyensor dan membanned tulisan orang (sekasar apapun isinya). Dia juga teman cewek yang sedang diadili di tulisanku ini.Aku berbeda pendapat dengan Ndaru, penggiat Politikana itu. kami pernah berdebat, dan belum menemui titik temu.Tentu saja.

  38. martoart says:

    okeboo said: Gbrnya bagus banget mas!

    Oh, kalo yang muji seorang komikus ngetop seperti Lala, siapa yg berani meragukannya?Aseeekkk… Tengkiyu beratz La.

  39. martoart says:

    cenilhippie said: lanjut nunggu cerita jalan2nya…..:)

    Wah ditagih ma tukang kluyuran nih!

  40. martoart says:

    wikan said: apa nggak justru sebaliknya mas marto? banyak yang merasa kebebasannya terancam gara2 pers.

    Tidak, karena memang itu juga maksudku dengan euphoria kebebasan menulis pasca SIUP.Katakanlah SABILI, yang tak sedikit menilai berisi pemberitaan yang terasa provokatif, yang meski tak harus karena gaya dan isi tulisan mereka, banyak penganut keyakinan lain yang merasa kebebasannya terancam.

  41. debapirez says:

    martoart said: Iya Ded, bukan karena Studi Banding.Kenapa berat? Baca jawaban komenku di Nita dan di Anis.

    iye…iye…ntar saya ga studi banding deh. tp nemenin anggota dewan jalan2 hehe…. siyap kumendan…

  42. debapirez says:

    martoart said: mereka pakai sistim menjumlahkan kenaan hukuman.Begini; Di forum Prachatai itu ada 15 komen anggota forum yg dituduh menyudutkan sistem Monarki. Satu tuduhan dipidana 5 tahun penjara, nah kalikan 15 komentar. Jiew, Nick name terdakwa itu, adalah moderator yg menanggung semua tuduhan karena azas melindungi Narasumber. Dia menolak membuka data para anggota forum.Kalo kita pake sistem penjumlahan hukuman, para koruptor itu bisa kena 900 tahun penjara. Kata Dhono Warkop, kalo udah mati, kubur aja di dalam penjara.

    wuedannn….

  43. afemaleguest says:

    martoart said: Gak juga sih, di Amrik makin banyak orang lebay dan tolol sejak 911, di Belanda, si Greet Wilders sendiri yg pekok.

    selalu terhubung dengan sisi agama kah, menurutmu? ke-lebay-an dan ketololan ini?I mean, pemicunya?

  44. afemaleguest says:

    martoart said: Mesjid?Oh, jarang ada di sana.

  45. nitafebri says:

    wikan said: banyak yang merasa kebebasannya terancam gara2 pers.

    klo yang ini sih saya kira dari sisi seleb yaa..dulu sebelum era keterbukaa informasi PAMALI ngubek2 skandal seleb dengan para pejabat..contoh: si machicha sama pak Moerberita seleb standar ajah..tapi sejak era keterbukaan gini, apaa ajah bisa jdi konsumsi publik.. bahkan terkesan kebablasan..banyak berita gak penting ttg seleb malah akhirnya di muat.bahkan ada koran Lokal Ibu kota headlinenya hampir tiap hari berita seleb.*komen dari yg mengamat berita para seleb indo.. ^_^V

  46. wikan says:

    martoart said: Tidak, karena memang itu juga maksudku dengan euphoria kebebasan menulis pasca SIUP.Katakanlah SABILI, yang tak sedikit menilai berisi pemberitaan yang terasa provokatif, yang meski tak harus karena gaya dan isi tulisan mereka, banyak penganut keyakinan lain yang merasa kebebasannya terancam.

    lha iya mas, apalagi sekarang banyak “reporter jalanan” yang mengabarkan berita dari sisinya saja, tidak cross-check, tidak check and recheck, tidak balance, tidak cover both of story. Tidak peduli apa bagaimana aturan jurnalistik, asal sensasional aja. Ngejar heboh-hebohan dan sadis-sadisan. Pokoknya brutal aja deh. Terus ada pengumbaran aurat dan aib orang berkedok jurnalistik. Lha ini gimana mas? Makin ngaco aja kan kalau semua orang berlomba-lomba buat bebas-bebasan menulis yang ngawur-ngawuran sekalipun.

