Kulihat Ibu Prikitiw

Kulihat Ibu Pertiwi.

Sedang bersusah hati.

Bukan karena lirik lagu ini.

Yang suka gonta-ganti.

Ikut maunya penyanyi.

Tapi karena Nasionalisme,

yang dimaknai sebagai Indomie.

Anda bisa cek di mesin pencari Google yang maha prigel (trampil), atau Yahoo yang maha tahu. Kalau sudah ketemu, simpan saja sendiri. Perbedaan lirik lagu itu ataupun orisinalitasnya tak usah dibicarakan di sini, apalagi untuk bahan bersedih hati.

Nasyoknalisme

Nasionalisme. Itulah yang layak direnungi untuk bersedih atau bergembira (ataupun untuk berbiasasaja). Tentu sudah banyak cerdik-pandai menelaah hal satu ini. Yang kemudian bisa diejawantahkan di dalam sikap cinta tanah air, bela bangsa, dan jaga negara nan patriotis.

Kalau semangat itu tergerus, saya berasumsi Si Ibu Pertiwi tak begitu bersedih hati. Bukan hal yang mengejutkan, sebab Si Ibu bahkan sudah biasa menghadapi sebagian putra yang mengkhianati. Dari menjadi antek Kumpeni hingga gedibal (keset kaki) Wahabi. Sang Dwiwarna acap luntur. Putihnya merangsek ke wilayah merah lantaran ketaksukaan, atau merahnya mbleber ke wilayah putih lantaran ketaknyamanan. Dwiwarna Sang Saka saling melunturi. Bara merah menyala dan kesucian putih nirwana tak lagi kentara. Yang tercipta adalah pinky spirit, merah muda melo-manja. Mungkin itu bisa jadi kita, generasi mall dan sinetron yang syok ketika disodori nasionalisme. Yang tak peduli warna Sang Saka lantaran lebih tertarik humanisme-liberal. Atau yang tolak hormat bendera karena dia toqut di mata keimanannya nan radikal. Dan oh, Merah-Putih yang perwira, siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membelot.

Memang, mengadon Indonesia tentu saja tak semudah meracik lumpia. Bumbu yang tersedia sebanyak ribuan spesies rempah Nusantara. Para pendiri bangsa tak cuma satu malam meramunya. Karenanya tak lantas menjadi Indonesia yang tiba-tiba sempurna. Yang ada adalah sebentuk pijakan bersama untuk meraih cita-cita. Tugas kita adalah merawat dan mengembangkannya. Artinya boleh menambah yang kurang dan atau mengurangi yang berlebihan. Persoalan utamanya adalah lain lidah, lain pula selera pengecapnya. Dan itu amatlah beragam. Indonesia semacam menandang kutukan menjadi negara yang paling kaya akan budaya, bahasa daerah, etnis, agama, dan sebagainya. Tentu tidaklah etis menerjemahkan nasionalisme di Indonesia hanya dengan Jawa atau dengan Islam lantaran dominasinya.

Identitas Nasional Indonesia bukan dari dominasi dan ketenaran spesifiknya. Mungkin orang manca lebih tahu Bali dibanding Indonesia, tapi bukanlah berarti Indonesia hanya Bali. Kita boleh bangga akan ketenaran Bali, namun janganlah ketenaran menjebak kita. Karena konsekuensi menerima itu adalah juga siap untuk menerima ketenaran sebagai negeri yang parah tabiat korupsinya. Atau ketenaran lain yang beranjak menyaingi; Terorisme.

