Selamat Hari Pahlawan

Agak gamang menulis ini. Saya bingung, hendak mengucapkan selamat kepada apa, atau siapa. Kalau kepada sejarah, tentulah mengacu kepada Hari Pahlawan 10 Nopember. Tanggal di mana para pejuang Indonesia bertempur melawan Belanda di Surabaya. Kalau mengacu kepada kekinian, seharusnya judul menjadi; “Hari Yang Susah Mencari Pahlawan Penyelamat”. Kalau mengacu kepada Pahlawan, siapa yang layak kiranya? Menelisik siapa mereka yang gugur atau yang belum saat pertempuran besar itu pasti sulit. Bisa saja pecundang menjadi pahlawan, atau sebaliknya. Namun yang pasti lebih sulit adalah mencari pahlawan penyelamat di hari-hari ini.

Lupakan. Mungkin memang bangsa ini tak butuh lagi pahlawan. Untuk menjadi pahlawan, saat ini hanya dibutuhkan semampu apa anda menjadi pemenang. Mayat perampok minyak bisa saja jadi pahlawan. Dan merasa pantas dikubur di Taman Kalibata. Pembunuh jahat melumat umat bisa saja ditasbih sebagai mujahid, dan beberapa bersholat ghaib di Masjid. Sementara ada pejuang sejati yang ogah merebah di tanah indah bagi anak negeri, lebih memilih Tanah Kusir atau Karet. Lagian, saya sudah terlanjur bosan tentang figur kepahlawanan.

Sejak jaman kita mulai membaca komik, hingga jaman komik mulai membaca kita, pahlawan selalu digambarkan sebagai sosok petarung, maskulin, dan kebanyakan lelaki. Nama jalan di republik ini dikuasai pahlawan genre jagoan tarung alias serdadu dan tentara. Level pertama adalah Jenderal Besar Soedirman untuk jalan besar utama di semua kota. Jangan harap Tan Malaka, yang meski ahli strategi perang, namun lebih sipil kehidupannya. Apalagi dalam sejarah, beliau telah tereliminasi sejak awal sebagai lawan para pemenang. Kemudian Pangeran Diponegoro, meskipun dipertanyakan motivasi perangnya, tetaplah layak menduduki jalan besar utama kota. Jangan harap Umar Khayam yang cuma pintar nulis dan olah sastra.

Itu menjadi hal yang layak dimaklumi lantaran kepahlawanan acap dilekatkan dengan nilai nasionalisme dan ataupun semangat patriotisme. Dan tak terelakkan, keduanya juga melekat kepada sejarah dan kisah lampau. Sejarah yang dikuasai pemenang, dan kisah lampau yang isinya dunia perang para raja. Untuk mengenang pahlawan dan kelekatannya dengan nasionalisme, saya akan kembali berbagi sejarah kaum pemenang dan berolah kisah para raja itu. Sebuah syahdan dalam Kitab Ramayana yang sering dibahas, tanpa titik temu para pengamatnya.

Kumbakarna

Dia adalah salah satu adik Prabu Rahwana raja Alengka. Kumbakarna berwujud raksasa. Dia sangat sakti. Hobinya makan dan tidur. Perang besar terjadi antara Prabu Ramawijaya melawan Rahwana. Rahwana membutuhkan bantuan Kumbakarna. Tapi Kumbakarna menolak, karena tahu perang itu disebabkan kakaknya menculik Dewi Shinta, istri Sri Rama. Kumbakarna tak mau terlibat, kecuali untuk bela negara. Rahwana tentu tahu hal itu, tapi dia mengingatkan bahwa tak ada orang yang benar-benar bisa bebas dari ketidakbutuhannya akan campur tangan negara jika memilih hidup di dalamnya. Dan peperangan ini juga tak sepenuhnya lepas dari urusan negara.

“Kamu tidak mungkin bisa mengembalikan semua yang pernah kamu nikmati dari bumi Alengka ini”, kata Rahwana.

Merasa direndahkan, Kumbakarna memuntahkan seluruh isi perut tanpa sisa, “Nih ambil kembali!”.

