FREEMARTORY

I. Semacam Preambule

Freemartory adalah cara Marto Art menggoreng Freemasonry terasa lebih crispy. Tak lain agar enak dinikmati tanpa berkerut dahi, apalagi sambil mencurigai sana-sini lantas sakit hati.

Memaklumi Illuminati, Memasuki Masonry

Konon peradaban ini, kalaulah tidak diciptakan, setidaknya sangatlah dipengaruhi oleh sebuah perkumpulan rahasia yang sangat kuat dan tua sejarahnya. Perkumpulan yang dipercaya sementara orang bahwa keberadaannya nyata hingga sekarang. Tak ada apapun yang lepas dari pengamatan dan pengaruhnya. Saya berbicara tentang sesuatu yang sangat berkuasa, tapi tidak berbicara tentang tuhan. Tak lain adalah tentang apa yang sering dirumorkan orang akan Illuminati dengan Tarekat Mason Bebas-nya (Freemasonry).

Saya ingin membahasnya secara ringkas dan jelas, meski rasanya cukup musykil karena banyak hal yang terjadi di dalam tubuh persaudaraan ini. Di antaranya adalah;

1. Berkelindan nyata di kerahasiaannya dan rahasia di kenyataannya.

2. Terbuka namun juga ekseklusif.

3. Berpengaruh dan berkuasa.

4. Memiliki mekanisme pengalihan yang sempurna.

5. Bermetamorfosa dan bercabang dalam bentuk nan beda bahkan bisa berhadapan.

6. Cerita dengan data yang teramat berbumbu.

7. Kekisah yang berbelit lilit antara fiksi dan fakta, mitos dan realita.

8. Sejarah yang tua, panjang, dan berbengkok-kelok.

9. Gerakan yang cenderung berbalut teori persekongkolan (Teori Konspirasi)

Bagaimanapun saya akan semaksimal mungkin membahasnya secara masuk akal meski dengan sadar tak akan mudah mengelak dari suasana trans-rasional di dalamnya. Namun begitu, tak perlu khawatir, sebab apabila bahasan saya berkecenderungan mengarah ke sana, tak segan saya akan memberikan semacam kalimat yang bersifat peringatan.

Kalau Anda tidak berminat tinggalkan saja, sebab kata “Ringkas” yang saya pilih tak berarti singkat. Hampir tak mungkin membahas kisah kompleks ini dengan pendek. Seperti misalnya tak mungkin saya mengabaikan sejarah peradaban Mesir Kuno sebagai pembuka kisah ini. Jadi bagi yang tak suka memang hanya buang waktu percuma. Bagi yang tertarik, saya silakan berkembara bersama.

Politheisme palsu Mesir dan Monoteisme semu Persia

Mesir Kuno adalah sebuah peradaban besar yang amatlah maju pada jamannya. Yang seolah begitu tiba-tiba datangnya, seakan menohok telak para arkeolog dan anthropolog untuk menghadirkan bukti akselerasi peningkatan kemajuan dari masa sebelumnya. Menjadi bahan olok mereka yang anti teori evolusi. Peradaban yang menguasai ilmu perbintangan, matematika, arsitektur, tulis menulis, dan filsafat. Sebuah bangsa yang sangat memuja peradaban pengetahuan. Sebuah bangsa yang tak sekadar percaya tak ada tuhan untuk dipercaya, tapi memang percaya tak ada tuhan dan sebangsanya. God Does Not Exist.

Hingga saatnya kebutuhan politik akan tuhan dan dewa-dewa mendesak. Kebutuhan akan semacam agama untuk membungkus sekularisme.

Kronologinya seperti ini. Peradaban besar, karena banyak alasan, maka perlulah menghadirkan setidaknya sebuah karya teknologi tinggi nan monumental. Semisal piramid dan atau menara Babel di Babilonia. Mahakarya yang monumental itu butuh sumber daya yang taat. Sumber daya yang taat butuh aturan yang ketat, dan aturan ketat membutuhkan penguasa tiada-tara. Para ilmuwan itu tahu pasti bahwa manusia (dalam hal ini rakyat Mesir), butuh sesuatu yang lebih berkuasa dari segala fenomena yang belum bisa mereka hadapi. Maka penguasa mesir menciptakan dewa-dewa sesuai kebutuhan. Dewa matahari, dewa perang, pertanian, penguasa Nil, penguasa kematian, dan seterusnya. Lengkap, plus doktrinasi masif nan generatif.

