Sumpah, Saya Pemuda!

“Sumpah demi Tuhan dan bunga senja hari yang setia menanti pagi kembali!”, jawab pemuda itu penuh ketegasan waktu ditanya pemudinya apakah ia benar mencintainya.

“Aku sumpahin keturunanmu mirip George Bush yang tolol itu!”, serapah seorang pemuda karena nyaris terserempet mobil yang dikendarai dengan ngawur oleh pemuda lain.

“Saya bersumpah akan menjalankan amanat yang ada di pundak saya!”, ucap seorang pemuda yang sedang diambil janjinya sebagai wakil rakyat.

Sumpah dan Pemuda. Biasanya saling menempel. Sumpah, atas nama apapun yang lebih memiliki kekuatan, menjadi penting bagi kaum muda. Hal yang di balik semangat heroismenya justru sebenarnya menunjukkan ketidakpercayaan diri. Atau ragu apakah orang yang berusaha diyakinkannya itu akan mempercayai. Pemuda yang entah sejak kapan, acap dianggap belum cukup mampu oleh kaum tua. Tradisi berabad yang acut, yang membentuk jiwa kaum muda tidak pe-de. Maka dihadirkannyalah Tuhan dan sebangsanya untuk mendukung ucapannya.

Sumpah pun juga ikrar memang berbeda dengan janji ataupun nadzar. Sumpah sesungguhnya adalah ucapan yang diniatkan untuk membangun dan menjaga semangat diri. Menyugesti. Tanpa kewajiban pemenuhan hasil dan bukti. Tapi bukan berarti tanpa arti. Menjadi penting karena ucapan sumpah acap diikatkan kepada sesuatu yang berpunya kuasa tadi. Ada tali semu spiritual yang tegak vertikal. Ikrar memiliki fungsi sugesti yang sama, namun pengikatannya secara horisontal. Kebersamaan, kesepakatan, dan solidaritas pengikrarnya. Janji adalah ucapan yang memuat tanggung jawab kepada yang di luar dirinya akan pemenuhan hasil dan bukti. Sedang nadzar sekadar kepada diri-sendiri dengan kewajiban pelunasan atau pembayaran kaul atas keberhasilan itu sendiri. Berikut ini nukilan tentang janji, Sumpah, Ikrar, dan Nadzar.

Dora-Sembada;

Dora dan Sembada adalah dua punggawa yang menandang dilematik karena kesetiaan menjaga dan menjalankan sebuah amanat. Dora diutus Sang Aji Saka agar mengambil keris pusaka yang dulu dititipkannya kepada Sembada. Harus berhasil, karena Sang Aji sangat membutuhkan keampuhan keris itu dalam menumpas musuhnya. Sembada menolaknya karena pernah dipesan agar dengan sungguh-sungguh menjaga keris sakti itu. “Siapapun jangan boleh mengambilnya, kecuali saya sendiri”. Itu pesan Sang Aji sebelum meninggalkannya. Keduanya berjanji untuk berhasil menuntaskan amanat. Tentu terjadi pertikaian. Keduanya sama-sama sakti. Keduanya sama-sama mati. Mati bersama kesetiaan akan janji.

Amukti Palapa;

Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada:

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa; lamun kalah ring Gurun (Lombok), ring Seran (Seram), ring Tanjungpura (Kalimantan), ring Haru (Sumatra Utara), ring Pahang (Malaya), Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik (Singgapura), samana isun amukti palapa.”

Intinya Sang Mahapatih tak hendak istirahat alias pensiun (versi Mohammad Yamin), atau tak hendak menyantap makanan berbumbu alias poso mutih (versi W.J.S. Poerwadarminta), sebelum berhasil menyatukan daerah-daerah di Nusantara di atas masuk dalam kekuasaan Majapahit. Dulu saya pikir sekadar pantang makan buah maja. Kalau hanya itu saya pasti bisa. Sebab jauh lebih mudah tidak makan buah pahit itu (dimana nama Majapahit bermula), daripada harus bersusah-payah menyatukan Nusantara. Gimana ya kalau beliau berpantang berhubungan seksual dengan Nyonya Gajahmada atau nyonya dan nona lain? Mungkin lebih sulit. Ah, bukan itu topiknya. Tak lain adalah betapa Amukti Palapa menjadi sumpah yang kuat, kemudian ada suasana janji dan nadzar. Sumpahnya telah menjadi obsesi, sehingga Sunda, yang para tetua telah mengingatkan bahwa kerajaan itu abu-nya lebih tua pun dimasukkan dalam list penguasaannya. Maka terjadi tragedi Dyah Pitaloka dalam sejarah Nusantara.

