YOGYAKARTA ~ SERAM BIN MEDENI ‘AH!

“Bahwa mereka adalah bangsa yang satu dari umat manusia”

(Butir pertama Piagam madinah)

“Orang-orang kafir tidak boleh memasuki Madinah”

(Salah satu keutamaan Madinah versi Wahabi)

“Pembangunan kembali Baitul Maqdis, penghancuran Yastrib dan penghancuran Yastrib, munculnya pembantaian dan pertempuran dahsyat atau pertikaian berdarah, penaklukan Konstantinopel, dan kemunculan Dajal”, Itu kata Nabi Muhammad kepada Mu’âdz bin Jabal, saat beliau memberi bocoran sebagian tanda-tanda akhir jaman.

Saya membayangkan Sang Perawi itu bengong sejenak, sehingga Nabi perlu menepuk paha Mu’âdz sambil berkata, “Sungguh, itu merupakan kebenaran seperti halnya kenyataan bahwa kamu sedang duduk saat ini”.

Bukan main, ternyata penghancuran Yastrib (Nama lama untuk Madinah), menjadi salah satu tanda datangnya kiamat!

Ngayastribkarto Hadiningrat

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani menganalisa dengan jeli lantaran berangkat dari keheranan betapa Madinah justru semakin magrong-bersinar. Apakah Nabi memang tak pintar meramal, atau Mu’âdz luput merawi? Atau kiranya telah terjadi miskomunikasi antara keduanya? Rupanya tidak. Hanya kadang kita yang malas mengupas kata. Namun tidak bagi ulama mutahir yang pernah tiga kali mengunjungi Indonesia ini.

Di dalam bukunya yang berjudul “Approaching to Armageddon” (Juni, 2003), Kabani mengajak kita untuk menajam bahwa Nabi tak menyebut Madinah, melainkan Yastrib. Kabani lantas mengusik kemalasan bermain makna kita dengan jabaran tentang Yastrib sebagai berikut:

“Yastrib adalah kota di mana muncul cahaya pengetahuan yang menyinari dunia. Ia merupakan tempat berdirinya pemerintahan Islam awal dan sumber prestasi para sahabat. “Kharâb Yastrib” berarti bahwa peradaban Kota Tua – sebelum menjadi bernama – Madinah itu akan dihancurkan. Dampaknya adalah bahwa segala peninggalan klasik dan tradisional dalam Islam akan dihancurkan”.

Perusakan itu tak lain dilakukan oleh Wahabiyin, kaum yang menyebarkan Islam versi mereka sendiri, yang mecundangi tradisi-tradisi klasik, termasuk Islam tradisional bernilai lebih dari 1400 tahun. Di Yastrib, para pembaharu Islam inilah yang pertama kali mengajukan pemahaman dan berusaha mengubah seluruh tradisi Islam yang diajarkan Nabi.

Ajaran dan situs pasca Nabi tiba-tiba dianggap berpotensi penyebab kufur, syirik, bidah, dan haram yang tentu harus dimusnahkan. Puncaknya, Ulama Wahabi Nashiruddin al Albani menyerukan pembongkaran Qubbah al Khadhrâ’, kubah hijau yang menaungi makam nabi dan pengeluaran Jasad Rasulullah dari dalam Masjid Nabawi.

Berita itu sampai di Indonesia. Begitu mendengar hal itu Para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah segera membentuk Komite Hijaz. Komite inilah yang menjadi embrio berdirinya NU. Maka dengan mengatasnamakan Umat Islam Jawa, berangkatlah KH Wahab Hasbullah ke Mekah. Pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang tersebut menemui Raja Saud dan berdiskusi agar makam tersebut tidak dibongkar.

Raja Saud bersepakat, Nabi menang, jasadnya tenang tak ditendang sampai sekarang.

Namun Wahabiyin tak kenal lelah, Yogyakarta hendak “Diyastribkan”.

Asumsi gelap saya mengatakan ini semacam dendam masa lalunya kepada Umat Islam Jawa.

Ngayogyakarto al Munawwaroh

se·ram·bi

(n): Beranda atau selasar yang agak panjang, bersambung dengan induk rumah, biasanya lebih rendah daripada induk rumah (KBBI).