Rakyat yang mau curhat, tinggal cari dewa yang tepat. Tentu tidak ada dewa penguasa celana dalam, karena urusan celana dalam bukan sesuatu yang susah dihadapi. Atau mungkin celana dalam belum dipakai saat itu. Penguasa Mesir menciptakan penguasa. Hal ini memudahkan kinerja kepenguasaan mereka. Rakyat bisa dengan tunduk melaksanakan perintah apa saja atas nama penguasa khayali. Siksa akhirati bagi yang melanggar dan pahala khayal bagi yang loyal. Kemudian penguasa menasbih diri sebagai keturunan dewa tertinggi, atau setidaknya berkolaborasi ghaib. Itu sebuah teknik penguasaan murah nan efektif bagi penguasa jaman dulu kala. Agar rakyat bisa ditidurkan, mudah ditundukkan atas nama tuhan (-tuhan). Politheisme palsu.

Tapi setiap jaman memang selalu melahirkan pemberontak. Maka, adalah Musa, seorang anak muda yang tak mau tunduk, tak mau bobok. Pemuda yang merasakan pedih jelata di luar istana. Yang kemudian keluar tembok memaknai sakit dan derita. Seperti Sidharta Gautama ataupun Ki Ageng Suryamentaram di masa berikutnya. Dan pasti bukan semacam Paris Hilton, meski juga pergi dari istana ayahnya.

Pemuda bijak itu tak rela melihat rakyat yang ditundukkan. Dengan modal kecerdasan dan setatus anak angkat raja, dia meramu formula perlawanan. Untuk melawan candu ajaran penguasa, tak lain adalah menumbuhkan candu baru. Candu yang dirasanya harus lebih kuat sebagai budaya perlawanan. Apalagi kiranya alat untuk melawan Politheisme kalau bukan dengan Monotheisme? Dia tak akan memilih Atheisme, meski mungkin sempat terpikirkan. Atheisme tentu kontra produktif mengingat rakyat Mesir telah lama teracuni tuhan. Selain itu, serpihan bahan tentang tauhid setidaknya telah didapatnya dari leluhur masa lalu. Dari Ibrahim sang kakek moyang. Atau mungkin bahkan dari Akhenaton, dalam konsep ketuhanan Tritunggal; Amun-Ra-Osiris.

Konsep ketuhanan tunggal sebenarnya telah jauh dikembangkan di kerajaan – kerajaan besar saingan berat Mesir di timur, di wilayah Persia seperti Mesopotamia dan Babilonia. Dimulai oleh Zoroaster, nabi yang menciptakan agama tauhid bagi Orang Persia. Sebenarnya konsep tauhidisme Zoroastrian tidaklah begitu masif. Ahura Mazda (Ormuz), tuhan terang dan penguasa tunggal tak terkalahkan dalam agama ini membutuhkan Angro Mainyu (Ahriman) sang dewa kegelapan. Selain itu kaum Zoroastrian masih menerjemahkan tuhan dan dewa di bawahnya dalam wujud patung.

Agama orang Persia yang juga disebut sebagai agama Majusi ini kemudian masuk di barat dalam dua jalur. Pertama adalah saat dibawa dan disyiarkan oleh Ibrahim di Kanaan. Ibrahim meramunya menjadi sebuah teologi tauhid yang lebih bulat, sebab konsep monotheisme Zoroastrian dianggapnya semu. Dia adalah orang pertama yang dengan keras melawan pemberhalaan tuhan. Bahkan dia dikisahkan mendebat Aazra, ayahnya yang bermatapencarian sebagai produsen tuhan. Beliau kelak juga mewariskan ajaran monotheisme masif ini kepada dua anaknya – Ishak dan Ismail – yang juga menjadi nabi. Karena itu beliau dianggap sebagai bapak para nabi tauhid.

Jalur kedua diterima dan diadaptasi Akhenaton dari Istri cantiknya yang datang dari timur; Nefertiti. Nefertiti juga dikenal sebagai perempuan yang cerdas. Maka tak heran formulasi kecantikan dan kecerdasannya mampu mempengaruhi seorang Akhenaton untuk mengubah dasar ketuhanan negara yang politheistik menjadi M
onotheistik. Namun tentu saja monotheisme timur yang dibawa Nefertiti perlu diadaptasi secara lebih Mesir.
Dan Akhenaton meramunya dalam monotheisme three in one, alias tauhidisme trinitas.