Identitas Nasional Indonesia adalah keragaman. Itu yang saya baca dari adonan awal para pendiri bangsa. Upaya penyeragaman hanyalah akan menjadi sebuah makar. Bahkan Pancasila menjadi makar saat ditasbih sebagai asas tunggal. Makar terhadap dirinya sendiri. Satu dari banyak penyebab jatuhnya Soeharto. Sebuah preseden untuk kita belajar agar tak memaksakan keseragaman atas keberagaman. Rasa dasar ramuan itulah yang wajib diterima lidah-lidah. Lidah Anda yang harus menyesuaikan dengan selera dasar itu. Anda tak boleh seenaknya menabur terlalu banyak keju atau kurma yang mengganggu selera bersama. Kalau Anda kecewa, mungkin orang-orang di Eropa ataupun wilayah di Arabia mau menerima.

Nasionalismie

Tapi juga bukan Indomie, mi instan paling sukses di pasaran. Mi pernah dilansir Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai salah satu makanan pokok bangsa Indonesia. Ada rasa aneh ketika mendengar berita itu, tapi akhirnya menjadi mahfum ketika jauh hari kemudian Indomie menjadi sponsor kampanye Pilpres-nya. Rupanya hanyalah sebuah kewajaran pelestarian tradisi simbiosis mutualisma antara penguasa dengan pengusaha seperti biasa. Sungguh, kalaulah metafora keju akan membawa negeri ini kebarat-baratan dan kurma kearab-araban, bukan berarti Indomie adalah metafora yang tepat. Sebagai peraih gelar doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB), saran agar mi yang bahan baku utamanya bukan produk dalam negeri menjadi makanan pokok rakyat Indonesia adalah salah besar. Gandum adalah tanaman pangan yang tumbuh di wilayah sub tropis. Pembudidayaan agar tumbuh
mudah di tanah air juga belum terpikirkan secara maksimal. Impor gandum Indonesia amatlah tinggi.
SBY juga tentu sangat tahu betapa pasar mi dikuasai oleh Indofood. Tak pelak Indomie-lah yang secara tak langsung diiklankan oleh Sang Presiden. Nasionalisme ala Indomie adalah nasionalisme tolol. Sebab selain bahan dasarnya tak nasionalis, racikan bumbu ekstrak-nya cenderung berdaya bunuh. Berbagai zat yang tak baik untuk kesehatan berkelindan di dalamnya. Zat pengawet, perasa, pewarna, akan berbahaya bila dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang. Dan makanan pokok adalah makanan yang berkatagori terus-menerus. Mie instan bukan cemilan atau kudapan. Mi instan hanya akan melemahkan otak generasi mendatang.

Nasoknalisme

Dan kapan kiranya Ibu Pertiwi begitu bersedih hati? Adalah tatkala nasionalisme tak cuma tergerus, tapi ditunggangi anak negeri. Cukup beragam contoh kasus yang ada. Dari riwayat umat dengan pedang terangkat bersama niat tegaknya syariat menuduh musuhnya tak nasionalis karena berbau Republik Maluku Selatan (RMS). Nasionalisme mendadak terseret di tengah pertikaian saudara beda agama di Ambon. Lain Ambon, lain Jakarta. Di Jakarta, ke dua kubu petikai yaitu Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) versus Komando Laskar Islam (KLI) beradu nasionalisme. Nasionalisme Islam KLI yang beracu kepada Piagam Jakarta adalah awal perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menurut AKKBB. Sebaliknya Nasionalisme berbau sekular, plural, dan liberal, yang diusung AKKBB berbahaya bagi generasi bangsa menurut KLI. Saya tak tahu apa bahaya bersikap sekular, plural, dan liberal, tetapi saya tahu persis selembar spanduk di pagar Masjid Istiqlal berisi pesan sok nasionalis sekaligus bodoh;

Waspadai Sekulerisme-Pluralisme-Liberalisme (SePilis), anak kandung Komunisme!” (Lho?!)

Isu nasionalisme secara bodoh dan membodohi juga diusung oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) selama mereka berkampanye hendak menyemai proyek berbahaya yang sesungguhnya tak nasionalis itu;

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah negara maju, dan mereka – negara-negara asing itu -, tak merelakan Indonesia berteknologi maju”.

