Kembali ke Fitri, Kembali ke Suci!

Si Fitri dan Si Suci, keduanya teman semasa SMA, keduanya saya suka. Cantik dan seksi. Seperempat kenikmatan surga mampir dalam diri mereka. Tentu dibagi berdua. Layak untuk dijadikan istri, setidaknya dipacari. Selain bothok tawon dan Arak Kerek (Arek), mereka adalah satu dari sekian alasan yang menarik untuk mudik kemarin. Namun niatan kembali mendekati mereka tak layak diteruskan. Tepatnya tak bisa diteruskan. Mereka sudah nikah. Keduanya, masing-masing, mendapat suami yang soleh. Begitu solehnya sehingga perlu melindungi para istri dari api neraka. Maka keduanya susah melangkahi pintu rumah. Jadi, jangankan merayu, bertemupun aku tak mampu. Ya udah, toh memang bukan itu maksud tulisan ini.

Saya hanya hendak menangkap maksud fitri ataulah menakar makna suci secara saya saja. Tentulah karena saya malas menerima maksud dan makna keduanya ala para ulama. Konon menurut Islam, setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa. Ibarat kertas putih yang belum ditulisi pesan apapun. Mereka akan menjadi Majusi, Ibrani, Nasrani, atau apapunlah, itu tergantung kedua orang tuanya. Berita lama setiap pasca puasa. Rasanya sangat kurang menurut saya. Lingkungan, pergaulan, teknologi informasi, ideologi, dan suburnya percabangan politik aliran juga perlu di tambahkan. Yah, tentu saya memaklumi pada jaman nabi belum lahir Ego-Anarkhisme ala Max Stirner, dan pasti belumlah hadir komputer. Belum bergaung Aufklarung, pun pasti belum para ABG bertukar ring tone.

Nah, konon juga pasca menjalani puasa yang sukses, dilanjutkan pemenuhan zakat dan Idul Fitri yang berhasil, setiap umat akan kembali suci seperti bayi tadi. Ya baguslah. Hal itu sungguh sangat menunjukkan betapa pemurahnya Allah. Kemurahan Allah tentu tanpa pilih kasih. Kemurahan itu juga bagi koruptor. Dosa koruptor sebelas bulan sebelumnya sirna, dan sebelas bulan berikutnya layak maling lagi. Saya menebak-nebak, jangan-jangan lagu tematik para koruptor nan religius itu adalah lagunya Bimbo yang satu liriknya berbunyi;

…Setiap habis Ramadhan

hamba cemas kalau tak sampai

umur hamba di tahun depan

berilah hamba kesempatan

Ah, mungkin itulah salah satu kegunaan beragama. Tenang dunia-akhirat. Tinggal pintar-pintar memilih ayat.

Sebaliknya, di satu ranah Nasrani, mempercayai dosa asal. Dosa yang diwariskan Adam kepada keturunannya. Dosa nan genetik, tak cukup meski telah dibayar tunai Sang Penebus. Maka setiap bayi tak kan luput dari dosa. Kabar baiknya adalah umat Nasrani terus berlomba memangkas habis dosa di kandung badannya dengan berbuat baik. Kabar buruknya, yah… tidak punya hari raya pelebur dosa seperti sepupu imannya itu. Untungnya masih ada media pengakuan dosa. Dan – kembali – selalu ada ruang menguntungkan bagi koruptor di agama apa saja. Tentu mereka juga berhak mendapat saat pengakuan nan private, sehingga kelak di hari kematiannya bisa diterima di kerajaan Sang Bapa.