Situasi yang terjadi di kota ini adalah Déjà vu dari siklus pertikaian lama. Meski belum – dan semoga tidak – terjadi pendarahan. Yaitu sekelompok kaum bersiasat dengan elit keraton meramu ide yang seolah-olah indah: “Yogyakarta Serambi Madinah”.

Serambi juga berarti ruang depan tambahan sebelum masuk bangunan utama. Dalam hubungannya dengan tulisan ini, saya sekaligus memaknai bahwa Serambi Madinah secara kronologi filosofinya adalah Yastrib. Dan sebagai Orang Jawa yang biasa bermain di wilayah sanepa (Kode Tutur), Saya menerjemahkan ide “Menyerambimadinahkan” Yogya artinya: “Meyastribkan” Yogya.

Dan Anda tahu apa itu maksudnya.

Berlebihankah? Lebih baik dikatakan demikian dan saya waspada, daripada dibiarin tapi kecolongan. Toh situasi mutawakhir di Yogya ini memang sebagaimana saya tulis di atas adalah sebuah Déjà vu, sebuah siklus sejarah berpola sebangun. Pola koalisi Wahabiyin dengan elit keraton, mirip dengan setrategi Muhammad bin Adbul Wahhab saat mendekati Muhammad bin Sa`ud. Tak lupa dengan ide yang seolah-olah berkah: “Pemurnian Islam”.

Anda ridlo rela? Saya menolak! Saya pernah tujuh tahun tinggal di keberagamannya, dan berharap itu tetap terpelihara. Sebab keseragaman milik fasis, orang kompulsif, tentara, dan mereka semacamnya. Kaum yang maunya berbaris rapih, shaf yang lurus rapat terisi, dan keteraturan nan massif. Gemang – ogah!

Sila saja keturunan Wahabiyin seperti biasa mengendap-endap menusukkan ide seolah berkah itu ke relung elit istana, tapi percayalah anak cucu Aswaja tetap setia menjaga budaya bersama kawula.

Berikut ini saya kutip sebagian isi Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama yang diputuskan dalam Muktamar Kebudayaan Nahdlatul Ulama I pada 1 Feburari 2010 di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta:

“untuk mengembalikan harkat kebudayaan sebagai artikulasi pemuliaan manusia dan prosesnya untuk mencapai integritas kemanusiaannya, sebagai arena penegasan dan pengembangan jati diri kebangsaan Indonesia, kami merasa perlu mengambil sikap kebudayaan…

Butir 4

. Memperjuangkan kebudayaan (baik sebagai khazanah pengetahuan, nilai, makna, norma, kepercayaan, dan ideologi suatu masyarakat; maupun–terlebih–sebagai praktik dan tindakan mereka dalam mempertahankan dan mengembangkan harkat kemanusiaannya, lengkap dengan produk material yang mereka hasilkan) sebagai faktor yang diperhitungkan oleh para pengambil kebijakan negara, sehingga kebudayaan dapat menjadi kekuatan yang menentukan dalam setiap kebijakan yang mereka putuskan.

…Keindonesiaan adalah tanah air kebudayaan kami.

Oleh karena itu, di dalam dinamika kesejarahannya, ia menjadi titik pijak kreatifitas kami, Realitasnya yang membentang di hadapan kami, menjadi perhatian dan cermin bagi ekspresi dan karya-karya. Kami ingin tanah air kebudayaan kami menjadi subur oleh tetes-tetes hujan keringat estetik bangsa ini”.

Kepada Yang Terhormat Sultan Yogyakarta, semoga Anda kebetulan membaca blog ini. Tulisan ini adalah manifestasi keresahan saya. Saya takut membayang sebuah serambi, bukan pendopo lagi. Di sana ada keset yang tak lagi bertulis “Welcome”, karena turis bule representasi para kafir malas datang. Tak lagi bertulis “Sugeng Rawuh” karena bukan kita lagi Sang Tuan Rumah. Kita ada di bawah keset bertulis “Marhaban”, sebab kita cuma gedibal Wahabi.

This entry was posted in Keislaman. Bookmark the permalink.