Saya tak mau terbodohi BATAN seandainyapun saya seorang nasionalis. Setidaknya saya menolak impor uranium dari Australia dan tergantung akan pengadaan dan pengayaannya. Sebab tentu saja teknologi serumit nuklir itu harus dipercayakan kepada para teknokrat manca untuk waktu lama. Dan tentu banyak alasan lainnya.

Pola yang sama juga diterapkan oleh para pengusaha sekaligus pembabat keanekaragaman hayati hutan Indonesia untuk disawitkan. Para pengusaha yang dipastikan terbiasa kuat itu tiba-tiba cekatan bermain drama queen menjadi pihak lemah nan terzolimi ketika Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan GREENPEACE menghadang perusakan hutan yang dilakukannya. Tentu tak lupa taburan bumbu nasionalisme bahwa Amerika tak rela minyak kedelainya tersaingi oleh sawit Indonesia di pasaran dunia. WALHI mendapat serangan balik berupa tuduhan konyol dengan dipertanyakan akan sumberdananya, GREENPEACE tak perlu dipertanyakan karena jelas lembaga asing. Kata ganti orang “Kami” dan “Mereka” dipertegas dengan “Pribumi” dan “Asing”. Segala sesuatu yang mengandung “Asing” dipastikan tak nasionalis.

Sekali lagi, seandainya saya seorang nasionalis yang Anda bayangkan, saya tak mau dibodohi para perusak hutan negeri ini.

Nasionalisme tak cuma menyelinap di celah sawit, mengilap di pedang pengusung syariat, menggeliat di proyek nuklir, tapi juga merayap di lekuk tubuh Manohara. Ketika isu pernikahan di bawah umur tak mempan meliciki para pemeduli anak, Dessy ibu si Manohara yang lebih pantas disebut mucikari bagi putrinya itu segera memainkan nasionalisme sebagai senjata. Bagi awam bermental infotainment yang kebetulan memendam kemarahan laten kepada Malaysia, bersuka-cita menyambut gayung Dessy. Maka muncullah Laskar Merah-Putih turut menyongsong dan mengawal ibu-beranak, dua pecun yang sukses pecundangi nasionalisme itu.

Ah, ingin rasanya bernasionalis secara lugu, kembali ke masa di mana saya tak suka mengeluhi kelakuan norak orang akan keindonesiaan. Seingin saya untuk segera menemui identitas keindonesiaan di Nusantara ini. Identitas yang menggerakkan saya lantang berteriak Not in our name!” apabila ada yang sok nasionalis demi menghindar caci-meki. Identitas yang memerdekakan saya berseru “Merdeka!” di saat anak negeri bertolol-kontol menjadikan Indonesia sia-sia.

“Dirgahayu Ibu, maaf lahir-batin”.

This entry was posted in Nasionalisme. Bookmark the permalink.

94 Responses to Kulihat Ibu Prikitiw

  1. martoart says:

    Gambar Ibu Fatmawati sedang menjahit Sang Saka Dwiwarna Merah-Putih saya ambil dari Google. Gambar ini sudah masuk di dalam katagori Public Domain. Gambar SBY lagi ngiklan Mie Instant dari internet, kalo yang punya protes, harap PM ke saya dengan data lengkap untuk saya yakin bakal membuangnya.Terima kasih kepada Luqman yang telah mengenalkan celetukan “Prikitiw”

  2. remangsenja says:

    aaaaaah.. tulisan muuu…*mmh, taruhan kita gimana cak?*😀

  3. cechgentong says:

    Kang, boleh kopas ga buat komunitas saya ????

  4. jadul1972 says:

    mantap ulasannya cak

  5. deyoyok says:

    ssiiip !!mantab juragan !!

  6. cenilhippie says:

    aihhhhhh…..mantab nian……Nasionalisku semakin berkobar….!!aku link ya…:D

  7. agamfat says:

    Ndan, jadi komandan upacara dimana nanti?

