GOLPUT!

Golongan Putih (Golput) adalah terminologi yang dilansir oleh Arief Budiman pada tahun 1973. Golput pada awalnya digagas oleh aktivis yang lahir bernama Soe Hok Djin ini sebagai tandingan akan dominasi Golongan Karya (Golkar). Golkar sebagai sebuah kekuatan besar politik Orde Baru (Orba) pun sebenarnya tak lepas dari campurtangan aktivis Angkatan 66 ini. Namun tabiat perlawanan Arief membuatnya tetap melawan siapapun, bahkan kawan seperjuangannya dahulu jika dirasa keluar jalur kebenaran. Golkar luput, maka Arief Golput.

Golput menurut saya tak begitu politically correct. Ini menyangkut deskriminasi warna, meski saya yakin bukan itu maksud Arief. Saya bayangkan akan asyik kalau dia memilih istilah “Kosong” sebagai pengganti kata “Putih”. Maka yang hadir adalah Golongan Kosong dengan akronim “Gosong”. Itu terminologi saya yang tak akan mampu menggeser ketenaran Golput. Toh Golput akhirnya sudah menjadi istilah keseharian sendiri semacam; Netral, Abstain, Ga’ ikutan, tak berpendapat, manut saja, dan seterusnya. Istilah Golput sedikit meleleh dari ruh perlawanan awalnya.

Golput Sesuai Khitah

Golput yang sesuai khitah, yang ideologis adalah Golput yang melawan. Adalah seseorang yang mempunyai hak pilih, memiliki kelengkapan administratif untuk memilih, namun dengan sengaja melakukan ketidaksahan dalam memilih. Misalnya dengan merusak surat suara, melubangi semua pilihan, menggambari tanda gambar partai ataupun sosok calon di lembar pilihan, atau menulis pesan perlawanan pada kertas suara, dan seterusnya. Tujuan utamanya jelas bahwa mereka hendak menyampaikan bahwa ada orang yang melawan. Bahwa agar dengan merusak, suaranya tidak akan dimanipulasi.

Namun yang tidak memiliki kelengkapan administratif untuk memilih bukan berarti tak ideologis. Bahkan mereka bisa disebut Golput garis keras apabila beralasan, bahwa sistem pemilihan yang ada saat ini dirasa belum cukup murakapi, belum paripurna, belum mampu mengakomodasi kemauan para pemilih. Maka mereka dengan sadar dan sengaja tak mau terlibat masuk dalam sistem tersebut, terlebih mengingat betapa buruknya mekanisme penghitungan suara yang ada. Mereka tak mau suaranya sia-sia, dimanipulasi, dan salah kamar.

Kedua jenis Golputer di atas memiliki keyakinan yang sama, yaitu konsistensi akan janji partai dan atau para calon kelak hanyalah sebuah ketakpernahtepatan. Dan itu memang yang terjadi. Atau bahkan sudah tak suka dari awal hadirnya partai yang ada ataupun para calon. Mereka tak akan bersepakat dengan pesan bijak semacam “Jangan lupa teman, ikutlah berpartisipasi menjadi satu bagian terkecil dalam kehidupan bernegara ini, dengan ikut serta menyukseskan pemilihan pemimpin kita. Sepahit apapun, dan sejelek apapun, pasti ada yang lebih baik dari ketiga pasangan tersebut untuk menjadi pemimpin kita” misalnya. Terlebih mereka akan dengan berbusung dada melawan fatwa sesat dan menyesatkan bahwa Golput itu haram.

Tentu saja untuk menjadi warga negara yang baik tak harus berarti ikut hajatan seperti Pemilu ini. Banyak cara. Memilih untuk tidak memilih adalah bagian dari demokrasi itu sendiri. Menjadi Golput adalah sikap warga negara yang bertanggungjawab akan negeri ini. Mereka tidak mau bereksperimen akan masa depan bangsa, mereka tidak akan sudi menyerahkan kepemimpinan bangsa kepada gabungan para pelanggar hak asasi manusia, para pembabat hutan, penjual murah kapling hutan lindung, pengeruk pasir negeri, penyebur lumpur, tengkulak neo-liberalisme, penculik aktivis, pengusung UU porno, pembebas pembunuh Munir, gerombolan koruptor, dan seterusnya.

Penganut Golput Ideologis tak akan pernah mau tertipu janji atau termakan iklan citra diri. Terlebih menyaksikan kampanye yang ironi penuh komedi seperti mengaku paling nasionalis sembari penjual aset negeri, mengaku paling Nusantara namun alergi dengan agama yang tak islami, mengaku paling demokratis tapi masih ngugemi paham Jawasentris.

