MENGAJAK JAKARTA

Mau bilang apa? Banjir, macet, sampah, polusi, adalah keluhan hari-hari dan kita tak beranjak pergi. Rupanya diam-diam saya dan Anda mencintai. Caci-maki mengudara di langit Jakarta, menambah pengap dan panas kota, tapi sesungguhnya juga bentuk peduli setengah hati. Toh kita tak hirau pun untuk sedikit membenahi. Tak perlu contoh untuk hal ini. Sudahlah, mungkin juga Jakarta tak begitu butuh kita. Meski compang-camping, dia telah sampai pada usia ke 483 tahun.

Nah, lantas apa kiranya langkah berikut? Masihkah kita menikmati apatisme bisu ini sembari tetap mendekap keluh-kesah dan merawat caci-maki? Begini, sesungguhnya tak ada yang akan peduli dengan ketakpedulian kita. Pun juga tak banyak yang memuji kepedulian kita. Jakarta dan tabiat kita yang tinggal di dalam dan sekitarnya tak saling mengusik kelangsungannya. Karena juga tak ada tolok-ukur membaik atau memburuknya sebuah kota, terlebih diri-sendiri pembandingnya. Hanya eksotisme masa lalu saja yang kadang mengetuk kerinduan kita. Misal jalanan Harmoni yang masih hijau dan sepi di jaman Kumpeni. Masa lalu yang kita semua tak pernah mengalami.

Ketakpedulian sesungguhnya sebuah dosa tersendiri. Kita mengais rejeki dari tubuh kota ini, tapi diam ketika koreng merayapi kulitnya. Saya tak hendak menggurui, karena saya seperti Anda. Saya orang yang tinggal di keriuhan Jakarta. Ajakan menyatakan cinta kota juga pasti bukan hal baru. Mungkin itu malah sesuatu yang keseringan dan menciptakan kejenuhan baru. Biarlah seleksi moral terjadi di sini, di kota ini. Biarlah mereka yang jenuh, hidup dalam kejemuannya. Kita yang mau peduli hendaknya juga tak jemu membenahi.

Banyak cara menjadikan kota dan sekaligus kita lebih menggairahkan. Kita bisa mengajak orang lain bertradisi sayang lingkungan. Misalnya tak keriangan mencuci mobil dengan sabun berlimpahan. Atau tak keseringan berkendara pribadi. Kita bisa merangsang orang untuk hidup lebih santai, tak tegang, dan tak begitu depresif. Misalnya dengan mengabarkan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi. Tak harus mahal untuk bergaul di komunitas budaya, berwisata museum dan kota tua, atau menyelusuri peta hijau Jakarta. Kita juga perlu kiranya melakukan semacam retret kemanusiaan. Memanusiawikan lagi kemanusiaan kita. Seperti berpuasa televisi, menjauhkan keluarga dari sinetron, gosip, infotainmen, sok reliti, dan berbagai program basi lainnya. Bisa juga dengan mengajar anak menggambar dan mendongengi kisah panji atau cerita bernilai filsafat dari khasanah legenda negeri. Dan banyak lagi.

Utopis memang. Lebay istilah sekarang. Tak apa, siapa tahu dengan begini akan hadir Jakarta yang lebih bersahaja. Di mana kita bisa bebas berkarya, aman berharta, sehat-sentausa. Jakarta yang kelak pantas ditinggali ataupun ditinggalkan tanpa merasa terpaksa. Oleh anak-cucu kita, kelak di ultah ke 500-nya. Itupun kalau masih ada.

Selamat Ulang Tahun.

Semoga langitmu semakin biru, biru yang tak kolutif, dan bumimu semakin hijau, hijau yang sejuk.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

52 Responses to MENGAJAK JAKARTA

  1. martoart says:

    Gambar hasil reka dan rajut dari yang tersedia di Google.

  2. ohtrie says:

    martoart said: Gambar hasil reka dan rajut dari yang tersedia di Google.

    kredit kok mesthi senengane selehke pertamaxxx…urikkkkk, childissshhhh….!!!