  8. t4mp4h says:

    tak copy paste di Fesbuk …

  9. luqmanhakim says:

    Sebelum menulis, mohon ijin memakalahkan bab kesaruan di halaman ini…Dimulai dengan cerita kenapa Ibu Prikitiw selalu bersedih, sebab selalu merintih, bukan merintih dan berdoa, tapi merintih-rintih minta disetubui, yang ada malah dibomi, diledakkan di sana-sini. Koreng-bopeng Ibu Prikitiw tanpa bisa merasakan dihunus zakar-zakar perkasa. Pertanyaannya, Ibu Prikitiw itu lonte mana di daerah ya?Suit… suit… Prikitiw…

  10. luqmanhakim says:

    martoart said: peraih gelar doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB)

    Bapak Dr. SBY itu honoris causa lho…Mungkin Cak Marto ingin mengajukan diri menjadi Dr Pornoris Causa?

  11. agamfat says:

    astaghfirullah……. Luqman Hakim….

  12. luqmanhakim says:

    agamfat said: astaghfirullah……. Luqman Hakim….

    Lho… itu ada di tulisannya Akang Marto lho…Ada kutipannya smuah… * Mbukain topengnya Agam

  13. chanina says:

    tante mau dunk jd juri buat ngetes presextase dr pornoris causak causuk nya Mas marto xixixixi

  14. chanina says:

    kayaknya asik tuh bercinta di atas bendera merah putih:p

  15. hitungmundur says:

    Atiku senut-senut maca iki, je. Nelangsa tenan.Ruwet-blundhet tenan nasionanisme kuwi. Kabeh kuwi yen dipikir: aja-aja merga almarhum simbah cendono mung ngwariske primbon kothong, ndhas ndomblong, kanthong bolong. There, religious-looking is necessary for those who couldn’t effort versace and billabong. Jadina teh, sok ditonggengkeun wae kapalna atuh, Mang. Ngke ongkosna ditambahan 1.700 treleyun. Sabab urang sado pandai bakecek tapi indak ado nan babuek aa kacuali karajo di tampek balando-balando jo mancaliak pantek.Personne. Personne!!!! Ptuih….

  16. ravindata says:

    mari dadi triman, lha kok koyok mose dayan saiki ?

  17. martoart says:

    remangsenja said: *mmh, taruhan kita gimana cak?*😀

    naga-naganya perlu nabung nih. payah juga memercayai orang bimbang.Tapi ini sebuah oprasi besar neng, butuh waktu mayan lama. he he siapa tahu aku yg menang….

  18. martoart says:

    Sumonggo pak dhe..

  19. martoart says:

    luqmanhakim said: Sebelum menulis, mohon ijin memakalahkan bab kesaruan di halaman ini..

    Saru sebagian daripada iman Man.Lanjutkan! he heSodara2 perkenalkan, beliau ini adalah artis campur saru. Tugasnya mengabarkan kesaruan bagi seluruh negri. Saruahmatan lil alamin gitulah.Jadi ayo kita sambit beliau.tereeeeng….

  20. martoart says:

    kalo porno coloris kaosan doang man.mangkin porno sonder color, without kaos sisan.

  21. martoart says:

    chanina said: causak causuk

    asyik masyuk, lebih asyik keluar-masyuk.

  22. martoart says:

    Yo gam, semoga Allah melindungi aku dan keluarga dari pengaruh sarunya.

  23. martoart says:

    dengan semangat 69

  24. martoart says:

    wis tak genti. saiki dadi Mosed Ayan

  25. ravindata says:

    oalaaahhhh iku mau bengep ta ? tak pikir pethong !! koyok mosed ayan ..!!

  26. t4mp4h says:

    chanina said: kayaknya asik tuh bercinta di atas bendera merah putih:p

    hahahaha… imajinasinya sama kaya gw

  27. agamfat says:

    ada nggak ya yang pakai bikini merah putih kayak model playboy yang suka pakai bikini bendera amerika?

