Nyepi di Jakarta

Judul tulisan ini harafiah pada hari raya Nyepi umat Hindu, dan agak bersayap bagi orang Jakarta yang tidak ikut mudik Lebaran. Sudah sebulan lalu saya mempersiapkan diri ingin merasakan ketenangan Jakarta. Kerabat di kampung sudah saya beritahu bahwa Lebaran ini tidak pulang.

Lebaran kali ini tidak mudik.
Sekali waktu ingin menangkap sepi Jakarta”.

Begitu bunyi pesan singkat yang saya kirimkan. Saya tertawa sendiri, sebab merasa SMS itu seperti baris puisi. Kemudian sekilas terlintas sebaris kata-kata yang memang puisi;

Malam Lebaran

Bulan di atas Kuburan.

Itu karya Sitor Situmorang. Puisinya yang cuma sebaris itu sempat mencipta polemik. Tentang makna, genre, ataupun pesan filosofi yang dikandungnya. Sitor mengatakan bahwa kalimat itu meluncur saja tanpa pesan khusus, tanpa niat besar, dan hanya enak didengar. Dia berupaya menghentikan perdebatan akan puisinya. Dia gagal. Dia lupa pameo “pengarang telah mati”, dan ruh tulisan tetap hidup mengembara. Saya beruntung bukan Sitor. Saya tertawa lagi, puisinya seperti SMS.

SMS itu hanya dikomplain dalam bentuk SMS balasan; “Kenapa?”. Saya tidak membalas karena jawaban pertanyaan itu sudah termaktub dalam SMS pertama saya tadi.

Ada banyak alasan orang Jakarta tidak mudik. Gagal mendapatkan transportasi alasan utama. Gagal mengumpulkan uang lebih untuk kerabat di kampung dan malu karena itu, bisa juga. Terlalu sayang untuk pulang karena enggan bakal berbagi rejeki hasil kerja, mungkin ada tapi rasanya sangat langka. Ada pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan – meski agak mokal -, bisa saja. Sudah merasa tidak lagi punya kampung, boleh juga. Memang tidak punya kampung, ya pasti ada. Dan seterusnya. Tapi memang alasan saya karena kesepian. Jakarta yang sepi adalah sebuah kepenasaran tersendiri. Konon jalanan kota ini pernah sepi tidak pada saat lebaran. Bukan karena situasi darurat dan ada jam malam. Tak lain karena saat itu – dulu banget, tidak ingat kapan – orang Jakarta nongkrong di depan televisi menyaksikan pertandingan tinju antara Ellyas Pical melawan Chong Pha Park petinju asal Korea, dan jalanan sepi.

Saya merasa ini akan menjadi pengalaman menarik. Setidaknya tidak direpotkan urusan tiket atau bahkan sekadar kemas barang untuk mudik. Belum–belum saya sudah membayangkan Jakarta tanpa asap dan bunyi klakson kendaraan. Jakarta tanpa kemacetan seperti yang dikabarkan teman–teman yang lebih berpengalaman. Jakarta yang pelan tanpa keringat.

Segera saya menyusun rencana. Pertama yang terlintas adalah menyusur kota sepanjang jalur busway. Dengan sekali beli tiket saya akan puas naik bus milik Trans Jakarta itu. Atau rencana kedua menghubungi teman-teman sesama pencari sepi Jakarta dan bikin acara entah apa. Dan tidak ada salahnya menyusuri kehidupan malam Jakarta. Saya tidak yakin akan seriuh hari biasa karena clubers memilih liburan di luar kota, dan waiters–waitress-nya pada mudik. Tapi pada sisi lain saya percaya bahwa club dan diskotik Jakarta justru akan lebih ingar usai menahan diri sebulan penuh kala Puasa. Dentam musiknya akan lebih bingar serasa meledakkan bara dendam yang terakumulasi. Tapi buru-buru saya mencoret rencana itu dari catatan rencana Lebaran. Rasanya kurang pas dengan niat semula menangkap sepi. Rencana penggantinya, yaitu merenung dan introspeksi diri, juga saya gugurkan. Rasanya terlalu religius dan klise. Itu bisa dilakukan kapanpun. Saya sering melakukan, dan selalu gagal.

Tapi rasanya ada yang cukup menarik, yaitu pergi ke taman kota berbekal laptop dan beberapa kaleng bir dingin. Saya sangat berharap hari itu tidak hujan, tidak terlalu panas, dan banyak burung mengawang mengambil alih kuasa asap dan jelaga kota. Dengan bersandar pada sebuah bangku taman saya akan menyerap kesepian Jakarta, menuangkan dalam tulisan, dan membagi pengalaman kesepian itu kepada mereka yang hari kemarin berhimpitan di gerbong kereta api sisa impor. Kepada mereka yang kemarin merasa gamang terbang dengan pesawat daur ulang. Kepada mereka yang berjejal kelelahan di sepanjang tol Cikampek. Kepada yang rela berjam-jam atau bahkan berharian ngantri di pintu Bakaheuni. Tak lupa kepada para kesatria roda dua yang menambah panjang pelana motor agar muat memboyong anak-istrinya.

