Pembantu Return!

[Tulisan ini saya kirim di Majalah Gatra. Rencana untuk bekal mudik. Tak dimuat. Moment telat]

Pembantu, sebagaimana rakyat kecil lainnya, tetap selalu memiliki hari khusus yang menjadikannya mahluk paling dibutuhkan di mata mahluk bernama majikan, yang acap melihatnya tanpa arti. Kita mahfum, kalau rakyat bernilai tinggi tiap lima tahun sekali saat suara mereka dijaring untuk Pemilu. Nah, hari khusus bagi pembantu yang menjadikan mereka penuh arti itu adalah Lebaran. Tepatnya acara mudik alias pulang ke kampung asal mereka. Asal tahu, siklus tahunan ini selalu menjadi berita membosankan di hampir seluruh media. Kok?

Coba dengar; Selebriti anu bilang kalau dia terpaksa mencuci baju sendiri karena Si Inem mudik. Istri pejabat itu rela mengepel lantai rumahnya gara-gara Neng Kokom pulang kampung. Ketua Partai Kecoak Nungging Indonesia itu dengan bangga menyetir mobilnya, karena Pak Poltak balik ke Medan. Saya tak habis pikir, orang tajir Jakarta itu manja, atau snob sajakah mereka? Adu pamer kerepotan tanpa pembantu, bukankah itu menunjukkan semakin lemah kekuatan fisik mereka? Atau justru itu maunya? Karena akan semakin merasa paling berhak untuk mendapat perhatian, dimanja, dan disayang. Seakan telapak tangan tidak boleh kasar. Seberapa lembut tingkat kehalusannya, seolah seukuran itulah derajat sosial terukur. Barangkali itu kronologinya. Ditinggal mudik pembantu barang seminggu atau dua saja sudah kelabakan.

Media besar-kecil sigap menyuarakan keluhan hari raya para orang manja itu sebagai berita heboh. Lalu datanglah trend baru; Pembantu Pengganti. Mereka adalah orang yang berbondong-bondong menuju Jakarta melayani kemanjaan orang kaya kota. Kemanjaan orang kaya Jakarta menciptakan arus urbanisasi lebih pagi.

Di Jakarta, mungkin juga beberapa kota besar di Indonesia, seperti ada semacam pemahaman feodalistik; Semakin banyak seseorang mampu memelihara pembantu, semakin tinggi status sosialnya. Saya membayangkan hidup sebagai orang kaya Jakarta. Memiliki seorang istri, seorang orang anak kecil yang duduk di bangku SD kelas satu, dan adiknya yang masih bayi berusia dua tahun. Dua ekor anjing, satu doberman dan satu pudel. Tidak lupa seorang mertua perempuan yang sakit di mana mobilisasinya sebatas kursi roda mampu membawanya. Sangat sinetronlah.

Dari situ tentu saja yang saya butuhkan adalah; Seorang supir untuk saya pribadi, seorang supir untuk keluarga, dua orang satpam alias centeng, tukang kebun yang sekaligus bertugas memberi makan ajing, pengasuh bayi alias baby sitter, perawat mertua, serta dua orang yang mengurusi pekerjaan rumah tangga. Satu untuk masak dan satu untuk membereskan rumah. Kami memiliki delapan pembantu.

Itu artinya di mata rekan sesama kaya, status sosial kami tidak boleh dipandang sebelah mata. Saya harus mampu mempertahankan ini. Jangan sampai ada satupun pembantu yang berkurang. Kalau ada yang minta berhenti, rekan akan berpikir saya tidak mampu lagi membayar gaji mereka. Itu jelas citra buruk bagi status sosial. Berbahaya, dan tidak boleh terjadi. Untuk itu sudah jauh – jauh hari hal ini saya pikirkan. Istri saya tidak akan membayar gaji tinggi kepada para pembantu itu. Kami menggantinya dalam bentuk fasilitas, seperti makan dan tinggal di rumah kami. Hal itu seakan memberikan kemudahan bagi mereka. Mereka tentu senang tidak perlu membayar makan dan kost, tapi tidak sadar bahwasanya kami bisa menyuruh mereka sewaktu-waktu tanpa harus membayar sebagai kerja lembur. Jadi, dengan begitu sebenarnya lebih menguntungkan kami (Tolong ini dirahasiakan demi stabilitas rumah tangga kita semua kaum tajir).

Toh juga, mereka layak dibayar di bawah UMR karena semua peralatan yang ada rumah kami sangat memudahkan kerja. UMR? Mereka juga tidak tahu-menahu soal itu. Posisi tawar para pencari kerja rendahan di Jakarta juga rendah. Itulah beberapa hal kenapa pada saat tawar-menawar gaji kami sering menang. Rekan sesama kaya tidak tahu kami membayar murah para pembantu. Atau sebenarnya mereka punya strategi dan rahasia yang sama, tapi pura-pura tidak tahu? Ah, yang penting kami masih punya banyak pembantu. Memang menyenangkan menjadi orang kaya di Jakarta. Sayangnya saya hanya membayangkan.

