Sri Lanka, Negeri Persinggahan Para Legenda

(Nglayap; Gagal dimuat di Media)

Lambaian dedaun jajaran rapat pohon kelapa menyambut saya di Bandar Udara Internasional Bandaranaike. Tarian anggun gugusan nyiur seakan terus menyertai saat mengarah ke selatan sejauh 30 kilometer, menuju Colombo, Ibu Kota Sri Lanka. Perjalanan di negeri inilah yang akan saya bagi-kisahkan kepada Anda. Sebuah negeri yang hutan dan lautnya menginspirasi kisah-kisah dunia.

Sri Lanka, orang Jawa dahulu menyebutnya Alengka, bangsa Melayu awal menasbihnya dengan Sailan, orang barat mengucapkannya Ceylon, dan ada yang menyebut Serendip (dari Bahasa Sansekerta; Seren Dwipa = Tanah Permata). Saya tidak ingat persis apakah karena tanahnya banyak mengandung batu mulia, ataukah karena bentuk negara pulau ini yang menyerupai bandul liontin, atau karena keindahan alamnya. Setidaknya Marcopolo mencatat Ceylon sebagi sebuah pulau cantik dalam jurnal penjelajahannya. Tapi yang pasti dari sebutan itulah kelak istilah Serendipity bermula.

Lantaran rumor tentang tanah permata itu, Sinbad Sang Pelaut menempuh perjalanan berat guna mendapatkan intan berlian. Dia harus berhasil melewati jajaran karang tajam. Barisan karang yang dilalui kapal Sinbad itu dalam peta bumi diketahui sebagai gugusan pulau kecil di Selat Palk antara India dan Sri Lanka. Dalam sebuah mitos lain, gugusan itu dianggap jembatan yang dilalui Adam untuk menyeberang ke India. Dikenal sebagai Adam’s Bridge. Kronologinya dimulai saat Adam dilengserkan dari surga gara-gara melanggar aturan Tuhan. Dia turun di sebuah puncak gunung di bagian Tengah Selatan Sri Lanka. Lokasi pendaratannya dinamai Adam’s Peak. Adam kemudian berjalan ke utara untuk kembali mendapatkan pasangan surganya Siti Hawa, hingga dia menemukan jembatan tadi. Namun riwayat yang paling populer dari kisah gugusan pulau itu adalah yang berhubungan dengan legenda invasi pasukan Sri Rama ke Kerajaan Alengka. Dalam Kitab Ramayana karya Empu Walmiki, dikisahkan bahwa Rama harus kembali mendapatkan istrinya Shinta yang diculik Rahwana. Rama membangun jembatan raksasa agar seluruh pasukan bisa menyebrang sampai Negeri Alengka. Dari kisah tersebut gugusan karang itu juga dikenal dengan Rama’s Bridge. Terbetik ide untuk bikin kisah baru; Adam dan Rama berpapasan di tengah jembatan dan terjadi pertukaran istri masing-masing. Pasti gugusan itu akan saya namai Jembatan Persahabatan.

Bajaj Berlalu Pasti

Kota Colombo menyimpan keindahan laten. Keindahan membuatnya terkenal. Lidah Wang Ta Yuan, pedagang Cina abad ke-14 mengucapnya dengan Kao Lan Pu, namun lidah Ibnu Batuta yang saudagar Arab mentartil Calenbau. Saya menginap di Hotel Face Galle sebuah hotel dengan arsitektur klasik yang sengaja dipertahankan sejak kolonialisasi Inggris. Dibangun pada tahun 1864, termasuk dalam daftar hotel-hotel tertua di Asia. Sudah banyak para pesohor dunia tercatat dalam buku tamu hotel ini. Sebut saja; Roger Moore salah satu pemeran Agen Inggris berkode 007-James Bond, Pangeran Sadruddhin Aga Khan, Putri Kerajaan Denmark Alexandra, Yuri Gagarin orang pertama yang mengorbit angkasa luar, dan Presiden Yogoslavia Joseph Broz Tito. Bahkan Arthur C. Clarke, menyelesaikan bab terakhir karya fiksi ilmiahnya “3001 – The Final Odyssey” di Hotel ini.

