SKENARIO INDONESIA 2020

Sepuluh tahun yang lalu, tahun 2000, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menerbitkan sebuah buku berjudul “SKENARIO INDONESIA 2010”. Buku disusun bersama oleh tim yang berisi nama-nama besar seperti Asmara Nababan, Emil Salim, Karlina Supeli, HS Dilon, Emmy Hafild, Marzuki Darusman, MM Bilah, dan beberapa lagi. Sepertinya tulisan saya ini akan menjadi satu-satunya yang menanggapi buku seiring menjelang kadaluwarsa berakhirnya periode skenario, tahun 2010.

Ada empat skenario dalam sinopsis singkat yang disusun di buku ini, yaitu;

1) Masuk ke rahang buaya

Indonesia mengalami ketidakpastian yang berkepanjangan sebagai akibat pemerintahan otoriter dengan kebijakan ekonomi tertutup. Indonesia dikucilkan oleh masyarakat dunia. Setiap perlawanan rakyat dibungkam dengan jalan kekerasan dan terror. Penjara penuh.

2) Di ujung tanduk

Indonesia bagaikan matahari yang akan tenggelam. Langit memerah seakan disiram darah rakyat Indonesia yang menjadi korban kekejaman pemerintah dan aparatnya. Indonesia bagai kapal yang terombang-ambing diterjang badai dan kemudian pecah.

3) Mengayuh biduk retak

Ketakutan akan pertumpahan darah akibat perpecahan di Indonesia, memaksa orang untuk duduk di meja dialog. Hasilnya adalah otonomi daerah seluas-luasnya dan penuntasan demokratisasi. Masalah ekonomi diselesaikan dengan memacu pertumbuhan.

4) Lambat tapi selamat

Kehendak untuk sepakat secara nasional muncul seperti tak terduga. Kekerasan mereda. Keadilan menjadi landasan untuk menyelesaikan konflik. Pertumbuhan ekonomi tidak menyolok, tetapi pemerataan berlangsung sampai ke daerah-daerah. Rupiah masih lemah meskipun cukup stabil.

Tanggapan bebas saya tidak diniatkan untuk tak menghargai jerih payah pemaparan panjang-lebar di dalam buku, sebab menyadari bahwa skenario bukanlah ramalan (Prediction) melainkan mengandung perkiraan (Estimation). Karenanya memang ternyata berbeda dengan apa yang terjadi. Adalah tampak skenario yang disusun terlalu maju, mendahului waktu. Maksudnya, estimasi negatif dua skenario pertama ternyata memang belum memadai, belum cukup beralasan menasbih keterpurukan Indonesia di dasawarsa skenario. Rupanya pemerintah Indonesia belum cukup punya nyali untuk menjadi rejim otoriter dan melawan sisa euforia reformasi 1998. Estimasi saya, pasca 2011 otoritarianisme baru memungkinkan menemu bentuknya. Itupun lantaran rakyat sudah semakin sibuk dengan urusan mencari rejeki sendiri dan kembali menjauh dari niat baik semangat reformasi sepuluh tahun lalu. Jikalau lahir wajah baru tiran Indonesia kelak, yang saya bayangkan adalah persetubuhan junta militer dengan rejim Islam, sebuah bangunan Fasisme-Religius yang mengerikan. Bangunan ini sesungguhnya tak begitu kokoh karena tercipta berlambar saling curiga, namun berkesamaan niat berbagi kuasa.

Sementara itu estimasi positif dua skenario ke dua juga memang belum sampai waktunya. Misalnya geger skala nasional hampir tak terjadi. Pertumpahan darah setingkat Tragedi Mei 1998 jelas tak ada. Dan kalimat “Kehendak untuk sepakat secara nasional muncul seperti tak terduga” dalam skenario ke empat mencederai sikap akademik para intelektual penyusun buku ini. Rupanya ada semangat mesianistik di dalam bawah sadar mereka.

Tapi memang keluputan skenario itu lebih ke hitungan waktunya. Maka saya lebih memilih memundurkannya ke dasawarsa berikutnya yaitu dari tahun 2011 sampai 2020, yang apabila tak ada perubahan besar dan mendasar, adalah prediksi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bubar.