Umat Buddha lebih taktis rasanya. Mereka tak butuh surga, juga semacam Sang Bapa. Yang diarah adalah Nirwana. Sesuatu yang diaku beda dengan surga. Tak ada bidadari bermata jeli ataupun anggur di tepi Efrata. Karenanya proses penyucian diri tergantung otoritas diri sendiri. Saya belum pernah mendengar ada hari besar penebusan ataupun ritual pengakuan. Berpikir, berkata, dan berbuat baiklah agar kembali lahir ketingkat yang lebih baik. Dakilah Kama, Rupa, Arupa, hingga sampai di puncak Stupa. Kabar buruknya adalah sangat butuh kesabaran dan itu melelahkan. Saya tak punya begitu banyak persediaan kesabaran. Kemudian saya bermain mungkin. Mungkin junta militer Burma itu menganggap Nirwana adalah kesia-siaan. Karena tak ada apa-apa di sana. Buat apa bersabar dan kelelahan, maka tak perlu berbaik hati kepada Su Kyi dan rakyat sendiri. Boleh jadi Jenderal Senior Than Swe berpikir licik, berkata ngawur, dan berbuat sewenang-wenang, namun dia tetap mengaku penganut Buddha. Kabar baiknya, jauh lebih banyak penganut Buddha yang tidak seperti Than Swe. Mereka tetap berpikir, berkata, dan bertindak baik meski sadar apa itu Nirwana. Seperti halnya Su Kyi yang sabar, yang kelelahan, yang suci.

Saya pastilah tak sekelas para penggede agama-agama seperti Muhammad, Jesus, dan Sidharta, tapi bukannya tidak berarti tak punya sikap dan naluri menolak ketidakbaikan. Mencoba sebenci mungkin bersikap korup dan pergi sejauh mungkin dari bersikap otoriter adalah baik untuk pengupayaan. Barangkali itu juga langkah sederhana belajar suci. Sukur-sukur dapat pahala. Kalau kelak memang tak ada surga yang membalasnya setelah kehidupan, tak perlu menyesal. Toh artinya juga perasaan apapun – termasuk sesal tadi – juga tak ada.

Saya tidak mau kembali ke fitri atau suci. Karena memang sebaiknya tidak perlu pergi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

33 Responses to Kembali ke Fitri, Kembali ke Suci!

  1. martoart says:

    Gak punya baju baru pakai yang lama.Gak punya maksud SARU apalagi SARA.toh punya Head Shot baru.

  2. sulisyk says:

    huahahahaha sangat menawan setiap kali membaca kupasan mas marto ini, penuh sentilan nan lucu….menarik untuk tetap terus menyimak

  3. utara19 says:

    seorang dosen pernah berkata… orang baik itu bukan orang yang sudah tidak berbuat salah atau dosa, tetapi orang yang selalu berusaha memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukannya… he..he..he.. orang sekelas Marto, tidak butuh basa basih deh kayaknya..😀

  4. ravindata says:

    wes teko ta ?iyo nuliso terus … mengko tak opai klambi merah muda kui ….pek-en dewe yo to yo …. pek-en dewe yo to yo …..

  5. luqmanhakim says:

    martoart said: Saya tidak mau kembali ke fitri atau suci. Karena memang sebaiknya tidak perlu pergi.

    Esoteric Mas…Kenapa simbol bersih itu kembali ke fitri?Kenapa juga simbol suci itu warna putih?Jawaban simplenya juga pada pertanyaan, kenapa orang meninggal kain kafannya nggak warna lain selain warna putih? Warna item kek, merah kek, atau batik sekalian biar nggaya…Saya nggak sependapat, mungkin karena itu mu’tazilah sampeyan ya Mas.Saya sih memilih untuk tidak memilih, skeptis, dan yaaa… jabariyah itulah, he he he…Halah, nggak ada jabariyah nggak ada mu’tazilah, yang ada satu, Islam itu sendiri. Persepsinya aja yang beda, inti tetep itu-itu juga…

  6. hanikoen says:

    “setiap habis ramadhan”… Bimbo hanya mempopulerkan dengan memberi notasi yang manis. Sejatinya adalah puisi Taufiq Ismail yang mungkin saja hasil perenungan setelah “menggauli” Al Qur’an dengan penuh cinta. Apakah ini Naif?. Mungkin ya bagi yang sudah “ngaji” kemana-mana tapi lupa membawa bekal dari rumah sendiri.