Banyak bangunan peninggalan Inggris masih terjaga. Saya seakan bisa merasakan Jakarta tahun 60an. Bedanya bangunan tua kita sisa peninggalan Belanda. Bagunan tua dan kota ini sekaligus menjadi habitat nyaman bagi ribuan burung gagak. Mobil tua banyak merayapi jalanan. Tetapi sang raja jalanan adalah Three Wheels alias Tuk-Tuk. Orang kita menyebutnya Bajaj meskipun mereknya bisa saja lain. Bajaj Colombo lebih lapang dan tanpa daun pintu. Penumpang bisa masuk dari sisi kanan atau kiri. Ada bagasi, full music, dan tidak berisik. Warna tidak hanya didominasi oranye seperti kita punya. Tuk-Tuk juga dipakai sebagai alat angkut barang. Di beberapa ruas jalan saya melihat ada yang dipakai oleh UPS, melaju mengirim pesanan KFC, dan melesat dengan box berlogo Fuji. Tak terlihat Three Wheels yang dekil, apalagi mogok di jalan. Semua lancar berlalu. Jangan-jangan setiap Three Wheels yang rusak akan tereliminasi dan harus dibuang di Jakarta.

Arena Pertarungan Singa dengan Macan

Saya hanya mengunjungi wilayah pedalaman bagian selatan. Karena Sri Lanka bagian timur laut ke utara dikuasai Pasukan Pembebasan Rakyat Macan Tamil (LTTE). Untuk masuk wilayah mereka urusannya ribet Saya malas dengan itu. PBB menyatakan Tamil Elam sebagai kelompok teroris paling terorganisir. Reputasi tersebut telah digusur oleh Al-Qaeda setelah peristiwa WTC. LTTE bahkan memiliki armada tempur udara dengan kekuatan – yang terdata – dua pesawat jet penyerbu rakitan sekelas F-16 Tiger Shark. Pesawat rakitan yang komponennya hasil selundupan itu bahkan pernah dipakai menyerang Colombo. Pasukan Macan mengatakan sekadar membalas karena Sinhalese (Pasukan Singa), yaitu tentara Sri Lanka membunuh perempuan dan anak-anak Tamil. Sementara propaganda yang dilansir pihak pemerintah adalah bahwa Tamil Elam melanggar Traktat Jenewa karena memobilisasi anak-anak menjadi tentara. Itulah perang, semua pihak mencari benarnya sendiri, gencatan senjata tidak dihormati, dan bahkan tsunami tidak mampu meruahkan damai di negeri ini seperti di Aceh. Menurut pemandu saya, masih sering terjadi adu cakar antara macan dengan singa di pedalaman.

Daripada paranoid, saya mampir di sebuah kios tepi jalan untuk sebotol bir dingin. Susah mendapat Tiger Beer yang diimpor dari Singapura. Ada kegamangan terpendam seakan bir cap macan itu representasi greliyawan Tamil. Padahal ada aturan spiritual yang ketat dalam tubuh LTTE untuk tidak minum alkohol. Entah disengaja atau tidak, bir produksi Sri Lanka bermerek Lion alias bir cap singa. Ah, kalau saja ada Bintang di sini.

Budha Kita Tak Mampir Di Kandy

Saya mengunjungi Tooth Temple of Budha di Kandy. Candi di mana konon gigi bungsu Budha tersimpan. Pria harus bersarung untuk masuk kawasan candi. Kita bisa membelinya di kios-kios tepi jalan. Saya tertarik pada salah satu ruangan di mana tertata 14 patung Budha dari berbagai negara yang penganut Budhanya cukup besar. Pertama saya kecewa karena Budha perwakilan Indonesia tak dihadirkan. Dengan nada sedikit protes, saya menyampaikan bahwa ada candi Budha terbesar di dunia yang masih berfungsi sebagai tempat peribadatan. Namanya Borobudur dan itu ada di Indonesia. Saya juga menceritakan bahwa universitas agama Budha bersekala dunia pernah berdiri di Palembang pada jaman Kerajaan Sriwijaya. Tapi jadi malu hati setelah pemandu museum mengatakan bahwa itu semua sumbangan dari pemerintah masing-masing negara. Dan sontak juga gamang dialog ini saya tuturkan di sini. Khawatir menjadi pemicu niat jahat pencuri benda purbakala untuk menculik Budha Borobudur dan menjadikannya Budha Kandy ke-15.