Golput Non-Ideologis

Golput yang satu ini memilih untuk tidak memilih karena banyak hal di luar alasan ideologinya. Karena malas adalah alasan pertama, kesibukan juga layak untuk tidak datang di TPS, bisa juga tidak terdaftar sebagai pemilih, diintimidasi, trauma politik juga bisa, dan atau memang tak berantusias akan politik. Tidur adalah pilihan terbaik.

Meskipun tak berlaku masif, mungkin Golput semacam inilah yang diprihatinkan oleh para penasihat bijak di atas. Golputer yang pragmatis, yang maunya tahu jadi saja akan apa yang bakal terjadi di Bumi Pertiwi. Kaum Golput yang layak ditasbih sebagai pencari selamat. Mereka biasa saja tiba-tiba mengaku sabagai pemilih loyal sang pemenang ketika hendak memuluskan urusannya. Atau dengan jumawa ikut mencaci apabila sang pemenang tergerus kasus korupsi. Pendeknya “Swarga nunut, Neraka no way!” alias mau enaknya, ogah sialnya.

PEMILU atau PEMUTIH?

Tulisan ini adalah ajakan untuk berpikir dan berasa keindonesiaan yang bertanggungjawab. Sebagai rambu waspada bahwa masa depan bangsa dan negara bukan untuk dipertaruhkan. Ajakan untuk mengingat lagi jejak kelam mereka di hari kemarin yang mudah sekali dilabur pencitraan. Hajatan ini memang sering dimanfaatkan sebagai ajang pemutihan sejarah buruk para kandidat. Karenanya, Pemilu dengan kata dasar “Pilu” itu memang selalu membuktikan bahwa berarti; “Pembikin Pilu”. Maka usah lagi pilu, usah melelahkan diri menjadi groupies ataupun loyalis. Agar tak kecewa.

Indonesia, Rabu, 8 Juli 2009

Untukmu Indonesiaku, saya Golput karena sayang kepadamu. Tidak memilih adalah pilihan yang bertanggungjawab!

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

43 Responses to GOLPUT!

  1. martoart says:

    Selamat menunaikan puasa mutih bagi para penganutnya.Gambar saya ambil dari google dan diolahparodi dari tokoh Superman CD comic karya ilustrator Kanada mbah Joe Shuster.

  2. lainnya says:

    enakan gosong atau golput yaa…. baru sadar juga klo Pemilu dari kata dasar pilu…

  3. aku ola alep elu emilu

  4. agamfat says:

    martoart said: Selamat menunaikan puasa mutih bagi para penganutnya.Gambar saya ambil dari google dan diolahparodi dari tokoh Superman CD comic karya ilustrator Kanada mbah Joe Shuster.

    jadi dari luar kelihatnanya pakai baju biru, tapi dalamnya putih gitu kang.dari luar kayak demokrat, dalamnya nyumpahi2n yg suka lanjutkan neolibnya

  5. inyong says:

    iyo kang paling runyam jadi golput gara2 ndak ngerti caranya ikut pemilu iku yang bahaya

  6. ravindata says:

    martoart said: ajang pemutihan sejarah buruk para kandidat

    bukankah bangsa kita bangsa pemaaf ….? bangsa yang cepat marah, dan cepat pula lupa !!

  7. ujiarso says:

    martoart said: Pemilu dengan kata dasar “Pilu” itu memang selalu membuktikan bahwa berarti; “Pembikin Pilu”. Maka usah lagi pilu, usah melelahkan diri menjadi groupies ataupun loyalis.

    hehehe kang marto, pilihan lema -nya oke punya

  8. respatikasih says:

    martoart said: t menunaikan puasa mutih

    iya Mas, nirakatke negara heheheh

  9. cenilhippie says:

    martoart said: Untukmu Indonesiaku, saya Golput karena sayang kepadamu. Tidak memilih adalah pilihan yang bertanggungjawab!

    deal!

  10. cenilhippie says:

    martoart said: Penganut Golput Ideologis tak akan pernah mau tertipu janji atau termakan iklan citra diri. Terlebih menyaksikan kampanye yang ironi penuh komedi seperti mengaku paling nasionalis sembari penjual aset negeri, mengaku paling Nusantara namun alergi dengan agama yang tak islami, mengaku paling demokratis tapi masih ngugemi paham Jawasentris.

    yup….memang yang terlihat, terdengar, terdoktrin seperti inilah adanya……miris….