  7. luqmanhakim says:

    Knock… Konck…Diskusinya belom dimulai ya?

  8. hanikoen says:

    luqmanhakim said: Knock… Konck…Diskusinya belom dimulai ya?

    Saya terlalu awam untuk masuk forum diskusi ditempat ikhwan yang maqom nya sudah seperti mas Marto, hanya gak tega ama pak Taufiq Ismail yang salah satu masterpice nya dikutip dan dimaknai diluar konteks, ngapunten nek saya salah pisss men.

  9. luqmanhakim says:

    hanikoen said: Saya terlalu awam untuk masuk forum diskusi ditempat ikhwan yang maqom nya sudah seperti mas Marto, hanya gak tega ama pak Taufiq Ismail yang salah satu masterpice nya dikutip dan dimaknai diluar konteks, ngapunten nek saya salah pisss men.

    He he he…Tenang Mas, nggak perlu berlebihan juga nyikapin karyanya Taufiq Ismail. Syair itu dijomplangin Mas Marto ke arah koruptor, kalo seandainya bisa diartiin, sama seperti cemas koruptor atas lahan korupsinya bila nggak adalagi…Bicara tentang seni emang nggak bisa dikotak-kotakkan. Biarkan lepas, wujud dari representasi rasa serta karsa, ketimbang membatu dan tak berwujud, dikeluarkan dalam bentuk karya.Ngutip omongan yang pernah disampein Dwi Maryanto (Mas Marto pasti kenal) yang dia entah dapet dari mana, mungkin diciptain sendiri atau mungkin malah ngutip dari omongan lain, seni kalo bisa diklasifikasikan (mseki seni nggak bisa dikotak-kotakkan) cuma ada 3:RepresentatifSeni yang gamblang. Bicara apa adanya, menggambarkan apa adanya. Dalam iklan sama seperti iklan consumer goods, yang dibilang ya memang begitu. Meski ada exaggeration idea tapi intinya tetep cuma mau jualan itu. Dalam musik sama seperti kaegori easy listening, enak didengar, liriknya bicara yang apa adanya. Dalam seni rupa sama seperti lukisan atau patung yang mengarah ke naturalis dan realis. Dalam dunia peran sama seperti sinetron-sinetronnya Raam Punjabi. Bicara yang gamblang dan apa adanya, pesan yang disampaikan cuma itu-itu aja.SimbolikSeni yang simbolik. Ada beberapa pesan yang disampaikan, tapi media terbatas, akhirnya buat memenuhi isi media, dipakai simbol. Dalam iklan sama seperti iklan rokok yang kena UU Periklanan 1996, karena nggak boleh ngegambarin ngerokok secara langsung akhirnya dipake slogan, jargon, yang ada yang disampein malah lifestyle-nya (tengok Marlboro yang bawain pesan kebebasan seperti koboi, Sampoerna Hijau dengan asyiknya rame-rame, Gudang Garam dengan selera pemberani. Dalam musik sama seperti musiknya Swami dan/atau Kantata, musik Jazz untuk sebagian dan musik-musik kontemplatif. Dalam seni rupa sama seperti lukisan atau patung surealis. Dalam dunia peran sama seperti beberapa karyanya Garin. AbstraktifSeni yang sumir. Saking kebanyakan pesan yang mau disampaikan, dibiaskan nggak lagi sekedar simbol, tapi dilepas sekalian seperti ngelepas burung merpati yang mau balik lagi ke rumah atau nggak ya terserah merpatinya. Persepsi orang bisa beragam malah melenceng jauh. Dalam iklan sama seperti iklan rokok A Mild yang bener-bener dekonstruksi dari simbol iklan rokok sebelumnya. Pernah diriset, makin bingung konsumen A Mild sama content iklannya malah makin bangga, timbul anggapan bahwa itu rokoknya kaum intelek (duh! Pada salah kaprah). Dalam musik sama seperti musik Jazz secara utuh, meski Jazz lahir dari segregasi rasial musiknya para budak yang dikungkung, nggak boleh ngapa-ngapain setelah seharian bekerja di ladang. Buat ngisi waktu, malamnya bikin bunyi-bunyian yang akhirnya jadi musik yang dikenal orang sebagai musiknya orang intelek (duh! salah kaprah melulu ya?). Dalam seni rupa sama seperti lukisan abstrak. Dalam dunia peran sama seperti karya-karyanya teater abstrak. Intinya sih, Mas Marto lagi ngomong esoteric, simbol-simbol yang banyak dipertanyakan, bener nggak sih ni simbol?Sama seperti saya yang juga mempertanyakan Mas Marto, bener nggak sih ni, sedang mempertanyakan sesuatu yang kasat. Ada pertanyaan yang nggak butuh jawaban, ada pertanyaan yang langsung terjawab di hati, bahkan ada pertanyaan yang jawabannya ada di jawaban sunyi, di kedalaman hati…