  47. wikan says:

    nitafebri said: klo yang ini sih saya kira dari sisi seleb yaa..dulu sebelum era keterbukaa informasi PAMALI ngubek2 skandal seleb dengan para pejabat..contoh: si machicha sama pak Moerberita seleb standar ajah..tapi sejak era keterbukaan gini, apaa ajah bisa jdi konsumsi publik.. bahkan terkesan kebablasan..banyak berita gak penting ttg seleb malah akhirnya di muat.bahkan ada koran Lokal Ibu kota headlinenya hampir tiap hari berita seleb.*komen dari yg mengamat berita para seleb indo.. ^_^V

    bisa aja sih, diuber2 sama pers sampai kebebasan dan nyawanya terancam. Kayak Lady Di. Eh, emang paparazi itu termasuk dalam pers gak ya?

  48. nitafebri says:

    wikan said: bisa aja sih, diuber2 sama pers sampai kebebasan dan nyawanya terancam. Kayak Lady Di. Eh, emang paparazi itu termasuk dalam pers gak ya?

    klo paparazi kan jualan poto.. dia gak terikat kantor berita..tapi memang media klo di LN butuh juga dapetin poto dari paparazi..untuk berita teranyar menaikan oplah

  49. ris007bond says:

    informasi + ulasannya in depth…,gambarnya fact in beauty..,

  50. renypayus says:

    Takjub lihat sketsanya =p~

  51. harblue says:

    selamat hari pers, bung Marto

  52. anazkia says:

    martoart said: Berita buruknya terjadi euphoria berpendapat dan ‘berberita’. Sejak dihapuskannya Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP), terjadi ledakan media yang sayangnya tak dibarengi dengan kualitas pemberitaan di dalamnya. Kaidah jurnalisme diabaikan, kalimat menyerang bahkan yang menusuk wilayah keyakinan dan penghinaan kemanusiaan menjadi penyedap agar lakunya dagangan. Taburan kebencian tidak lagi ditujukan kepada penguasa, namun justru menyerang sesama. Keadaan seperti ini akhirnya menemu keliarannya di ruang maya, ruang di mana sesiapapun bebas berbicara atas nama kebebasan tanpa nama, namun tetap dengan bangga menyandang Citizen Journalism.  Dan ini sejatinya sebentuk ancaman jurnalistik tersendiri yang rasanya perlu dipikirkan oleh para penggiat pemberitaan.

    Mbah, sejak kemarin Anaz mau nulis tentang jurnalistik, judule, “Tanggung Jawab Moral dan Modal Seorang Penulis” Beberapa isinya, Anaz ambil dari modul pelatihan jurnalistik beberapa tahun lalu. Quote di aats, boleh Anaz ambil, Mbah?

  53. martoart says:

    afemaleguest said: selalu terhubung dengan sisi agama kah

    Tak selalu. Gretz Wider bukan dari partai berbasis agama. setahuku malah cenderung sekular fasistik.Sedang yg di Amrik, selain karena Christianity, juga karena kaum ultra nasionalis.

  54. martoart says:

    Itu yang aku bilang musti pada belajar lagi ttg kode etik jurnalistik dan kaidah jurnalisme.Memang dunia media dan jurnalisme sendiri maih belum final, ada banyak hal belum terselesaikan. seperti perdebatanku dengan aktivis Politikana itu.

  55. agamfat says:

    Kalau admin & moderator kaskus berada di thailand, hukumannya bisa 1 triliun tahun tuh. Thailand = memberangus kebebasan berpendapat. Tifatul = niatnya juga gitu, dg dalih ini itu. Barangkali Tif belajar dari Natt Chanappa

  56. martoart says:

    Wikan dan Nita, sebelum sampai ke Paparazi, perdebatan selama ini ttg terminologi Berita dan Infotainmen.PWI memasukkan penggiat Infotainmen ke dalam profesi kewartawanan.AJI tidak memasukkan mereka sebagai jurnalis.Paparazi menstok dan mengirim foto ontuk media semacam apa? dr situ silakan memasukkan mereka jurnalis atau bukan sesuai patokan lembaga kewartawanan di atas (dan juga sih sementara ini di Indonesia ini belum ada paparazi secara profesional). Aku termasuk yg ikut AJI dalam menempatkan pekerja Infotainmen.

  57. martoart says:

    ris007bond said: informasi + ulasannya in depth…,gambarnya fact in beauty..,

    Terima kasih bro…. (jangan nagih sambel ulu ya, cabe lagi mahal)

  58. martoart says:

    harblue said: selamat hari pers, bung Marto

    Tengkiyu, meski saya sekadar mendadak jurnalis.