  11. agamfat said: dari luar kelihatnanya pakai baju biru, tapi dalamnya putih

    kayak yg aku pake skarang, luar biru dalemannya putih semi bludus, agak bolong dikit di tengah

  12. sukasekali99 says:

    gosong lebih pas !

  13. sepunten says:

    tontonan politik garing, “penonton” pun pulanglha kalau figur presidenku ga ada dalam daftar, masak mau ngitung lobang kancing?… :)mau pilih penguasa yg katanya bela rakyat (rakyat yg mana?)

  14. aku karena “saking cintanya” pada ketiga capres dan cawapres…sampai kepingin membawa gambar mereka pulang…rencananya pingin menggunting foto mereka dari kertas pilihan..untuk dibawa pulang…untuk dipajang di dinding kamarkuberdampingan dengan poster buah-buahan yg beli di pasar kemarenhua ka ka ka ka

  15. t4mp4h says:

    aku pilpres kali ini ndak golput Kang, meskipun belum menentukan pilihan. Aku memilih karena tidak mau dizolimi yang tengah itu.

  16. martoart says:

    agamfat said: dari luar kelihatnanya pakai baju biru, tapi dalamnya putih gitu

    meski ada pameo “ada yang terbaik d antara yang burk”, aku tetep ogah dab!

  17. martoart says:

    respatikasih said: nirakatke negara

    ngruwat pertiwi jeng…

  18. martoart says:

    lainnya said: baru sadar juga klo Pemilu dari kata dasar pilu

    Ha ha udah berapa kali ketepu baru nyadar…

  19. martoart says:

    danangprobotanoyo said: ola alep elu

    Ya belum masuk usia pemilih… he he he…

  20. martoart says:

    inyong said: runyam jadi golput gara2 ndak ngerti

    lebih runyam memilih tanpa tahu siapa yg dipilih sesungguhnya

  21. martoart says:

    ravindata said: bangsa kita bangsa pemaaf ….?

    tepatnya bangsa tercuek!

  22. martoart says:

    ujiarso said: pilihan lema -nya oke punya

    Othak-athik mathuk kang…dan masih punya lagi, ntar buat postingan lain.

  23. martoart says:

    cenilhippie said: deal!

    Kita pasti menang!

  24. martoart says:

    Lamjutkan Golput sampe Gosong, Lebih Gosong-lebih baik,Gosongkan Rakyat!

  25. martoart says:

    doniriwayanto said: membawa gambar mereka pulang…

    Aku pernah Don, jaman Parte sebanyak 48 biji dulu. he he…

  26. martoart says:

    t4mp4h said: tidak mau dizolimi yang tengah

    Jangan sedih kalo ntar dizolimi yang pinggir… he he he..

  27. t4mp4h says:

    martoart said: Jangan sedih kalo ntar dizolimi yang pinggir… he he he..

    pilihan yang baik diantara yang buruk,..apa mau dikata, daripada gak ada perlawanana. Partai golput kemaren pas menang udah gak direken soalnya.

  28. martoart says:

    t4mp4h said: pilihan yang baik diantara yang buruk,..apa mau dikata, daripada gak ada perlawanan

    “meski ada pameo “ada yang terbaik d antara yang burk”, aku tetep ogah dab!” itu dari jawabanku komen buat Agam. Dan Golput adalah bentuk perlawanan nyata.Golput itu direken dalam sistem pemilihan demokratis di manapun. Simbol disobedient. Bahkan pilihan lurah jaman dulupun menyediakan Bumbung Kosong bagi yang tak menaruh Biting (pilihan)-nya. Begitu pula calon lurah tunggal harus berhadapan dengan bumbung itu. Ketika prosentasenya tinggi, pilihan lurah harus diulang atau ditunda. Pilurah jadul lebih demokratis dari pemilu nasional saat ini.Pemilu yang menghasilkan golput besar akan menjadi catatan betapa buruk demokrasi negara tersebut. Komparasinya agak mirip dengan sebuah negara yang memiliki seberapa banyak jumlah penjaranya. Bahkan kalau mau pake itungan bodoh, golput lebih direken daripada pemilih yang dikecewakan. Emang yakin bahwa mereka para pemilih itu akan direken setelah memilih sang pemenang?