  10. martoart says:

    Buat Sulis; Sekali lagi, kamu lebih menawan. (Gdubraaaak lagi)Buat Utara; Aku memang gak butuh basa-basi, aku biasa Losta masta.Buat Avin; Koen nek macem-macem, temen lo, nomor hp-mu tak kekne areke. Modiar koen.. wakakaka..Buat Odiex; Thanks ya.Buat Hanikoen; Saya belum begitu jauh dari rumah, belum begitu ke mana-mana. Hanya saja justru sadar bahwa ternyata bekal yang saya bawa, itu bukan dari rumah sendiri. Rumah sendiri yang di Ngawi itu bercat hijau. Setelah dewasa saya mencoba mengeroknya. Ternyata ada warna merah di bawahnya. Begitu juga cat rumah-rumah tetangga. Merah, dalam lingkar warna adalah komplementer dari hijau.Untuk puisi taufiq yang saya pake untuk menyatir koruptor… Yah, gak boleh ya? 1) Terlalu high art kah untuk dijomplangin? 2) Sedemikian Sakral? 3) Melanggar hukum – karya cipta intelektual? Atau 4) Terlalu sensitif mengingat beliau yang sepuh dan begitu lembut raut mukanya? Ah,.. kalau ada seniman yang marah dengan empat alas an di atas, justru akan terus aku kerjain.Ngomong-omong, aku lebih suka puisimu tentang Kota Cepu itu daripada karya taufiq ismail.Buat Lukman My Man; He he… kamu malah sudah memulai diskusi ini. Bahkan siap dengan makalah tentang terminologi seni. Saluuut… salut.Bagaimanapun kamu benar. Aku suka simbol-simbol. Suka akan makna warna. Abangan, Ijo, Putih, Hitam, pokoknya penuh warna dah. Sedemikian sukanya aku akan berbagai ideology, agama, ras, dll. Pun juga Islam yang warna-warni.Lanjuuut…

  11. Mas aku mo tanya, gratisss kan? Jd Idul Fitri tuh ada “istimewa”-nya gak buat sampeyan? tulisannya selalu saja “ngaduk2” banyak komentar, kerennn…..

  12. martoart says:

    Banyak! di antaranya;Alat untuk bersepakat kumpul kerabat, media spiritual penawar kesombongan intelekual, mensyukuri mekanisme perputaran uang agar juga menyentuh desa, ritual mudik adalah traveling yang tiada duanya. wisata kuliner yang hampir tak bisa ditemui di jakarta (pernah makan Gendhon=larva kupu klaper di batang pohon turi/gude? Atau makan bothok tawon? dan menenggak sejuknya Arak Kerek?). Dan sebagainya….