  3. ohtrie says:

    martoart said: siapa tahu dengan begini akan hadir Jakarta yang lebih bersahaja.

    nek bersahaja ki kayane durung cukup secara Jakarta khan Ibukota Rekiplik mBahhh…. wis biasa nek prasaja kuwiii…… Prasaja di omongke gudang n lahan para koruptor barang owkk…Nek menurutku kudune ya sentosa ta mbahhh….. iki tuntutan wong cilik lhoooo….. ben uripe wing cilik ki ya melu sentosa….

  4. papahende says:

    Selamat Ultah buat Jakarta yang DKI, juga buat Mas Marto. Langit Jakarta memang semakin biru, dilihat dari dalam gedung ber-AC dengan kaca dinding warna biru. Bumimu semakin hijau dilihat dari dalam Jaguar dengan AC sejuk dan kaca berlapis warna hijau. Panas yang dibuang dari gedung dan mobil mewah itu rejeki bagi kelompok masyarakat yang juga beruntung karena bisa mengais botol plastik buangan gedung-gedung pencakar langit di wilayah DKI. Tapi kalau buang sampah ke kali, semuanya warga Jakarta tidak peduli yang di gedung mewah atau di rumah kardus melakukannya dengan senang hati. Shifting the burden, selesai memindahkan masalahnya ke ‘tempat’ lain. (Catatan: gambar rekanya kok ya pakai marhaban, apa DKI mau menjadi ibukota orang arab?)

  5. agamfat says:

    Jakarta, hanya duitnya yg kumau, bukan macet & polusinya

  6. dekmaniezt says:

    “Jakarta kotaku indah dan megahdi situlah aku dilahirkanrumahku di salah satu gangnamanya gang kelincilalu manusia bertambah banyakdan kelinci pun terdesaksekarang rumahnya berjubelow padat penghuninyaanak-anak segudangsrudak sruduk kaya kelinci”(Lilis Suryani – Gang Kelinci)

  7. papahende says:

    dekmaniezt said: Jakarta kotaku indah dan megah

    Untuk melengkapi liriknya Dek Maniez Tenan:

  8. dekmaniezt says:

    Tenan apane😀 haha*lg pake hape, gak donk yang di uplot apa. Tp kayanya mp3 player ya* hehe

  9. ohtrie says:

    dekmaniezt said: (Lilis Suryani – Gang Kelinci)

    weh malah nyanyi nang ndalemme simbah ta dikkk….njuk gilirane simbah ndongeng kapaaann…?

  10. papahende says:

    dekmaniezt said: Tenan apane

    Iya Dek, itu lagu mp3 gang kelinci Lilis Suryani. Mohon maaf kalau salah menafsirkan, dekmaniezt tak pikir t=tenan, lha sebetulnya t singkatan apa sih?

  11. dekmaniezt says:

    Wahahahaaa itu bukan kepanjangaaaan. . . :Dwaktu itu mau bikin ID yang kalo di googlingkan belon ada.Bikin manis ada puluhan ribu, manies ada ribuan, maniest ada ratusan, maniezt baru 2 alamat.Jadi pake deh maniezt😀

  12. papahende says:

    dekmaniezt said: maniezt baru 2 alamat.

    Berarti maniezt is termaniez, begitu kan kira-kira? Saya sih sependapat dan stuju saza (Maaf Mas Marto, numpang berkomunikasi sama mBak dari Magelang yang sedang di Yogya, tapi perhatian dengan Jakarta).

  13. dekmaniezt says:

    Ahahahaaambah marto lagi mandi tuh, kagak denger😀

  14. okeboo says:

    Ilustrasinya keren! Aku jg mengharapkan utopia jakarta:)

  15. rirhikyu says:

    Met Ultah Jakarte, I lop u pull.. walo gue sering nyumbang pulisi dimari😀

  16. nitafebri says:

    Met Ultah Jakartaku..mau gak mau saya udah merasa terikat dengan Jakarta..apa yg di saranin Cak marto buat berkendara, udah saya lakukan Cak. Tapi kuk yaa sayah selalu tekor di ongkos yaa, gara2 banyak supir angkutan nakal yg gak pernah sesuai trayek😦

  17. arddhe says:

    belum begitu merasakan kejamnya jakarta…setakat ini asik2 aja..hehe

  18. darnia says:

    martoart said: menyelusuri peta hijau Jakarta

    ini saran yang bagus!Siap laksanakan, Kumendan Marto!