Namun, setelah diteliti ada yang tak bisa dikembalikan Kumbakarna; Air Susu Bumi Alengka. Maka, Right or Wrong it’s My Country menggeliatkan Kumbakarna dari kemalasannya. Cancut taliwanda, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi, tan belani tumekaning Pati!

Kumbakarna gugur dikeroyok pasukan kera jutaan jumlahnya.

Gunawan Wibisana

Dia adik Kumbakarna, artinya juga adik Prabu Rahwana. Sama halnya Kumbakarna, Wibisana pun menentang Rahwana. Namun tampaknya dia setapak lebih jauh dari pilihan Kumbakarna. Atau mungkin terlalu jauh. Wibisana menyeberang negeri, dia berpindah keberpihakan. Bergabung dengan Rama Wijaya, menyerang Rahwana. Berada di Ayodya, berhadapan dengan Alangka.

Baginya salah adalah salah, dan benar adalah benar. Hitam dan putih tak kenal abu-abu. Tak pandang negara tak pandang saudara adalah pandangannya. Ideologi adalah yang hakiki, saudara sendiri bisa menjadi beban yang menghalangi, dan teritori sebuah negeri hanyalah batas-batas materi akan kepemilikan properti. Gunawan Wibisana adalah anak muda yang menafikan setiap aral. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Mungkin dia naïf, tapi mungkin juga seorang alif.

Dengan ini, demi merenungi Hari Pahlawan, kisah keprajuritan kedua tokoh Ramayana ini saya buka kembali. Semoga menjadi topik menarik untuk diskusi, menjadi cermin jernih untuk kita bersama. Pahlawan atau pengkhianatkah mereka, kita, saya, Anda, atau dia? Atau hanya bukan siapa-siapa?

Selamat Hari…

This entry was posted in Nasionalisme. Bookmark the permalink.

25 Responses to Selamat Hari Pahlawan

  1. martoart says:

    Nasionale… Internationale,… Universale,… Ale ale ale…

  2. ekohm says:

    selamat hari pahlawan,..tetep semangat..

  3. cechgentong says:

    martoart said: Ale ale ale…

    Sekarang jamannya ela….ela…ela…..e…e…e..e…..ela….ela…..ela e….e…e…..(Rihanna mode on)

  4. agamfat says:

    Era petarung jantan harusnya sudah usai sekarang, saatnya yang orang-orang biasa saja yang berbuat profesional dengan kecintaan lebih terhadap rakyatnya (tidak harus NKRI).Bagi saya jika Hasan Tiro meninggal, dia harus diangkat sebagai pahlawan. Dia berani tegak menghadang kezaliman ekonomi politik dan militer Orba, tidak hanya kata, diplomasi dan strategi pencitraan (otak), tetapi juga berjuang langsung melalui gerilya (otot).Pahlawan lainnya adalah Baharuddin Lopa, yang sampai akhir hayatnya mengejar koruptor dimana saja. Pertimbangan pemerintah memakamkan Ibnu Sutowo di TMP Kalibata sungguh tepat, supaya Lopa bisa mengejarnya di alam kubur hahaha….

  5. dollantefran says:

    Selamat Hari Bukan Siapa-siapa..

  6. bbbnshoes says:

    agamfat said: Pahlawan lainnya adalah Baharuddin Lopa, yang sampai akhir hayatnya mengejar koruptor dimana saja. Pertimbangan pemerintah memakamkan Ibnu Sutowo di TMP Kalibata sungguh tepat, supaya Lopa bisa mengejarnya di alam kubur hahaha….

    hajar bleeehh !!!!

  7. Mas Marto klo jd dede’nya Mas Rahwana mo jd De’ Kumbakarna ato’ De’ Wibisana? selamat hari pahlawan kesiangan….

  8. remangsenja says:

    saya suka epos pahlawan yang diceritakan.. eeng.. benernya sih lagi belajar.. anak saya tiba2 menyukai wayang… tokoh favoritnya: Kumbokarno… , saya tidak setujuh right or wrong is my country lalu mati konyol.. semoga anak saya bisa memisahkan mana itu idealisme mana itu kekonyolan belaka… hehehehehehehe…selamat hari… selasa cak!