SOEMPAH PEMOEDA

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air Indonesia
Kedua: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia, menjoenjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia

Djakarta, 28 Oktober 1928

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para moyang Indonesia tersebut, saya lebih suka menyebut pernyataan suci di atas adalah ikrar. Bahkan mungkin mereka akan senang karena alasan saya merujuk kepada solidaritas horisontal, merujuk kepada kepercayaan diri tanpa perlu dekingan tuhan untuk menyatakan pendapat. Salut!

Sumpe loe?

Saya bernadzar, jika sampai 2008 berakhir dan RUU Porno tetap gagal diwujudkan sebagai hadiah oleh PKS dan Balkan Kaplale, maka saat pertama membuka email di tahun 2009, saya akan menyepam atau malah unsubscribe satu milis yang sering memosting gambar porno. Sumpe Loe to?…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

11 Responses to Sumpah, Saya Pemuda!

  1. kentangoven says:

    gw gak mau disumpahin, mas………..

  2. sulisyk says:

    martoart said: Pemuda yang entah sejak kapan, acap dianggap belum cukup mampu oleh kaum tua. Tradisi berabad yang acut, yang membentuk jiwa kaum muda tidak pe-de

    jadi inget iklan salah satu merk rokok yang menyentil ini “yg muda yang tidak dipercaya”🙂

  3. kayaknya sekarang sumpah gak beda dgn sampah…biar disumpah jg gak takut, kyknya malah lbh takut sm KPK……

  4. perca says:

    aku bersumpah untuk merobek dadamu, memakan jantungmu, dan meminum darahmu! kata Bima di hadapan Kurawa saat menyaksikan Drupadi ditelanjangi karena Yudhistira kalah judi.

  5. chanina says:

    Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air para koruptor dan fundamentalisKedua: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa yang dijajah tipi dan Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia, menjoenjoeng bahasa persatoean, Bahasa duitDjakarta, 28 Oktober 2008

  6. terlahirlagi says:

    Ada yang hafal teksnya Sumpah Pocong ???

  7. martoart says:

    Sumpah Pocong!Kami, pocang-pocong indonesia…mengaku, pocong satu, biasa saja. pocong dua, agak ngeri.. pocong tiga.. (udah belum ya?)

  8. klewang says:

    “sumpah, ini cuma bendera!”begitu kira2 kata anggota FPI saat pentungannya mau disita aparat

  9. martoart said: Sumpah Pocong!Kami, pocang-pocong indonesia…mengaku, pocong satu, biasa saja. pocong dua, agak ngeri.. pocong tiga.. (udah belum ya?)

    pocong tiga udah keluar pas lebaran tahun kemaren mas, habis itu nyusul 40 hari bangkitnya pocong dan tali pocong perawan….

  10. famm2007 says:

    para pendahulu kita telah bersumpah………..siapa yang akan meneruskan dan menjaga semangat sumaph itu?kenapa sumpah pemuda tidak lagi membawa energi kepada bangsa ini?alangkah lebih baiknya kita bertanya dan menjawab sendirikenapa dan bagaimana?salam ekenla bung

  11. martoart says:

    Buat Kentang; Gua Kentangin loe!Buat Sulis; He he.. aku mau kutip itu waktu nulis. Gak jadi karena pasti akan ada yang komentar begitu. Dan itu kamu. Buat Kembangku; KPK pasti juga sering disumpahi pelaku korupsi.Buat Perca; Drupadi minta disisain darahnya Dursasana untuk keramas. Akhirnya dapet juga dari sisa yang nempel di kumis Bima. Buat Gracia; Sumpahmu bakal terkabul. Tuh dah ada tanda-tandanya.Buat Klewang; Sumpah, FPI Asu!Buat Fakhri; Berani disumpah pocong. Aku gak nonton semuanya!Buat Famm; Mungkin karena generasi muda sekarang cepet banget keburu tua. Salam kenal juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s