MORAL KOMBAT

Apa yang menjagamu untuk tidak melakukan suatu tindakan kepada orang lain, sebagaimana kamu tak inginkan orang lain melakukannya kepadamu“.

Itulah batasan sederhana akan moralitas kemanusiaan. Batasan tua, tak tertulis, namun sahih. Batasan yang tak gugur oleh turunan atau variannya. Moralitas kemanusiaan itu tercipta oleh semangat bersama untuk sama-sama bertahan hidup para Homo Sapiens (Manusia Bijak). Artinya moralitas ini amat murni sebagai produk kemasukakalan manusia. Artinya pula, untuk bermoral dan berlaku baik, manusia tak perlu menghidupkan Tuhan sebagai saksi, pun tak perlu beragama agar terjaga. Pada era awal agama samawi, jejak itu masih tercatat dalam dialog Musa dengan Tuhan. Adalah ketika Musa bertanya tentang siapa orang paling bijak di dunia. Tuhan tak menjawab: “Mereka yang bayar pajak“, melainkan jawaban yang mengacu kepada sikap survive si manusia bijak Homo Sapiens: “Orang yang paling bijaksana di dunia adalah orang yang memperlakukan orang lain seperti engkau memperlakukan dirimu sendiri“.

Sisa jejak moralitas kemanusiaan itu juga terekam di wilayah ajaran yang lumayan jauh dari invasi agama modern, seperti pada ajaran Roso-pangroso filsafat Jawa “Aja njiwit, nek (sira) dijiwit krasa lara” atau “Jangan mencubit, jikalau (kamu) dicubit terasa sakit“. Kesamaan materi filosofi itu usah lantas dimaknai bahwa Musa dan Orang Jawa konon memiliki Khidir sebagai guru yang sama, tapi agar dimengerti saja – semoga Anda tak menyesali kenyataan ini -, bahwa antara Bangsa Yahudi dan Orang Jawa adalah sama-sama Homo Sapiens.

Namun manusia tentu saja tak pernah berhenti pada proses mempertahankan hidup. Mengembangkan kehidupan menjadi langkah berikutnya. Lantas moralitas kemanusiaan dirasa menjadi kurang murakapi atau kurang paripurna dalam menghadapi hal baru. Maka para pengembang kehidupan tersebut menciptakan wadah moral kemanusiaan masing-masing. Adalah norma, adat, agama, dan sejenisnya. Sejak itulah moralitas kemanusiaan mulai menghadapi invasi kepentingan. Produk kemasukakalan itu menjadi produk akal-akalan.

Norma: Moralitas awal kemanusiaan yang mulanya hadir karena logika untuk bertahan hidup, mengalami pengindahan dalam wadah norma. Norma adalah aturan agar Anda tak sekadar berbuat benar kepada orang lain, tapi juga indah. Menggiring Anda untuk besikap sopan dan bertutur santun. Estetika mewarnai moralitas. Sangsi yang Anda tandang apabila gagal menjaga norma adalah penilaian orang akan derajat sosialita Anda. Masyarakat akan memandang rendah Anda, dan bisa berimbas eliminasi komunitas atau pergaulan. Karena penilaian norma berada di wilayah estetika tersebutlah, maka Anda yang tereliminasi akan merasa terhukum secara rasa. Sebaliknya akan tersanjung apabila kadar estetika gaul Anda ada pada derajad kesantunan tinggi.

