Obituary; www.indonesia.faithfreedom.org

Mulai hari ini tanggal 19 Nov 2008, admins/moderators menutup forum ini demi terciptanya keharmonisan beragama di Indonesia. Forum ini adalah milik dan dikelola oleh http://www.faithfreedom.org, Dr. Ali Sina. Dengan ini admins/moderators tidak lagi terlibat dalam bentuk apapun dalam forum ini, dan meminta maaf bila kehadiran forum ini telah meresahkan masyarakat Indonesia.

Pengumuman itu yang saya dapat saat membuka situs tersebut.

Memang menyebalkan acara blokir-memblokir situs, tapi tak lebih menyebalkan dari sikap paranoid yang menghasilkan keputusan untuk memblokir diri-sendiri. Sikap yang mengakomodasi ketakutan dan pada saat yang sama sekaligus memberi ruang meliarnya semangat fasisme, dalam hal ini fundamentalisme religius.

Ada beberapa hal yang tak pelak harus mengarahkannya ke arah sana;

Pertama adalah kalimat “demi terciptanya keharmonisan beragama di Indonesia”. Seakan dengan menutup situs ini, kedengkian laten antar umat beragama segera sirna. Hal yang mokal. Kedengkian itu sudah berbilang abad, mendarah daging, bahkan seolah tercetak secara genetik. Orang bisa saja saling membenci tanpa tahu kenapa harus membenci. Namun begitu, saya bisa memaklumi sikap yang diambil meski pihak admin/moderators meski dengan alasan yang sesungguhnya tidak bisa saya pahami.

Dalam logika saya, untuk menciptakan harmoni antar iman adalah justru membangun jembatan di atas aral. Bukan merubuhkannya. Komentar yang pasti muncul adalah memang lebih pada siapa yang membangun jembatan itu, kelakuan para penggunanya yang tak tahu aturan penyeberangan (seperti menebar komik zonder tepa-slira, juga sebaliknya yang mencaci-maki iman Kristiani), dan upaya saling mendominasi serta menguasai jembatan. Sudah pasti itu hal yang sungguh menyesakkan. Namun begitu bukanlah berarti harus memortal jembatan demi kenyamanan. Kemudian, saya secara pribadi memang tak selalu bersepakat dengan Dr. Ali Sina, tapi juga tidaklah bijak menutup akses pemikirannya.

Kamar pekat tertutup rapat membawa penasaran, lalu mencipta hantu. Saat pintu dibuka, menyeruak terang cahaya, bahkan rupanya ada coklat hangat di atas meja”.

Ke dua adalah kalimat “Dengan ini admins/moderators tidak lagi terlibat dalam bentuk apapun dalam forum ini”. Saya tidak tahu apa yang menyebabkannya menyatakan ini. Hanyalah mengira-ira hal itu adalah buah ketakutan pihak admins/moderators atas peningkatan akselerasi semangat Islam garis kekerasan di negeri ini. Ditambah surat wasiat kematian Trio Bali Bomber yang beraroma kematian. Atau saya curiga bahwa pihak admins/moderators sudah tahu bahwa republik ini tak lama lagi akan menjadi khilafah. Bagaimanapun saya tetap menaruh penghormatan kepada pihak admins/moderators yang setidaknya telah pernah memberi kesempatan kebebasan berpikir, hingga sampai menentukan sikap self blocking.

Ke tiga pada kalimat yang sungguh tidak perlu “Dan meminta maaf bila kehadiran forum ini telah meresahkan masyarakat Indonesia”. Meminta maaf untuk telah meresahkan? Siapa (saja) yang resah sesungguhnya, dan apa pengertian resah dalam konteks ini. Untaian kalimat itu sangat bersuasana terstigma oleh mendiang Orde Baru. Untung saja tidak ditambah “demi stabilitas dan keamanan bangsa”. Menerjemahkan debat dan polemik sebagai keresahan masyarakat dan ketidakstabilan bangsa adalah warisan pembodohan. Ketakutan akan perbedaan hanya akan membangun sikap anti kedewasaan, dan penyeragaman adalah awal dari terpuruknya peradaban yang mencerdaskan.

Saya percaya bahwa setiap orang – khususnya pengguna internet dan yang memanfaatkan teknologi informasinya – bukanlah kumpulan manusia tolol. Pasti masing-masing memiliki bekal saring untuk menolak dan atau menerima apa-apa yang tersaji. Pada dasarnya, sikap penguasa (bisa siapa saja) yang menganggap bodoh yang dikuasai (juga bisa siapa saja) adalah kebodohan tersendiri. Ibarat monyet yang malas melanjutkan evolusinya ke tingkat yang lebih tinggi karena telah merasa nyaman bergayut di pepohonan. Kemudian menjaga anaknya agar selalu hati-hati, yang itu justru membuat dia tidak tanggap bahaya sejati.