  59. martoart says:

    renypayus said: Takjub lihat sketsanya =p~

    Waow… dipuji lagi oleh pembuat komik. Trims Ren

  60. martoart says:

    Silakan Nas, Kutunggu tulisanmu ttg jurnalisme

  61. anazkia says:

    martoart said: Silakan Nas, Kutunggu tulisanmu ttg jurnalisme

    Wakakakaka…Cuma nyalin, MbahTentunya dengan gaya bahasa biasa AnazYang LUCU= Lugu dan Culun heheheh

  62. martoart says:

    agamfat said: Tifatul = niatnya juga gitu, dg dalih ini itu. Barangkali Tif belajar dari Natt Chanappa

    Wakakaka masuk akal sih kalo dilihat kronologinya.CCA dibikin 2007, dan setahun (2008?) kemudian UU ITE.

  63. wikan says:

    martoart said: Itu yang aku bilang musti pada belajar lagi ttg kode etik jurnalistik dan kaidah jurnalisme.Memang dunia media dan jurnalisme sendiri maih belum final, ada banyak hal belum terselesaikan. seperti perdebatanku dengan aktivis Politikana itu.

    lha khawatirnya dengan “street reporter” dan “reporter tanpa batas” seperti para blogger dan wartawan2 cabutan (bukan wartawan beneran) yang namanya kode etik jurnalistik dan kaidah jurnalisme jadi abu2 dan gak jelas. atau malah ditanyain malah balik nanya, ooh ada tho namanya kode etik dan kaidah jurnalisme. kayak suatu situs berita yang suka bikin judul yang heboh dan berita yang asal njeplak (nulis dulu, ribut belakangan) itu gimana bisa ditindak. dan siapa yang menindak coba?

  64. wikan says:

    itu di gambar kedua ada Effendi Ghozali sama Wimar Witoelar ya?🙂

  65. martoart says:

    Kalau ini yang kamu maksud adalah sebuah NGO internasional, organisasi wartawan independen, dan teruji kredibilitasnya, sebagaimana yg mengadakan riset tahunan terhadap penghormatan kebebasan pers yg ada di tulisanku itiu (Reporter Without Border), hmm… aku saranin belajar lagi deh.

  66. martoart says:

    wikan said: wartawan2 cabutan (bukan wartawan beneran)

    Aku termasuk ini.Aku gak bekerja tetap di media, gak punya kartu wartawan. Hmm… gimana ya? Perasaan aku sangat ketat dalam menerapkan etika jurnalistik dan kaidah jurnalisme. Apa kiranya aku harus ndaftar dulu ke media agar sah jadi wartawan beneran?

  67. martoart says:

    wikan said: Effendi Ghozali

    Ha ha ha…. emang bener kamu. orangnya lumayan mirip.Yes, aku sukses nggambar artinya!

  68. dekmaniezt says:

    Sejak UU ITE keluar semenjak dulu, aku baru ngeh-nya beberapa minggu lalu *nepok jidat*Ternyata aku bisa dituntut orang semenjak dulu kala *angop*. Untung tipe-tipe orang yang kutemui, tengkar di tempat, hajar habis-habisan. Kalo masih kurang puas, diajak ketemuan gerebek di tempat. Eh, tapi pas digerebek malah ditraktir kopi trus diajak ngobrol yang nggak ada sangkut pautnya sama masalah T.T *orang-orang aneh*Minggu lalu, gara-gara baca UU ITE, homepage kuganti. Padahal aku lagi suka poster/foto kenakalan remaja.Ahh, dilema.

  69. wikan says:

    martoart said: Kalau ini yang kamu maksud adalah sebuah NGO internasional, organisasi wartawan independen, dan teruji kredibilitasnya, sebagaimana yg mengadakan riset tahunan terhadap penghormatan kebebasan pers yg ada di tulisanku itiu (Reporter Without Border), hmm… aku saranin belajar lagi deh.

    maksudku bukan itu kok cak🙂 harusnya “wartawan tanpa batas”, bukan mengacu pada NGO internasional yang satu itu.

