FREEMARTORY (3)

(Sambungan dari tulisan sebelumnya; FREEMARTORY (2))

III. Sejarah Bawah Tanah

Dominasi para Biarawan Sion dan Ksatria Templar meresahkan para Raja Eropa dan para Padri Vatikan. Semangat kesetaraan membahayakan sistim feodalistik para raja, dan filsafat Paganisme mengancam eksistensi agama. Mereka harus dihentikan. Maka disiapkanlah seluruh perangkat guna melegitimasi tindakan pemusnahan itu. Para raja mendakwa onar dan makar, sedang Vatikan menasbih sesat dan bidah. Kekuasaan dan agama memang selalu memiliki alasan yang masuk akal untuk menghukum siapapun.

Titik Nadir Para Kafir

Dan pembantaian dimulai di seluruh dataran Eropa. Tepat pada hari Jumat tanggal 13 Oktober 1307. Segenap Ksatria Templar yang disegani Sultan Saladin pada perang salib itu rela menyerah begitu saja tanpa melawan. Bahkan Jacques De Molay Sang Komandan mati dihukum bakar. Sampai dirasa cukup. akhirnya tanggal 22 Maret 1312 Paus Clementus V yang didukung Phillip IV, Raja Prancis, secara resmi mengumumkan pembubaran kekuatan terdahsyat di Eropa tersebut.

Mulai saat itu dunia mengenang ”Friday the 13th“ sebagai hari sial. Betapa tidak, sebuah ordo terkuat di Eropa bisa ditaklukan dengan mudah. Sebenarnya justru hal ini tidak mengherankan apabila kita memahami doktrin yang dipegang teguh para Ksatria Templar itu. Yaitu untuk mati diam sambil memegang rahasia yang diembannya. Sikap yang hanya bisa disetarakan dengan semangat jihad kaum Ninjitsu. Pengorbanan itu rupanya tak sia-sia. Sejarah mencatat kesengajaan diam itu mampu melindungi aset paling rahasia mereka. Bahkan Phillip dan Clement tidak berhasil menemukan harta karun Kaum Templar. Pemusnahan itu sekaligus kembali mengancam eksistensi Dinasti Merovingian.

Gelagat Pemikir Pandir

Tapi tentu bukan Biarawan Sion kalau tak bersiasat. Moyang pagan mereka saat membuat kesepakatan dengan Rasul Paulus telah mampu melelehkan kekristenan dengan bijak. Awal kedatangan Kristen di Eropa itu cukup kiranya menjadi bukti. Kesuksesannya meleburkan ritual dan simbol pagan di dalam gereja amat susah dipungkiri penganut Kristen hingga saat ini. Kepintarannya eksponen Biarawan Sion untuk tetap berada di celah kekuasaan Eropa adalah hal yang tak disadari para raja. Para pemikir yang sok pandir itu selamat, salah satunya karena kecerdikan menyamarkan kehebatannya dengan gelagat ketaatan seolah-olah. Bahkan mereka pelan-pelan menanggalkan nama “Biarawan Sion” yang mengandung stigma keterlibatan dengan para pendosa Templar itu menjadi tampak lebih bersih lingkungan. Mereka secara samar lebih menyebut diri sebagai “Illuminati”, sebuah nama hasil adopsi dari masa lalu yang berarti “Yang Tercerahkan”.

Sebaiknya saya kupas secara s
ederhana tentang Illuminati terseb
ut sebagai berikut; Illuminati sesungguhnya hanyalah penyebutan orang sekarang kepada persaudaraan pemikir kaum pagan masa lalu. Bahkan para teknokrat Mesir dan Babilonia layak disebut sebagai Illuminati, meskipun mereka bisa jadi tak menyadari disebut begitu. Ketika para utusan agama samawi datang, para teknokrat pintar itu menjadi ganjalan utama dalam berdakwah. Karena mereka hebat dan masuk akal. Maka tak ada cara lain mengkriminalkan akal kecuali dengan meramu doktrin bahwa akal adalah warisan setan. Sejak itulah hadir kisah eksponen malaikat yang jatuh ke bumi karena kepintarannya; Lucifer, sang pemberi pencerahan yang dilambangkan membawa obor penerang berapi abadi. Lucifer bagi para penentang agama adalah filsuf malaikat, sedang bagi kaum agama dia adalah iblis laknat.