  13. martoart said: Banyak! di antaranya;Alat untuk bersepakat kumpul kerabat, media spiritual penawar kesombongan intelekual, mensyukuri mekanisme perputaran uang agar juga menyentuh desa, ritual mudik adalah traveling yang tiada duanya. wisata kuliner yang hampir tak bisa ditemui di jakarta (pernah makan Gendhon=larva kupu klaper di batang pohon turi/gude? Atau makan bothok tawon? dan menenggak sejuknya Arak Kerek?). Dan sebagainya….

    okeh tenan yo Mas? tp koq balik mudik head shot-nya jd biru pucet ngono….

  14. martoart says:

    biduren alias alergi tawon, n kakehan arek. he he..

  15. luqmanhakim says:

    martoart said: Banyak!

    Ngomong banyak-banyak cangkruk ae yok cak…Kapan koen ono waktu?

  16. martoart says:

    Wah, ngeledek yo? pengangguran nih Man, waktu banyak banget. Sampeyan yang selalu kena kejar tayang n tenggat.

  17. luqmanhakim says:

    martoart said: Wah, ngeledek yo? pengangguran nih Man, waktu banyak banget. Sampeyan yang selalu kena kejar tayang n tenggat.

    Halah…Gak ngono tah cak. Tinggal daerah ndi Mas? Ngko tak samperi ae…

  18. ravindata says:

    Wah mas luqman kalah sma aq nih …. Walaupun lebih jauh, saya sdh pernah kongkow2 bareng cak marto dan ‘pacar’nya…ha ha ha …

  19. agunghima says:

    wuih..mas..ini hebat banget….

  20. hanikoen says:

    martoart said: Ngomong-omong, aku lebih suka puisimu tentang Kota Cepu itu daripada karya taufiq ismail.

    Aku brenti nulis puisi ketika puisiku yg juara 2 dlm SOLO DALAM SAJAK 1981 hadiahnya ditilep panitia. Padahal aku sudah ngetung2 klo tak belikan brother portabel aja masih ada lebihan dan konyolnya aku bon ibuku dulu untuk beli mesin tik itu. Bertahun tahun kemudian aku menemukan jawaban dari Taufiq Ismail mengapa beliau jg takut menulis puisi ternyata karena dia merasa berat sekali tanggung jawabnya sebagai penyair setelah membaca surat As syuara (para penyair). dalam Al Qur’an. Mari kita buka Al Qur’an…..

  21. aidavyasa says:

    loh … kok ADEM tampilannya birumembeku gituhhh

  22. aidavyasa says:

    martoart said: Gak punya baju baru pakai yang lama.Gak punya maksud SARU apalagi SARA.toh punya Head Shot baru.

    semoga bukan efek RamadhanUforia

  23. aidavyasa says:

    luqmanhakim said: Jawaban simplenya juga pada pertanyaan, kenapa orang meninggal kain kafannya nggak warna lain selain warna putih? Warna item kek, merah kek, atau batik sekalian biar nggaya…

    aku suka warna hitam …fitriku balik ke hitam pokoknya hidup hitaaaam!!(i hate white and pink! I love black and red)sorie OOT, lagi sensitif ama warna :))

  24. martoart says:

    Buat Hanikoen; Tentang PR As Syuramu;224. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. 225. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah.Pada masa remaja, Nabi sering diajak pamannya atau pergi sendiri mengunjungi festival puisi dan gelar budaya semacamnya. Apakah beliau termasuk yang sesat itu?226. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?Ya jelaslah.. namanya seniman. kalau berimajinasi aja dicela, mau ngapain mereka?227. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman…Yang jadi persoalan adalah banyak yang merasa paling punya otoritas menentukan siapa yg beriman, n yang tidak, siapa yg saleh siapa yang tak saleh….Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.Kasihan banget para penyair (juga para pematung di ayat lain), kalo agama hanya menjadi media pengekangan.Karena itu, aku lebih simpati alasan kamu ninggalin puisi dibanding alasan taufiq.