  70. wikan says:

    martoart said: Aku termasuk ini.Aku gak bekerja tetap di media, gak punya kartu wartawan. Hmm… gimana ya? Perasaan aku sangat ketat dalam menerapkan etika jurnalistik dan kaidah jurnalisme. Apa kiranya aku harus ndaftar dulu ke media agar sah jadi wartawan beneran?

    ndaftar jadi wartawan beneran juga gak njamin jadi wartawan beneran. lha wong sekarang juga banyak “wartawan amplop” (yang beneran)

  71. inyong says:

    gak pernah diajak jalan jalan yo

  72. martoart says:

    wikan said: ndaftar jadi wartawan beneran juga gak njamin jadi wartawan beneran. lha wong sekarang juga banyak “wartawan amplop” (yang beneran)

    Wikan, aku lumayan acap menghadapi pencedera profesionalisme seperti amplop, uang transport, entertanment, bahkan ‘teman’ peliputan, Atas nama profesionalisme, aku menolaknya meski tak bernaung dalam organisasi profesi kewartawanan seperti PWI, PWI Reformasi, atau AJI. Artinya tak butuh nunggu sah sebagai orang berprofesi wartawan untuk sekadar bersikap profesional.Tolong dimengerti saja bahwa Wartawan Lepas (Freelancer), boleh kamu bilang dengan istilah cabutan (he he,, jadi ingat Harmoko dulu pernah menyebut dengan singkatan WTS=Wartawan Tanpa Surat Kabar), bisa bersikap profesional tanpa berprofesi jadi wartawan tetap. Aku hanya tak masuk dalam lingkar kerja kewartawanan, karena kapasitasku yg tak mampu segigih mereka dalam bekerja.

  73. martoart says:

    dekmaniezt said: homepage kuganti. Padahal aku lagi suka poster/foto kenakalan remaja.

    Emang posternya ‘menyembul’ ya? Tahu gak? bahwa itu bisa dijerat setidaknya oleh tiga Undang2:KUHP Pasal kesusilaan, UU ITE Pasal 27 kalo ga salah, dan kentu saja UUPorno itu… Gila ya?Banyak alasan untuk takut hidup di negeri ini, tapi kalo kamu memilih menjadi orang yang penakut, ya sekalian aja jangan mau hidup.dik. Hidup dalam ketakutan itu ibarat mati berkali-kali. hehehehe…

  74. martoart says:

    wis gedhe mbok ya dolan dhewe..

  75. karonkeren says:

    martoart said: Katakanlah U E Arab jauh lebih tinggi tingkat perekonomiannya dibanding Belgia

    setauku dua duanya sama sama udah masuk dalam negara bangkrut lho … UEA lagi nanggung banyak utang di sektor properti dan real estate … sementara Belgia sama kayak negara2 Eropa lainnya … lagi krisis beratsss

  76. karonkeren says:

    martoart said: Hidup dalam ketakutan itu ibarat mati berkali-kali. hehehehe…

    makanya disiasati … ibarat pemberontak, kalo mau ngelawan hukum, harus belajar dulu soal hukum … hehehe

  77. dekmaniezt says:

    martoart said: bahwa itu bisa dijerat setidaknya oleh tiga Undang2:KUHP Pasal kesusilaan, UU ITE Pasal 27 kalo ga salah, dan kentu saja UUPorno itu… Gila ya?

    Tergantung yang liat sebenernya. Kalo orang liat sih itu mesum, kalo gw yang liat sih itu estetika photography T.TSeingetku, photo2 begitu boleh ditampilkan kalau mendukung program2 pemerintah, misalnyo pendidikan (pendidikan seks usia dini, misal). Ato mendukung artikel-artikel yang dikhususkan untuk itu.Lah punyaku cuma poto kupajang di homepage, ditambah penjelasan “Im into phonography” (tampar-tampar muka sendiri).*) Paling ntar gw ganti deh, tambahin tulisan “dont do it at home” ngiiikkk…

  78. duabadai says:

    ckckckck salut sama ilustrasinya..ga takut digerebek tuh waktu bikin sketsa?

  79. sepunten says:

    selamat hari pers… eh termasuk bloger & microbloger kan? (Citizen Journalism)

  80. martoart says:

    karonkeren said: makanya disiasati … ibarat pemberontak, kalo mau ngelawan hukum, harus belajar dulu soal hukum … hehehe

    Kentu saja gw setuju ini cuy!

  81. martoart says:

    dekmaniezt said: dont do it at home

    do it at pasar. kakakaka

  82. martoart says:

    duabadai said: ga takut digerebek tuh waktu bikin sketsa?

    Gak, karena itu di luar kenaan pasal atau klausul sebagai alat perekam. Itu yg dilakukan di persidangan yg melarang masuknya alat perekam di sistem peradilan beberapa negara. Mensket suasana sidang disetarakan dengan wartawan yang menulis laporan.Memang konsep sketsa seperti ini masih bersuasana polemik, apakah bisa dimasukkan sebagai data akurat atau tidak. Jangankan sketsa, rekaman suara saja tak bisa dipakai sebagai alat bukti di pengadlan Indonesia. Lucunya, kepolisian Indonesia menerapkan sistem pencarian buron dengan sketsa wajah.trims.