Adat: Pada tingkat pewadahan adat, segala pengindahan dunia norma tadi dilembagakan dalam aturan yang lebih masif. Ada tetua dan sistem yang memberi nilai. Hal ini tak bisa dihindari karena komunitas pergaulan akan bertemu dengan teritori atau kewilayahan komunitas lain. Tatanan ini tak sekadar estetika tapi menjadi etika alias adab. Maka terciptalah hukum adat di masing-masing teritori. Benturan mulai terjadi tatkala konsep mempertahankan hidup menjadi mengembangkan kehidupan. Pelintasan batas dan perebutan wilayah perburuan acap terjadi. Perang suku bahkan bisa pecah lantaran ada pendatang yang dianggap melecehkan ataupun melanggar adat. Maka disepakati semacam Memorandum of Understanding (MOU) yang menyatakan “Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung“. Sangsi adat tentunya lebih berat dibanding sangsi norma. Hukum adat bisa membuat Anda terkucil atau diasingkan bila melanggarnya. Namun MOU semacam itu menjadi keterbelakangan ketika konsep teritori semakin aus. Batas wilayah tak lagi berperan. Semisal adalah Jakarta yang tak lagi bisa dimaknai Betawi. Memaksa pendatang yang berpijak di Jakarta untuk menjunjung langit Betawi adalah tindakan basi. Dan lebay apalagi mengingat langit itu jelas tak biru lagi.

Agama: Sudah jauh hari agama turun untuk menuntaskan konsep ikatan teritori. Semua umat bersaudara tanpa pandang kewilayahan. Sepertinya bagus, tapi tatkala manusia luput memaknai, umat agama lain menjadi liyan meski dalam satu teritori. Ternyata umat tidak sembarangan berarti manusia begitu saja. Umat adalah manusia dalam bingkai sektarian anutan. Memang paradok tak pernah berhenti. Seiring dengan itu, moralitas kemanusiaan semakin jauh dari kemasukakalan manusia sendiri. Agama menghadirkan hal baru, yaitu moralitas ketuhanan. Logika bumi tak sekadar berimbuh estetika ataupun etika, tapi menjadi dogma samawi. Bersama dogma, agama mengatur urusan manusia bahkan ke dalam dirinya. Hal yang dalam kesantunan norma dan adab adat tak begitu disentuh. Norma mengajar estetika keluar dirinya, yang misalnya sungguh tak santun kencing sembari joging di depan orang lain. Tapi bebas menjadi urusan Anda dalam memilih gaya dan posisi kencing ketika sendiri di kamar mandi. Anda tak melanggar norma selama tak berinteraksi dengan orang lain. Demikian juga aturan dalam beradat. Mengabadikan persetubuhan dengan pasangan u
ntuk memorabilia pribadi silakan saja, hanya tak beradab bila menyebarkannya. Namun tidak dalam beragama. Kegiatan kesendirian Anda di kamar mandi tadi bisa berimbas dosa meski tak dilihat orang lain. Misal masturbasi yang nyaman di kala sendiri tetap terancam api neraka dalam agama, terancam buta dalam dogma, terlebih onani di Bundaran HI.

Itulah maksud saya bahwa batasan moralitas kemanusiaan itu tak gugur oleh pewadahan. Wadah-wadah itu cenderung justru menjadi media pengalih pesan moralitas awal. Moral menjadi seolah hanya urusan susila. Itulah yang dicermati Hikmat Darmawan, pemerhati budaya yang hingga tulisan ini saya posting, belum melabrakkan kredibilitasnya kepada batasan moral kemanusiaan dalam pandangan saya. Dan saya merasa menemukan tendensi pengalihan itu lantaran wadah norma lebih mengedepankan estetika sebagai nilai utama. Bahkan kenyataan yang ada, logika dalam moral itu telah dipecundangi secara bersama oleh estetika, etika dan dogma. Logika membilang “Kelamin”, etika menyebut “Kemaluan”. Logika menyatakan tsunami adalah bencana, tapi dogma mengatakan cobaan Tuhan, dan seterusnya.