Sudah ah, rasanya aku segera cepat berkemas, menyiapkan diri untuk pengalaman pertama ini. Tunggu saja kabar nanti. Selamat mudik.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

26 Responses to Nyepi di Jakarta

  1. martoart says:

    Saat memosting tulisan ini, adik SMS dan kakak telephon. Ibu kemarin pingsan. Ibu saya dah sepuh memang. Saya seperti kuwalat atau luput dengan tulisan ini. Rupanya ada alasan lain orang untuk mudik.Jadi, saya rela untuk tidak konsisten dengan tulisan di atas. Mudik!

  2. hanikoen says:

    woalah, tapi btw partai legendaris Elly Pical adalah ketika menjungkalkan Judo Chun….

  3. martoart says:

    Wah.. Tengkiyu buanget! maklum wis amnesia.. he he..

  4. bbbnshoes says:

    wah…jadi batal baca tulisan di atas..wong akhirnya mudik !!!!

  5. martoart says:

    Iya tuh.. (tahu gitu gak tak kasih komen pembuka dulu biar kamu kecele)

  6. cechgentong says:

    selmat mudik dan mengembalikan kepingsanan ibu supaya sadar kembali bahwa mempunyai anak seperti sampeyan yang masih mencintai ibunya🙂

  7. martoart says:

    iya kang, kebangeten kalo gak mudik. dah sehat lagi sih. jangan-jangan lihat aku malah kambuh.. wah!

  8. luqmanhakim says:

    Aku dulu waktu di Jokja juga gitu, nelpon ke rumah, nggak pulang ke Jakarta, aku mau lebaran di Jokja aja. Ibuku marah-marah, dibilang apa susahnya pulang ke Jakarta, lah wong arus balik aja pake nggak mau balik. Ngapain lebaran di Jokja nggak ada siapa-siapa.Sampe akhirnya H-1, (terdorong sayangku sama ibu) aku mutusin pulang naek Fajar Utama barengan 6 orang temenku anak Jakarta yang kuliah di Jokja juga. Bener aja, di kereta, satu gerbong isinya cuma 6 orang doang! Di gerbong-gerbong lain juga kosong, beda sama kereta sebelah kita yang penuh sampe ke atap…Dan juga nih Mas, salah satu bentuk konsistensi adalah dengan selalu tidak konsisten, ha ha ha…Selamat mudik Mas!

  9. luqmanhakim says:

    martoart said: Tak lain karena saat itu – dulu banget, tidak ingat kapan – orang Jakarta nongkrong di depan televisi menyaksikan pertandingan tinju antara Ellyas Pical melawan Chong Pha Park petinju asal Korea, dan jalanan sepi.

    Satu lagi!Ada juga momen saat Jakarta sepi, yaitu pas pemutaran sinetron Si Dul Anak Sekolahan di tv kompetitor tempat aku kerja.Tiap Sabtu malam, Jakarta sepi, bahkan dari penghitungan riset AC Nielsen, tayangan itu belum ada yang nandingi, karena 40% penduduk Indonesia menonton tayangan itu, di regional Jakarta sendiri bahkan jumlahnya sampe 65% lebih.Jumlah share yang sangat tinggi dan belum pernah dicapai oleh program lain. Bahkan acara Empat Mata-nya Tukul, setinggi-tingginya pernah sampe 25% dan belum ada program tandingan lain yang menyedot perhatian masyarakat setinggi itu.Aku ngomentari dari sudut pandang pekerja broadcast ya Mas, he he he…

  10. ravindata says:

    Karena saat bersalaman slalu ditanya : mana istrinya ? Saya jengkel, lalu memutuskan untuk tidak pulang kampung.Tapi lebaran di kampung orang ternyata sepi, walau takbir jelas bergema.Sepo tenan … saya coba menyibukkan diri bersalaman2 dengan semua orang. Tapi aku tetap sendiri ….Keesokannya, saya terkejut. Serombongan saudara datang dari kampung halaman … Mereka datang memapah bapak (skrng almarhum), yang kangen ingin jumpa saya. Dalam sakitnya, dia pingin bertemu dengan anak laki2 satu2nya… Anak laki2 yang menjadi harapan menjadi penerusnya…. Yang ternyata tidak pulang saat itu …..Mungkin Sitor benar : Malam Lebaran. Bulan di atas Kuburan.