Turut Berduka-cita.

This entry was posted in Censorship. Bookmark the permalink.

36 Responses to Obituary; www.indonesia.faithfreedom.org

  1. martoart says:

    setelah capek berurusan dengan Javascript, tulisan ini akhirnya berhasil saya posting berkat seorang guru yang dia sendiri gak tahu aku curi ilmunya; Sovia, di Dunia Iwana. trims ya.

  2. zenstrive says:

    kebebasan berpikir tidak identik dengan kebebasan menghina

  3. orangketiga says:

    martoart said: setelah capek berurusan dengan Javascript, tulisan ini akhirnya berhasil saya posting

    wah, kayanya justru ini yang saya pengen nanya. itu kenapa sih mas? saya juga sering diganggu ini, dan harus edit dari awal lagi.*ga nyambung*ah, gejala kita memang sedang mengkhawatirkan akhir2 ini. lihat saja kasus ‘Lastri’. Cape dehh. Mau komen sok bijak pun tak sanggup awak.*ini baru nyambung*

  4. agamfat says:

    Abu Bakar Ba’syir jadi adminyya saja.Btw, jangan2 ditutup karena habis duit buat hosting….. Alasannya kemudian dibikin heroik hahaha….

  5. bbbnshoes says:

    iya mas, saya pengguna internet..dan saya tidak tolol !!

  6. zulfigitu says:

    zenstrive said: kebebasan berpikir tidak identik dengan kebebasan menghina

    Yang ini saya sepakat…Saya memang blm bisa memahami benar2 apa yang terjadi di dalam forum tsb..Tapi, hemat saya dengan penutupan ini semoga bisa meminimalisir konflik yang sangat mungkin terjadi…

  7. vistamylive says:

    martoart said: Saya percaya bahwa setiap orang – khususnya pengguna internet dan yang memanfaatkan teknologi informasinya – bukanlah kumpulan manusia tolol. Pasti masing-masing memiliki bekal saring untuk menolak dan atau menerima apa-apa yang tersaji.

    Tapi dalam konteks agama beda bung. masalahnya terletak pada singgung menyinggung agama dan saling merendahkan antara umat yang satu ke umat yang lain. masa sih agama yang di singgung dan merasa di lecehkan , direndahkan hanya berdiam diri saja..? sangat naif sekali. inilah saya rasa sikap tanggap pemerintah untuk mengingatkan sang pemilik situs untuk lebih berhati-hati karena Agama adalah Hak Setiap Individu yang tertanam di hati dan selalu junjung tinggi oleh pemeluknya kalau Agama ini di singgung maka akan terjadi benturan dan bisa berlanjut pada pertumpahan darah. wajar saja pemerintah melakukan ini semua untuk melindungi keharmonisan umat beragama bukan bermaksud seperti zaman orde baru Memang orang yang memanfaatkan internet bukan orang tolol tapi akan lebih tolol, munafik dan biadab kalau dia salah dalam memanfaatkan teknologi itu

  8. deyoyok says:

    abusus non tollit usum – misuse does not remove use ?

  9. flogarden says:

    sorry Om, blm pernah maen ke “rumah” dr. Ali Sina….yg ku bingung, kenapa mesti kaget dgn “pemborgolan” kyk gini?

  10. martoart says:

    Sepertinya akan menjadi efek dominio, dan tampaknya saya harus akan terus berduka cita akan hal ini; satu lagi situs ditutup. Situs yang memuat komik “meresahkan” itu. Saya pun akan berduka bilamana media semacam sabili, swara muslim, dsb ditutup dengan alasan yang sama, meski gak banyak sepakat dengan isinya.Buat Zentrive; Saya setuju, tapi yang dimaksud “menghina” juga harus lebih jelas dulu. Ada yang over sensitive, namun juga ada yang bebal.Buat Orket; Yah, aku lupa alamatnya, doi pintar menjelaskan. coba cari dari namanya aja; Sovia atau Dunia Iwana.Juga berduka buat om Erros.Buat Tefran; Thx. akan terus berlanjut nih.Buat Agam; Bisa aja.Buat Erwina; Saya tolol dalam menggunakan internet. maklum bukan orang IT. hehe..Buat Zul; Setahu aku belum terjadi konflik gara-gara situs itu deh. Dan “meminimalisir” itu kata untuk setelah terjadi. Mungkin maksudnya “mengantisipasi” ya?Buat Vista; Penganut agama yang merasa tersinggung, terlecehkan, dan direndahkan jangan hanya berdiamdiri saja. Hendaknya menggunakan fasilitas hak jawab dimedia yang bersangkuta. Dengan cara yang bijak dan cerdas. Orang lain yang akan menilai pendapatnya siapa masuk akal. dan itu tidak naif sekali.Buat Yoyok; Wah aku gak ngerti maksude.Buat Ratu; gak kaget, cuma sebel.

