Mendahului Para Pendahulu

Dalam sebuah Diskusi Reboan Forum Demokrasi (Fordem) di rumah Marsilam Simanjuntak yang ketika itu dihadiri Abdurrahman Wahid, Rachman Tolleng, Bondan Gunawan, Rocky Gerung, dan beberapa anak muda, Gus Dur melontarkan sebuah gagasan unik. “Saya akan membuat buku berjudul Sekadar Mendahului”, ujar Ketua Fordem waktu itu. “Buku tentang apa itu Gus?” tanya Bang Silam dan Bos –panggilan akrab Rachman Tolleng- hampir bersamaan. ”Itu buku kumpulan kata pengantar buku saya untuk buku orang lain, dari berbagai topik dan kajian”, jawab Gus Dur sambil terkekeh.

Gus Dur, tokoh yang fenomenal itu, pada akhirnya menjadi orang nomor satu di Indonesia: Presiden RI. Tentu saja karena kesibukan mengemban tugas negara, Kyai Presiden ini tak sempat merealisasikan buku “Sekadar Mendahului” hingga ia lengser dari Istana Negara. Namun permintaan untuk menulis kata pengantar buku dari berbagai topik dan kajian terus mengalir. Hingga Gus Dur wafat pada akhir tahun 2009, tercatat ada puluhan buku – mendekati 40- yang dikatapengantari kiai asal Jombang ini. Dari yang awal- awal, buku “Mati Ketawa Cara Rusia” (GrafitiPres, 1986) dan “Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak” (Gramedia, 1986), sampai yang paling anyar “Mata Air Peradaban” (LKiS, Agustus 2010).

Semestinya buku ini sudah terbit di kala Gus Dur sudah tidak menjadi presiden RI namun tetap aktif di tengah masyarakat. Beberapa pihak telah mencoba untuk menerbitkannya, namun entah mengapa cita-cita Gus Dur itu selalu tertunda. Bahkan Romo YB Mangunwijaya, sahabat tokoh pluralis Indonesia itu telah menyiapkan sebuah kata pengantar untuk buku bunga rampai kata pengantar Gus Dur. Kata pengantar dari Romo Mangun sungguh mendalam dan membedah lengkap hampir semua kata pengantar Gus Dur. Sebaliknya, Gus Dur juga pernah menulis sebuah kata pengantar untuk buku Romo Mangun. Kini kedua tokoh yang saling memberi kata pengantar tersebut telah meninggalkan kita.

Sebagai kaum muda yang turut hadir di Diskusi Reboan kala itu, kami merasa terpanggil untuk merealisasikan terbitnya buku ”Sekadar Mendahului”. Buku yang mempertemukan mereka kembali secara ‘in absentia’. Keterpanggilan ini bersuasana melodramatik, tapi rasanya juga tak berlebihan mengingat kami acap bersentuhan dengan Gus Dur maupun Romo Mangun. Bersama Gus Dur, kami adalah anggota Fordem, sebuah organisasi penekan kebijakan Orde Baru yang didirikan dan diketuainya. Sebagai aktivis, kami pernah beberapa kali mengundang Gus Dur berbicara dalam berbagai forum diskusi, termasuk diskusi berjudul ”Mengintip Suksesi Politik Melalui Lubang Humor” pada tahun 1992. Sedang mengenai kedekatan dengan Romo Mangun adalah di saat kami bergiat di dalam Solidaritas Indonesia untuk Timor Timur (Solidamor), organisasi yang berupaya membebaskan Indonesia dari Timor Leste di mana Romo Mangun duduk sebagai salah satu dewan penasehat.

Pada 10 Februari 1999, Romo wafat. Kami hanya menemani di RS St. Carolous Jakarta, tak mengantar sampai di Yogyakarta. 30 Desember 2009, Gus Dur wafat. Kami mengantar doa dari Yogyakarta, tak turut menemaninya di Jakarta.

***

Salah satu kesulitan yang penyunting hadapi dalam mengumpulkan buku-buku yang dikatapengantari Gus Dur adalah rentang waktu yang cukup panjang antara 1986 sampai 2009. Judul-judul buku sudah kami temukan dengan kata pengantar Gus Dur, namun buku-buku tersebut sulit ditemukan bahkan ada yang penerbitnya sudah tak aktif lagi. Kesulitan berikutnya adalah soal minta ijin kepada penerbit buku-buku tersebut. Kami menghubungi beberapa penerbit melalui email maupun telepon, namun sedikit yang merespon. Dari sedikit respon tersebut, beruntung kami mendapat semangat dari penerbit The Wahid Institute untuk meneruskan penerbitan buku ini. Beberapa kalangan aktivis, wartawan, dan seniman, yang umumnya Gusdurian, juga memberi dorongan kepada penyunting agar buku unik ini segera terbit. Alhasil, kami (hanya) mampu mengumpulkan sekitar 25 buku.