  11. airapi says:

    ha ha haakhirnya kepentingan individu kalah juga oleh kepentingan sosial…padahal aku berharap kang marto jadi nyepi… pasti dapat pengalaman menarik…sama mau minta fotonya…tapi ya itu…pada dasarnya kita memang tidak hidup sendiri…

  12. martoart says:

    Buat Lukman The Broadcaster; Situ enak bisa nikmatin arus balik nan lancar n gerbong nan kosong. Tapi mong-ngomong kapan ANTV bisa bikin Gebrakan program nan Dahsyat. ditunggu nih. Ato butuh bantuan ide? he he…Buat Avin The Banker; Comment-mu medeni tenan. Wah!Buat Tirta Dahana Bin Warihhagni; Yaah,.. Gimana lagi ya Air, namanya Emak. Sesayang-sayang Ibu Kota, Lebih Sayang Ibu Sendiri kan… Ciee…

  13. cechgentong says:

    Sampeyan mudik monas ga jadi kebakaran hahahahahaha

  14. klewang says:

    tak dukung mas, mudiklah demi ibu.juga demi feelingku yang yakin sampean dapat ide nulis gak kalah edan saat menjalani ritual mudik

  15. mimpikiri says:

    mudik kemanakah?selamat mudik banghati-hati di jalan

  16. Mas klo mudik jgn lupa blk lagi ya utk macetin Jakarta…

  17. martoart said: “Lebaran kali ini tidak mudik.Sekali waktu ingin menangkap sepi Jakarta”.

    wah ini puisi dengan genre SMS dong pastinya, hehehe…kalo saya mudik dari hutan cihideung menuju jakarta. (mudik atau ngota, nggak penting deh) kalo arti mudik adalah kembali ke tanah kelahiran, ya berarti aku mudik juga. enak banget bisa menikmati jakarta yang bebas dari keramaian. jalan-jalan sepi. bberapa sentra berkumpulnya rakyat juga sepi, kecuali kebun binatang ragunan. mungkin rakyat kita senang memperhatikan dunia binatang, yang representatif thd dunia politik endonesya. sore ini aku sudah menyiapkan gembolan buat mudik, ada kelapa tua 6 butir, emping 2 kilo, cabe merah 5 kilo, dan nggak ketinggalan : PETE 1 empong! semua isi gembolan itu akan habis dalam waktu sehari untuk dishare dengan teman dan tetangga. siapa yang mau pete? aku beli langsung dari hutan seharga 40 rebu untuk 1 empong (100 papan)

  18. martoart says:

    chech, maksud gambar itu amati geni, matiin api, alias nyepi tapi di jkt.Kang Klewang, trims dukungannya. semoga ada berita baik untuk ditulis.Nona, aku mudik lewatin Solo. tembus ke Jatim, nah Ngawi.Eunique, Saat sepi di kampung, rindu macet jakarta…Matahari, Kamu pikir kampungku gak punya kekayaan untuk dipamerkan? haha.. ada mangga di depan rumah, ada nasi pecel lengkap, ada bothok tawon, dan gratis kalo kamu mau AREK alias Arak Kerek (kandungan alcohol undetected).

  19. martoart said: Matahari, Kamu pikir kampungku gak punya kekayaan untuk dipamerkan? haha.. ada mangga di depan rumah, ada nasi pecel lengkap, ada bothok tawon, dan gratis kalo kamu mau AREK alias Arak Kerek (kandungan alcohol undetected)

    hahaha… aku penasaran sama AREK dan bothok tawon itu lho…

  20. ravindata says:

    Bukannya Arjo kang ?

  21. martoart says:

    ravindata said: Bukannya Arjo kang ?

    opo se Vin? ga jelas.. sopo arjo iku?

  22. ravindata says:

    Arak jowo … Limbahe pabrik gulo .. Sing digawe abuk2an arek ngawi ha ha

  23. martoart says:

    Gak! ini Arak home industri Desa Kerek. Makanya disingkat AREK. Dari singkong fermentasi, suling, murni, mempercepat intrance, marifat… halalan wa thoyiban. he he…

  24. aidavyasa says:

    martoart said: Nona, aku mudik lewatin Solo. tembus ke Jatim, nah Ngawi.

    mampiiiiiiiiiirrr!!!

  25. anazkia says:

    Lebaran ini aku tak pulangBukan mau berperang *halah*

  26. afemaleguest says:

    membaca postingan ini membuatku ingat lebaran tahun 2005.karena sesuatu dan lain hal (halah!) hari kedua lebaran aku ngabur ke Jogja, (masih kul waktu itu). kos sepi, tapi masih mending ada satu penghuni kos lain yang ternyata ga pulang kampung. but kalo malem, dia nginep di kos temannya, walhasil aku sendirian. but berhubung aku biasa mengisolasi diri ya it was okay. (selama di kos situ, serasa jadi pertapa dah. wkkkk …)yang menjadi masalah bagiku, banyak warung makan langgananku beli masih tutup, kolam renang UNY tutup juga. warnet langgananku waktu itu juga tutup kayaknya.asiknya, setelah terbiasa melihat jalan kaliurang crowded, beberapa hari itu sepiiii.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s