  11. vistamylive says:

    martoart said: Buat Vista; Penganut agama yang merasa tersinggung, terlecehkan, dan direndahkan jangan hanya berdiamdiri saja. Hendaknya menggunakan fasilitas hak jawab dimedia yang bersangkuta. Dengan cara yang bijak dan cerdas. Orang lain yang akan menilai pendapatnya siapa masuk akal. dan itu tidak naif sekali.

    kalau menyelesaikan dengan jalan damai saya setuju, kalau jalan untuk mencari pembenaran suatu agama saya rasa tidak bisa. jadi bukan jalas cerdas yang dipilih tapi jalan damai untuk menyelesaikan masalah.

  12. Soal memblokir media memang tidak bijak kang…Tapi aku yakin mengatur sebuah bangsa yang begini besar tidaklah cukup sederhana… memblokir… atau tidak memblokir media yg sedang bermasalah… tentu masing-masing punya konsekwensi baik buruk…Soal hak jawab…Memang yg dihina punya hak jawab…Tapi tidak menjawab sekalian juga tidak apa-apa…Kalo memang niatnya menghina, kan gak perlu dijawab…kalo memaksakan diri menjawab hinaan malah jadi tidak bijak…

  13. rixco says:

    doniriwayanto said: Tapi tidak menjawab sekalian juga tidak apa-apa…Kalo memang niatnya menghina, kan gak perlu dijawab…kalo memaksakan diri menjawab hinaan malah jadi tidak bijak…

    Kesabaran orang ada batasnya mas..! apalagi masalah agama. soalnya agama ini sangat riskan dan sumber ketegangan kalo di picu

  14. klewang says:

    walah, belum lagi sempat lihat isinya..

  15. utopianblues says:

    aku juga blum tahu isi situsnya. tapi kalo situs internationalnya kok sepintas seram ya kang.

  16. unclebowl says:

    martoart said: setelah capek berurusan dengan Javascript, tulisan ini akhirnya berhasil saya posting

    ini kalo ngga salah problem abis copy-paste dari Word bukan? saya dulu juga sempat bermasalah mas, sebelum tahu kalau harus dinetralkan dulu javascript/css nya via notepad. teknologi memang menyebalkan, hehe.ah, lagi-lagi karena agama:D

  17. martoart says:

    Buat Vista; Bukankah itu juga yang aku maksud? Apakah jalan damai itu bukan jalan yang cerdas? Rasanya kalo baku fisik itu yg gak cerdas. dan pasti gak damai. Buat Doni; Iya don, mengatur bangsa yg sangat kompleks spt Ind emang gak sedrhana. Harus tak lelah cari solusi. karena itu nunjukin niat yg baik demi kemajuan bangsa, makanya jangan pilih cara paling “sederhana”; blokir.Buat Rixco; Saya sepakat, juga sepakat dengan yang bilang sebaliknya; ketidak sabaran orang ada batasnya. Itu perlu dilatih, dan konon agama bisa ngajarin itu; “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Al- Baqarah 153),”Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (Timotius 2:10), dan “Wong Sabar Gedhe Wekasane” (Filsafat Jawa).Buat Klewang n Uthopian; Ha ha… kurang gaul lu pade. he he..Buat UB; Iya, kalo pake cara itu, aku gak tahu apa gambar bisa juga ya? tapi sepertinya di situs sang guru virtual itu juga ada penjelasan yg lebih rinci.Ya.. agama. Uhh.!

  18. Soal kesabaran:Katanya sih…. sabar itu tidak terbatas… kalo terbatas namanya bukan sabar…kalo memang yg menghina sudah keterlaluan dan perlu ditegur atau diingatkan…ya tetep ditegur dan diingatkan… tapi sekali lagi… tetep dengan kesabaran…apakah mudah?ya tentu tidak….apakah bisa?mengapa tidak….

  19. lukassakul says:

    agama cukup untuk untuk membenci tdak untuk mengasihi (benar ato salah ?????)