  83. jadul1972 says:

    martoart said: Mesjid?

    MasjitMasage dan Pijit

  84. martoart says:

    sepunten said: termasuk blog

    Blog, jejaring sosial, forum online, dst adalah medium. Menjadi media jurnalisme ketika menerapkan beberapa aturan penerbitan dan yg lebih utama adalah kaidah jurnalisme dan kode etik jurnalistik.Apakah selama ini kita harus menjadi jurnalis? Nggak harus, tapi apakah kita seorang blogger (Penulis Blog) atau Jurnalis (Penulis Jurnal)?He he he.. MP menyebut bagian postingan tulisan panjang dengan JURNAL, sementara isinya curhatan geje. Hemm…

  85. dekmaniezt says:

    martoart said: MP menyebut bagian postingan tulisan panjang dengan JURNAL, sementara isinya curhatan geje

    jurnal kehidupan tentang hidup si penulisKBBIjur·nal n 1 (buku) catatan harian; 2 surat kabar harian; 3 Dag buku yg dipakai sbg buku perantara antara buku harian dan buku besar; 4 Dag buku yg dipakai untuk mencatat transaksi berdasarkan urutan waktu; 5 majalah yg khusus memuat artikel dl satu bidang ilmu tertentu;*mrenges*

  86. martoart says:

    dekmaniezt said: jurnal kehidupan tentang hidup si penulis

    Tentu boleh saja bila merujuk KBBI sebagai catatan harian, meski ada aturan yang KBBI tak menyentuhnya, yaitu tata bahasa yang menyatakan bahwa sebaiknya memilih kata atau istilah untuk sekecil mungkin menimbulkan/memberi peluang terjadinya penafsiran ganda.Rasanya ketika MP memilih kata ‘Blog’ untuk itu, tapi url(?)nya masih tertulis sebagai ‘Journal’.

  87. dekmaniezt says:

    Oxfordblog noun a personal website or web page on which an individual records opinions, links to other sites, etc. on a regular basis. verb (blogs, blogging, blogged)journalnoun 1 a newspaper or magazine that deals with a particular subject or professional activity:medical journals[in names] :the Wall Street Journal 2 a daily record of news and events of a personal nature; a diary.-Nauticala logbook.-(the Journals)a record of the daily proceedings in the Houses of Parliament.-(in bookkeeping) a daily record of business transactions with a statement of the accounts to which each is to be debited and credited.3 the part of a shaft or axle that rests on bearings. ..*mikir*- blog = “a personal web page which an individual records”- journal = “a personal nature”jadi untuk orang-orang geje, MP dengan url ‘journal’ dan link ‘blog’ :‘a personal web page which an individual records of a personal nature’hoahahahhahaaaaaa…. *ngancurin tembok*

  88. sepunten says:

    asek, bahasan definisinya

  89. martoart says:

    dekmaniezt said: jadi untuk orang-orang geje, MP dengan url ‘journal’ dan link ‘blog’ :’a personal web page which an individual records of a personal nature’

    ya ya ya…

  90. dekmaniezt says:

    ehh, ini ngomongin dari sudut jurnalis dan pers ding..*mlipir*

  91. remangsenja says:

    kok aku gag diajak siih…. kan pengen liat pengadilannyaaa😦

  92. martoart says:

    oh ada international journalisthehehe

  93. remangsenja says:

    martoart said: oh ada international journalisthehehe

    :((… kaaan gitu kaaan…. gag bilang waktu chat di YM mau ngapain di thailand..

  94. martoart says:

    remangsenja said: :((… kaaan gitu kaaan…. gag bilang

    Tuh dua anak AJI dapet giliran berikutnya memantau sidang tuuh. coba kontak Nezar.He he…

  95. tintin1868 says:

    50tahun? kebebasan pers disana msh kaya jaman orba ya..gambarnya apik, jd kalu ga pd boleh bw perekam, pd boleh gambar dan dibayar ga? jd ky di koran2 jadul di amrik yg sidangnya digambar hitamputih gini..

  96. martoart says:

    tintin1868 said: 50tahun

    Semoga tidak jadi, dan ini berita yg aku dapat dari New Mandala (Media Online terpercaya dari Australian National University):http://asiapacific.anu.edu.au/newmandala/2011/02/12/chiranuch-trial-delay/Semuanya free Intan, ini aku gambar dan aku tulis untuk solidaritas. Siapapun boleh pakai dengan semangat kemanusiaan yg membebaskan.