Ada beberapa buku yang belum kami dapatkan, namun akan terlengkapi dalam edisi revisi nanti. Di antaranya:

1) Negeri Tanpa Kyai, Esai Politik Sufi

2) Pergulatan Mencari Jati Diri: Konfusianisme di Indonesia

3) Islam Sufistik: Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia

4) Post Tradisionalisme Islam: Wacana Intelektualisme dalam Komunitas NU

5) Al-Quran, Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme

6) Memahami Hakikat Hukum Islam

7) Perang Tipu Daya antara Bung Karno dengan Tokoh-tokoh Komunis

8) Politik Penaklukan Minoritas

9) Kiai dan Perubahan Sosial

10) Canda Nabi, Tawa Sufi

Karena kendala di atas, maka penyunting sebenarnya belum mendapat jawaban dari penerbit yang bukunya ada kata pengantar Gus Dur. Namun, demi mengejar momentum Setahun Haul Gus Dur, kami mantap menerbitkannya, mewujudkan sebagian cita-cita Gus Dur ini. Penyunting terinspiasi oleh Gus Dur yang dikenal punya seribu akal. Jika misalnya ada penerbit yang tidak rela dan menuntut karena kata pengantar Gus Dur ini dipakai dan diterbitkan, maka kami akan menjawab ala Gus Dur. Dalam Undang-undang Hak Cipta 2010 tertulis ”Dilarang mengutip sebagian isi atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa ijin sah dari penerbit”. Dengan keyakinan seperti Gus Dur, kami, penyunting akan menjawab: ”Kami tidak mengutip sebagian apalagi seluruh ‘Isi Buku’ Anda, kami mengutip ‘Kata Pengantar’-nya”.

Penyunting berterimakasih kepada penerbit Nalar, LKiS, Gramedia, Pustaka Pelajar, Grafiti Pres, Raja Grafindo Persada, Mizan, Erlangga, Yayasan Panglima Besar Soedirman, Pustaka Sinar Harapan, Pustaka Pesantren, Gerakan Bhineka Tunggal Ika, The Wahid Institute, Ma’arif Institute, Averrose Press, Klik.R, Kata Kita, dan Golden Terayon Press. Terima kasih untuk keluaraga atau Pusat Data YB Mangunwijaya di Yogyakarta. Terima kasih juga kami haturkan kepada penerbit Nuansa Cendikia, Bandung yang menerbitkan buku ini. Kepada Zastrouw Al-Ngatawi, yang dulu bertugas di belakang Gus Dur, kami beri kesempatan untuk mendahului ”Sekadar Mendahului” beliau dengan menulis kata pengantar, meski tetap saja kami dahului. Tak lupa kepada para Gusdurian yang memberi endorsmen untuk buku ini.

Yogyakarta – Jakarta, Desember 2010

Tri Agus S Siswowiharjo – Marto Art

________________________________________________________________

Yang Anda baca di atas adalah Kata Pengantar dari kami, penyunting, untuk buku karya Gus Dur “Sekadar Mendahului”.

Buku sebenarnya tengah dalam proses cetak oleh Nuansa Cendekia, Bandung, saat saya menaruh di jurnal ini, dan semoga berhasil kami luncurkan bersamaan, atau sekitar Haul Gus Dur. Entah di mana acara peluncuran nanti. Kami, hanya sekadar berupaya mewujudkan salah satu dari angan Gus Dur yang tak sampai semasa beliau hidup.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

87 Responses to Mendahului Para Pendahulu

  1. carrotsoup says:

    ternyata iya, keempaaattxxxxxx

  2. ohtrie says:

    martoart said: Horeeee keduax!

    sebagai klimax, pokoknya saya minta jatah bukune seka sampean mBahhh…urusan dapur belakangan, langsung meluncur HoR ya gak patheken wis…nuwun…

  3. renypayus says:

    ”Kami tidak mengutip sebagian apalagi seluruh ‘Isi Buku’ Anda, kami mengutip ‘Kata Pengantar’-nya”.<!– –>Nice ^___^

  4. penuhcinta says:

    Klimaximus. Selamat yo cak.