  28. luqmanhakim says:

    martoart said: Yo gam, semoga Allah melindungi aku dan keluarga dari pengaruh sarunya.

    Yoloh…. kewalikk..

  29. agamfat says:

    Sambil jumatan memang afdol sekali buat membahas soal keumatan, alhamdulillah.Buat Luqman yg suka saru, eling eling!

  30. luqmanhakim says:

    agamfat said: Buat Luqman yg suka saru, eling eling!

    Oalah… Ini eling banget Gaammm…

  31. Jumpa lagi bung marto..lama tak nyamperin MP…tulisan anda menggelitik, sedikit nakal. tapi secara umum aku setuju..paling tidak sebagai renungan Kemerdekaan RI ke-64….bagi saya nasionalisme selalu menempatkan persoalan dalam konteks keindonesiaan. jangan bilang seorang nasionalis kalau masih mengingkari, tak mengakui pluralisme keindonesiaan. orang yang mengagung-agungkan penyeragaman, tak mau menerima perbedaan sebagai sebuah rahmat Tuhan, tak pantas hidup di negeri ini….pergi aja ke laut….

  32. sepunten says:

    Indonesia yg lahir setelah diperkosa penjajah 3,5 abad, & belum genap berdiri kembali kekayaan alamnya di hisap, dari luar dan dalam…lahirlah anak-anak kurang gizi, belum lagi masih harus menanggung hutang……merdeka!?

  33. martoart says:

    sholahuddinmz said: .pergi aja ke laut….

    susah juga bung, karena hanya negeri kitalah yg disebut dengan tanah air. negeri yg lain cukup tanah doang (land of apa gitu). Parahnya kalo pada ke laut, terumbu karang and ikan makin sering dibom.Iya nih, dah lama absen nulis di MP. sibuk ngikiut pengajian ustad luqman.. he he

  34. martoart says:

    sepunten said: merdeka!?

    insaoloh

  35. luqmanhakim says:

    martoart said: Iya nih, dah lama absen nulis di MP. sibuk ngikiut pengajian ustad luqman..

    Haiyah… sugemblung berbohong…

  36. ravindata says:

    luqmanhakim said: Haiyah… sugemblung berbohong…

    pak ustad bohong dosa ya ? kalau nge-BOM ?

  37. ohtrie says:

    menggelitik, penuh makna…ngarani waton nyata, ORA DOSA koq :)Matur nuwun seratanipun kakangMas Marto…

  38. agamfat says:

    Wuih kakangmas….

  39. Wah cak..Yo smpeyan iku nasionalis sejati.Msh peduli n netral..Smg dg tulisan itu jd byk yg melek n peduli thdp nasionalisme.Mohon ijin copas bwt dsebarkan

  40. Ibu Pertiwi adalah Ibu sejati, sayang anak-anaknya banyak yang tak tahu diri, jadinya ya biarkan saja mati mboko siji.[English is not suitable to write my comment for this one]

  41. martoart says:

    edwinlives4ever said: English is not suitable to write my comment for this one

    wah aku udah hampir Ge-Er merasa ada Bima kromoinggil dalam sejarah he hetapi sedih juga ya kalo ibu sendirian, apalagi jelang lebaran gini.

  42. martoart says:

    ohtrie said: ORA DOSA koq

    pun kebak dosa, nambah sithik mboten nopo-nopo mas..suwun sami-sami…

  43. martoart says:

    sibocahingusan said: Mohon ijin copas bwt dsebarkan

    thanks cak Pandu, silakan aja semoga ada gunanya😉

  44. dollantefran says:

    Wadoh.. binun mau komen apaan….