  9. martoart says:

    Buat Eko; Tetap semangat juga!Buat Agam; Semoga saya sala dengar, bahwa HT mencoba mepertentangkan Acheh vs Jawa saat berjuang. Saya agak heran dengan itu. Tak perlulah cari common enemy. Sebab ini tak setrategis untuk perjuangan. kalau XG dulu memilah lawan tidak berdasar suku, tapi berdasar musuh bersama antara Timor L’este dan Aktivis Indonesia, yaotu ORBA dan Militer.Buat Unik; Lebih tertarik Wibisana, tapi dlm kisah ini, wibisana ahistoris.dia pikir Rama yang benar. Buat Senja; Ya, nonton wayang pun harus “Didampingi Orangtua”. Itu tugas ibu dan bapaknya kan? maka mak-bapak juga harus ngikutin wayang. heh he…

  10. agamfat says:

    Kang Martoart, Hasan Tiro melawan Orba dan Militer yang akhirnya mau tidak mau memusuhi Jawa yang menguasai kedua institusi itu. Tapi kalau melihat sejarahnya, Hasan Tiro pernah membuat pamflet mengenai nasionalisme Indonesia, merevisi pandangannya menjadi federalisme, dan akhirnya secara total melawan dengan membangkitkan nasionalisme Aceh. ada gradasi perlawanan yang terjadi karena kekecewaan yang tidak berbalas. saya memahami pilihan Hasan Tiro saat itu, karena berdasarkan perkembangan Jakarta-Aceh. Sekarang, dengan berkunjung ke Jusuf Kalla, Hasan Tiro sudah kembali ke pandangannya dulu, minimal federalisme.Dia juga pahlawan, karena membela bangsa Indonesia di Aceh dari kesewenang2an Orba dan Militer.agamasli Jawa, hanya kerja di Aceh

  11. ravindata says:

    Kepahlawanan kerap menjadi ‘sudut pandang’. Seorang bhre wirabuwi (minakjinggo) adalah pahlawan bagi orang banyuwangi, dan pemberontak bagi kencono wungu (suhita) di majapahit.http://ravindata.multiply.com/journal/item/18

  12. aidavyasa says:

    sambil nunggu page ini loading …ku nyangkanya nieh tulisan nyenggol2 maslah amrozi cs …ealah … ladalah …

  13. di negeri ini secara umum arti kata “pahlawan” memang telah dipersempit pada “seseorang yg memimpin perjuangan melawan penjajah (belanda, jepang,…..)”sementara kata “hero” (di sini) telah menyempit pada “super hero (seperti superman, batman,….)”ada juga guyonan orde baru yg memberi istilah “pahlawan tanpa tanda jasa”… gak tahu punya maksud apa si penyebar istilah tersebut…kemudian ada yg menyatakan bahwa pahlawan itu persepsi…Diponegoro adalah pahlawan bagi Indonesia…tapi tentu bukan bagi belanda…benarkah demikian?tidak adakah arti “pahlawan” secara ansich…tentu ada…tapi media seterbatas kata tentu tidak cukup mampu menjabar makna yg melampaui bahasa…

  14. klewang says:

    iya, saban memperingati hari pahlawan acaranya klise terus; mewawancarai bekas pejuang. mereka yang sudah sepuh2 artikulasi bicaranya sudah berkurang yang diceritain peraang melulu. maknanya jadi sempit, seakan2 frase terpenting kemerdekaan kita hanya di rentang revolusi fisik 1945-1949.jarang2 kita ngupas perjuangan para intelektualnya. itung2 buat ngukur betapa brilian pemikir2 bangsa yang kita pernah punya dulu

  15. blackdarksun says:

    Dewi Sinta kan emang pengen diculik sama Rahwana, karena Rahwana lebih macho dan lebih ‘nglanangi’……….. huehehe ya adiknya Rahwana taulah akan hal itu, makanya malesssss……… wong emang sama-sama mau tho…….