  97. rawins says:

    wah dimana mana pasal karet berlaku untuk kebebasan pers. kirain di indonesia raya doang…gambare rakalah karo ubrux..

  98. papahende says:

    Banyak belajar dari sini, termasuk dari komen-komennya. Tks Mas Marto (untuk membaca tulisane Mas Marto harus yakin ketersediaan waktunya, kerena nggak bisa dibaca sambil lalu, begitu biasanya).

  99. martoart says:

    papahende said: Banyak belajar dari sini, termasuk dari komen-komennya

    Terima kasih Pak, Saya juga banyak sinau dari blog njenengan.

  100. cenilhippie says:

    martoart said: KUHP Pasal kesusilaan, UU ITE Pasal 27 kalo ga salah, dan kentu saja UUPorno itu… Gila ya?

    lah itu headpage multiply aku ada ilustrasi buatanku cewe topless…termasuk juga ga?

  101. martoart says:

    cenilhippie said: ada ilustrasi buatanku cewe topless..

    Infidel!Bubarkan!Bredel!

  102. luqmanhakim says:

    Postingan yang terlewat…Btw, pers itu setali tiga uang, sebelas dua belas sama politisi Cak. UDah ngecek belom, temen-temen AJI sekarang yang dulunya idealis apa masih tetep idealis? Beberapanya mengaku “kiri” dan nempel sama penguasa kok. Tetep, “In Money We Trust”. Nggak pernah ada pers yang independen, dijamin!

  103. martoart says:

    luqmanhakim said: pers itu setali tiga uang, sebelas dua belas sama politisi

    Tak sepakat, sebab yg harus diperhatikan adalah “siapa menguasai siapa” itu dulu.Ambil contoh, Nezar Patria Ketua AJI, gawe di VIVA NEWS dan katakanlah hal itu membuat dia tak mampu menyerang Bakrie dalam kasus Lumpur Lapindo, ya “In Money We Trust” akan berlaku.Nezar boleh jadi tak independen, tapi bukan berarti lantas digebyah-uyah (digeneralisasikan) pers gak independen. Nezar orang pers, tapi Nezar bukan Pers itu sendiri.

  104. luqmanhakim says:

    Diskusi ini bakal panjang Cak. Pers butuh duit, pers butuh keberlangsungan hidup untuk mendanai setiap kegiatannya. Aku cuma mau minta contoh, adakah pers yang independen? Nggak pernah ada! Dari permasalahan ini kita bicara masalah new media. Blog-blog bertumbuhan dan blog-blog bagus mulai bicara dengan independensitasnya. Pernyataanku bisa hangus ketika kita bicara masalah new media di sini. Tetep, pers adalah industri yang butuh diasupi. Kepada siapa mereka berpaling untuk bisa mendapatkan asupan itu? In Money We Trust, jelas. Samain persepsi kita dulu bahwa pers bila berwujud institusi dia akan mengalami kesulitan masalah independensi, terutama masalah In Money We Trust. Lain hal bila itu berwujud dalam blog pribadi, tapi aku mengatakan kalo itu justru semangat pers-nya yang independen…

  105. luqmanhakim says:

    martoart said: Ambil contoh, Nezar Patria

    Pas aku keluar dari antv, aku pernah ngobrol sama Bang Nezar masalah ini. Aku ngomong agak nyentil dengan bilang, “Wah Bang Nezar, Abang ini sekarang udah jadi anak emasnya Bakrie. Kira-kira AJI beneran bakal independen nggak ya buat kedepannya nanti?”Omongan ini aku lontarkan Oktober 2009 di saat aku juga tengah minta tolong kesediaannya dia buat endorse bukuku kelak. Buku yang sampe sekarang masih aja aku bikin dan molornya kelewat panjang karena niatnya cuma 1 buku malah jadi 3 buku. Bang Nezar diem dan nggak ngejawab omonganku.

  106. martoart says:

    luqmanhakim said: Wah Bang Nezar, Abang ini sekarang udah jadi anak emasnya Bakrie. Kira-kira AJI beneran bakal independen nggak ya buat kedepannya nanti?

    Gini Man, dalam konteks ini Nezar anak emas Bakrie secara kerja di media dia (Viva News), pasti bukan secara dia sbg ketua Aji. Harus dibedain. Kalau elu nanya; “Kira2 Viva News bakal independen gak?”, itu baru nyambung. Lagian aku bilang itu satu contoh doang loh. kebetulan nama itu yg tiba2 melintas.