Dari Kandy saya plesir di Royal Botanic Garden (RBG) Peradeniya. Sebelumnya RGB pertama dibangun pada tahun 1812 di Slave Island, Colombo. Pembangunan ini diusulkan oleh direktur RGB Kew, London Sir Joseph Banks dua tahun sebelumnya. Gara-gara kebanjiran, tahun 1813 dipindah ke Kalutara. Kemudian tahun 1821, RGB menempati lokasi terakhirnya di sini. RGB Peradeniya memiliki koleksi lebih dari 4000 spesies tumbuhan. Dari semuanya yang paling memukau saya adalah sebatang pohon raksasa dari keluarga beringin (Ficus Benjamina). Rentang percabangannya memayungi tanah sekitar hingga 1.800 meter persegi. Ironisnya, pohon yang juga dikenal dengan nama Java Fig Tree atau Java Willow ini tidak akan kita temukan di Pulau Jawa.

Apapun Tehnya, Nuwera Eliya Ahlinya

Nuwera Eliya, dataran tinggi yang berselimut perkebunan teh. Teh ditanam di perbukitan Sri Lanka pada tahun 1867 oleh James Taylor, seorang ahli tanaman dari Skotlandia. Seiring bertumbuhnya perkebunan teh di kawasan ini, tumbuh pula vila dan klub-klub mewah berarsitektur Inggris klasik khususnya di Nuwera Eliya. Maka pantaslah orang menyebut Nuwera Eliya sebagai Little England. Hotel kecil di mana saya menginap juga terlihat kental arsitektur bergaya Victoriannya. Sayang saya lupa nama keindahan itu. Selain telah menjadi trade mark, teh adalah budaya tersendiri bagi orang Sri Lanka. Menurut mereka, cara menyeduh teh yang benar adalah menuanginya dengan air setelah mendidih kedua. Tapi lain teh, lain pula suhunya. Teh oolong (teh yang tumbuh di daerah subtropis) dan teh hitam butuh 90 – 100 derajat celcius, sedang teh hijau cukup 60 – 80 derajat celcius. Dengan begitu akan terjaga rasa dan khasiat teh berdasar jenisnya. Tanah Sri Lanka juga menumbuhkan berbagai herbal eksotis yang biasa diramu bersama minuman ini. Banyak spice garden – semacam apotik hidup – dikelola di pedalaman negeri ini sebagai obyek wisata agro tourism. Sepulang dari Nuwera Eliya saya menyempatkan mampir di sebuah spice garden di Hiriwadunna, Kegalle untuk pijat pegal dan minuman herbal.

Serba Gila Di Galle

Petang hari sampai juga saya di pesisiran. Galle, pantainya hanya menyisakan sedikit kecantikan pasca dilahap kegilaan tsunami. Seorang room boy berambut dreadlock rasta mengisahkan kesedihan akibat bencana itu. Saat kejadian, air mencapai lantai dua Hotel Dhammika di mana saya menginap. Dia selamat karena memanjat menara air di lantai tiga, tapi adiknya di rumah hilang terbandang. Aneh juga, ada sedikit rasa bersalah meski gulungan ombak dari Samudra Indonesia itu bukan sa
ya yang mengirim. Saya menawari sebatang rokok kretek coba menghapus duka meski itu muskil. Ternyata dia suka dengan rokok kita karena kandungan cengkihnya. Cukup mengherankan, saya tidak pernah mendapati kretek di negeri dengan keragaman herbal sekaya ini. Tak lama kawan rasta saya mengeluarkan salah satu kekayaan herbal dari kantongnya. Digulungnya dengan padat dan tebal dalam selembar papir. Delapan linting tercipta untuk kami berdua malam itu. Cukup ampuh melepas segala kesedihan. Yang ada justru kami terus tertawa bahagia.

Siang hari saya meninggalkan Galle. Kembali ke Colombo dengan kereta api tua yang berlari gila. Rel kereta menjalari sepanjang garis pantai, sehingga saya bisa menyaksikan sisa-sisa puing bangunan akibat terjangan gelombang. Sisa kebahagiaan semalam membuat otak ngelantur; Kalau saja waktu itu yang dikirim tsunami Aceh adalah kekayaan herbalnya…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

28 Responses to Sri Lanka, Negeri Persinggahan Para Legenda

  1. luqmanhakim says:

    Asik banget bisa ke Srilanka, Mas. Ngiri aku, he he he… Dalam rangka apa?

  2. martoart says:

    Ini tulisan lama saya. Peta saya olah dengan photoshop. Gambar Galle Face Hotel dari brosur hotel. Dua foto terakhir (Adam’s Peak dan Pantai Galle) saya ambil dari buku traveling. Dan sisanya hasil motret sendiri dengan keterbatasan kemampuan fotografi serta kamera fujica jadul seluloid saya. Juga ralat pada singkatan RGB, yang benar RBG.