89 Responses to YOGYAKARTA ~ SERAM BIN MEDENI ‘AH!

  1. martoart says:

    Jangan mo jadikan Yogya serambi madinah, teras ngamrik, selasar jepang, beranda cina, koridor india, dsb dst…Yoga adalah Yogya. Itu finalKedua icon di atas saya bikin dlm ukuran kecil. siapa mo pake silakan., kalo mau ada ukuran gedhe nya.

  2. wonderguitar says:

    weleh-weleh…abis ini gue mau beli kue serabi bandung. pasti enak tenaaaannnnn!!

  3. agamfat says:

    sareh yogya asli halal hehehekang, bisa dikaitkan dengan penjelasan mengenai Perang Padri dari Pak Taufik?

  4. Yogya has been a fully-furnished house, well-kept for generations, sanctuary to souls of all kinds. What’s the point of making it a mere terrace, in which no one can lay their restless mind anymore?There’s no place more welcoming than Yogya. But, when ridicule is one of the guests, hope the host knows how far it can go.

  5. wonderguitar says:

    medinah mestinya menjadi serambi jogja! hahahha

  6. t4mp4h says:

    martoart said: Kedua icon di atas saya bikin dlm ukuran kecil. siapa mo pake silakan., kalo mau ada ukuran gedhe nya.

    kalau kaya gini sah-sah saja tho ?

  7. martoart said: Kepada Yang Terhormat Sultan Yogyakarta, semoga Anda kebetulan membaca blog ini.

    Yes, I’ve read it.

  8. jadul1972 says:

    sebuah judul yang medeni bangetnggak seindah lagunya Kla Project dah hehehehehe

  9. sepunten says:

    wah nek wahabi iku, ancene kok…syareat, ritual, primodial senengane,ga sinau sufi/spiritual apa?

  10. seblat says:

    jogja serambi NUSANTARA……sebagai orang yg lahir di utara JOKTENG Wetan, Pujokusuman Ngayogyakarta.. ra trimo nek nganti JOgJa yang majemuk/ beragam di SERAGAMKAN!ra trimo SU!!SACILATT!!..(lho.kok ngamuk..:P)

  11. brecs says:

    marto bilang: coitus ergo sum (http://martoart.multiply.com/journal/item/105)brecs bilang: yastribus ergo coitum (yang artinya: yastribkanlah, maka engkau koit)

  12. ohtrie says:

    jogja serambi medeni ,ah…?!!!!hanya satu kataa……kakehan pertengsek..!

  13. aku yo wong Jogja,tp ora bakat medeni

  14. seblat says:

    “tak bagi nang fesbukku yo lek”…” yoo” jawab marto sambil bikin sambel trasi..:P

  15. ravindata says:

    opo saiki Ngarso Dalem wis nggawe celono cingkrang to ? Kok meneng wae ?

  16. luqmanhakim says:

    Sori bakalan panjang tulisan ini, diskusi yang menarik wajib dijabani…Menurut saya simple aja sih penjabarannya. Bedain aja dari kata Mekkah dan Madinah, kata yang sering dikonotasikan sebagai kota sucinya umat Islam. Serambi MekkahAceh jadi kota Serambi Mekkah itu karena dari awal, dari sebelum merdeka, negeri itu memang menerapkan syariat Islam. Dari jaman kerajaan Poli di daerah pantai Sigli, Aceh Pidie sekitar 500 M, negeri ini sudah kuat dan mandiri. Islam belom masuk ke sini, hadir di Aceh jaman kerajaan Samudra Pasai sekitar abad 13 M. Dijajah Portugis, Belanda juga Jepang, Aceh itu tergolong daerah yang paling gigih membela hak atas tanahnya. Bahkan tercatat dalam sejarah, daerah yang sulit ditaklukkan sama kumpeni itu adalah Aceh. Sampe Belanda muter otak buat naklukin Aceh, dikirimlah intelektual misionaris dari Universitas Leiden bernama Snouck Hurgronje untuk masuk dan mempelajari antropologinya. Nggak usah panjang lebar cerita tentang si Snouck, kita bahas tentang konteks religi, budaya, pattern dan pola masyarakat Aceh yang sangat loyal pada pemimpin. Aceh sendiri memang menginginkan diberlakukannya syariat Islam. Ketika merdeka, Soekarno pernah menjanjikan pada tokoh masyarakat Aceh, Tengku Daud Beureuh, 16 Juni 1948. Bertahun-tahun Aceh menunggu janji itu sampai dibohongi, mereka marah dan GAM muncul. Perlu dicatat, Aceh adalah daerah yang memang menginginkan diberlakukannya syariat Islam dari sejak jaman belom merdeka. Pun, Aceh adalah daerah terkaya yang banyak menyumbang negeri ini ketika masih menyusun kepemerintahannya, sebut saja pesawat terbang pertama, Seulawah RI 01 yang dimiliki Indonesia itu sumbangan masyarakat Aceh, mereka berduyun-duyun menyumbang emas-emas mereka untuk negara, tapi apa balasannya? Nggak usah diterusin, ntar malah ngompor-ngomporin temen-temen pula adanya. Sebutan Aceh kota Serambi Mekkah sendiri sulit ditelusur siapa yang pertama kali ngomong, tapi bisa diyakini ini konsensus bersama masyarakat Aceh yang memang berniat menjadikan daerahnya sebagai kota Serambi Mekkah. Serambi MadinahBuat temen-temen Jokja, nggak usah khawatir, sori kalo saya terlalu menggampangkan. Ide menjadikan Jokja sebagai kota Serambi Madinah adalah ide terburuk dan paling bodoh yang pernah saya dengar. Jauh sebelum Jokja mau dibikin jadi kota Serambi Madinah, pada tau nggak kalo ternyata banyak kota-kota lain di Indonesia yang ngiri sama Aceh dengan sebutan kota Serambi Mekkah, beberapa kelompok masyarakatnya mengusulkan daerahnya, bahkan daerah lain yang bukan tempat tinggalnya menjadi kota Serambi Madinah. Pada tau nggak kalo Makassar pernah diusulkan jadi kota Serambi Madinah? Pada tau nggak kalo Gorontalo pernah diusulkan jadi kota Serambi Madinah? Pada tau nggak kalo Banten pernah diusulkan jadi kota Serambi Madinah? Coba googling, temukan betapa banyak daerah yang ngiri sama Aceh untuk bisa disebut dengan kata yang dekat-dekat dengan Islam.Jokja jadi kota Serambi Madinah? Sudahlah teman-teman Jokja, maaf kalo saya ajak berpikir sederhana, bahwa ide begini nggak bakalan terwujud, Sultannya sendiri kok yang bilang begitu. Nggak asal ngomong lho ini, ada di wawancara dengan majalah Islam sendiri, Sabili: “Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tidak akan mengeluarkan peraturan daerah (perda) untuk menjuluki Yogyakarta Serambi Madinah. Julukan itu inisiatif masyarakat. Silakan saja disebut begitu, itu bukan inisiatif pemerintah. Pemprov DIY tidak mengeluarkan perda tentang julukan tersebut.” Klik di sini buat sumber tulisannya: “Sultan: Yogya Tidak akan Jadi Serambi Madinah “Tetep aja berplural, itu asik kok, nggak pernah saya nemuin kota seplural Jokja…

  17. agamfat says:

    Elvin, woakakaka Sultan pakai celana cingkrangLuqman, koreksi sedikit, GAM muncuk bukan karena minta syariat Islam, tapi karena ketidakpuasan ekonomi dan politik. Hasan Tiro marah luar biasa ketika dia jadi diplomat RI di New York karena provinsi DI Aceh digabung dengan Sumut. Pulang mendirikan GAM tahun 76 ketika proyek Arun yang sudah berjalan beberapa tahun tak memberikan nilai tambah bagi masyarakat Aceh.

  18. luqmanhakim says:

    agamfat said: Luqman, koreksi sedikit, GAM muncuk bukan karena minta syariat Islam, tapi karena ketidakpuasan ekonomi dan politik. Hasan Tiro marah luar biasa ketika dia jadi diplomat RI di New York karena provinsi DI Aceh digabung dengan Sumut.