  107. martoart says:

    luqmanhakim said: Aku cuma mau minta contoh, adakah pers yang independen?Nggak pernah ada!

    Itu sesungguhnya sama aja minta contoh ada gak nabi yg independent. Nggak pernah ada!Persoalannya bukan independensitas Man, namun terletak pada subsatansi sebuah niat dan gerakan (lebih bagus dan lebih berat lagi adalah bagaimana dia bergerak). Pers bergerak di ranah demokrasi, politik di ranah kekuasaan, ekonomi di ranah keuntungan. Kalau semua tak mungkin lepas dari modal duit, dan gw disuruh pilih berpihak di mana, elu jelas tahu kepada siapa gw akan menaruh kaki.

  108. luqmanhakim says:

    martoart said: Pers bergerak di ranah demokrasi, politik di ranah kekuasaan, ekonomi di ranah keuntungan.

    Substansinya sih udah sama, apalagi setelah liat pernyataan ini. Kapan waktu deh, kita ngobrol banyak bukan di dunia maya begini. Toh maya juga nggak bisa ditelanjangin, lagi dipakein hijab biar berjilbab sama Teffie…

  109. martoart says:

    luqmanhakim said: Substansinya sih udah sama, apalagi setelah liat pernyataan ini

    cool.tapi bukankah kalo digelar di sini, yg lain bisa ikutan berbagi?

  110. karonkeren says:

    ikutan nimbrung soal keberpihakan pers …gue emang gak menggeneralisir soal pers itu gak independen yah, cuman pada akhirnya gue juga salah satu orang yang udah distrust juga sama pers cuy … ada beberapa contoh kasus yang gue pernah konfront langsung ke si jurnalisnya … gue gak mau nyebut namanya sapa aja … tapi ini dalam bidang seni, musik dan kultur … jadi dulu, jaman para jurnalis itu masih blom jadi anak emas koorporasi industri multinasional, dia banyak ngasih tulisan yang gue bilang cukup kritis dan cukup anarkis gitulah … seiring waktu singkat kata mereka jadi *tokoh* … sialnya ketika mereka udah ikutan koorporasi2 itu, mereka turn around, berpihak kepada koorporasi tempat mereka bekerja … tulisan2 mereka yang ada di media kemudian banyak mewakili kepentingan koorporasi itu … lebih sial lagi, banyak yang mengamini hal tersebut karena sebelumnya mereka udah jadi kayak semacam nabi buat *scene* mereka masing masing … ini alasan yang bikin gua distrust sama pers sama media … ada kepentingan terselubung yang ujung ujungnya in money we trust … dan itu sih yang malesin to

  111. martoart says:

    Gini mas bro, dan semuanya..Kalo kaidah jurnalisme mengajarkan “Berpihaklah kepada penyokong dana mediamu”, itu artinya Pers gak pernah independen. Pers nggak menyarankan itu dalam kaidahnya kan? Malah menentang hal seperti itu kan? Pers pada dasarnya independen,…maka kalo ada insan pers, penggiat media, jurnalis, dst yg nerima amplop untuk mengubah berita, itu tak bisa dibilang melakukan aktivis jurnalisme sesua kaidah. Bukan maunya pers. Kenapa susah ngebedain?

  112. ohtrie says:

    martoart said: maka kalo ada insan pers, penggiat media, jurnalis, dst yg nerima amplop untuk mengubah berita, itu tak bisa dibilang melakukan aktivis jurnalisme sesua kaidah. Bukan maunya pers. Kenapa susah ngebedain?

    Nambahin kang Karonkeren adalah Pertanyaan orang bodoh sepertiku ini mBahh…Bagaimana mBah Marto memberi pernyataan saat acapkali kita melihat Metrotipi sangat jarang sekali memberitakan Surya Paloh secara berimbang…. Ato ketika melihat Lapindo pun menyaksikan Bakrie toh akhirnya Tipiwan dan antepe pun enggan berbicara (boror-boror berimbang)…??Ini bukan masalah, antepe, tipiwan, pun metritipi lho mbahh, namun lebih menjurus juga bahwa institusi itu khan para insan pers juga yang memberi nyawanya…

