Quis Custodiet Ipsos Custodes?

Socrates menggagas sebuah negara ideal. Bahwa salah satu idenya adalah negara butuh para pengawas untuk mengawasi rakyatnya. Agar tertib, agar asyik. Dan Plato bertanya; “Lantas, siapakah sekiranya yang mengawasi para pengawas?”.

Pertanyaan itu menjadi lebih terkenal dalam “Satires” Karya Decimus Iunius Iuvenalis, penyair Romawi yang hidup pada akhir abad pertama hingga awal abad ke dua; “Quis custodiet ipsos custodes?”.

Causa Prima

Pertanyaan filosofis itu seperti biasa mendapat jawaban short-cut kaum agama. Adalah bahwa tuhan-lah yang mengawasi kita. Dengan begitu, umat tak perlu berdebat lagi seperti saat mencari mana yang lebih dulu antara telur dengan ayam. Gusti ora sare – Tuhan tidak tidur, karena tak pernah kendat menjaga kita, beserta kita. Dia Immanuel, Dia Ar-Raqib, Sang Causa Prima. Tentu juga agar tertib, meski rasanya nggak begitu asyik. Tapi setidaknya satu persoalan selesai.

Sedang para filsuf dan ilmuwan tak pernah selesai dalam pencariannya. Sebenarnya kalimat itu juga tak tepat, sebab; Pertama apakah memang mereka tengah mencari? Karena tak sedikit yang memastikan tak perlu mencari diri pengawas atau tuhan yang tak ada itu. Atau setidaknya ber-egepe alias berlaku agnostik karena menganggap cuma menghabiskan waktu. Ke dua apakah memang harus selesai?

Kemudian ada satu lagi cara menyikapi pertanyaan itu. Hasilnya asyik, tapi acap bikin tak tertib. Itu cara seniman. Begitu banyak karya seni yang terinspirasi kutipan kalimat yang diutarakan Juvenal, nama Inggris penulis Roma itu. Sebut saja komik “Watchmen” karya Alan More dan Dave Gibbons, ikon “All Seeing Eye”, “Night Watch” lukisan karya Rembrandt Harmenszoon van Rijn, novel “Digital Fortress” karya Dan Brown, “Nineteen Eighty-four” karya George Orwell, album “The Wall” Pink Floyd, dan seterusnya.

The Police

Ini bukan tentang trio musisi asal Inggris, Sting dan dua kawannya. Ini adalah tentang Polisi, lembaga yang dimaksud banyak orang sebagai Sang Pengawas itu. Polisi sebagai awal pembentukannya tak lepas dari arti awal nama pembentuknya. Berasal dari Bahasa Yunani; Politeia yang artinya warga kota atau pemerintahan kota. Lebih tepat lagi petugas kota. Adalah sekelompok orang yang mulanya mengawasi para budak. Tempat utamanya adalah memang di Kota karena di sanalah pusat transaksi perbudakan.

Kemudian berkembang pesat sesuai jaman, dan apa yang dihadapi. Tapi tugas utamanya tak jauh dari sejarah awalnya sebagai penjaga ketertiban kota. Karena tugas yang berat dan mengarah ke keparipurnaan, maka mereka dituntut seperti menjadi mahluk setengah nabi setengah robot. Mereka harus menjadi baik hati sebaik-baiknya tauladan, namun juga harus tegar hati sekaku-kakunya orang paling bebal. Masyarakat acap menganggap mereka adalah musuh paling nyata melebihi setan. Karena memang betapa mereka adalah satuan pertama yang tepat di depan masyarakat. Bukan tentara bengis ataupun koruptor licik misalnya, karena dua contoh yang saya sebut tadi bisa jadi adalah setan yang jauh berada di belakang polisi. Polisi seperti menjadi musuh tradisional rakyat kgususnya para aktivis demokrasi disaat damai. Tentara hanya menjadi musuh utama aktivis perdamaian di saat perang.