  25. hanikoen says:

    martoart said: Yang jadi persoalan adalah banyak yang merasa paling punya otoritas menentukan siapa yg beriman, n yang tidak, siapa yg saleh siapa yang tak saleh.

    Sama bermasalahnya dg yg memutlakkan pendapat sendiri yang waton beda. Saya yakin sampeyan tetap terbuka unt pada suatu saat mengupdate ‘tafsir’ tentang Asy Syuara (para penyair), Asy Syura (perwakilan) adalah surat yg lain lagi. Rasulullah sendiri setelah menjadi nabi masih ditegor Allah karena bermuka masam terhadap seorang buta. Dan itu tidak mengurangi kemuliaannya. Wong itu juga termasuk skenario Allah.

  26. klewang says:

    yak sip, ternyata kita pernah berpikiran sama soal lebur2an dosa ini..seperti yang kugambarkan dalam kartunku setahun lalu, kalo ada waktu silakan ngintip di : http://klewang.multiply.com/photos/album/14/Diary_Bergambar_Yang_Emosional#3n sori ada ejaan yang keliru, maklum baru belajar bahasa inggris..

  27. klewang says:

    martoart said: Buat Avin; Koen nek macem-macem, temen lo, nomor hp-mu tak kekne areke. Modiar koen.. wakakaka..

    loh, sampean berdua pernah ketemu ta? di kampungnya mas Avin ta? ngerti ngono tak melok mudik wingi..

  28. martoart says:

    Buat Hanikoen; 1) Setuju dengan anda tentang sama bermasalahnya kedua jenis orang itu. Maka saya gak merasa itu anda tujukan buat saya. Saya suka beda, saya gak suka waton.2) Jujur aja saya gak begitu tahu surat mana lagi yang lebih kontekstual anda maksud, yang sehubungan dengan pertobatan taufiq enggan berpuisi lagi. Anda menulis;“Bertahun tahun kemudian aku menemukan jawaban dari Taufiq Ismail mengapa beliau jg takut menulis puisi ternyata karena dia merasa berat sekali tanggung jawabnya sebagai penyair setelah membaca surat As syuara (para penyair). dalam Al Qur’an. Mari kita buka Al Qur’an…..”Saya telah buka kitab itu dan menyertakan ayatnya (Asy Syuara/Penyair), dan rasanya saya memang tidak membahas dan menyertakan surat lain lagi (Asy Syura/Perwakilan) yang anda bilang itu . Jadi plis kasih nomor surat dan ayat yg jelas surat yg lebih kontekstual yang anda maksud itu. Atau baca lagi sedikit teliti.3) Semoga kelak saya sempat menafsir Asy Syuara, tapi ini bukan janji.4) Skenario Allah, saya setuju.

  29. martoart says:

    Buat Agung Hima; Yang hebat-hebat hanya ada pada diri Allah semata, kita cuma insan yang tak luput dari salah dan dosa. (dah fasih ya ndaftar jadi Da’i)Buat V; Biru membeku adalah Biduren Tawon. Hitam adalah kedalaman.Buat Klewang; Avin jauh-jauh ke Jakarta sebenarnya bukan untuk ketemu aku, tapi ketemu si baju jambon.…

  30. anazkia says:

    luqmanhakim said: Halah…Gak ngono tah cak. Tinggal daerah ndi Mas? Ngko tak samperi ae…

    Wah, ini sepertinya awal2 kenal :)Bahasanya masih formil…

  31. afemaleguest says:

    membaca komen dimana kang Marto berdiskusi dengan Hanikoen, jadi lupa tadi aku mau nulis komen apa ya? hihihihi …bai de wei bas wei, kalo ga salah sejak tahun 2004 aku mulai kehilangan greget menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. hanya satu hal yang selalu kukatakan pada diri sendiri, “jadi manusia yang manusiawi.”^_^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s