Ajaran Lurus Ibrahim

Namun ide monotheisme ala Akhenaton tak begitu strategis untuk mengendalikan rakyat. Pada dinasti berikutnya, dinasti ke 18 yang dimulai oleh Ramses II, politheisme kembali menjadi dasar kerajaan. Ramses II menerapkan konsep politheisme ini salah satunya adalah untuk menindas orang-orang Israel penganut monotheis warisan Ibrahim yang sebelumnya mendapat angin di jaman Akhenaton.

Tentu juga tak strategis bagi Musa untuk memperhadapkan monotheisme Akhenaton melawan politheisme Ramses II. Musa, berbekal garis darah Israelnya, akan dengan mudah mendapatkan pengikut para budak Mesir yang tak lain adalah orang-orang Israel. Tentu selain bersenjatakan semangat primordialisme dan ketertindasan, monotheisme murni ajaran warisan Ibrahim menjadi bernilai lebih dibanding monotheisme Akhenaton.

Ajaran Ibrahim hanya akan diturunkan dengan seleksi sangat ketat dan secara garis darah nan lurus, kecuali ketika menemui situasi yang sangat tak memungkinkan (saya akan berbagi di suatu saat). Itulah satu hal kenapa ajarannya disebut sebagai ajaran yang lurus. Ajaran Ibrahim itu konon begitu kuat dan paripurna. Berisi saripati filsafat, rahasia ilmu pengetahuan, politik, teknologi, ekonomi, dan panduan tentang peradaban. Ajaran itu begitu powerfull. Pertanyaan besarnya adalah; Dari mana Ibrahim mendapatkan kedahsyatan itu? Juga apa yang membuat tentara Mesir yang kuat tak berani menghadapi Musa yang berpasukan budak sipil? Ilmu apa yang membuat teknokrat dan ilmuwan Mesir kalah beradu sihir? Dan kekuatan gila seperti apakah yang mampu membelah Laut Merah?

Konon Ibrahim adalah manusia terpilih Anunnaki, dipercaya mewarisi tabut pengetahuan untuk diturunkan kepada penerusnya yang tepercaya kelak. Siapa Anunnaki, saya tak akan membahasnya karena sampai di wilayah ini aura mitos-alienistik mulai mengental. Hanya selintas saja sekadar membasuh kepenasaran Anda. Bahwa peradaban Sumeria-Persia (Mesopotamia-Babilonia) dianggap terlalu maju pada jamannya, dan itu karena campurtangan mahluk pendatang berintelejensi tinggi dari Planet Nibiru. Mereka disebut Anunnaki yang memiliki arti “Sang Pengawas” sekaligus juga bermakna “Yang dari Angkasa”. Kisah ini di terjemahkan dari penggalan-penggalan artefah cecandi di sana. Para penelitinya yang berpaham meta-scientific bahkan menyimpulkan kita adalah produk rekayasa genetik dari para Anunnaki. Dan tebak, siapa yang menurut para meta-scientist itu mendapat manual book alias buku panduan kehidupannya?

Lupakan kisah Anunnaki yang memberi buku contekan rahasia kehidupan kepada Ibrahim itu sampai di sini. Sebab, selain untuk menghargai kemampuan kinerja otak moyang manusia, saya berupaya tulisan ini bisa lebih ringkas, runut, dan terlebih tak terganggu kisah sampah – yang mungkin juga bisa saja benar -, kecuali ketika saya benar-benar sudah menyerah.

Tabut Suci

Rahasia kedahsyatan itu telah mewaris kepada Musa (dan Harun). Mereka mengemasnya dalam sebuah tabut suci. Tabut itu diusung saat berhadapan dengan musuh. Kekuatan tabut itu membuat tentara Mesir yang digdaya tak berkutik dibuatnya. Para teknokrat Mesir bahkan menuduh pemberontak itu bermain sihir ketika ular mereka dilahap oleh ular dari tongkat Musa yang besar.