  19. luqmanhakim says:

    Kumpulin duwit yang banyak, beli rumah jauh-jauh dari Jakarta, pun berusaha, berekonomi pun jauh-jauhlah dari Jakarta. Yang bikin peredaran 80% uang numplek di Jakarta karena hampir semua orang berpikiran Jakarta adalah segalanya. Tapi sayang, gw belom bisa… Hiks!

  20. jatiagung says:

    mari… mulai dari sekarang !

  21. Jakarta is going to be “The Patio of Palestine” now?

  22. t4mp4h says:

    alhamdulilah saya sudah meninggalkan kota dimana saya dulu nunut lahir dan berkembang (gak pake biak). satu-satunya yg membuat kangen akan Jakarta adalah romantisme masa laluku saja.

  23. rirhikyu says:

    Jiahhh …. mendingan daku dunk, rumah di pinggiran jakarta dechudaranya masih lumayanan😀

  24. harxnext says:

    JAKARTA… konon asal kata dari JAyaKARTA… nama pangeran yang babad alas dan menamai alas babadannya Sunda Kelapa…. BTW sampeyan pernah lewat banjir abadi di jalan Pangeran Jayakarta Gan….?? saya udah 2 taun kerja di kantor beralamat di jalan ini… sedih, tapi inget lagu kusplus, “keJakartaaa akuu.. kan kembaliii…ii..iii…. walaopun apa yg kan terjaaadii….”pulang kampung kalo lebaran doang… tetep aja mau ga mau balik jakarta lagi.. orang masih kere mpe hari ini.. ^_^

  25. sepunten says:

    di jakarta udah ngalamin ke 18 ultah, thankyu karena udah dibesarkan di baris depan kota RI ini yg banyak mengajarkan pengalaman lahir & bathin…disini semakin tegas, bahwa materialism hanya mengajarkan haus, haus & haus…

  26. chanina says:

    puasa ke mall an puasa bikin mall

  27. martoart says:

    agamfat said: Jakarta, hanya duitnya yg kumau, bukan macet & polusinya

    Yg gak dapet duit kebagian asepnya doang.He he he… jadi inget pribahasa: Ada asep. gak ada duit

  28. martoart says:

    papahende said: Catatan: gambar rekanya kok ya pakai marhaban, apa DKI mau menjadi ibukota orang arab?

    Catatan akhir tulisan saya kutip “…dan bumimu semakin hijau, hijau yang sejuk”.

  29. martoart says:

    Dik, aku dulu pernah ngumpulin banyuak lagu yg bertema Jakarta. Ntar kuceplokin di sini deh, buat kita saling mengingat. eh siapa tahu Fauzi Bowo mau bikin album kayak penggede yang lain bersama lagu2 lama.

  30. martoart says:

    darnia said: Siap laksanakan

    Aku ada Greenmapnya, tapi gak ingat siapa yg ngelola acara telusurnya. Kalau acara jelajah kota tua udah lebih ngetop.

  31. martoart says:

    jatiagung said: mari… mulai dari sekarang !

    Aku udah kemaren2, Tapi yg gak bisa cuma urusan meninggalkan mobil pribadi.Wong gak punya mobil.

  32. martoart says:

    yashartaholic said: Jakarta is going to be “The Patio of Palestine” now?

    Almost beibeh!

  33. martoart says:

    t4mp4h said: satu-satunya yg membuat kangen akan Jakarta adalah romantisme masa laluku saja.

    Ini jaman situ bikin ketemuan bareng jong selebes, batavia bond, dan seterusnya itu ya?

  34. martoart says:

    harxnext said: inget lagu kusplus, “keJakartaaa akuu.. kan kembaliii…ii..iii…. walaopun apa yg kan terjaaadii….”

    Wadaaaawwww… aku jadi ingat seharusnya masukkan ini di awal tulisan. Sebel dah mulai pelupa! tengkiyu diingetin Kamerad!

  35. martoart says:

    sepunten said: materialism hanya mengajarkan haus, haus & haus…

    Maka skali lagi angkat gelasmu kawan!