  5. penuhcinta says:

    Wis disamber. Ndak apa, cucu sendiri.

  6. ohtrie says:

    martoart said: Yogyakarta – Jakarta, Desember 2010 Tri Agus S Siswowiharjo – Marto Art

    martoart byanget covereeeee….!!!

  7. ohtrie says:

    penuhcinta said: Wis disamber. Ndak apa, cucu sendiri.

    hahahahaaa…ngalah ama cucu napah sih Nekk….. cium nenek deh gantinya, mwuachhhh….

  8. martoart says:

    wah?! asli Nga cengaja Tri. kok ndlalah mirip. hahahah iseng aja loe (pasti temennya Luqman ya?)

  9. anazkia says:

    Mbahhhhhhhhh….Anaz nanti minta bukunya yah… *eh, mau beli aja ndink*Serius ini, Mbah..

  10. papahende says:

    Hebat Mas Tri Agus S Siswowiharjo yo Mas Marto, jalan terus. Bikin e-book-nya nggak ya?

  11. martoart says:

    papahende said: Bikin e-book-nya nggak ya?

    makasih Pap, belum kepikiran e booknya. he he…

  12. martoart says:

    Atau kalo mo nuntut, biar ke Jombang sono (sambil nyekar)

  13. martoart says:

    Man-temaaann… ada usul launching di mana?Maunya sih minta Juki Kill The DJ nyanyi lagu dia yg tribute buat GD, tapi asal gratis. hehehehe

  14. martoart said: asal gratis.

    Why am I not surprised to hear that?

  15. ohtrie says:

    martoart said: Maunya sih minta Juki Kill The DJ nyanyi lagu dia yg tribute buat GD, tapi asal gratis. hehehehe

    Jakarta pa Yoja ki…?nek nang mBulungan piyee….? mosok nang Grupe tempo terus nek masalah buku ngeneee…., eh aku dadi kelingan sesuatu mBah ttg kanca sampean, nantilah kalo pas senggang kita speak2…

  16. rengganiez says:

    martoart said: Man-temaaann… ada usul launching di mana?Maunya sih minta Juki Kill The DJ nyanyi lagu dia yg tribute buat GD, tapi asal gratis. hehehehe

    usulll datengin dialog dini hari yahhh🙂

  17. agamfat says:

    Makanya pakai kata kami. Kok mbah Marto sopan sekali ala Jawa yg memakai kata Kami untuk Saya. Tapi bahawa kutab suci juga pakai kata Kami ding untuk tuhan. Btw, mantabs banget kata pengantarnya, yg mendahului pendorong Gus Dur.Btw, jurnal ini dipasang musik dari Kill the DJ ‘Gitu Saja Koq Repot’ dong kang

  18. martoart says:

    agamfat said: jurnal ini dipasang musik dari Kill the DJ ‘Gitu Saja Koq Repot’ dong kang

    Usul Baguuuusss!!! (tapi musti ngundang Trie utowo Tampah, buat masukin dlm postingan – lha aku Gatel alias gagap teknologi je!)

  19. agamfat says:

    Salah satu lirik Kill the DJ: dia menuntun bangsa ini dari kursi roda…

  20. martoart says:

    edwinlives4ever said: Why am I not surprised to hear that?

    becoze, begitu saja kok repot Gak

  21. luqmanhakim says:

    martoart said: 10 Februari 1999, Romo wafat. Kami hanya menemani di RS St. Carolous Jakarta, tak mengantar sampai di Yogyakarta. 30 Desember 2009, Gus Dur wafat. Kami mengantar doa dari Yogyakarta, tak turut menemaninya di Jakarta.

    Aku yang di Jakarta udah nggak tau kabar meninggalnya Romo Mangun, dapet kabar meninggal malah udah berbulan-bulan silam gara-gara nggak pernah kontak temen-temen… Hiks!

  22. martoart says:

    rengganiez said: usulll datengin dialog dini hari yahhh🙂

    Wah, tangiku awan terus je yuuu…

  23. agamfat says:

    Koreksi: Romo Mangun meninggal Februari 2000. Aku ketika itu berkantor di YLBHI dan beberapa orang YLBHI pergi ke Yogya

  24. martoart says:

    agamfat said: 2000

    Gw di carolus Gam. ayo cek lagi. ato gw cek ke Mas Sobary deh.. (orang Muhammadiyah yg mukanya NU itu. hahaha)

  25. martoart says:

    martoart said: Sobary

    Romo meninggal di pelukan Kang Bary.

