FREEMARTORY (2)

(Sambungan dari tulisan sebelumnya; FREEMARTORY)

II. YERUSALEM

“Kenapa para nabi dan agama samawi diturunkan di Wilayah Timur Tengah? Karena Tuhan Maha Tahu di sanalah tempat kaum maha tengil bercokol” (Anekdot Nusantara)

Kota Suci yang Terkutuk, Tanah Damai yang Berdarah

Dan tentunya Yerusalem sebagai pusat ketiga agama samawi itu amat pantas disebut sebagai ibukota para tengil tersebut. Memang tak perlu serius menanggapi banyolan konyol gara-gara dongkol kaum yang tak kebagian nabi tersebut memaknai “Kota Suci”. Kita percayakan saja kenapa disebut tanah atau kota suci samawi itu menurut kitab suci, karena lebih menyejukkan hati. Di kota ini, menurut versi Islam, Ibrahim diutus menyembelih Ismail (Ouh..) atau kalu versi Nasrani membakar Iskak (Aiih..). Di kota ini pula Yesus dipaku tangannya dan ditusuk lambungnya hingga mati di tiang salib (Ough..). Dan masih di kota ini Muhammad numpang take-off menuju Sidharatul Muntaha (Ah, mendingan..). Dan seterusnya.

Baiklah, mungkin memang lebih pantas kalau Yerusalem atau Darusalam kita dekati saja dari “Tanah Damai” sebagaimana arti yang memang melekat pada namanya. Wilayah perbukitan itu awalnya direbut Daud setelah memenangi perang melawan Kaum Jebuist (Kanaan), dan membangun Yerusalem sebagai ibu kotanya. Kerajaan mewaris kepada Sulaiman, yang kemudian pecah menjadi dua bagian. Kerajaan Utara (Israel) lantas hancur dilebur Asyur dan Kerajaan Selatan (Yehuda) di babat Babilonia. Sekitar 50 tahun kemudian bangsa Persia mengambil paksa tanah ini dari Babilonia. Peperangan seperti tak kenal henti ketika Imperium Aleksander menginvasi bebukit ini. Di era itulah terjadi Revolusi Makabe oleh Bangsa Yahudi yang membuat mereka bisa sedikit mengambil nafas dari penindasan bangsa lain. Namun itu tak lama, karena giliran Kekaisaran Roma Pagan memberangus dan menguasai tanah mereka. Pada periode itu kisah Yesus hadir. Sampai akhirnya Kekaisaran Roma menjadi Kristen pada kekuasaan Kaisar Konstantin. Namun bukan berarti lantas Tanah Damai ini sepi dari Perang. Kembali Bangsa Persia menyerang dan mengalahkan Roma. Mungkin karena seringnya peperangan terjadi di tanah ini, Al Quran berani meramalkan bahwa kekalahan Romawi itu tak akan berlangsung lama karena menang di perang berikutnya;

“Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi)…” (Q – Ar Rum; 2-4)

Memang perang antar keduanya kembali terjadi, dan kali ini ganti Bangsa Persia dipecundangi Romawi. Seperti tak mau ketinggalan sejarah penuh darah, Kekalifahan Arab turut memerahhitamkan Yerusalem. Kekuasaan Islam itu berlangsung cukup panjang hingga Kedinastian Turki, sampai mereka dikalahkan oleh tentara Kristen pada Perang Salib Pertama. Yerusalem kemudian dijadikan Ibu Kota Kerajaan Kristen. Kalah-menang Perang Salib di Tanah Damai ini kemudian laksana berbalas pantun antara pihak Islam dengan Kristen. Ibu Kota Kerajaan Kristen itu kemudian dikuasai Salahudin Yusuf Al Ayyubi alias Sultan Saladin. Yang kemudian jatuh ke tangan Tentara Kristen lagi, sebelum balik kembali ke tangan orang Islam pada tahun berikutnya. Dominasi Islam di Yerusalem berakhir pada masa Kekuasaan Turki Usmaniyah atau Otoman Turki ketika mereka ditaklukkan Inggris pada Perang Dunia Pertama.

Perdamaian di Tanah Damai ini mendapatkan sinar terang dengan campurtangannya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1947 dengan petisi agar memisahkan Yerusalem dalam dua wilayah Yahudi dan Arab. Semangat perang rupanya lebih liar dari semangat damai. Terjadilah pertikaian yang menyebabkan perang Arab Israel setahun usai petisi. PBB kemudian memutuskan Yerusalem berada di bawah zona pemerintahan internasional, tetapi keputusan itu tak pernah terwujud. Konflik senjata juga terjadi antara Yordania melawan Israel. Israel memenangi pertempuran 48 jam dan berhasil menyatukan Yerusalem Barat yang di mana Israel berkuasa dan Yerusalem Timur yang sebelumnya menjadi wilayah Yordania. Penguasaan Israel atas Yerusalem itu bukan juga berarti menuntaskan segala peperangan. Parlemen Israel yang mensahkan sebuah resolusi untuk menjadikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada tahun 1950 dianggap sepihak, karenanya konflik di tanah ini tak akan pernah berakhir.

“Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!” (Mazmur 137: 5-6)

“Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (Karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (Q. Al-Maidah: 21)

Di tanah damai itu penguasa dan yang dikuasai seperti berbagi giliran kepenguasaan entah sampai kapan. Yang pasti pihak-pihak itu tak akan pernah mau kalah atau rela mengalah. Pendekatan apapun tak akan pernah tepat agar makna damai di tanah itu tercapai. Setidaknya sampai rahasia kotak itu terbuka secara paripurna. Seperti Kotak Pandora, sejauh ini hanya celaka dan nestapa yang terburai darinya, sementara kebaikan belum juga mau menampakkan dirinya.

Sang Pemburu dan Sang Penjaga

Kekuatan negatif dan kekuatan positif adalah keniscayaan peradaban. Bahkan peradaban itu dimerahbirukan oleh kekuatan-kekuatan. Peradaban mandeg apabila kehilangan satu dari keduanya. Kita yang berada di dalamnya harus jeli memilah dan memilih warna yang ada. Sebab yang sering tampak adalah ungu. Entah karena gradatifnya pecampuran itu, atau ketakpekaan indra penglihatan kita. Atau memang para pemilik kekuatan itu begitu pintar membutawarnatotalkan kita sehingga yang hadir adalah dunia abu-abu, grey area. Wilayah di mana kita akan merasa aman dan nyaman, tak ribut dan tak ribet. Kemudian menerima secara instan peradaban hasil adon para pemilik kekuatan, sang empunya kekuasaan.

Para teknokrat, para nabi, faraoh, dan tentaranya, mereka itulah moyang para pengadon peradaban dan pengadu ideologi. Mereka berbahan berkas sisa peninggalan Anunnaki yang tersebar. Memaknai ajaran Zoroaster, menerjemahkan warisan Ibrahim, dan mengurai misteri Kabalisme. Di mana kita merasa mewarisinya, sok tahu rahasianya, dan kemudian dengan dakwah mendakwa manusia lain. Padahal rahasia itu masih aman terjaga di sebuah lokasi rahasia entah di mana. Mungkin terpendam di bebukit Yerusalem, di Puri Rennes le Chateau, di sebuah benteng Ethiopia, di celah Piramid Giza, terbenam di Bermuda, di bawah Kabah, atau bahkan bisa saja di sudut Kepulauan Nusantara. Sementara Para Pemburu tak henti menggali, Para Penjaga dengan diam mendekap erat di satu sudut bumi.

Filsuf dan Kesatria

Filsuf adalah mereka yang tak henti mencari dan mepertanyakan kebenaran. Golongan merekalah yang menarik garis ke arah mana dunia akan berputar. Mereka hadir di setiap sudut peradaban. Menjadi teknokrat para faraoh, menjadi ahli nunjum, pendeta, tabib, penyihir, nabi, astrolog, pemikir, pujangga, guru, dan semua profesi yang lebih melibatkan kinerja kewaskitaan otak.

Ksatria adalah mereka yang tak henti membangun kekuatan, menjaga kekuasaan, dan mencari kemenangan. Golongan merekalah yang memacu percepatan putar peradaban. Kecepatan menjadi hal utama, sehingga kadang mblandang keluar orbit yang telah digaris para pemikirnya. Mereka juga selalu berbaris berderap di lapak peradaban. Sebagai tentara, samurai, nija, mafia, laskar, wangsa yaksa, mujahid, mercenary, dan seterusnya. Semua pekerjaan yang lebih melibatkan kinerja fisik alias kanuragan.

Keduanya – filsuf dan ksatria, apabila bersimbiosis secara mutual, tak akan pernah terkalahkan. Mereka bisa menjadi pemburu sakaligus penjaga kekuasaan yang handal. Sesungguhnya, inilah yang akan kita bicarakan. Sebuah persaudaraan tua dengan gugus tugas meburu kuasa berlambar kebenaran kemanusiaan dan kemenangan peradaban.

Maka pada tahun 1099 lahirlah apa yang di kenal sebagai Ordo Biarawan Sion. Ordo ini didirikan oleh Raja Perancis Godefroi de Boullion dan para bijak penasihatnya di Yerusalem. Saya sedikit meragukan Holy Blood Holy Grail (HBHG) karya Michael Baigent dan kawan-kawannya yang mengatakan bahwa tujuan mereka untuk menyelamatkan harta dan dokumen rahasia tentang Maria Magdalena. Menurut saya semua itu sudah turut berpindah saat Maria mengungsi ke Marseilles, Prancis Selatan. Bahkan Godefroi rasanya tak perlu lagi membuktikan bahwa Dinasti Merovingian yang dipercaya bergaris darah Yesus dan menurun ke trahnya itu memang hebat, terlebih setelah keberhasilannya menaklukkan Yerusalem.