    Ceritanya emang dipendekin Gam, ntar panjang pula cerita tentang GAM. Jelas, karena dibohongi melulu sama pemerintah, panjang banget ceritanya sampe mereka nuntut merdeka sendiri. Detilnya males ditulis, intinya memang ketidakpuasan pada pemerintah karena merasa ditidakadilkan…

  19. agamfat says:

    Iya Man. Nah, syariat Islam diberlakukan oleh pemerintah Megawati untuk meredam keinginan merdeka orang Aceh. Ya, semacam dikasih candu buat melupakan keinginan untuk berperang

  20. ravindata says:

    aku justru suka gaya karakteristik yogya dalam merias diri atau etika tata kramanya … ada nuansa kekuatan budaya adiluhung yang melambari proses akulturasinya.

  21. inyong says:

    aku mung maca wae yo kang…. ilmuku durung nyampe soale

  22. harblue says:

    seperti biasa, cara bertutur bang Martoart yang sederhana membuat ide tulisan, yang menurutku agak pelik, jadi mudah dicerna. terima kasih sudah berbagisaya sendiri setuju dengan ide yang disampaikan…Jogja adalah jogja, hehe…

  23. martoart says:

    t4mp4h said: kalau kaya gini sah-sah saja tho ?

    Halalan wa Thoyiban dab!

  24. martoart says:

    wonderguitar said: serabi bandung.

    Bandung Serabi Madinah soook atuh akang!

  25. martoart says:

    agamfat said: sareh yogya asli halal

    Belbu haram setuju! Jangan makan teman!

  26. martoart says:

    yashartaholic said: There’s no place more welcoming than Yogya.

    Bali wae neng Yogya!

  27. martoart says:

    terus para mbok emban kalo lagi lesehan di serambi pake cadar gitu?

  28. martoart says:

    edwinlives4ever said: Yes, I’ve read it.

    Aduh Gusti katiwasan, nyuwun duka bilih wonten lepat-luputing anggen kawula nyerat dumateng panjenengan Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Gagak Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo Khalifatullah MP kaping nggunung riwayatmu dulu…

  29. martoart says:

    jadul1972 said: medeni banget

    Dapat ide Bali Serambi Bombay?

  30. martoart says:

    sepunten said: ga sinau sufi/spiritual apa?

    Ente tahu ane dak boleh sinau kesesatan cem gitu Her?ttd: o-MARTO-lib

  31. martoart says:

    seblat said: utara JOKTENG Wetan, PujokusumanNgayogyakarta.

    bila kau datang dari selatanlangsung saja menuju Gondomananbelok kanan sebelum perempatanteman-teman riang menunggu di sayidan

  32. martoart says:

    brecs said: coitum

    Coitus Tujuh Menit

  33. martoart says:

    ohtrie said: hanya satu kataa……kakehan pertengsek..!

    itu dua kata Tri…

  34. martoart says:

    danangprobotanoyo said: aku yo wong Jogja

    aku wong gak jelas

  35. prey47 says:

    hmmmm… jebul apik kowe le nules. sesuk le nyuguhi terong ojo ndadak digoreng. lalap ae wes enak kui

  36. martoart says:

    seblat said: ak bagi nang fesbukku yo lek

    yo, ning sambel-e ojo

  37. martoart says:

    ravindata said: po saiki Ngarso Dalem wis nggawe celono cingkrang to ?

    mbuh, coba diinceng kono…

  38. martoart says:

    luqmanhakim said: wawancara dengan majalah Islam sendiri, Sabili

    Islam?

  39. martoart says:

    agamfat said: syariat Islam diberlakukan oleh pemerintah Megawati untuk meredam keinginan merdeka orang Aceh.

    See? Langkah cerdas seorang Nasionalis…(bluuweek!)

  40. prey47 says:

    martoart said: yo, ning sambel-e ojo

    mangkane gawe fesbuk

  41. martoart says:

    ravindata said: etika tata kramanya …

    Lha injih menika, panjenengan leres. Cobi to, kados nopo dadosipun menawi kulo mboten bidhal Yogya lan taksih wonten Mediun srawung kalihan penjenengan.

  42. martoart says:

    inyong said: ilmuku durung nyampe soale

    Mangkanya Wak Kaji, اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ lah situnya ke Arab kemaren!(itu iseng, derajad hadisnya Bathil sudara2)

  43. martoart says:

    harblue said: saya sendiri

    saya juga sendiri.yuk jalan sendiri-sendiri.(Srimulat mode: On)

  44. martoart says:

    prey47 said: sesuk le nyuguhi terong ojo ndadak digoreng

    Sssst ojo banter2! Jadul lagi tak pakani terong goreng ki!