  3. luqmanhakim says:

    He he he… Biar gitu tetep menarik bisa sampe negeri orang. Btw ngomong keluar konteks Srilanka nih, Mas Marto masih inget jurnal “National Press Attacker” nggak? Pasti masih lah, lah wong sampeyan tim di situ juga, he he he… Di tahun itu momentum pas aku keluar dari dunia jurnalistik dan pindah ke kreatif, sekarang lagi aku baca lagi.Kangen euy sama dunia itu, tapi badan emang nggak mendukung, jadi nulis cuma buat blog aja… Hiks!* Halah! Kok ya malah curhat! Ha ha ha…

  4. martoart says:

    He he… Luqman asal tuduh…

  5. buneyasmin says:

    Ayo Mas cari caramenculik Budha di Borobudur agar bisa disandingkan dengan Budha2 lainnya di Kandy?

  6. vanribal says:

    Thanks news nya bro.

  7. bbbnshoes says:

    Wah bune malah ngasi ide, bisa jd radyapustaka jilid 1-2 lho..kekeke

  8. agamfat says:

    Alengka dulu dianggap negeri raksasa yang jahat ya oleh India….Memang sejarah ditulis sesuai perspektif pemenang.Kalau versi Srilanka, bagaimana penggambaran perangg Srilanka vs. India ini?

  9. martoart says:

    Buat Yasmin; He he,.. tul kan? ada yang mulai tertarik jadi penculik Buddha. Tapi masih mending daripada diledakkan kayak dulu itu.Buat Vanribal; Yep, sama-sama. sekadar berbagi piknik n menyajikannya dalam gaya jurnal.Buat Erwina; Kutunggu laporan perjalanan Osakanya. Boleh culik satu Shintaro buatku.Eh, Geisha.Buat Agam; Tul Gam, aku ngobrol dengan pemanduku. Yah, dapat ditebak; Sang Pahlawan adalah Rahwana alias Dasamuka. Sekalian nambahin kekisah; Bahwa Rama tuh pecundang sejati. Doi menginginkan kembalinya Shinta bukan untuk Shinta, tapi demi harga dirinya sebagai pemimpin. Eh, pemimpin cem mana pula yang ngerahin ribuan kera (metafor untuk kaum dravidian Tamil Nadu) demi menegakkan harga diri? cwuieh! Rupanya Wibisana yang desersi itu gak paham sejarah juga. Sementara, betapa tampak suci cintanya si Rahwana, meski menyekap Shinta 13 tahun lamanya, tapi tak main rudhapaksa. Tak lelah merayu dan mengingatkan betapa mereka sebenarnya titah yang dipisahkan lantaran salah penitisan (tragis ya). Bisa gak membayangkan betapa berat cobaan Rahwana yang diciptakan berwujud setengah raksasa dan pasti bernafsu birahi membahana. Dia harus mampu menahannya. Padahal dengan kekuasaannya, sungguhlah pasti dia bisa berbuat apa saja terhadap Shinta. Nah, saat ada satu hari Shinta lepas dari penjagaan Sarpakenaka, satu hari itu yang selalu menjadi dasar keraguan Rama atas kesucian Shinta. Maka, gak ada kata lain yang pantas kita ucapkan kepada lelaki macam Rama; Ngepet lu! Pemanduku senang dengan penjelasanku ini.

  10. agamfat says:

    Lho jadi kang Marto ini yang menerangkan sejarah versi Alengka ini?Jadi tertarik dengan Mahabarata lagi.Orang India ternyata sangat arogan dan rasis. Orang Tamil yang hitam dianggap kera.Dimana ada penjelasan Mahabarata dalam perspektif yang lebih berimbang dan acuannya dalam sejarah dua negara itu?

  11. flogarden says:

    tulisannya keren Om, memprovokasi org utk ikutan. yg Yunani blm ya?yg gila di Galle, “lintingan” apaan ya yg bs bikin org ketawa terus? kyknya aku tau deh..pernah siy hihi…

  12. klewang says:

    martoart said: Padahal dengan kekuasaannya, sungguhlah pasti dia bisa berbuat apa saja terhadap Shinta.

    alengka sendiri digambarkan sebagai negeri yang makmur sejahtera. berarti kan hasil dari kepemimpinan yang bijak serta adil dan kualitas masyarakat yang berperadaban tinggi.hebat kan Rahwana tuh

  13. aidavyasa says:

    ini tulisan enak dibacanya ya … :)kayak diceritain ma yang nulis …palagi kubacanya pas lingsir wengi gini

  14. isrol says:

    piye carane nginvite…………….