  26. agamfat says:

    Gw sih positif 2000, karena baru sebulan kerja di ICW, sebelah Kontras.

  27. nitafebri says:

    martoart said: Man-temaaann… ada usul launching di mana?

    JAKARTA..kudu Jakarta dulu..sebab bidikan bagus yaa jakarta tempat bis di toko buku or lainnya..

  28. launching di tempat launching bukunya icha?

  29. ohtrie says:

    srisariningdiyah said: launching di tempat launching bukunya icha?

    dimana tuh mBak…? bukan di ciwalk khan…?

  30. ohtrie says:

    martoart said: Usul Baguuuusss!!!(tapi musti ngundang Trie

    nyoh mBahhh…tapi tak gawe manual ora autoplayu yaaa, wedi ndak ngganggu sing gak pingin krungu…

  31. ohtrie says:

    martoart said: hahahah iseng aja loe (pasti temennya Luqman ya?)

    ihh, nuduhhhhh…sapa tuh Kakak LuQman…?

  32. imanberiman says:

    wah hebat mas. Ntar saya coba beli dan baca bukunya yaa..Terus terang, saya kaget baca tulisan mas diatas. Seriusan. Kirain mas cuma kartunis / pelukis. Heheheh

  33. martoart says:

    srisariningdiyah said: di tempat launching bukunya icha?

    Newseum? Dipertimbangkan (seolah udah ada dana loncing aja nih gw. hahaha)

  34. martoart says:

    imanberiman said: wah hebat

    Walah, itu Buku 100% Karya Gus Dur. Gw ma Tass cuma nyunting dowaaaang.

  35. rengganiez says:

    agamfat said: Koreksi: Romo Mangun meninggal Februari 2000. Aku ketika itu berkantor di YLBHI dan beberapa orang YLBHI pergi ke Yogya

    10 Februari 1999 ah…waktu itu test kerja ada pertanyaan soal ini hehehe..

  36. martoart says:

    ohtrie said: tak gawe manual ora autoplayu yaaa, wedi ndak ngganggu sing gak pingin krungu…

    Lha memang aturan main naruh ginian tuh seharusnya begitu. Eniwey, sebenarnya aku pengin diajari cara bikin ginian di dalam postingan.

  37. martoart says:

    nitafebri said: JAKARTA.

    Ya, tepatnya di mana?TIM, Gramedia,..

  38. rawins says:

    martoart said: Man-temaaann… ada usul launching di mana?

    neng jogja wae mbah, ben iso entuk dorpres…tak rayuke juki sopo ngerti cukup dijak ngangkring thok..

  39. zaffara says:

    anazkia said: Mbahhhhhhhhh….Anaz nanti minta bukunya yah… *eh, mau beli aja ndink*Serius ini, Mbah..

    Ikkut ngantri *colek mbak Anaz, mbak belinya dua ya

  40. martoart says:

    rawins said: neng jogja wae

    Iki asline aku yo kepingin, sekalian mudik.

  41. martoart says:

    Man-teman yg belum dengar lagunya Si Juki buat Gus Dur, sila diceklik tuh…(sambil goyang-gayeng)

  42. rawins says:

    kalo di jkt yowes pasrah waelah. tak tunggu masuk rak toko wae. bukan untuk baca isine, sing penting pengantareheheh

  43. anotherorion says:

    martoart said: Tri Agus S Siswowiharjo – Marto Art

    iki jeneng asli sampeyan kang??

  44. martoart says:

    anotherorion said: iki jeneng asli sampeyan kang??

    Jenenge wong 2.

  45. anotherorion says:

    owalah tak kiro jeneng asline kang marto

  46. yup, Newseum, lebih cocok auranya dengan bukunya😉

  47. yup, Newseum, lebih cocok auranya dengan bukunya😉

  48. t4mp4h says:

    martoart said: organisasi yang berupaya membebaskan Indonesia dari Timor Leste

    ora kewalik kiye ? hahahahhabtw, tentang Mo Mangun.Romo Mangun sedha tahun 99, aku masih jadi kuli bandara Soetta. sedih banget cuma liat beritanya di TV. Aku kenal beliau secara pribadi sejak 1994, semasa bergembel ria di ledok Code. Beliau tinggal di selatan jembatan Gondolayu, aku dan teman-teman SOLID di utara jembatan. Kutunggu peluncurannya Cak

  49. inyong says:

    ngomong2 gw dah keberapa sih inipokoke apa yang dilakukan Marto emang sip markosip

  50. karonkeren says:

    kelima limax … klimax klimax … klimax kuadrat … hihihihi

  51. karonkeren said: kelima limax … klimax klimax … klimax kuadrat … hihihihi

    eh waktu itu di ranjang kita sempet kelimax gak???