  45. hitungmundur says:

    Hidup di Jogja 7 tahun, kelihatan ada banyak indikasi gerombolan kanan kok.Media tanam sudah siap. Tapi semoga enggak.

  46. klewang says:

    luqmanhakim said: Aceh jadi kota Serambi Mekkah itu karena dari awal, dari sebelum merdeka, negeri itu memang menerapkan syariat Islam.

    sekadar nambahi juga, menurut versi Ong Hok Ham, Aceh dijuluki serambi Mekah karena tradisi masyarakat Muslim di Jawa, Sumatera dan sekitarnya di masa lalu kalo mau naik haji ngeposnya di Aceh dulu. Disana sambil mempersiapkan diri untuk menyeberang, para calon haji seringkali nyambi memperdalam ilmu agama ke para ulama setempat yang keilmuannya pun sangat tersohor. Bahkan tidak jarang para calon haji yang akhirnya batal berlayar ke mekah karena alasan finansial, mereka cukup memperdalam ilmu agamanya di aceh saja dan bahkan, sepulangnya ke kampung halaman, kapasitas ilmunya diakui tidak kalah dengan mereka yang berhasil menginjakkkan kaki di tanah suci.

  47. klewang says:

    luqmanhakim said: Coba googling, temukan betapa banyak daerah yang ngiri sama Aceh untuk bisa disebut dengan kata yang dekat-dekat dengan Islam.

    dan seandainya wacana serambi madinah ditawarkan ke orang madura, mungkin mereka akan menjawab dengan enteng, “..mateh odhik noro’ Gus Dur.” (hidup-mati ngikut Gus Dur)

  48. papahende says:

    Mas Marto, banyak sekali yang senang dengan barang impor, padahal tahun Caka itu sekarang 1943, cukup tua untuk suatu paugeman. Apa kita nggak punya kepribadian ya, kok lebih senang ke India, China, Israeli, Arabi, dan lain-lainnya. Dan kalau sudah begitu terasa sekali seolah lebih super dari aslinya (super=suka perawan, tetapi bukan yang perokok).

  49. martoart says:

    hitungmundur said: Media tanam sudah siap. Tapi semoga enggak.

    Tenang, kita masih bersedia jadi gulma.

  50. martoart says:

    papahende said: Caka itu sekarang 1943, cukup tua untuk suatu paugeman.

    ama ba’dunya apa tuh pak?

  51. luqmanhakim says:

    martoart said: Islam?

    Yup… Wacana itu sengaja kuberikan bahwa memang ada indikasi Islamisasi Jokja. Kuangkat dari Sabili biar berimbang bahwa mereka juga mengiyakan. Dalam link tulisan itu disebutkan juga bahwa bilamana mengarah ke arah konteks budaya, silahkan saja. Tapi bilamana sudah mengarah ke penyebaran agama, mereka menolak. “Yogyakarta kota yang menghargai keberagaman. Jika konsepnya menjadi meng-Islam-kan, kami akan mundur, karena tidak sesuai dengan kondisi pluralitas kebangsaan yang sudah ada”, kata Sultan.

  52. luqmanhakim says:

    agamfat said: Iya Man. Nah, syariat Islam diberlakukan oleh pemerintah Megawati untuk meredam keinginan merdeka orang Aceh. Ya, semacam dikasih candu buat melupakan keinginan untuk berperang

    Koreksi Gam, bukan jaman Megawati, tapi jamannya Habibie dengan memberlakukan UU No 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh. Cek datanya: UU No. 44 tahun 1999

  53. martoart says:

    luqmanhakim said: Koreksi Gam, bukan jaman Megawati, tapi jamannya Habibie dengan memberlakukan UU No 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh.

    Wah, muntahanku tak leg maneh nek ngono.

  54. arddhe says:

    yaa…wlo cuman tinggal 5 tahun di jogja dan mgkn baru sedikit merasakan keberagamannya…tetap ga rela..!!