Di sebagian besar negara berperadaban maju Eropa, memiliki pembantu justru hampir menjadi sebuah aib. Gaji pembantu cukup tinggi. Seorang majikan harus memiliki gaji berlebih untuk itu. Karena apabila ada seseorang yang hanya kerja pas-pasan memiliki PRT, maka akan dipertanyakan asal uangnya. Selain itu ada suasana kemanusiaan yang menghalangi. Manusia tidak layak mempekerjakan manusia lain di dalam rumahnya, khususnya untuk hal – hal yang meraka sendiri mampu melakukannya. Apalagi di negara berperiteknologi pada segala bidang seperti
itu, segalanya akan bisa dilakukan sendiri dengan lebih mudah dan murah termasuk urusan rumah tangga. Bisa saja seseorang bergaji pas-pasan memiliki pembantu, tapi dia harus siap dengan konsekuensi tuduhan korupsi atau menampung imigran gelap dan mengeksploitasi tenaganya. Imigran gelap acap menandang dilema seperti ini karena mereka lebih repot berurusan dengan pihak imigrasi atau polisi. Tanpa surat dan dokumen resmi, mereka dengan rela menjalankan perintah penampungnya tanpa protes berarti.

Memang belum saya dengar berita mengenai seorang imigran asing yang diperas tenaganya oleh majikan di Jakarta. Berita tentang imigran di Indonesia saja waktu itu sudah cukup heboh (Saya bertanya-tanya apa yang dibayangkan oleh manusia perahu waktu itu tentang Indonesia. Tanah Perjanjian? Bah!). Tapi itu bukan berarti tidak ada pemerasan tenaga PRT oleh para majikan. Sekali lagi, media tampak tidak kreatif mencari dan memberitakan urusan seperti itu, namun lebih tertarik melansir kisah susah artis sinetron ditinggal mudik pembantunya. Pengulangan berita basi dari Lebaran ke Lebaran.

Bukankah repotnya Lebaran itu seharusnya menjadi cermin yang bisa menyadarkan para majikan betapa layak menaikkan gaji mereka? Dan bukankah sudah sewajarnya media menjadi agen terdepan bagi penyadaran akan pengormatan terhadap kemanusiaan, dalam hal ini hak pekerja? Saya berharap koran esok pagi menampilkan head line ataupun isi berita semacam ini;

“Selamat datang pembantuku, mulai saat ini gajimu kami naikkan di atas UMR. Jam kerjamu delapan jam, lima hari dalam seminggu, ada hitungan lembur, asuransi kesehatan, cuti, dan aturan profesional lain. Kami tidak akan minta bantuan di luar kewajiban tugasmu. Kami berjanji tidak lagi mengakalimu dengan membangun hubungan kerja yang tidak profesional, karena itu lebih menguntungkan majikan. Kami juga berjanji tidak lagi akan mengakalimu dengan perangkat undang – undang perlindungan PRT yang keberpihakannya sumir. Yang dengan perangkat undang – undang itu, sejauh ini kami belum layak dikatakan sebagai pelanggar HAM hanya lantaran tidak melakukan kekerasan fisik kepadamu. Di luar jam kerja, kamu adalah manusia bebas. Tentu boleh pacaran kalau mau dan ada yang mau. Setiap tanggal 1 Mei ada liburan untuk merayakan hari buruh internasional. Kamu boleh berkumpul bersama para aktivis untuk demonstrasi, pasti asoy Coy!”.

Ah, tapi memang berita semacam itu juga selalu menjadi sekadar harapan. Dari lebaran ke lebaran.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

24 Responses to Pembantu Return!

  1. cechgentong says:

    Kalo sudah dinaikkan di atas UMR harus ken pajak tuh nanti dikejar2 ama petugas pajak dech…..nasibmu my assistance

  2. martoart says:

    Yaaah… Chech kaya gak tahu mekanismenya aja. Kan gajinya dah termasuk ongkos PPN.

  3. cechgentong says:

    martoart said: Yaaah… Chech kaya gak tahu mekanismenya aja. Kan gajinya dah termasuk ongkos PPN.

    entar harus ikut jamsostek juga dong apa sdh masuk dalam hitungan digaji juga ? Jadi yang pantas harus di gaji berapa ya????

  4. martoart says:

    Sampeyan sing luwih ngerti chech. tulisanku memang bersuasana uthopis.

  5. cechgentong says:

    martoart said: Sampeyan sing luwih ngerti chech. tulisanku memang bersuasana uthopis.

    aku wis ngerti sampeyan itu utopis hehehe masalah hitungan serahke karo aku embuh itungan opo wae pokoke ono sangune hahaha

  6. martoart says:

    Aku malah gagal dapet sangu dari gatra je… (mong-ngomong, aku bawa mangga dari kampung yg aku yakin gak kalah sama mangga sampeyan punya)

  7. cechgentong says:

    martoart said: Aku malah gagal dapet sangu dari gatra je… (mong-ngomong, aku bawa mangga dari kampung yg aku yakin gak kalah sama mangga sampeyan punya)

    kapan mo dikirim ke rumah hehehe

  8. apa mungkin krn di bawah UMR para PRT pada mau dijadiin “komoditi ekspor” ke negeri tetangga ya Mas… deuhh sedihnya, nyampe’ sana masih jg dikebiri sm “wonge’ dewe’..”