Alasan saya lebih berdasar naluri, karenanya saya memilih kata ‘Prediksi/Ramalan’, bukan ‘Estimasi/Perkiraan’, jadi jangan terlalu menyalahkan saya apabila tak tampak akademis. Sebagai berikut;

1. Kasus Ekonomi: Memasuki tahun 2011, berbagai kasus besar yang berbasis uang panas tak menemui penuntasan pasti. Kasus Bank Century, mafia pajak, korupsi di berbagai lembaga, gelembung rekening di tubuh kepolisian, penjualan aset negara serta saham BUMN, ketaktersentuhan BI, bayang-bayang neoliberalisme yang diusung IMF dan World Bank, serta kasus ekonomi lain yang datang bertubi-tubi justru hanya semakin mengentalkan daya imunitas masyarakat terhadap kabar buruk kinerja. Berita kebusukan menjadi hal biasa, menjadi infotainmen yang kehadirannya menghibur, mengakomodir kemarahan penonton barang sebentar, untuk secepatnya lena lagi.

Saya hanya bingung menempatkan kasus – kasus korupsi di sini. Tentu sebaiknya ada dalam ranah hukum, tetapi mengingat betapa besaran uang yang tak terperikan, saya masukkan saja di dalam persoalan ekonomi.

2. Kasus Hukum: Kacamata awam saya pastilah tak sejernih kaca para praktisi dan pengamat hukum, tapi bisa jadi secara naluri, saya bisa lebih merasakan keterpurukan. Produk hukum yang berupa undang-undang ataupun peraturan yang ada lumayan rajin dihasilkan menjelang berakhirnya 2010. Tapi apakah pasal, ayat, klausul di dalamnya cukup mengakomodasi niat baik tumbuhnya peradaban ke depan? Saya meragukan. Saya cukup mengikuti perkembangan yang ada, dan miris dengan apa yang tercipta. Perda-perda yang tak bersuasana Nusantara bertebaran bersama merekahnya otonomi daerah. Dan rasanya hal ini cukup beralasan menjadi bara utama disintegrasi bangsa.

Sementara di pusat kekuasaan, rebutan kuasa penanganan kasus besar lebih mere
but perhatian daripada kasus itu sendiri. Misal tentang lembaga mana yang paling berkompetensi dalam penanganan kasus Century. Apakah Kepolisian atau KPK. Siapa paling memiliki otoritas, Mahkamah Konstitusi atau Komisi Yudisial, dan seterusnya.

3. Kasus Politik: Politik seharusnya menjadi elemen pendewasa bangsa, dan partai politik sudah sewajarnya menjadi darah demokrasi, namun sayangnya pertikaian politik selalu membakar. Perebutan kuasa atas nama partai ataupun ideologi menjadi peretak yang susah diatasi. Dan perkubuan yang melibatkan militer merupakan daya hancur tak tepermanai bagi NKRI. Indonesia akan segera habis lantaran wilayah elit dikuasai para politisi instan dengan urat politik jangka pendek. Memenangkan partai dan diri-sendiri kemudian entah kapan baru mengabdi kepada negeri. Dialektika demokrasi di parlemen, istana, dan kronika pemilu yang seharusnya menjadi sajian bagus menjadi sia-sia. Politik uang, konspirasi dan kebusukan membuat awam akan memaknai memang begitulah politik. Pameo politik itu kejam tak pernah terbantahkan. Adakah yang tak kejam? Dan kenapa kekejaman itu dengan sadar kita biayai?

Namun juga tak terelakkan, perpolitikan Indonesia pasca 2010 akan semakin diharu-biru oleh pengaruh luar. Kekuatan asing yang saya baca adalah Amerika sebagai representasi kapitalisme, Negara-negara Arab yang mewakili Islam, dan Cina yang menyusup dengan wajah baru tanpa penyertaan ideologi tercurigai. Saya membayangkan akan terjadi Perjanjian Tordesilas ala Indonesia. Amerika sepertinya masih menjaga wilayah timur Indonesia tanpa mengalihpandangkan lirikannya ke wilayah sebelah barat. Cina merangsek wilayah tengah, namun tak lengah menjarah ke sebelah, dan Arab melahab bagian barat tapi siap menangkap wilayah timur dengan jerat. Anda bisa membayangkan betapa riuhnya Indonesia kelak? Pak Wapres sudah bisa.

“Wakil Presiden Boediono memperkirakan pada 20 tahun mendatang, Indonesia akan menjadi ‘surga’ bagi tenaga kerja asing, seiring dengan membaiknya situasi ekonomi dan politik”.