  55. Saya g pernah rela se-inchi-pun Indonesia (apalagi Yogya & sekitarnya…ya pokoknya pulau Jawa lah) di agamiskan.Udah bagus rame meriah kok mo dibikin kaku….lagian ntar g bisa pake kostum “basahan” krn masalah aurat😀

  56. papahende says:

    martoart said: apa tuh

    Ya begitulah Mas Marto, kejawen dan mungkin juga kaharingan dan paugeman kedaerahan lainnya yang merupakan local wisdom jaman mbah utek-utek gantung siwur dulu sudah nggak laku lagi kalah sama barang impor, padahal barang impor itupun sekarang sudah terbukti tidak bisa membuat pengikutnya menjadi manungso saksampurnaning menungso. Kalau memang memang benar iso, masak 80% pengikut barang impor nggak mampu mensejahterakan menungsa Indonesia, malah jeruk dahar jeruk.

  57. klewang says:

    mohon ijin menyebarkannya

  58. martoart says:

    klewang said: mohon ijin menyebarkannya

    sila

  59. martoart says:

    beatleberries said: ntar g bisa pake kostum “basahan”

    juga ga boleh mimpi basah.

  60. martoart says:

    arddhe said: .tetap ga rela..!!

    jangan ikutan bawa pentungan terus bikin front pembela yogya loh

  61. martoart says:

    papahende said: padahal barang impor itupun sekarang sudah terbukti tidak bisa membuat pengikutnya menjadi manungso

    cintailah produk2 dalam negeri

  62. Wrong. Cintailah ploduk-ploduk dalam negli

  63. martoart says:

    edwinlives4ever said: Cintailah ploduk-ploduk dalam negli

    sudala2,… yg bilang Gagak loh ya…

  64. klewang says:

    edwinlives4ever said: Wrong.

    Wlong !

  65. arddhe says:

    martoart said: jangan ikutan bawa pentungan terus bikin front pembela yogya loh

    haha…wogah mas, saya bukan org yg suka rusuh…hehe

  66. martoart said: yg bilang Gagak loh ya…

    Plovoked by Maltoalt

  67. cenilhippie says:

    makasih buat sharing tulisannya mas…..aku link ya…

  68. martoart says:

    cenilhippie said: aku link ya…

    sami-sami, Mongggoooo…

  69. tulusjogja says:

    Sebenarnya masalah ini merupakan masalah lama yang selalu muncul, bahkan bisa dibilang “phenomena gunung es”. Masalahnya bukan sekedar istilah atau penamaan, tapi penghilangan budaya dan dominasi ideologi. Saya katakan bukan agama tapi ideologi, sebab Sri Sultan itu kan bergelar “Ngarso Dalem Sampeyan Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping X Ing Ngayogyakarta Hadiningrat” Nah, bagi orang Jogja, seperti saya, Ngarso Dalem itu yan pimpinan Agama Islam, Islam versi Jawa, Islam versi saya, Islam versi kawula Jogja…. Islam yang toleran, Islam yang berbudaya Jawa, Islam yang tidak takut menerima perbedaan…Perbedaan visi ini kan sejak Sultan Agung Hanyokrokusuma memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram.Ingat juga, pada jaman Pergerakan Perlawanan Pangeran Dipenogoro, terjadi “pecah kongsi” antara Kiyai Mojo dengan Pangeran Dipenogoro, lantara soal ideologi keagamaan juga, sehingga kekuatan Pangeran Dipenogoro lemah…. Maaf jadi ngelantur, maklum wong tua seneng cerito…he he he he Jadi singkat kata, sejak Jaman Wali Sango memang ada perbedaan visi pengembangan agama… utamanya antara Sunan Kudus dengan Sunan Kalijaga.. Dan yang berhasil mengislamkanTanah Jawa adalah Kanjeng Sunan Kalijaga dengan Islam kulturalnya… bukan versi Sunan Kudus….Jadi adanya odho odho “Jogja Serambi Medinah” adalah masalah lama yang dihidup kan lagi… ini lagu lama Bung. Saya pribadi sih gak apa apa, cuman ngomong aja kok dilarang, ya silahkan saja, Saya percaya Ngarsa Dalem akan bijaksana menanggapi masalah ini… Cuman sebagai warga Jogja marilah mulai bebenah diri, nguri-nguri kabudayannya sendiri baik melalui Keraton maupun melalui kebudayaan rakyat.Tapi sebagai elemen masyarakat modern, saya setuju dan mendukung adanya peyadaran kultural warga Jogja dengan membuka wacana ke publik akan adanya upaya dominasi dan hegemoni ideologi itu, agar generasi muda tidak terkecoh dan keblinger…. Maaf bila komentar ini kurang berkenan….