Ini mengingatkan saya secara lamat-lamat akan pernyataan Romo Franz Magnis-Suseno SJ, bahwa justru karena manusia memiliki akal yang tak dimiliki binatang, maka moralitas manusia memungkinkan terganggu. Sekilas seperti pernyataan picik dari seorang filsuf yang jelas berakal dan sekaligus memegang teguh moralitas kemanusiaan. Dia memberi contoh kasus yaitu sikap tak berlaku adil manusia dalam membela keluarga, meski tahu yang dibelanya salah. Akal yang berpikir, mengalahkan moralitas kemanusiaannya untuk menyelamatkan kerabat. Dengan begitu, pernyataan Romo Magnis bisa saya mengerti. Tapi bukankah dalam contoh itu, nepotisme adalah produk akal-akalan, bukan produk akal moralitas kemanusiaan? Saya tak begitu tahu apakah akal dan akal-akalan perlu ditaruh di tempat yang berbeda, tapi setidaknya saya juga bisa mengerti beberapa bagian yang di maksud sesanti dalam adat dan dogma dalam agama agar manusia tak terlalu mengagungkan akal. Saya bisa mengerti meski tak harus bersepakat.

Saya tak mau hidup bergelimang dogma.

This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

71 Responses to MORAL KOMBAT

  1. martoart says:

    Gambar saya olah-parodi dari logo Mortal Kombat

  2. bimosaurus says:

    Makanya cak, biarkan orang lain dijiwit 15 M, biar nanti kita juga dapat

  3. bimosaurus says:

    sik sik ketoke saya tadi salah baca.. tak pikir Marto Kombat

  4. rirhikyu says:

    bimosaurus said: Makanya cak, biarkan orang lain dijiwit 15 M, biar nanti kita juga dapat

    baca dunk postingan baru ku😀

  5. inyong says:

    ucek2 mata bar tangi

  6. rirhikyu says:

    bimosaurus said: sik sik ketoke saya tadi salah baca.. tak pikir Marto Kombat

    wakakaka.. kali ini gue kaga salah, cm siwer

  7. nitafebri says:

    nyimak dulu deh.. sambil cari2 makna dogma..

  8. prey47 says:

    martoart said: Gambar saya olah-parodi dari logo Mortal Kombat

    urik. pertamax diambil sendiri

  9. harblue says:

    akal kadang-kadang memang suka bikin rusuh, heuheu..

  10. martoart says:

    Njrit! minta maaf kepada siapa ya? ternyata judul udah kepake duluan ma film dokumenternya Spencer Halpin. Moral Kmbat (2007). Ganti?

  11. nitafebri says:

    hahaha maap anda sendang tak beruntung..ganti aja lah.. daripada kena tuntut..lagian tar index di gugle orang terheran-heran karena tulisan ini bukan review film itu

  12. martoart says:

    nitafebri said: lagian tar index di gugle orang terheran-heran karena tulisan ini bukan review film itu

    masukan cerdas, diterima.

  13. ikiengel says:

    wah…apik-apik…..tak cuplik kalimat terakhir buat status di FB hahahahaha…ijin sik

  14. jadul1972 says:

    Estetika mengatakan sebagai senggama, etika mengatakan bersetubuh, dan dogmanya apa? Nggawe anak? Belum tentu… Karena banyak yg begituan dengan tujuan happy dan di shooting pakai camera. Hahahahaaaa

  15. inyong says:

    martoart said: Saya tak mau hidup bergelimang dogma.

    ojo kang cewek yang lain kan banyak masa lu pengin bergumul dengan Drogba

  16. martoart says:

    jadul1972 said: dogmanya apa?

    bersilaturahmi (kekekeke)

  17. martoart says:

    inyong said: Drogba

    Ini suara orang yg gadangan bola mulu

  18. martoart says:

    ikiengel said: buat status di FB hahahahaha…ijin sik

    diijinken pak dhe…

  19. martoart says:

    harblue said: akal kadang-kadang memang suka bikin rusuh, heuheu..

    kalo agama kadang-kadang gak bikin rusuh

  20. martoart says:

    prey47 said: pertamax diambil sendiri

    Gak, iku tempat buat ngasih kredit bro

  21. t4mp4h says:

    martoart said: Gak, iku tempat buat ngasih kredit bro

    kere men … pertamax aja kreditan

  22. inyong says:

    salut gambarmu….. saru nanging ora murahankaya yang beredar di wartel wartel sama di tipi2

  23. t4mp4h says:

    martoart said: nepotisme adalah produk akal-akalan, bukan produk akal moralitas kemanusiaan?

    yang penting akal sehat singkron karo hati nurani. biar kata logis tapi kalau hati nurani bilangnya ngibul ya tetep ngibul kecuali kalau mereka emang pinter ngibulin hati nurani

  24. rirhikyu says:

    Dogma…. moral… asusila koq mumet niy jadinya.Tapi, tak ingin hidup bergelimang dogma ?