(ANTARA, Jakarta, senin, 20 Desember 2010)

Perkiraan saya dengan Wapres Budiono memiliki kesamaan, kecuali pada soalan baiknya situasi ekonomi dan politik.

4. Budaya: Indonesia adalah negara yang tidak memil
iki kebudayaan khusus sebab kebudayaan Indonesia justru pada keberagamannya. Kesenian hanyalah produk fisik dari kebudayaan itu, karenanya ia adalah identitas yang bergerak. Saya adalah sebagian dari mereka yang tak peduli dengan perubahan produk kesenian. Pakem yang terberai, atau tari yang dicuri. Tak begitu khawatir akan Amrik ataupun Arabic Invasion. Saya hanya peduli dengan falsafahnya. Falsafah adalah kandungan non-fisik dalam kebudayaan Indonesia. Ia yang membangun peradaban, dan ia yang sepatutnya kita jaga. Bentangan negeri dengan ratusan adat dan keanekaragaman yang tak terkalahkan di dunia ini memuat falsafah lokal yang juga kaya, yang belum sepenuhnya terkupas, namun mulai terkontaminasi. Akar kebersamaan dan ikhlas mulai tergerus. Kecerdasan lokal yang dulu cukup membanggakan sebagai perisai dan saring falsafah manca, sepertinya semakin meniada.

5. Lingkungan Hidup: Keempat kasus besar di atas menjadikan Idonesia akan berantakan di wilayah ide-ide keindonesiaan. Dan di wilayah fisik, meski boleh tak dianggap penting, petaka lingkungan hidup turut memberai Indonesia. Bencana alam akan sangat dimaklumi mengingat negeri ini mengambang di atas tiga lempeng tektonik benua sekaligus menjadi lokasi persinggungannya. Dan deretan terpanjang gunung berapi aktif lingkar api pasifik dunia memeluk Nusantara dengan panas. Namun bencana yang ditimbulkan manusialah yang tak lagi mampu diatasi. Penambangan mineral dan sumber energi di seluruh perut Pertiwi oleh Freeport McMoRan, Newmont, Rio Tinto, Bakrie group, dan banyak lagi tak pernah henti. Di muka bumi, hutan heterogen dibabat tak kenal istirahat. Sinar Mas group, Wilmar International, Astra Agro Lestari, PT. Perkebunan Nusantara, Lonsum, dan banyak lagi berebut rejeki dengan menggunduli rambut Pertiwi. Kemudian drama carbon trading turut mewarnai, maka pengaruh buruk perubahan iklim semakin tak terelakkan. Salah Mongso, dalam khasanah lama moyang kita.

Pembangunan PLTN lantas kembali meruak seiring kebodohan dan keterdesakan akan kebutuhan energi. Saya masih bertanya-tanya, apa yang ada di benak penguasa sehingga petaka reaktor terlupakan? Saya bukannya meragukan kecakapan sumber daya manusia Indonesia, tapi kinerja buruk di banyak hal sederhana saja kita tak mumpuni. Misal, untuk membuang sampah plastik saja sembarangan, bagaimana dengan limbah nuklir? Belum lagi mereka para pengeruk rejeki instan, para penentu kebijakan yang tak peduli kelanjutan Indonesia di masa depan, dan banyak hal lagi. Tapi barangkali jika suatu saat terjadi tragedi, mereka tinggal mengacu kasus lumpur Lapindo; Menyalahkan Alam.

Sebaiknya saya berhenti sampai di sini saja. Lima hal buruk itu saja rasanya cukup untuk menyelesaikan Indonesia. Daftar panjang bisa Anda tambahkan kalau tega.

Selamat Malam, Selamat Tahun Baru 2011.