  45. martoart says:

    dollantefran said: Wadoh.. binun

    oh,.. nasionalis teffie..😉

  46. dollantefran says:

    Nah lho, masak cuman gegara tulisan pancasila tiba2 jd nasionalis.. hahaha

  47. ohtrie says:

    martoart said: pun kebak dosa, nambah sithik mboten nopo-nopo mas..suwun sami-sami…

    Iya sethithik wae ya Mas…nek kakehan mundhak semelang kangelan nggendhong…saiki wis ra enak, ra manteb koq… Ai het Yhu Pull haha haha:)

  48. martoart says:

    aku tak sabar ingin menggarap pancasila itu…

  49. martoart says:

    terimakasih kiriman lagunya mas… (serasa ingat jaman kirim2 lagu lewat radio)

  50. unclebowl says:

    nasionalisme buat saya ngerokok Djarum Super, minum Bir Bintang sambil mendengarkan Slank🙂

  51. inyong says:

    nasionalis inonesia hanya terbukti merdeka dari jepang dan belandasisanya semua orang tahu siapa yang punya dan mngetur dari sabang sampai merauke

  52. martoart says:

    dan nongkrong jangan lupa

  53. martoart says:

    wah males moco ki…

  54. inyong says:

    wakakakakak emohhhhh ahhhh jelas2 itu bukan nasionalis

  55. martoart says:

    Katanya Pi Ar Sawit..?Ayo disanggah ocehanku.

  56. inyong says:

    tak sahur dulu ya kang

  57. ohtrie says:

    sahuuuuuuuurrrrrrr…..sahuuuuuuuuurrrrrrrrrr…….

  58. bbbnshoes says:

    oleh oleh upacara di Sarkem apaan kang???

  59. Om,tulisanmu betul-betul “merusak”…maksudku, merusak rencana kerja yang udah diniatin sebelumnya krn ternyata lebih asik baca tulisanmu daripada ngejar deadline kekekek…..

  60. martoart says:

    Hati-hati ini emang candu. he he he…

  61. jack069 says:

    Kang Mas Marto, sambungan cerita Fremasonnya kok putus…..???

  62. martoart says:

    masih ada yg perlu dihadapi he he (kok gak PM aja hihihi)

  63. tintin1868 says:

    Kulihat Ibu Pertiwi.Sedang bersusah hati.Bukan karena lirik lagu ini.Yang suka gonta-ganti.Ikut maunya penyanyi.Tapi karena Nasionalisme,yang dimaknai sebagai Indomie.serius tapi becanda.. cerdas ya..tulisannya nyelekit nih..

  64. tintin1868 says:

    jack069 said: Kang Mas Marto, sambungan cerita Fremasonnya kok putus…..???

    kaya baca davinci code.. ada illumination ada satria templar..referensi sejarahnya di perpus mana nih mas?

  65. martoart says:

    tintin1868 said: referensi sejarahnya di perpus mana nih mas?

    ada deeeh…. hehehehe

  66. penuhcinta says:

    Tulisan yang waras dengan gaya yang sangat khas dari Si Mbah. Bravo!

  67. damuhbening says:

    oh…merenung ndisik ki moco tulisanmu cak,hem…nek nulis ngene yo kudu ono kontol lan sak liane tho???walah…aku sing terlalu primitif saja’e, ra ngerti nek barang selangkangan kui apik diumbar nggo bahan ocehan negoro…hehehe…tak mlipir pinggir wae, sambil plirak-plirik sapa ngerti ada selangkangan sing isih diumbar …wakakaaka

  68. afemaleguest says:

    suka!sukaaa!!!S-U-K-AAAA!!!*bawaan lebay Kang*

  69. martoart says:

    afemaleguest said: suka!sukaaa!!!S-U-K-AAAA!!!*bawaan lebay Kang*

    Bungkuuuussss…

  70. afemaleguest says:

    entar tak kirimin sarung buat mbungkus^_*

  71. enkoos says:

    martoart said: Tentu tak lupa taburan bumbu nasionalisme bahwa Amerika tak rela minyak kedelainya tersaingi oleh sawit Indonesia di pasaran dunia.