  16. kentangoven says:

    bokap gw pahlawan……….

  17. chanina says:

    bangsa yang beradab adalah yang ga butuh pahlawan n UU porno, dalam rangka memperingati hari pahlawan maka dicanangkan gerakan onani nasional selama 10 menit hi hi hi

  18. martoart says:

    buat Agam; seharusnya HT berhenti sampai melawan orba n militer aja dalam gradasi perlawanan dia. gak perlu kebablasan. karena itu mencederai perjuangan dia. Tapi memang emosi sering membelokkan arah perjuangan. saya sadar itu. saya tentu juga Jawa, tapi sejauh ini mencoba menginventarisasi spirit primordialisme jauh ke dalam hati aja.Buat Avin; Betul, tinggal sejeli apa kita memilih mau berada atau tidak berada dimana.Buat Aida; Ada tuh, aku singgung dikit. dikit banget.Buat Doni; Ya, kamu sependapat dengan Avin rasanya. Tapi Hero sekarang juga berarti pedagang ritel.Buat Klewang; Iya tuh, janganlah jadi sipil, karena susah jadi pahlawan.Buat Putri; Konon, doi bisa bertahan dari rayuan Rahwana selama 13 tahun masa penculikannya loh. Tapi Rama tetep aja curiga, karena ada satu hari kosong, sinta tidak terjaga oleh Sarpakenaka. Aku mah lebih menghormati Rahwana yang begitu sabar merayu Shinta sampai 13 tahun. Buat Kentang; Mati satu, tumbuh seribu kentang!Buat Gracia; aku curiga ada produsen sabun di belakangmu. hmm…

  19. martoart says:

    Di bawah ini aku copast komentarku sendiri dari dalam Traveling @ Srilanka, kayaknya perlu sebagai semacam box; Bahwa Rama tuh pecundang sejati. Doi menginginkan kembalinya Shinta bukan untuk Shinta, tapi demi harga dirinya sebagai pemimpin. Eh, pemimpin cem mana pula yang ngerahin ribuan kera (metafor untuk kaum dravidian Tamil Nadu) demi menegakkan harga diri? cwuieh! Rupanya Wibisana yang desersi itu gak paham sejarah juga. Sementara, betapa tampak suci cintanya si Rahwana, meski menyekap Shinta 13 tahun lamanya, tapi tak main rudhapaksa. Tak lelah merayu dan mengingatkan betapa mereka sebenarnya titah yang dipisahkan lantaran salah penitisan (tragis ya). Bisa gak membayangkan betapa berat cobaan Rahwana yang diciptakan berwujud setengah raksasa dan pasti bernafsu birahi membahana. Dia harus mampu menahannya. Padahal dengan kekuasaannya, sungguhlah pasti dia bisa berbuat apa saja terhadap Shinta. Nah, saat ada satu hari Shinta lepas dari penjagaan Sarpakenaka, satu hari itu yang selalu menjadi dasar keraguan Rama atas kesucian Shinta. Maka, gak ada kata lain yang pantas kita ucapkan kepada lelaki macam Rama; Ngepet lu!

  20. wildanzizo says:

    Apa kabar, Kang? selalu kangen sama guyonan-guyonan segarnya…regardimron

  21. rakbuku says:

    eh setau saya yg jaga shinta bukan sarpakenaka tapi trijatha. oya salam kenal😀

  22. martoart says:

    >Imron; Kabar akan lebih baik kalau kita bisa ketemuan n guyon lagi Ron…>Adi; Salam kenal juga. Eh, mungkin kamu yang betul. aku cek lagi ah. anyway, trims atas koreksinya. Teman-teman, baca juga komen ralat dari adi ini sebagai koreksi. sepertinya memang Tri Jatha.

  23. whienarnisa says:

    penulisan yg layak dapat jempol…aku save mas..

  24. martoart says:

    whienarnisa said: aku save mas

    Save me :)n thanks Whien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s