  36. papahende says:

    harxnext said: lagu kusplus, “keJakartaaa akuu.. kan kembaliii.

    Mas Marto, dari pecinta berat Koes Plus dan Koes Bros, inilah lagunya:

  37. inyong says:

    Giamana kalo kita pada ikut jadi petani plasma di luar jawa, ini efwknya bagus gak terkonsen di jakarta semua, gimana hayukkk

  38. jakarta …tempat dimana saya banyak belajar bagaimana menjadi hedonis dan materialistis yang baik hehehehe…

  39. harxnext says:

    martoart said: Dik, aku dulu pernah ngumpulin banyuak lagu yg bertema Jakarta. Ntar kuceplokin di sini

    wow, di tunggu Gan… lagu lama nya.

  40. papahende says:

    martoart said: semakin hijau, hijau yang sejuk

    Mas Marto, benar kah? Karena di lapangan banyak hijau-hijauan yang membuat panas dan beringas, si kecil yang tertindas tambah meringis, nangis.

  41. Jakarta yang hijau makin susah Bang. Makin gemebyar iya, diterangi lampu-lampu mal di malam hari. Mal-mal terus dibangun, sampai ke pinggir, pinggir, dan pinggirnya pinggir. Yo tambah mlitit sakjane, ning kuwi mau, ora manusiawi.

  42. imagina1 says:

    semacam love/hate relationship ya mas. sbg pendatang, lama2 memang susah membenci jakarta dgn segala kekurangan dan kelebihannya. mungkin asyik kalo pensiun di Malang.

  43. martoart says:

    imagina1 said: mungkin asyik kalo pensiun di Malang

    Asyik banget tuh, jadi supporter Aremania, dengan duit pensiun Jackmania.

  44. martoart says:

    layonthecloud said: sampai ke pinggir, pinggir, dan pinggirnya pinggir.

    kita musti bikin Catatan Pinggir!

  45. martoart says:

    womeninfreedom said: belajar bagaimana menjadi hedonis dan materialistis yang baik

    Tinggal pilih, banyak guru. TW, HR, AB, hehehe…

  46. martoart says:

    inyong said: Giamana kalo kita pada ikut jadi petani plasma di luar jawa

    dah keduluan Monsanto kali kang…

  47. martoart says:

    chanina said: puasa ke mall an puasa bikin mall

    aduuuh… terus gimana eikeh bisa dapetin whitening?

  48. cenilhippie says:

    martoart said: Utopis memang

    saya juga selalu bgitu…..kawan2 disekitar juga selalu bilang impian2 gw buat Indonesia terlalu tinggi…….but i think it’s better dead and have a dream than live without nothing….

  49. martoart says:

    cenilhippie said: have a dream

    jamannya Yes We Can non. anak menteng loh…

  50. ardiyunanto says:

    Ada yang bilang, mungkin cara menggambarkan hubungan warga dan Jakartanya adalah, “Jakarta adalah kota yang membuat kita sangat membenci diri kita sendiri, yang mencintainya setengah mati”.Mungkin juga perlu dibikin tulisan2 yang lebih detail oleh kita, tentang trotoar sekarang, macet yang membosankan dan kebosanan sendiri, apapun yang kita liat dan hidupi, biar suatu saat nanti, kalau ada yang sudi mendokumentasikannya, bisa jadi bacaan sejarah budaya yang menarik, di ultahnya yang lewat 500 tahun nanti, yang akan dibaca, bukan oleh kita, sebagai tulisan yang tidak berjarak, benci tapi rindu, senang tapi seram, dan apapun itu yang bisa ditambahkan sebagai istilah….

  51. martoart says:

    ardiyunanto said: perlu dibikin tulisan2 yang lebih detail oleh kita, tentang trotoar sekarang

    eh iya, eloe dah pernah ke sini ya: http://martoart.multiply.com/journal/item/17/Go_To_Hell_PedestrianKecut emang jakarta, tapi kadang kita kan butuh jus jeruk.

  52. ardiyunanto says:

    Sudah dong.Hm, apalagi yang kecut-kecut bukan cuma dari es jeruk, ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s