Luciferian kemudian juga disematkan kepada para astrolog, alkhemis, penyihir, ahli nujum, dan kaum metafisik lainnya. Mereka inilah yang dikategorikan sebagai kaum Illuminati Gnosis. Kebiasaan membaca alam kaum Illuminati Gnosis ini menurun kepada mereka yang terbiasa jauh dari agama. Hasilnya adalah revolusi pemikiran dari sikap metafisik menjadi sikap fisik yang melahirkan kaum Illuminati generasi baru; Illuminati Scientis. Sebagai contoh adalah sikap metafisik kaum pagan memaknai perbintangan yang sebatas Astrologi, menjadi sikap ilmiah anak cucunya dalam menerjemahkan perbintangan secara Astronomi. Perubahan sikap Illuminati Gnosis menjadi Illuminati Scientis itu bukanlah sesuatu yang berat karena memiliki banyak alasan sama. Di antaranya adalah kedekatan semangat alamiah dan ilmiah, dan yang terpenting adalah ketaksukaan yang sama akan dominasi agama. Tentu saja para penganutnya seperti Leonardo Da Vinci harus berhati-hati dalam bersikap hidup. Karenanya perlawanan dan pertemuan penting harus dijalankan secara rahasia sembari bekerja di lingkungan istana. Sebab belakang hari terbukti kenekatan hanya akan mengantarkannya menuju kematian seperti yang dialami Nicolaus Copernicus atau menjadi tahanan kota seperti yang dialami Galileo Galilei. Di era Illuminati Scientis inilah Illuminati benar-benar tebentuk menjadi sebuah perkumpulan. Sebuah persaudaraan yang bersifat rahasia, bahkan para Grand Masternya pun dikait sebagai Grand master Biarawan Sion. Anda akan susah membedakan antara Biarawan Sion dengan Illuminati, sebab memang tak beda dan tak perlu dibedakan. Kebiasaan berabad-abad menyembunyikan diri mengajar mereka untuk tetap menang tanpa tampak sebagai pemenang.

Geliat Bankir Fakir

Bagaimana dengan para Ksatria Templar pasca pembantaian itu? Sisa-sisa para bankir tajir yang lolos menjadi martir itu rela menyingkir dan kembali fakir demi sebuah misi mutakhir, kekuasaan Merovingian. Dan tempat paling aman adalah Skotlandia. Satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak mengakui kekuasaan Gereja Katolik di abad keempat belas. Di bawah perlindungan Raja Skotlandia, Robert The Bruce, mereka menggeliat kembali menyusun kekuatan.

Sampai di sini saya tidak menemukan catatan yang menyatakan mereka kembali membentuk pasukan. Pola kanuragan memang sepertinya mulai ditinggalkan dan lebih berfokus kepada operasi penyusupan kebijakan melalui organisasi yang lebih bersifat kepemikiran. Saya sedikit berani menyimpulkan bahwa hal ini dimungkinkan karena lumpuhnya kekuatan ketentaraan pasca pembantaian besar dan masa pengejaran di tahun – tahun pembersihan.

Dan memang benar, setelah merasa kembali mapan, para veteran Ksatria Templar ini mulai merangsek Inggris. Sesuai keahliannya sekian tahun bermain batu reruntuhan bangunan Kuil Solomon, mereka masuk ke dalam profesi tukang batu, arsitek, dan ahli bangunan. Dari sinilah akhirnya nama Freemasonry diambil. Berawal dari kata “Mason” yang berarti tukang batu atau ahli bangunan. “Freemason” berarti tukang bangunan yang bebas. Dan “Freemasonry” menjadi sebuah ajaran yang bermakna “Falsafah membangun kebebasan”. Pembebasan dari apa? Tentu saja membebaskan manusia dari kekangan agama (Gereja) dan penindasan feodalisme (Istana).

Hal ini sangat memikat rakyat yang sudah sudah secara laten bertradisi pagan dan kaum proletar yang mulai bosan menunduk. Sifat yang populis itu mempermudah mereka dalam bergerak. Maka dengan cepat mereka berhasil membentuk dan menguasai serikat pekerja di loji – loji tukang bangunan seluruh Kepulauan Inggris. Pengaruh dan perkembangan mereka begitu kuat dan pesat. Tak bisa dipungkiri ini dikarenakan kepiawaian mereka dalam operasi penyusupan, strate
gi intelejensi, dan sindikasi informasi dengan jejaring veteran pasukan Perang Salib Inggris. Bahkan akhirnya antara tahun 1600 sampai 1700 banyak kerabat bangsawan Inggris yang tercatat menjadi anggota Freemason. Maka akhirnya pada tahun 1717, diresmikanlah Freemason secara terbuka.