  25. martoart says:

    rirhikyu said: ?

    Mumet ya? pelan-pelan aja gak sah dipaksain.

  26. martoart says:

    t4mp4h said: biar kata logis tapi kalau hati nurani bilangnya ngibul ya tetep ngibul

    ibarat mo mempertahankan judul yang pas “Moral Kombat” itu Pah, tapi keduluan orang lain, masak mo ngibulin hati-nurani? yo ntar tak genti. Ada usul judul?

  27. t4mp4h says:

    martoart said: Ada usul judul?

    wes ra sah ganti-ganti, kaya DPR wae ganti-ganti istilah tapi hakekatnya sama bosoke

  28. s1mpl3l1f3 says:

    😉 keep smile

  29. ohtrie says:

    martoart said: “Apa yang menjagamu untuk tidak melakukan suatu tindakan kepada orang lain, sebagaimana kamu tak inginkan orang lain melakukannya kepadamu”.

    ini masuk teori relatifitas apa hukum causaprima mBah..?🙂

  30. ohtrie says:

    martoart said: Roso-pangroso filsafat Jawa “Aja njiwit, nek (sira) dijiwit krasa lara”

    Aqu kok njuk kelingan wejangan jaman semana ta mBah,nunut medhar sithik yaa…“Semua yang ada dibumi ini adalah berbayang… “Kemanapun kaki melangkah apapun yang kita lakukan pasti bayangannya akan mengikuti kita”…. Mau yang Jelek ataupun yang baik… Semua bakal kembali ke kita…. jare simbah mbiyen “Samubarang lir iku kudu mbok tepakna marang awakmu dhewe” *Yu There mbok undang ora iki mBah…?muga2 mengko isa nambahi, nuwun…

  31. ohtrie says:

    martoart said: Saya bisa mengerti meski tak harus bersepakat.

    Aqu kelingan pas ketemuan nang PI pokok bahasan reinkarnasinuwun ya mBah… berbeda itu biasa, dewasa adalah sikap luar biasa…!

  32. jipiyanuar says:

    martoart said: Ada usul judul?

    Moral Ngembat!

  33. jatiagung says:

    t4mp4h said: biar kata logis tapi kalau hati nurani bilangnya ngibul ya tetep ngibul

    setubuh mbi kang tampah…. jare kang bimo yo ngunu ora oleh ngapusi apa maning meng hati nurani, Bisakah kita senantiasa jujur?

  34. savikovic says:

    saya maunya hidup bergelimang dogma hati nurani kekekekekke

  35. menyimak tulisan, apik…..tp awal liat gambar, sepintas saya pikir gambar naga dirubah jd anjing laut :Dternyata eh ternyata hehehehehehe…..o y, sempat terlintas juga [pemikiran usil]….”mungkinkah tuhan adalah dogma? figur ciptaan orang bijak jaman dulu kala untuk menegakkan norma2 yg berlaku”

  36. agamfat says:

    Almukarrom Kang Marto,Ane ingin ikut urun rembug, tapi males nulis lagi.Ane kutipkan saja email ane di milis FE UGM ketika ribut-ribut Pak Boed mau jadi Cawapres SBY. Ada kaitan sedikit dengan morality, ethics dan pengambilan keputusan individual.Ada tulisan Mudrajad Kuncoro, sekarang titelnya Chief Economist PT Recapital Advisor, mengenai Boedionomics di Gatra minggu ini.Intinya sama seperti pernyataan Tony, tidak mungkin Pak Boed neolib karenabeliau penggagas Sistem Ekonomi Pancasila tahun 80-an. Pak Boed menulis di buku EP itu mengenai pengendalian makro dlm kerangka SEP, dimana diperlukan perpaduan fiskal, moneter, dsb. Menurut Mudrajad, apa yg digagas Pak Boed dlm buku EP, dilaksanakan ketika beliau di Bappenas, Depkeu & BI, meski hanya dijelaskan sepintas lalu. Jadi Pak Boed masih melaksanakan EP dg konsekuen.Mas Bango Samparan,Harus diakui kalau pendapat Arief Budiman, bahwa binatangnya saja belum jelas, bagaimana bikin kandang SEP, masih berlaku sampai saat ini.Karena saya bukan ekonom atau ideolog, juga cukup sekuler shg saya memandang ekonomi islam adl capitalislam krn hanya dipraktekkan di islamic finance (yg sangat kapitalis, krn itu bs diplesetkan jd capitalislam hehehe), saya hanya bisa lihat dr kacamata business ethics. Mengutip dr profesor sy di Nottingham dulu, Andrew Crane:– Morality berkenaan dg norma, nilai, keyakinan yg ada di proses sosial ygmenentukan right or wrong utk individu, komunitas, atau dlm kasus bisnis,perusahaan.- Sedangkan Ethics berhubungan dg study of morality & aplikasinya dlm bentuk rules & principles yg menentukan right or wrong for any given situation.- Ethical theories: Rules & principles ini disebut ethical theories, dan,- ethical theories ini dapat diaplikasikan menjadi solusi terhadap ethicalproblems. Lima pilar SEP yg dulu diformulasikan oleh Pak Muby & Pak Boed (roda pembangunan dan kegiatan ekonomi yg didorong oleh rangsangan sosial, moral & ekonomi, peran koperasi, kemerataan sosial, nasionalisme kebijakan ekonomi dan perimbangan perencanaan nasional & desentralisasi), digali dr:- nilai-nilai/moralitas Pancasila (Morality) yg berasal dr sila-sila Pancasila,dan karena itu bisa diformulasikan menjadi,- rules & principles (5 pilar EP) atau Pancasila ethical theories yg dapat,- Diaplikasikan sbg petunjuk dlm memecahkan problem praktis pilihan kebijakan ekonomi.Jadi saya lihat pendapatnya Mudrajad ini ada benarnya, bahwa Ekonomi Pancasilaadalah ethical theories yg bisa dipakai oleh Pak Boed atau siapapun sbg guidinglight dalam memecahkan permasalahan praktis ekonomi atau dilema, trade off:- Fiskal: alokasi anggaran pendidikan vs bayar utang. Krn Ekonomi Pancasilaberprinsip kemerataan sosial & nasionalisme kebijakan ekonomi, maka utangsebaiknya diturunkan stoknya, caranya, ya pakai mekanisme yg ada:Debt-for-nature swap, Paris Club utk reschedule, dsb, & bukan ngemplang, krnngemplang tdk Pancasilais hahaha- Industri: Industri mobil di Indonesia yg hanya jd pedagang dan perakit, tdkberanjak jd industri dg merek sendiri. Pancasila ethical theories (dg prinsipkemerataan sosial, nasionalisme kebijakan ekonomi dan perimbangan perencanaannasional & desentralisasi) akan mengarahkan supaya ada Industri SubstitusiImpor, dg merek sendiri seperti Proton, dengan dukungan kuat ke pemain baru(BPPT, Inka, dsb), yg dibuat di daerah yg sudah ada cluster industrinya, dsb.Apa ethical theories ini hanya berlaku pada level individu saja? Menurut Cranelagi, tidak. Crane melihat bahwa pendapat ethical theories hanya berlaku padainvididu itu hanya cocok di Amerika. Menurut Crane, Eropa (terutama daratan, dansampai batas tertentu Inggris), punya pendekatan tersendiri dalam penerapanbusiness ethics, dimana yg bertanggung jawab atas ethical conduct in businessadalah collective social control, dg aktor seperti pemerintah, serikat buruh,asosiasi industri.Mengacu ke pendapat itu, maka Ekonomi Pancasila, atau apapun sumbermoralitas/nilai/norma, asal ada shared understanding, shared beliefes & norms ygdipegang merata oleh pemerintah dan aktor-aktor ekonomi lain, maka Pancasilaethical theories dapat diaplikasikan dlm praktek pengambilan keputusan ekonomidan bisnis, melalui kebijakan fiskal, moneter, industriDisclaimer:Demikian analisis Ekonomi Pancasila dari pendekatan ethical theory, yg mungkinaneh, krn saya bukan ideolog seperti Awalil atau mas Sony, atau yg meyakinibahwa ekonomi Islam ada (bagi saya, Capitalislam), hanya belajar CSR & businessethics saja.