Jakarta, 30 Desember 2010

—————————————————-

Mengenang Bang Asmara Nababan

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

32 Responses to SKENARIO INDONESIA 2020

  1. martoart says:

    Foto Sampul buku nggak akan nongol kalo nggak dipinjemin kamera sama http://srisariningdiyah.multiply.com/.Kalo males baca ramalan iseng ini, dengerin aja lagu dari Bang Franky Sahilatua berikut:

  2. rengganiez says:

    ndhisiki moco ahh…

  3. rengganiez says:

    masalah lama yang gak selesai, masalah baru menanti😦

  4. ohtrie says:

    wehbahasan lumayan berat ki mBahh.. tapi coba melu cuap-cuap wiss…Ekonomi, politik, hukumBeberapa hal di negeri ini yang sungguh gampang dipelintir dan diskenarioakan karena masih tersedia banyak pokok bahasan yang bisa ditayangkan ke penonton (baca: rakyat)Case demi case disusun dan ditata rapih ileh sang penulis skenario dan juga sang sutradara demi pemolesan citra. Home production diberi nama SINETRONESIA.DIlain sisi, mereka juga membentuk team sepak-bola dengan nama team adalah Persatuan Sepak Politik Ngendonesyah, ada duet maut sebagai striker yang sering banget melakukan manuver walau tak sedikit melakukan offset bahkan blunder.Di barisan tengah tak ketinggalan gelandang perusak pun memainkan perannya dengan apik hingga mampu membangkitkan emosi bagi yang mereka anggap lawan. Sementara dibelakang gawang duduk manis para koruptor yang lumayan bisa ketawa-ketiwi menikmati tayangan pertandingan.Yang tak kalah canggihnya adalah di jajaran official, meski kadang sang manager team akting dengan “wajah tegang ” namun tak sedikit pula akting itu berganti dengan “tetesan air mata”. Yang pasti itu hanya polesan saja, karena setelah dan bahkan selama pertandingan berlangsung sang manager bisa jalan-jalan ke amnca negara juga, tak peduli apa yang terjadi di stadion tersebut.Mengenai ranah budaya,Sudah terlalu banyak yang memakannya tak dikupas, dan hanya langsung ditelen bersama kulitnya, sama sekali tak dikunyah juga. Padahal kalau dikupas kita bisa tahu warna filosofi budaya itu sendiri, bisa merasakan juga mengaplikasikan dalam kehidupan ini.Kembali lagi, yang terjadi selalu mengelu-elukan milik orang lain. Padahal kurang apa sih kita ini…? Sudah nyata-nyata cukup hijau malah pingin dibikin ladang padang-pasir, sudah cukup dingin masih dok pingin bersalju, enak makan beraneka warna produk sendiri, tapi justru tak sedikit kesempatan berkeinginan menggantikannya justru dengan pizza pun kurma. Bukan mau menolak kurma pun pizza, namun akankah singkong kita dilupakan begitu saja…?Lingkungan hidup…?ehmmm, bingung mo bilang apa yaa… *omongan wong nglindur*

  5. ohtrie says:

    martoart said: Daftar panjang bisa Anda tambahkan kalau tega

    jika kita mampu melihat kebenaran “kodok ijo ongkang-ongkang” akankah kejadian “tikus pithi anata baris” terjadi juga disini…? *manggamenawidipunwastanimusrik..!*

  6. agamfat says:

    Indonesia akan bertahan, tapi terseok-seok. Sementara negara lain-BRIC, Asean- berfokus pada produksi dan menumbuhkan industri dalam negeri berorientasi ekspor, Indonesia berfokus pada jualan tanah air -bahan tambang, CPO, hasil pertanian- berorientasi ekspor dan tak bernilai tambah.Inilah ironi Indonesia, negeri kaya yang tak dikelola, dijarah politisi korup.Rakyat masih terbuai dg pencitraan ala Beye, dan Beye dalam bentuk lain. Golput dalam bentuk kelas menengah kritis semakin besar, tapi yg terbuai atau terbeli Beye masih lebih besar

  7. t4mp4h says:

    tanpa menunggu 2020 prediksimu itu sudah terbukti kang, kayanya 2020 akan jauh lebih medeni. satu-satunya yang bisa dibanggakan adalah semangat good governance di tingkat daerah, sebagai bentuk pembangkangan sipil terhadap pemerintah pusat yang korup.

  8. boemisayekti says:

    Mampir baca. . .suwun ^^

  9. nitafebri says:

    Siap2 cari suaka deh klo bubar..

  10. daybydai says:

    wuih, nggegirisi … bagaimana dengan scenario 2040 mas? Jarene, ”it’s always get worst before it get better”

  11. debapirez says:

    Analisa yang mantaf dah :-)Cak, untuk pembangunan listrik, pemerintah menggunakan cara yg ekstrim dan cepat krn memang kebutuhannya cukup mendesak. Kita ga punya tenaga cadangan. semua serba pas….