Tapi sebenarnya bukankah posisi terdepan itu justru bisa menjadi modal baik bagi citra polisi kalau saja mereka mengambil peran sebagai mahluk yang non fasistik? Tapi memang itu hal yang susah bahkan mokal mengingat prototip satuan ini lebih sebagai Malaikat Pengawas, bukan Guardian Angel alias Malaikat Penjaga? Sebagai pengawas, mereka seperti berhak melakukan apa saja. Dari menangkap, memukul, membunuh, menentukan salah atau benar, bahkan pernah menjadi paling berhak mengeluarkan surat bahwa seseorang berkelakuan baik atau tidak.

Polisi di beberapa negara teokrasi atau yang berkecenderungan begitu, bahkan memiliki kekuasaan lebih sebagai laskar tuhan. Menentukan seberapa santun kelakuan dan pakaian Anda. Pengawasan malaikat istilah tepat untuk memarodi pengawasan melekat ala Orde Baru dulu. Mengawasi hati dan mengadili pikiran Anda. Meskipun sesungguhnya tak ada yang berhak untuk itu. Niat jahat belum bisa menjadikan seseorang mauk penjara atau neraka. Begitu kata orang hukum dan kaum agama. Dan itu bagus. Tak ada yang boleh bengadili imajinasi kita. Karena memang tak mungkin bisa. Pun tak boleh meskipun andai kelak ada teknologi yang memungkinkan itu terwujud. Seorang istri polisi boleh saja berimajinasi sedang disetubuhi pemuda idamannya saat bergumul dengan Sang Briptu.

Pikiran itu sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagiaan”. (Citta Vagga. 4)

K
arena itu pul
a saya bersepakat dengan Pramoedya Ananta Toer akan petuahnya; “Adil sejak dalam pikiran”. Dan alangkah baiknya apabila polisi dan para pengawas yang lain bersepakat dengan saya juga akan kesepakatan saya. Para pengawas hendaklah adil sejak dalam pikiran. Tak berhak bertindak di luar kewenangannya, bahkan perlu berlatih mengendalikan emosi sebelum mengendalikan masa.

Itu senada dengan yang dikemukakan mendiang Hugeng Imam Santoso mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Bahwa polisi perlu ngugemi falsafah fight crime, help delinquency, love humanity. Artinya sekitar, meski kejahatan harus diberantas, pelakunya tak mutlak dimusnahkan. Pernyataan beliau pastinya bertentangan sekali dengan ide Soeharto akan Penembak Misterius (Petrus), pembantaian masal para preman.

Pak Hugeng, menurut Gus Dur adalah satu dari dua jenis polisi yang baik di Indonesia. Satu lagi adalah polisi tidur. Tapi tidak bagi pengendara, sebab polisi tidur sangat merepotkan, terlebih kalau bangun. Tak tahu kenapa, saya jadi teringat sepenggal tembang masa kecil;

Wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip nggolek-o dhuwit!

Orang mati tidak bergerak, kalau bergerak menakutkan bocah, kalau (memang) hidup carilah duit!”.

Cobalah ubah sedikit;

Polisi tidur tidak bergerak, walaupun rebah memerepotkan pengendara, (tapi) kalau bangun cari duit!”.

Karenanya tak perlu heran kalau yang terjadi adalah nasihat aneh ketika kita akan berkendara; “Hati-hati, banyak polisi!”, bukan sebaliknya; “Hati-hati, banyak maling!”. Sebuah pesan yang makna di baliknya adalah bahwa maling tak perlu diwaspadai seketat polisi karena mekanisme perpindahan harta kita ke tangan polisi tampak legal. Dan protes, acap dikatakan sebagai tindakan melawan petugas. Memang serba repot.

Kemudian hadirlah upaya menjawab pertanyaan Juvenile di atas; Police Watch. Meski banyak yang meragukan kemampuan amatan dan kinerjanya, pastilah kehadiran Lembaga non-pemerintah seperti itu di seluruh dunia baik adanya. Dan tentu saja kutukan Juvenile itu tak akan dan tak akan pernah berhenti di situ. Saya tentu juga tak hendak menghadirkan kesimpulan apapun dalam tulisan ini, tapi barangkali masih layak menuang beberapa kalimat berikut;

Semua terkembali kepada diri sendiri. Kemampuan pengendalian diri secara alami, secara manusiawi. Bahwa mekanisme pengawasan ada dalam diri. Moyang pernah mengajar kita sebuah kaidah sederhana; “Jangan mencubit, kalau cubitan itu terasa sakit bagimu”. Orang yang mendapat otoritas hendaknya menjalankan falsafah sederhana ini. Namun bagi yang kulitnya kebal dari cubitan, mukanya tebal dari sindiran, dan otaknya bebal dari aturan, agama menghadirkan neraka untuk membalasnya. Memang tuhan perlu dihadirkan bagi yang berakal dangkal.