  70. martoart says:

    tulusjogja said: Maaf jadi ngelantur, maklum wong tua seneng cerito.

    Justru ini yang kita harapkan. Dan kenyataannya yang njenengan andum kawruh (share/bagi) sangat penting buat saya. Rasanya juga buat yang lain. Trims, Pak Tulus.

  71. papahende says:

    tulusjogja said: nguri-nguri kabudayannya sendiri baik melalui Keraton maupun melalui kebudayaan rakyat.

    Ini baru Pak Tulus Yogya asli Jowo tenan. Mungkin salah satu pengawal yang menjaga jangan sampai wong Jowo lebih luar negeri daripada orang luar negerinya sendiri. Sugeng Pak Tulus?

  72. martoart said: mimpi basah

    ngga pernah ketinggalan yg urusan beginian😀

  73. Sorry, nggak pake komentar. Tapi saya share ke temen2:

  74. martoart says:

    Sila, ini juga lebih dari komen kang. Eh, itu apa kang? Facebook ya?

  75. martoart said: itu apa kang? Facebook ya?

    Fecebook.

  76. martoart says:

    he he tahu.. berjanda.. Sorry.

  77. manikamanika says:

    Tulisanmu abott om. Utekku ra tekan. Kurang seprapat ons :p

  78. savikovic says:

    waaaahhhh agamis sih setuju2 waetapi agamane sing okeh no, mosok siji thok, ora rame to yoooo..hehehhehe

  79. martoart says:

    manikamanika said: abott om. Utekku ra tekan.

    Nek ngono uteke diselehke, ben entheng.

  80. martoart says:

    savikovic said: agamis sih setuju2 wae

    tidak agamis yo oleh dolan Yogya selama iki.

  81. blackdarksun says:

    aku baca tulisan ini tadi di web koran, kuliat eh ada tulisan om Marto di situ, jadi mengingatkanku pada Multiply yang sudah sekian lama tak kutengok, spesial blognya om Marto ini…..Btw, yeap….. do’aku semoga Gusti Sultan tidak sudi merubah keset ‘Welcome’ dan slogan ‘Sugeng Rawuh” menjadi MARHABAN, rasanya kok seperti Sultan yang Raja Jawa itu ngontrak di wilayah kekuasaannya sendiri, apalagi nanti para penari tarian bedoyo memakai kaos seperti Hanuman, hallah… yo ra lucu to yo….

  82. artikel yang menarik… saya share di facebook yaa🙂

  83. artikel yang menarik… saya share di facebook yaa🙂

  84. martoart says:

    Malang bukan serambi medinah kan? kok pake akbar. hehehe..

  85. Baru inget. Di Sumut malah ada Kabupaten Madinah, singkatan dari Mandailing Nathal :D(tidak bermaksud mengecilkan persoalan.)

  86. martoart says:

    Justru kalo mo mendetailkan persoalan bagus tuh: Sebutan Madina (akronim yg agak maksa yang penting kearab-araban dari Mandailing-Natal) dipopulerkan belakangan dan anggap lebih “Islami” dari Mandailing NatalNiatan yang norak

  87. jeniusfatboy says:

    ouw ini ternyata asal muasalnya logo itu.. hehe..wah kalo saya sih gak setuju juga ka;o keseragaman yang sudah ada ini akan diseragamkan..tapi alhamdulillah yaaa.. saat ini jogja masih sangat ayem tentrem dan masih berhati nyaman..🙂

  88. martoart says:

    jeniusfatboy said: keseragaman yang sudah ada ini akan diseragamkan..

    Aku bantu ralat ya; “keragaman yang sudah ada ini akan diseragamkan”Begitu maksudmu kan?

  89. just_me says:

    mengeluarkan makam nabi bukan berarti memindahkan jasad nabi. namun hanya berupa membuat suatu batas sebingga makam nabi tidak menjadi satu bagian dengan masjid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s