  20. zzod says:

    lukassakul said: agama cukup untuk untuk membenci tdak untuk mengasihi (benar ato salah ?????)

    apapun agama-nya… bahkan seorang atheis… seorang Hater akan TETAP jadi seorang Hater……andai dia berpindah-pindah agama… dia akan TETAP jadi seorang Hater……cuma BERPINDAH KUBU saja… ^_^

  21. rixco says:

    martoart said: Buat Rixco; Saya sepakat, juga sepakat dengan yang bilang sebaliknya; ketidak sabaran orang ada batasnya. Itu perlu dilatih, dan konon agama bisa ngajarin itu; “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Al- Baqarah 153),”Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (Timotius 2:10), dan “Wong Sabar Gedhe Wekasane” (Filsafat Jawa).

    tapi, semua kembali ke ajaran agama masing-masing..! bagaimana mendidik umatnya agar bisa bersikap toleransi, antar sesama agama hidup rukun dalam satu kesatuan (negara). tapi saya tetap pada pendirian saya yaitu “sabar ada batasnya” apalagi agama yang kita anut tapi Jalan Damai yang harus di Tempuh Bukan Jalan Pembenaran atau membela suatu agama untuk menutupi kesalahannya

  22. buneyasmin says:

    Orang yang suka menghina dan gak toleran pada agama/etnis/apapun yang beda dengan dirinya, pasti kurang kasih sayang di masa kecil…

  23. blackdarksun says:

    ikut baca aja, gak komentar….nanti lewat chat aja komennya……..

  24. martoart says:

    Borongan buat Doni, Lukas,Zzod, Rixco, Yasmin;Akhirnya toh memang semua terkembali kepada masing-masing orangnya (begitu kan jawaban normatif yang – sangat – biasa kita dengar?)Itu soall Penyabar dan Pembenci, soal Keberagamaan-atau tidak, juga soal toleransi.Persoalannya; Apakah sifat dan sikap itu genetik atau bukan. Konon yang pengaruh lingkungan/sosial dapat kita ubah, dan yang genetik susah (dengan penemuan baru teknologi pemetaan Genom, mungkin cepat atau lambat bisa teratasi. Tentu kita gak perlu nunggu sampai hasilnya paripurna). Kita juga tidak perlu bela habis-habisan (taklid) bahwa ajaran agama pasti benar. Saya ingat Ayatullah Qomaeni pernah berkata bahwa, bahkan ibadahpun bisa membawa kejalan ketidakbenaran. So, memang mau tak-mau harus kembali pake jawaban normatif di atas.Tapi tetap pakai jalan bijak aja lah ya (jalan yang cerdas dan damai dong).

  25. martoart says:

    Buat putri; Kutunggu…

  26. blackdarksun says:

    martoart said: Buat putri; Kutunggu…

    udah ditunggu, gak nongol………

  27. wiloemanies says:

    Oh sudah diblokir ya? Padahal kurang dari seminggu yang lalu habis menengok kesana…

  28. wiloemanies says:

    Tuhan tidak perlu dibela… Tanpa manusia, Tuhan mampu eksis… Jika Tuhan mau, Dia bisa mencabut nyawa manusia yang tidak Dia kehendaki eksis di dunia ini tanpa bantuan seorang manusiapun.”Membela” Tuhan denan melakukan pembunuhan terhadap “musuh” Tuhan merupakan penghinaan terhadap superioritas Tuhan.So, menurutku segala macam pertikaian, pembunuhan dan peperangan yang mengatasnamakan Tuhan sebenarnya adalah membela agama sebagai wadah eksistensi dirinya/ golongannya di dunia ini.

  29. aidavyasa says:

    martoart said: setelah capek berurusan dengan Javascript, tulisan ini akhirnya berhasil saya posting berkat seorang guru yang dia sendiri gak tahu aku curi ilmunya; Sovia, di Dunia Iwana. trims ya.

    ternyata aku tau dari siapa aku seperti ini (hayaaah!!).biarkan aku jadi muridmu, plz …

  30. aidavyasa says:

    kirakira, apa sih gunanya tuh komik?hayo dicari … apagunanya ….paling-paling untuk menunjukkan kualitas seseorang semua kejadian khan fungsinya untuk itu.

  31. isrol says:

    ….yao……………..mase……..ini sekedar invite aja…………….

  32. martoart says:

    Buat Dhiajeng; Tuhan diKO Ali Sina, Ali Sina diKO pemblokir, Pemblokir, mungkin dia tuhan sebenarnya.Buat V; Daftar murid apa dah siap bayar uang gedung n SPPnya? He he..Sepertinya komik itu juga dipake buat senjata sih.Buat Isrol; Kalo mo invite sepertinya gak lewat ini. Ini bukan Invite tapi Infiltrasi. heheheh…

  33. aidavyasa says:

    martoart said: Buat Dhiajeng; Tuhan diKO Ali Sina, Ali Sina diKO pemblokir, Pemblokir, mungkin dia tuhan sebenarnya.

    *bruuuk!*Psssttt … jangan keras-keras … ntar kedengeran …

  34. martoart says:

    kekeke… (leh-oleh)

  35. agus1 says:

    buneyasmin said: Orang yang suka menghina dan gak toleran pada agama/etnis/apapun yang beda dengan dirinya, pasti kurang kasih sayang di masa kecil…

    Setuju.:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s