  37. agamfat says:

    btw, piye carane sih bikin reply yang bisa dibikin bold. kok nggak bisa ya

  38. t4mp4h says:

    agamfat said: Apa ethical theories ini hanya berlaku pada level individu saja? Menurut Cranelagi, tidak. Crane melihat bahwa pendapat ethical theories hanya berlaku padainvididu itu hanya cocok di Amerika.

    bisa dijelasin kenapa cuman cocok di Amrik doang ? *** kalau ngomongin etika bisnis ane jadi inget pelajaran Mbak Farina Pane (yang American economic style).

  39. t4mp4h says:

    agamfat said: btw, piye carane sih bikin reply yang bisa dibikin bold. kok nggak bisa ya

    <b>yang mau di bold</b> semoga berpaedah

  40. agamfat says:

    t4mp4h said: bisa dijelasin kenapa cuman cocok di Amrik doang ? *** kalau ngomongin etika bisnis ane jadi inget pelajaran Mbak Farina Pane (yang American economic style).

    kalau adiknya aku kenal, sempat sekantor dulu di UNDP.Tentu tidak semua teori itu cocok diterapkan ditempat lain yg punya perbedaan sejarah, filosofi, warisan agama yang membentuk national culture mereka, tradisi akademis, praktek dan etika bisnis yang berbeda-beda. Amerika, dan sampai tahap tertentu Inggris, sangat individualis, berawal dari tradisi liberal, sejarah mereka melawan Inggris, agama mayoritas Kristen Protestan yg sangat mempercayai kebebasan individu, sampai tidak ada Imam besar seperti Paus di Roma, dsb. sementara sebagian besar Eropa adalah Katolik, yang lebih komunal dan mempunyai imam besar Paus.

  41. agamfat says:

    t4mp4h said: <b>yang mau di bold</b> semoga berpaedah

    kamsia. lagi ngerti aku

  42. t4mp4h says:

    agamfat said: kalau adiknya aku kenal, sempat sekantor dulu di UNDP.Tentu tidak semua teori itu cocok diterapkan ditempat lain yg punya perbedaan sejarah, filosofi, warisan agama yang membentuk national culture mereka, tradisi akademis, praktek dan etika bisnis yang berbeda-beda. Amerika, dan sampai tahap tertentu Inggris, sangat individualis, berawal dari tradisi liberal, sejarah mereka melawan Inggris, agama mayoritas Kristen Protestan yg sangat mempercayai kebebasan individu, sampai tidak ada Imam besar seperti Paus di Roma, dsb. sementara sebagian besar Eropa adalah Katolik, yang lebih komunal dan mempunyai imam besar Paus.

    oic,…Jadi karena standard pendekatan kultural (politik, agama, dsb) beda, maka etika bisnis ala amerika gak cocok buat eropah, asia, apalagi timur tengah. Tapi dalam beberapa hal, yang terkait dengan “etika” itu sifatnya global. Semisal etika untuk tidak menipu konsumen, berlaku umum di seluruh kolong langit. Meski gradasi menipu di pasar uler berbeda dengan carefour.