  9. bbbnshoes says:

    makasih ya mas, sudah menyuarakan bisik biisik kaum ku …hiks

  10. kentangoven says:

    aku cuma tertarik ma mangganya mas Marto………apa aku kebagian juga …. ?

  11. utopianblues says:

    setiap lebaran berita tentang orang2 kota yg kelimpungan ditinggal pembantunya mudik selalu muncul di media. sampeyan benar kang, kenapa ga bosen2nya ya angle itu yg diangkat? pemerintahnya sami mawon, ketika pembantu2 itu pada balik ke kota usai lebaran (kadang dengan membawa teman,sodara), disongsonglah mereka dengan operasi yustisi. *sigh*

  12. arisdanar says:

    emang kadang kalo sdh di atas kita seringkali susah lihat ke bawah, ma kasih sudah diingatkan🙂

  13. chanina says:

    sindrom borjuasi eropa jaman abad pertengahan sedang melanda jakarta. kesetaraan jender juga tambah jauh karena perempuan yang sudah merasa setara dan bekerja sebenarnya hanya semu karena dibangun diatas penindasan perempuan lainnya.:(

  14. martoart says:

    buat chech; Wis enteeeek.buat krisan; mungkin betul kamu kris, sampe sono juga dikerjain “wonge dowo” he hebuat erwina; juga kaumku…Kentang; barter sama kentang!buat uthopian; Operasi keadilan… huh. memang benar-benar adil pemerintah kita.buat aris; Saling mengingatkan ris.. he hebuat Grace; Yep, tul Grace. sedih emang…

  15. anazkia says:

    Duh🙂 Jadi pengen demo *halah* Nggak punya mental demo, sabar aja🙂

  16. anazkia says:

    Mbah, nanti Anaz tulis kesusahan PRT yah?😀

  17. t4mp4h says:

    aku sudah 7 tahun gak pakai jasa ART. Dulu sempat memberdayakan ART supaya ada peningkatan kapasitas skill dan intelektual dia. Eh, semakin hari malah jadi macem-2 tuntutannya. ya udah babai aja deh.

  18. ohtrie says:

    martoart said: Ah, tapi memang berita semacam itu juga selalu menjadi sekadar harapan. Dari lebaran ke lebaran.

    Berharaplah, waspadalah..!!! *nengok kanan nengok kiri, nonton sinetron lagiii…*

  19. afemaleguest says:

    satu kali aku pernah diskusi dengan seseorang — sudah lupa siapa dan dimana dan kapan — bahwa huruf P di depan sekarang dibaca sebagai ‘pekerja’ bukan ‘pembantu’, kalau pembantu kan kesannya memang kesannya memiliki status sosial di bawah majikan. tapi kalau ‘pekerja’ kesannya setara. namun orang itu tidak terima dan mengatakan, “kalau pekerja itu berarti kita tidak menganggapnya merupakan bagian dari keluarga kita. padahal di kultur ‘kita’ kan ada ajaran bahwa pembantu itu merupakan bagian dari keluarga.” bla bla bla …padune ora gelem mbayar gaji PRT sesuai UMR ding. hahahahah …dan mumpung aku ga pernah punya PRT, aku cukup senang karena tak pernah masuk kategori orang yang tidak atau kurang memanusiakan orang lain: memberi gaji secukupnya atau semampunya, mmeberi beban pekerjaan lebih dari delapan jam sehari, tak memberi mereka hak libur setiap minggu, dll … hahahah …

  20. martoart says:

    afemaleguest said: namun orang itu tidak terima dan mengatakan, “kalau pekerja itu berarti kita tidak menganggapnya merupakan bagian dari keluarga kita. padahal di kultur ‘kita’ kan ada ajaran bahwa pembantu itu merupakan bagian dari keluarga.” bla bla bla …

    Itu tradisi lama yg disebut ngenger. Dan ngenger tak seederhana itu. apakah temanmu itu menerapkan sistem ngenger secara ‘benar’?, maksudnya juga menyekolahkan mereka, memberi perlindungan sebagai elit yg punya kuasa terhadap yg dingengeri? Dan memberi kesempatan naik ‘derajat sosial’nya?.Kalo gak mampu, jangan sok berlaku menjadi feodalis Jawa. Dan banyak aturan main lainnya eniwei.(Aku tak dalam rangka memberi pembenaran terhadap feodalis Jawa)

  21. afemaleguest says:

    aku membaca jenis ‘ngenger’ begitu di novel Para Priyayi. memang zaman sekarang sangat jarang orang mempraktikkan hal kayak gitu.hmmm …

  22. Nyengir baca kalimat awalnya.Enggak dimuat kok bangga to, Cak … :DOu, tapi asli tulisan ini cocok banget buat aku.Entah kenapa, sensi aja kalau ada yang merasa hebat punya banyak pembantu. Sampe-sampe saya merasa harus menulisnya, untuk sekedar melampiaskan uneg-uneg.Ini link-nya:http://revinaoctavianitadr.multiply.com/journal/item/279

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s