  29. aleichang says:

    setelah 3x golput.. tadinya besok ini mau milih… secara gettooo bisa pake KTP doanks… Tapi setelah baca tulisan ini.. jadi ragu juga… Apa aku kembali ke komunitas putih kayak dulu lagi yakh…he.. Ah.. bingung…

  30. t4mp4h says:

    martoart said: Emang yakin bahwa mereka para pemilih itu akan direken setelah memilih sang pemenang?

    kalau yang itu, aku ndak butuh direken kang. Selama ganti presiden aku juga gak pernah direken sama mereka koq. Kali ini targetku cuma “asalkan bukan yang satu itu jadi presiden”. Kalau golput memang direken dalam sistem demokrasi negeri pagebluk kita ini, mestinya jumlah anggota legislatif di DPR juga ikut berkurang seturut jumlah suara golput. Tapi yang terjadi khan tidak, nah kalau pilpres ini suara golput tetap banyak bahkan mungkin melebihi jumlah pemenangnya tapi tetap gak direken yo podho wae.

  31. martoart says:

    t4mp4h said: Kali ini targetku cuma “asalkan bukan yang satu itu jadi presiden”.

    oks sepokat dengan alasan itu. Eh, gimana kalo dikembangkan “asalkan bukan yang track record-nya buruk yg jadi presiden”. he he..

  32. martoart says:

    t4mp4h said: Tapi yang terjadi khan tidak

    Lha emang udah demokratiskah negeri ini?

  33. luqmanhakim says:

    Telat baca…Tapi gini Mas, sehari sebelom Pemilu, orang tua di rumah udah tereak-tereak ke saya kalo pemilu presiden saya jangan sampe golput. Apapun pilihannya, yang penting jangan golput!Saya bilang nggak jamin juga nih, bisa jadi golput, bisa jadi nggak. Tergantung gimana moodnya aja nanti…Bapak saya kecil, pendek, kumisan, persis kayak JK, mewanti-wanti dengan tegas dan lugas. Dan… Pemilu berlangsung. Saya berusaha jujur sama diri sendiri dan orang tua. Kali ini saya nggak golput. Di bilik suara, tetep saya bingung mau nyoblos apa. Tapi demi ngingat orang tua udah ngewanti-wanti agar nggak golput demi keberlangsungan negara, ya udah, saya celontreng gambar yang mirip bapak saya. Malah saya tambahin tebel-tebel tuh kumisnya. Pokoknya saya bikin mirip ama bapak deh…Kelar pemilu, saya ditelpon lagi sama bapak, ditanyain, golput apa nggak, saya jawab nggak. Trus waktu ditanya pilihannya apa, saya bilang rahasia. Sampe didesek-desek, akhirnya saya jawab…“Berhubung luqman anak yang patuh sama orang tua, jadi luqman milih yang mirip bapak.Yaaa… daripada dipecat jadi anak…”Bapak saya ketawa, trus malah nanya, kenapa nggak milih SBY?Saya jawab pertanyaan bapak saya itu, “Emang kenapa kalo harus milih SBY? Kenapa nggak Megawati? Kenapa nggak JK? Toh saya memilih berdasarkan kepatuhan sama orang tua, bukan atas dasar logika…”

  34. martoart says:

    luqmanhakim said: saya memilih berdasarkan kepatuhan sama orang tua, bukan atas dasar logika..

    He he he.. kamu penganut slogan “Vox Papi, Vox Dei”.Suara Sahan, Suara Tuhan

  35. martoart said: He he he.. kamu penganut slogan “Vox Papi, Vox Dei”.Suara Sahan, Suara Tuhan

    doni like this

  36. chanina says:

    paling eneg dari pemilu preiden kali ini, adalah nglihat teman2 yang ngerti bosoknya para calon itu dan tetep jd tim suksesnya… sampe hari ini masih mati rasa dengan politik indonesia, jadi yaaah jalan2 aja daah

  37. nitafebri says:

    aah kenapa baru baca sekarang yaa..padahal udah sering begitu.. awal awalnya dag dig dug takut diomelin klo ketauan, mana biasanya pak RT n pak RW juga jadi petugas KPPS..

  38. agamfat says:

    Tulisan ini akan selalu universal untuk Indonesia. Para pendukung partai perlu baca ini dg kepala dingin

  39. martoart says:

    agamfat said: Tulisan ini akan selalu universal untuk Indonesia

    Trims Gam, meski aku gak mengharapkan itu. Maksudnya, mungkin saja suatu saat akan ada Demokrasi yang jauh lebih baik dari yang ada sekarang (emang sekarang udah po?). Tapi rasanya harapanku itu amat utopis.

  40. agamfat says:

    Iya, maksudnya untun foreseen future, tulisan ini masih relevan. Dan sangat relevan buat para penggemar Tif hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s