Giliran Saya Bercinta! (4-Epilog)

Bersama berakhirnya Bulan Suci Valentine tahun ini (28 Pebruari 2009), Saya akhiri juga tulisan ini. Serial Cinta ini sebenarnya semacam resume dari saling bersurat dengan Rose. Seorang perempuan muda berlatar pendidikan psikologi. Setelah bertahun tanpa saling berkabar, saya menghubunginya lagi. Dan menjadi tahu Rose telah bekerja di semacam lembaga yang mengajar para anak autis. Di sela kerja penuh kasihnya di sebuah kantor satu sudut Jakarta itu, saya mengirim email, memberitahu bahwa hendak meresume surat tersebut dan menerbitkannya di blog ini. Sambil sangat berharap dia turut membacanya. Resume yang tak akan pernah ada tanpa kontribusi dia.

The Clue for the Glue

Love is a many spleandor thing, konon berjuta rasanya, bisa semanis madu juga sepahit empedu. Bahkan – dan menurut saya yang paling keren adalah, kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat! Sejujurnya saya agak curiga, jangan-jangan lirik lagu, bait puisi, dan apa-apa yang terkandung di dalam karya seni dengan sendirinya telah menyiratkan adanya petunjuk faktor perekat tersebut.

Sampai saat ini saya masih penasaran. Apa sih Faktor Perekat itu? Faktor yang begitu mengharu-biru kehidupan manusia, yang sedikit-banyak turut mengarahkan ke mana sejarah berjalan, pun menggerakkan laju peradaban. Yang semua itu direncanakan dan dikerjakan dari ruang kerahasiaannya. Keputus-asaan saya kadang mengajak untuk berkesimpulan singkat bahwa faktor itu tak lain adalah Tuhan sendiri.

Tapi setelah sedemikian panjang untuk ukuran tulisan sebuah blog, saya tak mau menyerah begitu saja. Meski tak sepenuhnya tepat, dan berkemungkinan salah, saya tuangkan saja pengertian sementara berikut ini;

Cinta yang manusiawi ada rasa saling memiliki (Inter-possesivity), bukan rasa memiliki (Jawa; Handarbeni). Dalam cinta yang saling memiliki tersedia juga ruang rasa cemburu (jealous), rasa iri (envious), curiga (suspicious), ingin tahu (curious) tapi semuanya harus ada dalam sebentuk takaran. Siapa yang menakar dan memutuskan? Adalah pasangan tersebut. Bisa tertulis seperti menuang Memorandum of Understanding (MOU), namun bisa tidak asal tetap saling pengertian. Itu barangkali yang disebut komitmen, yang bisa saja dikatakan sebentuk perekat. Jangan bermain cinta possesive, karena pengikatnya bukan perekat tetapi borgol.

Biarkan bunga bertumbuh. Cinta adalah asset kemanusiaan. Jangan jual atau kebiri kenikmatannya. Usah keburu mencurigainya sebagai berhala, meski berhala sendiri pun toh tak perlu kita curigai. Ketika seorang pemuda datang menawari cinta, sadarilah bahwa seiring dengan suaranya yang semakin lembut merayu, kontolnyapun semakin keras merangas. Dan itu tak apa-apa. Ketika perempuan memerah pipinya, semakin mengerut imut tubuhnya, wajar jika berbanding lurus dengan memek yang ungu merekah di antara selangkangannya. Dan itu sungguh bukan dosa. Justru waspadailah mereka yang sok semuci menawari kasih sayang dengan berkata; “Aku kagum kepada dirimu sayang, karena kamu baik”. Dan tentu juga tendang jauh yang berkata; “Waow, kamu seksee.. Ngentot yuk beibeeh!”.

Kasih sayang dan nafsu, hidangkan bersama dalam cinta. Sajikan hangat-hangat sebagai menu keseharian. Jadikan sebagai sebuah kewajaran yang berlaku buat siapa saja sesuai selera. Pria, wanita, pun yang memilih di antara atau di luarnya. Lain soal kalau itu sudah menyangkut reproduksi konvensional.