  52. martoart says:

    srisariningdiyah said: sempet kelimax gak?

    keknya gak sempet. nunggu PB2011 deh…

  53. fairdkun says:

    martoart said: organisasi yang berupaya membebaskan Indonesia dari Timor Leste

    ini gak kebalik ya to? hehehe… saya mau membebaskan diri dari pengaruh narkotika, tapi narkotika yang tidak mau bebas dari saya…kalo nanti udah diluncurkan kasih tau ya to, sepertinya oke. tQ,

  54. martoart says:

    martoart said: membebaskan Indonesia dari Timor Leste

    Ok, itu memang akan menimbulkan tanya. Begini ceritanya, dulu pernah saudara Ali Alatas, Menlu Indonesiam, menyatakan bahwa kasus Timor-Timur adalah kasus kecil, dan menyampaikan ke dunia internasional bahwa itu ibarat kerikil dalam sepatu lars Indonesia.Namun kenyataannya, meski kecil, kasus Tim-tim terus berlarut-larut, dan ini menimbulkan kerepotan Indonesia untuk banyak hal. Loby politik, ekonomi, kerjasama antar bangsa, dan seterusnya. Kecil, tetapi beban. Maka menjadi semacam tugas kami, SOLIDAMOR untuk membantu menyingkirkan kerikil dari dalam sepatu tadi: “Membebaskan Indonesia dari Timor Leste”.Problem Solved – Case Closed.(Tengok-tengok Papua)

  55. ohtrie says:

    Ngliat covernya lagi…Kenapa tangan kanan kelihatan mengacungkan lambang jari “metal” ya mBah…?Trus mo nanya, Zastroouw NGatawi itu yang dulu selalu mendampingi n ngedorong kursi roda Gusdur dan selalu pake Blangkon itu taa…? Kalo bener, trus kemana ya orang itu justru setelah Gusdur naik di pemerintahan malah ngilang….. hemmm, salut ama dia, pengabdian yang bukan karena harta pun jabatan….

  56. renypayus says:

    waaaaaaaaah akika tunggu ya, Ebooknya ^__^

  57. martoart says:

    ohtrie said: mengacungkan lambang jari “metal”

    Karena Gus Dur Superstar!Betul, Zastroouw Ngatawi adalah orang yang selalu di belakang GD, maka saya beri kesempat mendahului GD (tapi tetep saja tak duluin dia. hehehe).

  58. martoart said: Papua

    Papua is the next “kerikil”Selamat yo, mas. Betul, lihat cover-nya sampeyan banget🙂

  59. martoart says:

    seblat said: markotob…

    Sudara2… kenalkan dan waspadailah: Rahman Seblat inilah yg bikin cover buku Abdurrahman Wahid yang fenomenal “Ilusi Negara Islam”.Trims Man!

  60. fairdkun says:

    mengerti sekarang setelah dijelaskan dengan sepatu lars ini… lalu kapan bukunya ayo? sepertinya oks…

  61. ichamary says:

    jadi penasaran bukunya, siapa yg di dahului siapa yang mendahului ?😀

  62. martoart says:

    ravindata said: suwon kang..

    Podho-podho Lur, isane awake dhewe yo cuma ngene iki. Karo mbantu nyebar winih kembang setaman (keberagaman).

  63. wonderguitar says:

    maumaumau!!! kabarin kalo udah terbit!