  43. agamfat says:

    t4mp4h said: oic,…Jadi karena standard pendekatan kultural (politik, agama, dsb) beda, maka etika bisnis ala amerika gak cocok buat eropah, asia, apalagi timur tengah. Tapi dalam beberapa hal, yang terkait dengan “etika” itu sifatnya global. Semisal etika untuk tidak menipu konsumen, berlaku umum di seluruh kolong langit. Meski gradasi menipu

    Ada yang sifatnya universal, ada yang partikular. Universal: moral agama manapun, atau etika seliberal apapun, pasti menghormati properti pribadi, kepastian hukum, dsb. Memang untuk komunisme murni abad 18 agak berbeda disini dalam hal properti. Tapi dimanapun maling itu dilarang, haram. Tapi gradasi maling juga berbeda-beda. penghisapan oleh MNC atas nama pasar bebas kepada petani dalam revolusi hijau itu bagi Sri Mulyani tidka maling. Tapi bagi aku, itu maling gede.ada juga upaya dari Orba dan pemerintah Malaysia jaman Orba untuk selalu mengangkat partikularitas di atas universalitas demokrasi. Demokrasi Pancasila, demokrasi dengan Asian Values, itu dibikin supaya tidka perlu mengakui partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan publik.

  44. ohtrie says:

    Menyimak para ahli bertutur ahhh…😉

  45. brecs says:

    logonya boleh di copyleft ya Mbah Sambel?

  46. martoart says:

    brecs said: logonya boleh di copyleft ya Mbah Sambel?

    Monggo, sertakan kredit sebagaimana aturan di home page. Nek gak, tak templok sambel!

  47. martoart says:

    jipiyanuar said: Moral Ngembat!

    Menarik, dipertimbangkan.

  48. imagina1 says:

    quote: “menjadi media pengalih pesan moralitas awal” — pd akhirnya seperti distraksi, ya mas. padahal golden rule itu sebuah logika dasar yang sbnrnya tak terbantahkan.kdg2 manusia mmg terlalu kreatif🙂

  49. martoart says:

    imagina1 said: kdg2 manusia mmg terlalu kreatif

    Kakakaka… suka ini!

  50. martoart said: “Apa yang menjagamu untuk tidak melakukan suatu tindakan kepada orang lain, sebagaimana kamu tak inginkan orang lain melakukannya kepadamu”

    This is a very dangerous law if hold on to by a sado-masochist like Triyadi….Check Politikana status.

  51. cenilhippie says:

    DAMN!knapa aku slalu sepakat dengan tulisan2mu…..aku link ya…

  52. martoart says:

    >Agam, aku juga gak gitu ngerti soal ekonomi, tapi sepemahamanku konsep “Syariah” yang paling bisa diterapkan di Indonesia adalah pada sisi ekonominya. Yang lain tak perlu. Itupun dengan catatan pensyariaahan ekonomi yang benar Islami, seperti halnya yang dilakukan Yunus dengan Garmen Bank-nya. bahwa sesungguhnya bukankah itu lebih Islami dari ekonomi CapilaIslam Yahudi Arabia? Eh, Saudi Arabia, eh, sama aja ya? Menurutku sih, Ekonomi Syariah sejatinya mirip-mirip Pancasila yang kiri dengan keadilan Sosial-nya. Rasanya Hatta tak semena-mena menaruh pasal 33 yang amat sosialis di UUD 1945.Sementara Generasi sekarang mecundangi para pendiri bangsa yang kiri (bukankah Hamka, Hatta, juga Nasir tergolong Kiri secara Islami?) dengan berbagi 15 M buat kontol dan tempik masing-masing. Sense of Social Crisis mereka dancukan banget!

  53. edwinlives4ever said: This is a very dangerous law if hold on to by a sado-masochist like Triyadi….Check Politikana status.

    BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAâ„¢!!!

  54. martoart says:

    cenilhippie said: DAMN!knapa aku slalu sepakat dengan tulisan2mu…..

    Damn! Kenapa aku selalu tersanjung dengan komen2mu…(sila dicomot)

  55. martoart says:

    edwinlives4ever said: a sado-masochist like Triyadi….Check Politikana status.