Faktor Perekat bisa jadi sebentuk rasa saling menghormati. Pernikahan, anak, dan harta gono-gini mungkin membantu langgengnya sebuah hubungan dan seperti lebih banyak benarnya, tetapi pasti bukan faktor perekat adanya. Sempatkanlah suatu hari membuka album lama Nusantara. Lihatlah potret Nenek mo
yang yang telah menurunkan generasi se-alim kita. Mengajar kita untuk menyayangi tetangga, mewejang agar arif terhadap sesama, gotong-royong, menuntun sikap saling hormat antar umat, dan seterusnya, tapi tampakkah foto pernikahan mereka? Mungkin saja ada, tapi tak-lah diutamakannya. Karena yang menjaga kualitas hidup bersama adalah yang diajarkannya, bukan segemerlap apa baju pernikahan mereka. Keabsahan surat nikah tak berfungsi apa-apa.

Mereka pernah berikrar di depan penghulu atau tidak, kita juga nyaris tak pernah tahu. Hanya tiba-tiba tersirat kabar nikah masal. Puluhan kakek-nenek yang lama hidup rukun penuh kasih, dinikahkan oleh generasi sepantar cucu-cicitnya. Sekadar agar mereka “berbaju” peradaban. Seperti baju indah yang dipakai para cucu yang menikahmasalkan mereka. Baju generasi baru yang bisa saja berfungsi menutup bekas cupang dan cipokan dari remaja anak tetangga.

Itu saja Rose

Pada akhir surat ini saya ingin menuliskan bahwa filsuf jaman dulu suka sekali berolah kata menjadi sebentuk sandi anagram. Contoh; Orang mengisahkan ada sebuah kota penuh cinta, dan karenanya diberi nama Roma. Roma adalah anagram dari Amor, Cinta. Singkirkan dulu kisah Romus dan Romulus yang konon melatari penciptaan nama kota ini. Toh kota ini tak dibangun dalam semalam. Mungkin karena dibangun banyak jalan untuk menuju ke sana, ke Roma. Amor.

Namun sepanjang usia dialog kita selama ini, bahkan sampai serial cinta ini terbit, sesungguhnya saya tak pernah tahu bersurat dengan siapa. Ini dunia maya, kita tak saling bertemu di dunia nyata. Tak ada potretpun, kamu hanya pesan-pesan virtual.

Dan Rose, namamu-pun sebuah anagram. Tentang apa yang saya tulis panjang di surat ini… (Tamat)

This entry was posted in Budaya. Bookmark the permalink.

18 Responses to Giliran Saya Bercinta! (4-Epilog)

  1. martoart says:

    AAAaaaaahhhhh!!!!…….

  2. aidavyasa says:

    he used to call me: Rosemary, M.

  3. agamfat says:

    Ahhhh cruttttt. Selesai juga sebuah tulisan panjang demi bulan suci nih.Btw, sampeyan jatuh cinta ke Erot Jaros ya mas?

  4. inyong says:

    tulisan yang menguran daya dan pikiran ya kang

  5. bbbnshoes says:

    aku jatuh cinta lagi !!!

  6. ujiarso says:

    we want more, we want more, we want more, …. mas

  7. wonderguitar says:

    martoart said: Biarkan bunga bertumbuh. Cinta adalah asset kemanusiaan. Jangan jual atau kebiri kenikmatannya. Usah keburu mencurigainya sebagai berhala, meski berhala sendiri pun toh tak perlu kita curigai. Ketika seorang pemuda datang menawari cinta, sadarilah bahwa seiring dengan suaranya yang semakin lembut merayu, kontolnyapun semakin keras merangas. Dan itu tak apa-apa. Ketika perempuan memerah pipinya, semakin mengerut imut tubuhnya, wajar jika berbanding lurus dengan memek yang ungu merekah di antara selangkangannya. Dan itu sungguh bukan dosa. Justru waspadailah mereka yang sok semuci menawari kasih sayang dengan berkata; “Aku kagum kepada dirimu sayang, karena kamu baik”. Dan tentu juga tendang jauh yang berkata; “Waow, kamu seksee.. Ngentot yuk beibeeh!”.