  64. martoart says:

    wonderguitar said: kabarin

    Semua teman akan aku kabari, dan kalo jadi launching, akan aku share tempat dan waktunya khusus buat contact aja. u know why people! (mungkin via QN, untuk kedua kalinya)

  65. sepunten says:

    weh diem-diem produktif nih mbahe… Perjuanganmu merealisasi gagasnya patut diacungi jempol, gak sabar nunggu cetakanya mateng… (eh kenapa dapetnya penerbit Bandung yo? kok gak jakarta seng cidek, atau Jogja yg terkenal royaltinya gedean heee)…dan covernya itu lho yg Martoart banget nget! warnanya yg menggelora, warna-warna kekinian, simbol semangat, passion seperti nyalanya jiwa kemanusiaan Gus Dur, yg meski tak bisa berlari secara fisik toh nyatanya pernah juara🙂

  66. martoart says:

    sepunten said: eh kenapa dapetnya penerbit Bandung yo? kok gak jakarta seng cidek, atau Jogja yg terkenal royaltinya gedean

    Yg urus cetaknya TASS, jadi ya manut aja. Padahal juga aku udah disaranin Aji Klewang untuk ke Nalar, dan sempat ngobrol ma Thomdean. Tapi pasti TASS punya pertimbangan lain yg lebih baik.(Buah… bahasaku cuk, wis koyok jubir Cikeas wae)

  67. afemaleguest says:

    keren ya idenya? nerbitin kata pengantar kata pengantar yang tersebar di buku-buku …btw, baru tahu kali ini istilah “Gusdurian” hihihihi …

  68. martoart says:

    afemaleguest said: Gusdurian

    Cabang filsafat yang luarnya tajem berduri, tapi dalemnya enax, yang baunya dianggap menyengat, tapi daging buahnya mantabz.

  69. afemaleguest says:

    martoart said: Cabang filsafat yang luarnya tajem berduri, tapi dalemnya enax, yang baunya dianggap menyengat, tapi daging buahnya mantabz.

    hahahaha … percayaaaaaaaaaa🙂

  70. Nice work bung, congrats!! Dimana gw bisa dapet buku itu? Kok pas kita nonton Elpamas kemaren nggak cerita2?🙂 Tinggal gw tunggu deh ulasan bung ttg konser rock penutup akhir tahun sama kongkow bareng tengah malam di bubur sukabumi tebet nya ya :-)Oh iya kalo udah siap materi pertanyaan2 seputar asuransinya langsung kontak gw aja ya nanti aku usahakan jawabannya deh…can’t wait to see you again ya dalam setiap panggung musik live gila hanya untuk orang-orang yang gila seperti kita🙂

  71. dekmaniezt says:

    martoart said: Tri Agus S Siswowiharjo – Marto Art

    *pertanyaan gak penting bagian dari buku ini*Marto itu nama dari mana ya? S … Sumarto ??*balik badan dengan tangan hampa, nyerah, pasti gak dijawab*

  72. martoart says:

    dekmaniezt said: Marto itu nama dari mana ya?

    omartolib

  73. dekmaniezt says:

    gak ada bukti otentiknya

  74. martoart says:

    dekmaniezt said: gak ada bukti otentiknya

  75. martoart says:

    Sepertinya saya telah dipecundangi kawan seiring dalam hal ini.Tak ada informasi apapun oleh yang bersangkutan, meski manusia telah melampaui jaman berkomunikasi via kentongan.Tiba2 mendengar dari orang lain bahwa buku ini telah terbit, dengan sampul yang berubah jauh dari rencana awal sampul. Bandingkan:

  76. ohtrie says:

    Lah kok adoh byangett….????ealahhh… piye ta informasi dan konfirmasine kuwii..😦

  77. ohtrie says:

    Ternyata mengumpulan secara cermat kata pengantar setiap tokoh kemudia diberi sentuhan wacana dan di sana sini diberikan bumbu-bumbu sedap akan menghasilkan sebuah buku yang senak dilahap. Seperti buku ini. Cerita sampul depan: “Buku ini adalah wujud keinginan Gus Dur yang tidak terlaksana sampai dirinya meninggal. Teman-teman aktivis yang mendengar niatnya mewujudkannya sekarang. sisi genius Gus Dur ada di sini”…itu yang terdiskripsi di sampul depan.Posted by Djoko Adi walujo [Pemerhati Buku]Sila ceklik gambar untuk menuju link-source

  78. martoart says:

    Covernya jadi tak tampak ‘Gus Durian’. Gak ‘bunyi’ blas. Kayak buku pelajaran SD atau desin buku BUMN.

  79. ohtrie says:

    martoart said: Covernya jadi tak tampak ‘Gus Durian’. Gak ‘bunyi’ blas. Kayak buku pelajaran SD atau desin buku BUMN.

    hahahaa… kurang ngerock kahh…? softt…. takut saking soft nya ntar jadi merk ganjel kah….?#ngikik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s