  15. martoart said: Ah, kalau saja ada Bintang di sini.

    Mau jadi supplier-nya, Mas? Aku kenal sales yang suka supply Kama Sutra, hehehe…

  16. agamfat said: Orang India ternyata sangat arogan dan rasis. Orang Tamil yang hitam dianggap kera.

    Ane sepantat, eh…sepakat ama ente.Sampe sekarang ada loh di India tu kasta yang lebih nista dari Sudra. Pernah ane baca di National Geographic lama (taun 80-an), en dibahas lagi di Metro TV beberapa bulan lalu. Anjing aja masih diperlakukan lebih manusiawi ketimbang mereka. Orang-orang tu cuman bole kerja kotor: bersihin selokan, ngurus mayat, nyamak kulit (yang bau satu pabrik aja bisa bikin klenger orang sekampus), bahkan PSK gratisan buat para Brahmana. Kalo jalan ketemu kasta-kasta yang lebih tinggi, harus sembunyi karena ga pantes tunjuk muka. Kalo lewat perumahan kasta-kasta yang lebih tinggi, harus muter jalannya. Makan harus makanan sisa, yang biasanya ditaruh di sebelah tempat sampah samping rumah. Kalo ada yang mo ngasi baju ato sabun, harus dilempar, karna ngomong langsung sama mereka tu aib. Bayangin, kayak gitu seumur idup, turun-temurun, lagi…Tapi bakal susah ngasi pengertian ke mereka, karna mereka percaya tu hasil reinkarnasi mereka yang konon kurang dharma di kehidupan sebelumnya.

  17. cenilhippie says:

    martoart said: Itulah perang, semua pihak mencari benarnya sendiri, gencatan senjata tidak dihormati

    #warisover🙂 *hope

  18. cenilhippie says:

    martoart said: Digulungnya dengan padat dan tebal dalam selembar papir. Delapan linting tercipta untuk kami berdua malam itu.

    yummy……:D

  19. martoart said: Sri Lanka, orang Jawa dahulu menyebutnya Alengka,

    tuh kaaaananty baru tau lagiiikemana aja ntyyyyy:(makasih om sudah posting ini aku jdi tau

  20. martoart said: Tapi yang pasti dari sebutan itulah kelak istilah Serendipity bermula.

    ini jugaoh maaaaaiiii

  21. martoart says:

    Word Origin & History serendipity.The name is from Serendip, an old name for Ceylon (modern Sri Lanka), from Arabic Sarandib, from Skt. Simhaladvipa “Dwelling-Place-of-Lions Island.” Serendipitous formed c.1950. (Online Etymology Dictionary, © 2010 Douglas Harper )Tampak Online Etymology Dictionarypun aja luput mengambil Sanskritnya, yang seharusnya Serendwipa. Jadi kalo ponakan baru tahu juga ga papa.. he he

  22. martoart says:

    Nah orang Jawa tepatnya bilang ‘Ngalengko”

  23. aku pernah nonton serial angling dharmo apa apaaa gitu yah di tipi… *lupa*ceritanya si raja ngomongin alengka direja…makanya pas baca ini aku jadi gini: “oooo… oooo gituuu,ooo baru tau”*tampak bodoh*

  24. martoart says:

    cinderellazty said: alengka direja…

    Kerajaan besar dan hebat ini adalah milik Rahwana alias Dasamuka. Sedikit gambaran, sila klik; http://martoart.multiply.com/journal/item/116/Mengeja_nasionalisme_wayang_mengejar_narsisme_maya_

  25. penuhcinta says:

    Banyak banget trivia-nya Cak. Beda kelas memang dengan ibu2 yang cuma bisa cerita itu-itu saja saat menulis catper-nya…he…he.

  26. martoart says:

    penuhcinta said: Beda kelas memang dengan ibu2 yang cuma bisa cerita itu-itu saja saat menulis catper-nya

    lain penulis, lain gaya dan cara. Ini disiapkan buat majalah, tapi gak laku.. he he

  27. penuhcinta says:

    martoart said: lain penulis, lain gaya dan cara. Ini disiapkan buat majalah, tapi gak laku.. he he

    Majalahnya yg ndablek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s