  12. damuhbening says:

    hem, aku tetap bertani saja….

  13. debapirez said: untuk pembangunan listrik, pemerintah menggunakan cara yg ekstrim dan cepat krn memang kebutuhannya cukup mendesak. Kita ga punya tenaga cadangan. semua serba pas….

    ga punya tenaga cadangan atau maunya enak sendiri tu, tinggal teken kontrak dapet duit instant lalu negara lain yang ‘ngerjain?

  14. martoart said: bukannya meragukan kecakapan sumber daya manusia Indonesia

    oh, emang patut diragukan kog…sdm yang sangat ahlinya udah dipegang erat2 sama Jepang dan Rusia, jadi kita tinggal ampasnya aja, emang patut diragukan kog hehe

  15. martoart said: Lima hal buruk itu saja rasanya cukup untuk menyelesaikan Indonesia.

    Secara negara mungkin masih ada, tapi secara kedaulatan mungkin saat ini sudah disiapkan kuburannya.Melihat ulah pengelola negeri ini, kok jadi nelongso tenan… slogan “Indonesia Bangkit”, “Indonesia Emas”, dll… itu spt lukisan pasir yg indah tapi hilang begitu saja disapu ombak.Mengejawantahkan QS Ar-Ra’du:11… fight for freedommm !!!*Selamat Tahun Baru 2011*

  16. inyong says:

    aku mung kepengin Nurdin Halid turun kok di 2011

  17. debapirez says:

    @mba Ari:”ga punya tenaga cadangan atau maunya enak sendiri tu, tinggal teken kontrak dapet duit instant lalu negara lain yang ‘ngerjain?”Yah…begitulah kalo semua proyek diduitin hehe…

  18. cenilhippie says:

    hmmm….terimakasih untuk bacaan sore hari ini……*menghela nafas panjang*

  19. luqmanhakim says:

    Sempet liat buku ini di tempatmu Mas, kirain kupasan skenario tentang film baru bernama Indonesia 2020. Ternyata beneran memang film.* Ndableg ajah…

  20. rawins says:

    martoart said: “Wakil Presiden Boediono memperkirakan pada 20 tahun mendatang, Indonesia akan menjadi ‘surga’ bagi tenaga kerja asing, seiring dengan membaiknya situasi ekonomi dan politik”.

    budiono kandani mbah..gak usah menunggu 20 taun lagi. wong sekarang aja dahh jadi surga buat mereka. kapan kita bisa mengirim tki padat modal keluar negeri seperti mereka kirim kekita. mental kacung yo kacung wae mbah, walau berpangkat eselon satu…

  21. kavellania says:

    Assalamualaikum Mas Marto cara ngeAdd mas marto jd kontak gmn yaa hiks gak ada linknya :(*mf OOT😀 ahak ahak

  22. fairdkun says:

    agama dan kepercayaan dong to… nambah satu… biar gw bisa bandingin ama ramalan gw, yang udah ditulis di atas mah pasti situ jagoannya… heheh…

  23. karonkeren says:

    martoart said: Amerika sepertinya masih menjaga wilayah timur Indonesia tanpa mengalihpandangkan lirikannya ke wilayah sebelah barat. Cina merangsek wilayah tengah, namun tak lengah menjarah ke sebelah, dan Arab melahab bagian barat tapi siap menangkap wilayah timur dengan jerat.

    gue afiliasi ke cina aja ah … amerika membosankan sementara arab arab wahabiyah terlalu keparat … hehehehe*oportunis mode on … hihihihi

  24. anotherorion says:

    wah bahasan abot, ning emang dasare pemerintahe reseh kok, huft

  25. afemaleguest says:

    aku mengalir seperti air aja Kang …terlalu pesimis mikirin yang kayak gini-gini T_Tsebenarnya ya ga terima, tapi mau gimana lagi?

  26. penuhcinta says:

    Ini rupanya ramalan Nostradamus kita. Mengerikan banget tapi ya memang kenyataannya demikian ya. Hiks… jadi ingat ide cerita fantasi yg pernah nyangkut di kepalaku.

  27. karonkeren says:

    to … gue share ya tulisan lo ini buat forum jihad multikultural … hehehe

  28. martoart says:

    karonkeren said: to … gue share ya tulisan lo ini buat forum jihad multikultural … hehehe

    Sila..(bagi linknya bro kalo ada)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s