    Meluncur! (siapin dildo berduri, pecut, celana kulit, n seragam satpol PP)

  56. martoart says:

    ohtrie said: masuk teori relatifitas apa hukum causaprima

    Setahuku Einstein gak menghubungkan teorinya dengan ginian. Ataukah ada yang mo coba bikin teori Fisika Moral atau Moralitas Fisika? ditunggu.Sedang Hukum Causa Prima (penyebab utama), sepertinya gak juga. Hukum itu hadir lebih karena dead lock para filsuf. Aku lebih suka Hukum Sebab-akibat.

  57. martoart says:

    beatleberries said: mungkinkah tuhan adalah dogma? figur ciptaan orang bijak jaman dulu kala

    aku lebih setuju begitu. kemudian ciptaan itu lebih berkuasa dari penciptanya. hingga manusia tak semudah pencet CTRL+ALT+DELL untuk membunuhnya.

  58. martoart said: seragam satpol PP

    BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!

  59. sepunten says:

    dulu pernah denger ilmu batas,logika > etika > estetikasemua akan kembali ke mindset masing-masing🙂

  60. sepakat mas…kalau saya….not born to follow… apa yang saya yakini, apa yang saya amini dan apa yang saya percaya adalah murni ciptaan saya sendiri.

  61. brecs says:

    martoart said: tak templok sambel!

    nek nganggo tempe goreng sisan, aku gelem kok…

  62. ravindata says:

    martoart said: tempik

    Hmmm….. Om, suka sekali sama yang satu ini ..

  63. rawins says:

    ravindata said: Hmmm….. Om, suka sekali sama yang satu ini ..

    dari seluruh tulisan, aku juga paling suka dengan nyang ituh…hehehe

  64. harblue says:

    martoart said: kalo agama kadang-kadang gak bikin rusuh

    kalo agamanya di akal-akalin, ya rusuh juga, hahaha..

  65. martoart says:

    harblue said: kalo agamanya di akal-akalin, ya rusuh juga, hahaha..

    demikian juga kalo akal diagama-agamain

  66. martoart says:

    Baik kawan-kawan, terima kasih atas semua tanggapannya.Setelah saya pertimbangkan (fiuh, resmi bangets), saya merasa tak perlu mengganti judul. Saya menganggap ini sekadar kesamaan ide. Budaya parodi adalah tabiat dunia, dan ini adalah salah satu alasan untuk saya tak perlu merasa bersalah. Kalah dulu adalah memang harus diterima, dan itupun banyak penyebabnya. Tetapi setidaknya saya memarodi bukan lantaran mengambil dari pemarodi sebelumnya. semoga kawan-kawan mengerti (khususnya si empunya parodi pertama).

  67. luqmanhakim says:

    Telat ngikutin, nggak buka MP lama…Menunggu sampeyan membahas hukum lendir kok ya nggak dibahas, padahal ada kaitannya sama Moral Kombat di sini. Perkara sama judul nggak majalah Cak, toh film dokumenter entu juga buat memparodikan kekerasan di film yang memang berhubungan dengan judulnya, Mortal Kombat. Kalo tulisan ini lebih ke bahasan yang lebih umum…

  68. martoart says:

    Thx apresiasinya Man. Sengaja nggak secara khusus menaruh lendir di sini, sebab seperti yg kusajikan, aku bersepakat dengan Hikmat Bahwa Moral sering dilekatkan hanya dengan urusan Susila. Maka perlendiran tak begitu meleleh di sini.

  69. luqmanhakim says:

    martoart said: aku bersepakat dengan Hikmat Bahwa Moral sering dilekatkan hanya dengan urusan Susila. Maka perlendiran tak begitu meleleh di sini

    Ha ha ha… Analogimu itu lho…

  70. afemaleguest says:

    martoart said: Saya tak mau hidup bergelimang dogma.

    namun sayangnya tak bisa lepas dari pandangan orang lain yang notabene keluarga sendiri*ini kasusku lho Kang*^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s