    Jangan lupa juga mas, sawit juga dihujat di Amerika sebagai produk yang tak ramah lingkungan. Alasannya, karena untuk membuka lahan sawit, hutan dibabati. Memproduksi bahan biodiesel yang ramah lingkungan dengan cara menghabisi lahan membabi buta? Aneh bukanBrazil juga mengalami hal yang sama. Hutan2nya dibabat untuk memproduksi tebu sebagai bahan biodiesel. Impor minyak sawit sekarang juga lebih ketat, karena mereka mengharuskan label (lupa apa istilahnya) yang maksudnya berasal dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan sifat ramah lingkungannya dan gak membabi buta.

  72. afemaleguest says:

    Indomieeeeeee……..~ bambangpriantono ~ssshhhhhttt … ora karo nyebut merek, euy!!!

  73. enkoos says:

    martoart said: Mi pernah dilansir Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai salah satu makanan pokok bangsa Indonesia. 

    Aku cuma bisa berharap, banyak yang tak percaya dan tak menelan mentah mentah pernyataan yang sayangnya keluar dari mulut seorang pemimpin.

  74. *take a deep breath*ternyata aku baru tau klo ada macam2 jenis nasionalisme…kikikiki…tiap macemnya punya arti yg beda pastinya…baiklah…aku mah gk jago soal wawasan nusantara loh mas, malahan nilai PPKNku jmn cekolah dulu gk jauh dr angka 7…bginilah hidup…Marto said: Upaya penyeragaman hanyalah akan menjadi sebuah makar. — aku stuju sm yg ini, sdh bnyk contoh kan yg tersiar di tipi2..ntah ada brp ratus cnth lg yg blm sempat ditonton secara massa..ya tp tetep yg bertindak makar hrs diganjar hukum kan mas apalagi klo sdh mengganggu kehidpan org bnyak..Lalu yg ini: Rupanya hanyalah sebuah kewajaran pelestarian tradisi simbiosis mutualisma antara penguasa dengan pengusaha — ya jelas lah, utk jadi pak RT aja dibutuhkan dana yg lumayan utk traktir tetangga2nya makan nasi box, opo maning jd presiden..klo gk bisa kasih makan org2 senegara,mending dia rangkul si indofood yg bisa kasih makan org sedunia malah…Kemudian yg ini: saya tak mau dibodohi para perusak hutan negeri ini — aku jg gk mau, ajarin dong caranya…sepertinya dirimu yg lbh berpengalaman deh *wink-wink ke mas marto**cabutttttttttttsssssssss*

  75. martoart says:

    mychocolatebox said: Kemudian yg ini: saya tak mau dibodohi para perusak hutan negeri ini — aku jg gk mau, ajarin dong caranya…sepertinya dirimu yg lbh berpengalaman deh

    dengan senang hati. kapan? *wink wink ngarep ke Dha juga.

  76. Tulisannya menggelitik, Bung :)eh, ternyata ada juga iklan kampanye pake jingle indomie.

  77. martoart says:

    Trims Bung! ini video yg aku mo tempel, tapi gak ketemu.Nah, kalo presidennya penuh MSG, pengawet, dan bahan berbahaya lainnya, gimana dengan rakyat yg memilihnya?Siapa siap diracun?

  78. rikejokanan says:

    waduh, Mbah… jebulipun indomie niku maemane Pak SBY to? pun kulo mboten maem mawon, mangke ndhak bodhone madhani presiden…

  79. martoart says:

    rikejokanan said: waduh, Mbah… jebulipun indomie niku maemane Pak SBY to? pun kulo mboten maem mawon, mangke ndhak bodhone madhani presiden…

    mulo to mulo…*cari yg rasa kebo bawang..

  80. rikejokanan says:

    Pun, Mbah mboten rasa-rasaan. Kula tak balik mangan rambanan malih mawon…

  81. martoart says:

    rikejokanan said: mangan rambanan

    sekalian mangan orobudur.

  82. rikejokanan says:

    Nggih, Mbah gampil niku… Gegara niku kula dados endut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s