Pendapat saya justru dia akan memburu warisan yang lebih dahsyat lagi yaitu Tabut Suci. Dengan tabut itu dia percaya akan mampu membalaskan dendamnya kepada raja-raja Eropa yang telah menumpas Dinasti Merovingian. Dan karena misi itu jugalah, dia bersama tentaranya rela bergabung dengan pasukan kerajaan Eropa lain dalam Perang Salib Pertama. Perang yang bersama khotbah kompor Paus Urbanus II mampu menyatukan Kristen Abangan dengan Kristen Gereja. Bagi Godefroi itu adalah penyatuan semu. Kristen tak penting bagi seorang pagan seperti dia, apalagi perang atas namanya. Dia memang harus menduduki wilayah itu karena apa yang dicarinya ada di sana. Maka begitu Yerusalem telah takluk, ordo baru didirikannya, dan tak berapa lama sebuah kuil dibangun Notre Dame du Mont de Sion. Ini cukup mengherankan bagi Vatikan. Yang lebih mengherankan lagi adalah ide membangun pasukan yang lebih kuat dari tentara salib.

Pada tahun 1118 dibangunlah sebuah laskar berbasis spiritual baru, Ksatria Templar. Mereka mendapat nama dari di mana mereka bermarkas, yaitu di reruntuhan Kuil Sulaiman. Nama yang berbau agama samawi, meski mereka kecenderungan spiritualistik pagan. Mereka adalah prajurit hasil seleksi dari tentara salib penakluk Yerusalem. Kedigdayaan mereka semakin menjadi terlebih setelah mendapat pelatihan dari Laskar Assassin. Sekte dalam Islam yang juga berkecenderungan paganistik ini didirikan sebagai gerakan bawah tanah di Mesir oleh Hassan al-Sabbah pada sekitar tahun 1072. Kemampuan tempur Assassinlah yang sebenarnya mempermudah Godefroi masuk Yerusalem.

Setahun sebelum pasukan Godfroi de Bouillon tiba, Yerusalem yang berada dalam kekuasaan Dinasti Sunni Abbasiyyah itu telah diserang dengan tiba-tiba oleh Laskar Assassin Al Afdhal dari Dinasti Syiah Fathimiyah. Godfroi dan Afdhal seperti saling memanfaatkan. Afdal berharap bisa berbagi wilayah, namun Godfroi berhasil memecundanginya sehingga wilayah itu hanya menjadi kekuasaannya. Tetapi mungkin karena kesamaan semangat spiritual paganistiknya, kedua kekuatan itu masih bisa bekerja sama dalam beberapa urusan penting seperti penggalian situs Kuil Sulaiman. Hingga dikisahkan para Kesatria Templar itu telah berhasil mengangkut berpeti-peti harta dari Yerusalem dan membawanya ke Puri Rennes le Chateau, Prancis. Di Eropa para Kesatria Templar semakin Berjaya, ditakuti dan berkuasa. Apakah ini berarti di antara peti-peti itu juga terdapat peti suci alias tabut? Di mana seperti sudah menjadi tradisi bahwa pemegang peti akan menjadi penguasa? Itu tak cuma pertanyaan saya dan Anda, tapi juga menjadi misteri dunia.

Tapi setidaknya Ordo Biarawan Sion dan sayap militernya, Kesatria Templar, telah cukup menjadi bukti betapa kolaborasi sempurna antara pencari kebenaran (Filsuf) dan pemburu kemenangan (Ksatria) akan mudah meraih kuasa. Reputasi Kesatria Templar semakin berkibar. Ketangguhannya mendominasi kekuatan militer kerajaan seluruh Eropa tanpa harus perlu menjadi raja-raja. Hukum kekuasaan yang berbanding lurus dengan kemarukan, sebagaimana yang disampaikan Lord Acton membuat mereka lupa muasalnya. Mereka lupa bahwa awalnya didesain sebagai tentara miskin yang terbebas dari kepentingan dunia. Begitu berjaya, semangat pengumpulan kekayaan menjadi bagian penting yang tak dilepaskan guna kesinambungan perjuangan. Dengan kepiawaian para Biarawan Sion akan strategi ekonomi, politik, telik sandi, perang, budaya, dan filsafat, kedua organ itu menguasai Eropa hingga Tanah Suci tanpa harus membentuk sebuah imperium formal. Kinerja informal justru lebih membebaskannya. Kekuasaan informal ada ditangan mereka, dan tanggung jawab biarlah menjadi urusan paus dan raja-raja. Seiring dengan itu mereka menemukan sistem perbankan, saham, dan kesegalasesuatuan yang menyangkut pembayaran. Dengan setrategi telik sandi dan kemampuan jejaringnya, mereka mampu bermain ganda sebagai pemicu pertikaian sekaligus penengah perselisihan, pengompor peperangan sekaligus promotor perdamaian. (Bersambung)

Lho bagaimana kisah mereka bisa hilang dari sejarah? Bukankah sebagai pemenang mereka bisa saja menentukan sejarah?

Apakah begitu? Kalau tertarik ikuti saja. Setidaknya saya tak akan menyajikan sejarah Mason secara sepihak ala Harun Yahya. Kalo mau komen lewat Personal Message (PM) ya…

This entry was posted in Freemartory and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s