    HUhahauahhahahahahahahahhhhhahahhahahah…hoohkkohk..ohok…ohok….kroek….CUIH!Jalat kau Mas Martoo!!

  8. wonderguitar says:

    Yah…situ mau ngomong apa, tetep aja begitu kena eros, siapa bisa menjelaskan?semua akan tercengang dengan sengitnya!!tapi ini tulisan yang bagus… great!

  9. luqmanhakim says:

    Ngomong-ngomong, Rose itu nama pacarmu ya Cak?

  10. chanina says:

    makanya aku suka sore karena dia eros:)

  11. sepunten says:

    Semoga dia (rose) membaca dengan penuh cinta…atau jangan-jangan dia sudah membalas dan segera menerbitkan?….😀

  12. martoart says:

    >V; oooh… so sweet…>Agam: He he.. biar urusan Chrismin Hatin ato Meti Waga ajalah (mo ajak ngegosip yah…? dasar loh)>Inyong; dan jangan lupa; Sperma>Rweena; Aku juga..>Pak de Uji; He he.. emang pentas musik!>Nosa; He he… iya seeeh… sepakat!>Luqman; Bukanlah Man, dia seperti miyabimu itu, tapi dari sisi yang dikit beda… ha ha//>Gracia; Tul! main Eros sama Rose Sore-sore… rasanya saru, eh seru>Heri; Semoga her….

  13. cenilhippie says:

    martoart said: Biarkan bunga bertumbuh. Cinta adalah asset kemanusiaan. Jangan jual atau kebiri kenikmatannya. Usah keburu mencurigainya sebagai berhala, meski berhala sendiri pun toh tak perlu kita curigai. Ketika seorang pemuda datang menawari cinta, sadarilah bahwa seiring dengan suaranya yang semakin lembut merayu, kontolnyapun semakin keras merangas. Dan itu tak apa-apa. Ketika perempuan memerah pipinya, semakin mengerut imut tubuhnya, wajar jika berbanding lurus dengan memek yang ungu merekah di antara selangkangannya. Dan itu sungguh bukan dosa. Justru waspadailah mereka yang sok semuci menawari kasih sayang dengan berkata; “Aku kagum kepada dirimu sayang, karena kamu baik”. Dan tentu juga tendang jauh yang berkata; “Waow, kamu seksee.. Ngentot yuk beibeeh!”.Kasih sayang dan nafsu, hidangkan bersama dalam cinta. Sajikan hangat-hangat sebagai menu keseharian. Jadikan sebagai sebuah kewajaran yang berlaku buat siapa saja sesuai selera. Pria, wanita, pun yang memilih di antara atau di luarnya. Lain soal kalau itu sudah menyangkut reproduksi konvensional.

    uuuhhhhhhh……yeah……..aaaarrgggghhhh………..mantab!!sampeyan…..pancen oye!

  14. cinta seperti kembang gula di tangan gadis remaja…manis terasa namun mengandung banyak glukosa..salah salah malah obesitas atau diabetestapi tulisan mas marto ini telah berhasil membedah cinta hingga 90%…dan biarlah yang 10% tetap jadi misteri karena kita memang suka dengan sesuatu yg misterius…selamat bercinta mas….kereeen…

  15. martoart says:

    >Cenil; Aha ha ha.. ikutan come juga ya… >Doni; he he .. jadinya aku berlagak Allah. seperti misal menyisakan satu rahasia nama.

  16. ujiarso says:

    siapa mbak roseapple? siapa yang salah menilai siapah?

  17. wikan says:

    rose = eros = mak erot?

  18. martoart says:

    wikan said: rose = eros = mak erot?

    Erot Jaros

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s