Selamat Hari Bhayangkara 1 Juli bagi yang menjalankannya,

semoga menjadi polisi yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama negara.

This entry was posted in Nasionalisme. Bookmark the permalink.

34 Responses to Quis Custodiet Ipsos Custodes?

  1. martoart says:

    Maaf ndan… Telat sehari.

  2. respatikasih says:

    martoart said: Moyang pernah mengajar kita sebuah kaidah sederhana; “Jangan mencubit, kalau cubitan itu terasa sakit bagimu”. Orang yang mendapat otoritas hendaknya menjalankan falsafah sederhana ini. Namun bagi yang kulitnya kebal dari cubitan, mukanya tebal dari sindiran, dan otaknya bebal dari aturan, agama menghadirkan neraka untuk membalasnya. Memang tuhan perlu dihadirkan bagi yang berakal dangkal

    hebat Mas Marto masih ingat hari bhayangkara, aku malah lupa je jadi ingat soal “jiniwit katut” adakalanya juga jiwitan itu perlu, untuk mengingatkan mereka yang nakal lho yen dijiwit wis ora krasa yo ditaboki

  3. agamfat says:

    Penegak hukum di Indonesia menjalankan tugasnya dg melanggar hukum. Hukum menjadi pembenar utk kesewenang-wenangan yang korup. Dalam tatat urutan perundangan dan hukum di Indonesia memang UUD merupakan sumber hukum yg tertinggi. Dalam kenyataannya, memang Ujung-Ujungnya Duit.Selamat hari Bhayangkara

  4. yukasix says:

    artikel yang bagus!Baru sadar kemarin Hari Bhayangkara… congrats deh!

  5. Mas …Tuhan sampun dangu sedo…🙂 jadi ya mungkin setelah beliau wafat …maka berjuta juta orang berlomba menggantikan posisinya…..sebagai pemilik kebenaran absolut …..tak terkecuali bapak2 P**** ini dan tak ketinggalan kawan lama mereka FPI…

  6. remangsenja says:

    piye to mas.. mestinya nulis tanggal 30.. tanggal 1 tak kasiin ke kapolri tulisane… *tanggal 21 gag dateng. maap, bocah opname*

  7. martoart says:

    respatikasih said: yen dijiwit wis ora krasa yo ditaboki

    Wah, yo ojo jeng…

  8. martoart says:

    agamfat said: Ujung-Ujungnya Duit

    Kan juga ada KUHP…

  9. martoart says:

    tararengkiyu Yuka…

  10. martoart says:

    He he.. aku nglayat kok.

  11. martoart says:

    remangsenja said: tak kasiin ke kapolri tulisane

    Ksihin aja via email. telat gak papa kan?eh, mereka ngerti email? he he.. jelasin aja bahwa itu bukan komponist Email Marzuki

  12. martoart said: ahwa polisi perlu ngugemi falsafah fight crime, help delinquency, love humanity.

    Oh, is this the right version, Cak? What I know is “fight blame, help fallacy, love supremacy”.

  13. sepunten says:

    kalo di TNI masih ada Provost, yang mengawasi Polisi ya Karma…🙂

  14. deyoyok says:

    alur yg mengalir bin njelimet, bagus tulisannya mas ! :))

  15. martoart says:

    tak kandhakke pak Hugeng, mlethot koen…

  16. martoart says:

    sepunten said: yang mengawasi Polisi ya Karma.

    dan yang ngawasi Karma ya Roma.