Tabut itu kemudian mewaris kepada Daud. Saya rasa kekuatan yang dia dapat saat berketapel intifada menimpuk jidat Goliath hingga mokat itu adalah karena berkat syafaat tabut yang dahsyat. Kesaktian tabut suci itu juga merasuk kepada diri Nabi Sulaiman sehingga dia dipercaya bisa berkomunikasi menembus frekuensi binatang dan jin, kaya, dan berkuasa. Apakah kemampuan mengoleksi 700 istri dan 300 gundik termasuk bagian dari aura kesaktiannya, saya tak tahu.

Tapi yang pasti adalah perintah agar tak menggendongnya ke mana-mana. Enak to? Perintah menyemayamkan tabut terjadi sekitar tahun 621 SM, setelah kotak sakti itu mengiringi kekisah nabi-nabi bersama kedahsyatan dan misterinya.

“…Tempatkanlah tabut kudus itu di dalam rumah yang telah didirikan Salomo bin Daud, Raja Israel. Tidak usah lagi kamu mengusungnya. Sekarang layanilah Tuhan Allahmu, dan Israel umat-Nya!” (2 Tawarikh 35:3)

Namun ketenaran acap berbanding terbalik dengan ketenangan. Hanya berselang 35 tahun masa istirahat, Nebukadnezar mengingininya. Rumah Suci Sulaiman dijarah. Namun meski literarur tidak menyiratkan mereka berhasil mencuri tabut, kotak suci itu pun juga tak ditemukan di antara sisa reruntuhan kuil. Itulah kabar penampakan terakhir tabut suci. Sejak itu perburuan akan tabut suci menjadi kisah seru tersendiri yang mengi
nspirasi seniman untuk berkarya, menggoda ilmuwan untuk meneliti, dan menyulut penguasa untuk berperang. Tabut suci itu menjadi holy grail paling diburu untuk alat mendapat kuasa, atau sekadar agar misterinya terbongkar. Anda penasaran?

Catatan dalam kitab suci menyatakan bahwa isi tabut itu sekadar peninggalan Musa dan Harun, yaitu terompah, sorban, jubah, piring pecah, beserta bekal makanan berupa daging burung Salwa, dan Manna minuman sari buah yang kasar berasa susu. Selain itu hampir tak ada lagi yang berharga kecuali tongkat mereka yang bersejarah dan dua lot batu berisi Sepuluh Perintah Tuhan. Tak disebutkan warisan Ibrahim dan atau benda lain yang membuat umat tergetar dan musuh terkapar. Anda percaya? Inilah saat tepat untuk tak selalu memercayai apa kata kitab suci.

Ketika Musa diperintah membuat peti itu, terasa tuhan terlalu ceriwis menentukan detil ukuran, desain, dan pernak-pernik yang harus dipenuhinya. Terlebih hanya membuat semacam lemari usung yang isinya gombal dan sandal usang. Apalagi ketika ada aturan main nan ketat tentang siapa yang berhak mengusung bahkan membukanya. Maka, juga dengan sejarah kedigdayaan yang dicatatnya, kita layak bercuriga bahwa pasti ada sesuatu yang sangat berharga di dalamnya. Atau kalau tidak, gombal, sandal, manna, dan salwa tadi hanyalah sebuah metafora akan sesuatu yang jauh lebih istimewa. Sesuatu yang membuat seseorang atau suatu bangsa bisa begitu merajai dunia apabila berhasil menemukan kembali dan menguasainya.

“…Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan merupakan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun…” (Al-Baqoroh: 248).

Maka, perburuan kotak aneh itu juga menjadi tradisi aneh sekaligus kejam bagi para penguasa yang ingin semakin berkuasa seperti Napoleon, Hitler, dan klan Bush. Aneh karena demi kekuasaan, kemasukakalan dieliminasi dan sebaris kalimat kitab suci lebih dipercayai. Kejam karena demi peti misterius itu, jutaan nyawa telah terbeli. (Bersambung)

Lho Mana freemasonrynya? Mana Illuminatinya? Wah gak seru nih!

Sabar, ini kan baru semacam preambule. Belum sampai memetakan dan seterusnya. Itupun kalo lagi nganggur (saya lebih banyak nganggurnya. Jadi rasanya akan cepet kelar meski akan lama), maka sebaiknya kalo mau komen ntar aja kalo dah kelar. Ato kalo ndak tahan, lewat Pesan personal (PM) aja ya…

This entry was posted in Freemartory and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to FREEMARTORY

  1. Maximillian says:

    Reblogged this on Usual Storyline and commented:
    Freemason versi Kiai MartoArt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s