Perang tanpa pedang

Tahun 1717 itu pula dijadikan sebagai tonggak bagi Freemason memulai perang panjangnya. Perang pagan melawan agama, bumi melawan langit, tanpa pedang tanpa api. Perang yang lebih banyak beradu setrategi, pengalihan dan pembiasan informasi, berebut pengaruh dan saling mecundangi. Perang citra dan doktrinasi.

Tak berapa lama, pada tahun 1725 Freemason Scotis Rites sudah berdiri di Eropa Daratan tepatnya di Paris. Pendirinya adalah Charles Redclyffe. Hal ini sebenarnya hanyalah menunjukkan kepada kita betapa Freemason adalah organisasi yang memang hebat, dan atau betapa lemahnya kekuasaan paus dan raja – raja Eropa. Sebab bagaimanapun sudah menjadi keseharusan apabila mereka tahu bahwa Freemason tak lain adalah bentuk baru dari Templar. Tapi tentu saja percepatan tumbuh itu tak lepas dari peran sindikasi Ex-Biarawan Sion yang masih berkelindan di Vatikan dan di setiap sudut istana – istana Eropa Daratan. Tak lupa operasi penyuapan besar-besaran kepada para raja kemaruk di sana.

Darimana kaum Mason memiliki sedemikian banyak kekayaan untuk menyuap kalangan istana? Bukankah ketika para Templar dibantai, mereka dianggap kembali miskin papa, bahkan Phillip IV tak kebagian karunnya? Kalau mau tilikbalik, jawaban itu ada di sana, sebagai berikut;

Setelah berhasil merebut Yerusalem, masing – masing pasukan Kristen gabungan Eropa segera membentuk beberapa pasukan elit sesuai kerajaannya. Tiga yang utama adalah; Knights of Teutonic, mereka ordo ksatria kerajaan jerman, Knights of Hospitaller berasal dari Inggris, dan Knights of Templar ordo ksatria Prancis. Tentu saja Templar adalah hasil seleksi ketat dari Godefroi berdasarkan Paganisme. Tak seperti Teutonic yang Nasrani, Hospitaller juga memiliki kecenderungan Paganistik. Sehingga Templar masih bisa dekat dengan Hospitaller. Rupanya kedekatan Templar memang lebih berdasar kepada semangat Paganisme daripada agama. Ini juga terbukti dari kerjasama rahasianya dengan Ksatria Assassin dari pihak Islam. Sementara memang kaum Assassin sendiri tidak diaku oleh pihak Islam karena ajaran Paganistik mereka. Assassin yang jagoan itu juga dimusuhi oleh pasukan gabungan Islam seperti Mamluk, Bashi Bazouk, dan bahkan oleh Janizaries yang moyangnya beragama Kristen. Perang Salib itu memang aneh. Sebenarnya agak tak tepat menyebut itu sebagai perang antar agama.

Baik Assassin maupun Templar, keduanya memang akhirnya dibantai oleh induk agama masing-masing. Kaum Assassin kocar-kacir dilibas oleh Salahudin al Ayyubi yang hebat, dan Templar diholocaust Phillip IV. Pada saat itulah terjawab kenapa properti milik Templar terselamatkan. Kaum Hospitaller rupanya telah secara rahasia dimandati untuk mengelola asset yang ada. Mereka membaginya ke dalam delapan wilayah (Provence, Auvergne, Perancis, Italia, Aragorn, Castille, Jerman, dan Inggris) di bawah pengawasan Ex-Biarawan Sion. Ternyata Ex-Ksatria Hospitaller juga turut memperlancar tumbuhkembangnya Freemason di Inggris.

Kembali ke era kebangkitan Freemason. Rupanya memang perang tanpa pedang lebih menjanjikan kemenangan. Penguasaan wilayah tak begitu perlu lagi, sebab jauh lebih penting menguasai para penentu kebijakan di setiap pemerintahan. Dengan begitu semua misi akan lebih mudah diwujudkan. (Bersambung)

Kalau masih belum bosan, ikuti kelanjutannya. Di edisi berikutnya ada pemetaan akan Mason yang rasanya luput diungkap atau mungkin sengaja disembunyikan.

This entry was posted in Freemartory and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to FREEMARTORY (3)

  1. Dyah Sujiati says:

    Kok masih bersambung? Lanjutannya mana nieh pak?
    #penasaran🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s