  17. martoart says:

    Tur nuwun Pak dhe Yoyok…

  18. agamfat says:

    Kang, tambah referensi ke kasus kaos Seringai ‘to protect and to serve’? Yg dilarang polisi

  19. inyong says:

    kang enak dadi polisi tidur lho

  20. hitungmundur says:

    Polisi itu anasir entertainment di Indonesia, Kang Mar.Tanpa mereka, banyak orang kekurangan hiburan. Star Trek dan Terminator buang devisa. Jambret babak-belur terselamatkan di TV.Industri kosmetik termasuk lima besar di jagad. Setidak-tidaknya hukum terasa sedang ditegak-tegakkan dengan razia kotak P3K. Untunge montorku lengkap.Kan, berkas BD teri dan tukang-nyepet masuk kejaksaan atas jasa korps coklat, walau biyange di Medan sana ternyata kongsi akrab.Atau, penelikungan properti kelihatan amat haram di negeri ini lewat sambutan Pak Kapol yang diperdengarkan ke telinga peka Microsoft; dan sebagian cukai rokok yang setia kita setor selama 20 tahun belakangan entah berakhir di pos siapa tanpa setahu serse; sedang orang bacok-bacokan di jalanan berebut recehan karena kue yang gedhe-gedhe kadung habis buat bancakan bukan-kita-kita.Tapi hukum sedang dan senantiasa ditegak-tegakkan, kok. Saya percaya manfaat dan afiat Bhayangkara. Tak ada salahnya beriman pada semboyan: “There’s No Biz Like Showbiz”.

  21. martoart says:

    There’s no comment like yours n I’m lovin’ it.

  22. martoart says:

    yo, nek polisi tidur-e segedhe sampeyan, bumper hardtop pun bablas. wekwekekek…Paling gak enak ditiduri polisi.

  23. martoart says:

    Wah, ilustrasiku bakal dikasuskan oleh smiley-nya watchmen gak yo? ntar dikira menghina the comedian…Tapi emang kalo gak bisa nilang motor, larinya bisa aja nyemprit kaos kok Gam.

  24. Aku nulis artikel ttg the Police, jan diamput tenan redaksine, mosok di amputasi sampe 50 %, mungkin artikel-ku dinilai rada ekstrim & sialnya metune bareng karo artikele Kapolda, horo to

  25. martoart says:

    ha ha ha.. redaksine methi polisi kuwi!turut berduka deh…

  26. imanberiman says:

    martoart said: “Pikiran itu sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagiaan”. (Citta Vagga. 4)Karena itu pula saya bersepakat dengan Pramoedya Ananta Toer akan petuahnya; “Adil sejak dalam pikiran”. Dan alangkah baiknya apabila polisi dan para pengawas yang lain bersepakat dengan saya juga akan kesepakatan saya. Para pengawas hendaklah adil sejak dalam pikiran. Tak berhak bertindak di luar kewenangannya, bahkan perlu berlatih mengendalikan emosi sebelum mengendalikan masa.

    gimana caranya menjaga pikiran agar tetap baik?

  27. cenilhippie says:

    pak pol…pak pol……

  28. inyong says:

    kalo ndak dadi polisi pamong praja aja

  29. martoart says:

    imanberiman said: gimana caranya menjaga pikiran agar tetap baik?

    Semua terkembali kepada diri sendiri. Kemampuan pengendalian diri secara alami, secara manusiawi. Bahwa mekanisme pengawasan ada dalam diri. Moyang pernah mengajar kita sebuah kaidah sederhana; “Jangan mencubit, kalau cubitan itu terasa sakit bagimu”.Namun bagi yang kulitnya kebal dari cubitan, mukanya tebal dari sindiran, dan otaknya bebal dari aturan, agama menghadirkan neraka untuk membalasnya. Memang tuhan perlu dihadirkan bagi yang berakal dangkal.

  30. luqmanhakim says:

    Nanya Mas…”“Quis Custodiet Ipsos Custodes” itu artinya apa ya…

  31. martoart says:

    luqmanhakim said: artinya apa ya…

    ya dibaca dong dik…

  32. Filsafat angkatan piro kang? kenal ambek Nezar, faisol (korbane Prabowo)

  33. martoart says:

    danangprobotanoyo said: kenal ambek Nezar, faisol (korbane Prabowo)

    Kenal. bahkan dengan Faisol cukup deket. Tapi otakku nggak cukup buat masuk UGM. Hanya cukup di mana? lihat aja di profile-ku. he he..

  34. oalah kancane Hendro Pleret to

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s