  113. martoart says:

    ohtrie said: Ini bukan masalah, antepe, tipiwan, pun metritipi lho mbahh, namun lebih menjurus juga bahwa institusi itu khan para insan pers juga yang memberi nyawanya…

    intinya tetep pada susah ngebedain.Insan pers, media penyiaran, bisa dan biasanya mudah melakukan kinerja contra-journalistic. Oke deh aku kasih tingkatan sederhana bagaimana mudahnya terjadi pelencengan;Insan pers seharusnya berpegang pada aturan dan etik kantor media penyiaran tempat dia bekerja. Kalo dia menerima suap, sedang kantor melarang itu, bukan berarti kantornya ikut menjadi pelanggarkan?Kantor media penyiaran seharusnya berpegang pada UU Penyiaran di suatu negeri. Kalo Kantor itu menerima duit agar tak menyiarkan bencana sebuah perusahaan, sedang UU Penyiaran melarang itu, bukan berarti UU Penyiaranya ikut menjadi pelanggarkan?UU Penyiaran di suatu negeri seharusnya berpegang pada prinsip universal kebebasan informasi. Kalo UU Penyiaran di suatu negeri itu menutup seluruh jaringan internet agar tak menyiarkan demo besar menentang penguasa lalim, sedang prinsip universal kebebasan informasi melarang itu, bukan berarti prinsip universal kebebasan informasi ikut menjadi pelanggarkan? Dst.Malah bingung?

  114. wayanlessy says:

    martoart said: Malah bingung?

    Nggak. Malah jadi jelas dan jadi penutup yg manis setelah berpanjang-baca deretan komentar2 yg banyak dan bermanfaat sebelumnya.Anyhoooow…Makasi atas tulisannya, Cak. Entah kenapa jadi nyangkut disini pas aku lagi nyari info ttg terminologi lebih lanjut ttg Lese Majeste dan berasa serendipity berjodoh bgt sama komen2 yg ada, karena aku lagi baca satu buku yg membahas ttg bagaimana mencari kebenaran berita di masa ini; the age of information overload.

  115. martoart says:

    wayanlessy said: the age of information overload

    Sepertinya keren, tapi pasrah deh kalo lom ada terjemahannya. he he

  116. wayanlessy says:

    martoart said: Sepertinya keren, tapi pasrah deh kalo lom ada terjemahannya. he he

    Judulnya “Blur”. Non Fiksi. Karangan Bill Kovach & Tom Rosenstiel.Ndak tahu apa sudah ada terjemahannya apa belum. Aku masih belum selesai baca. Kalau ternyata buku ini cukup menggairahkanku untuk mereviewnya dan ada kesempatan nulisnya, akan aku ceritain semampuku di MP.edited: tambahan kalimat keterangan.

  117. martoart says:

    wayanlessy said: Bill Kovach

    Nama tak asing bagi kami dulu sewaktu masih aktif di PANTAU, komunitas jurnalis di Utan Kayu.Sepertinya ga begitu salah pilih buku ttg jurnalisme bila keluar dari pemikiran dia. Bukan kebetulan pula dari baca Bill Kovach akan ketemu postingan jurnalisme di blogku. He he.. mencoba GR.

  118. wayanlessy says:

    martoart said: Nama tak asing bagi kami dulu sewaktu masih aktif di PANTAU, komunitas jurnalis di Utan Kayu.Sepertinya ga begitu salah pilih buku ttg jurnalisme bila keluar dari pemikiran dia. Bukan kebetulan pula dari baca Bill Kovach akan ketemu postingan jurnalisme di blogku. He he.. mencoba GR.

    ough begitu ya..aku malah nggak tahu sama sekali ttg beliau, mas.. Aku cuma beli bukunya secara impulsive setelah melihat sampul, judul dan keterangannya. hehe..ndak GeR itu kok. Pengetahuanku ttg jurnalisme setara dengan balita, jadi pastinya aku akan mencari tahu dari sumber2 terdekatku yg tahu banyak soal ini. Blogmu termasuk yg akan paling sering aku datangi tentu.

  119. martoart says:

    wayanlessy said: ough begitu ya..aku malah nggak tahu sama sekali ttg beliau, mas.. Aku cuma beli bukunya secara impulsive setelah melihat sampul, judul dan keterangannya. hehe..ndak GeR itu kok. Pengetahuanku ttg jurnalisme setara dengan balita, jadi pastinya aku akan mencari tahu dari sumber2 terdekatku yg tahu banyak soal ini. Blogmu termasuk yg akan paling sering aku datangi tentu.

    Aku harus beli helm baru peredam pujian nih. Menjaga agar kepalaku ga makin membesar..

  120. martoart says:

    Sehari terlambat merayakan World Day Against Cyber-Censorship (12 Maret), saya berbagi wawancara berikut ini:

  121. martoart says:

    Membagi salam dari RSF:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s