Bertuhan dengan Sederhana

Saya tulis saat Haul Kematian mendiang Lennon. Dimuat di Tabloid Koktail menjelang Hari HAM (10 Desember 2007). Sekarang telah saya sunting dan posting di blog ini untuk turut merayakan Hari Perdamaian Dunia (21 September 2008). Juga masih dalam serial..

[Tulisan untuk mengidupkan malam di bulan penuh rahmat]

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too

Bait di atas dikutip dari lagu berjudul “Imagine” karya Sir John Winston Lennon, seorang pelantun tembang-tembang perdamaian dan hak asasi manusia yang ironisnya mati dibunuh pada tanggal 8 Desember 1980, dua hari menjelang hari hak asasi manusia. Mengenang almarhum adalah juga membaca apa yang ia utophiakan. Tulisan singkat ini anggap saja sebagai salah satu cara mengenangnya. Membaca bait lagu tersebut membawa saya untuk memaknai konsep agama sebagai berikut;

Konsekuensi agama adalah (meng)adanya ritual dalam spirit berketuhanan ataupun dalam konsep berkepercayaan. Ketika seseorang mengakadkan imannya dalam agama, saat itu pula dia menerima aturan ritual yang ada di sana. Perkembangannya, spirit yang bersifat pribadi setiap insan dalam konsep berpercayanya menjadi urusan sebuah lembaga spiritual. Akibat yang mengiringinya sungguh tidak sederhana. Seseorang bisa dikatakan tidak saleh, lemah iman, kurang takwa, musyrik, murtad, bahkan kafir, apabila gagal menjalankan kewajiban yang ada. Namun tentu saja apabila sukses beritual, sesorang akan mendapat sebutan-sebutan sebaliknya. Spirit menjadi tidak hal utama lagi, namun justru orang lebih khusyuk merayakan upacara – upacara.

Alasan yang menjadikan ritualitas lebih terawat di antaranya merujuk kepada pendapat bahwa agama adalah pengatur kehidupan bermasyarakat. Lebih khusus lagi adalah alasan bahwa pemikiran sufistik tidak bisa diterapkan pada keragaman individu dalam bermasyarakat. Kelekatan agama dalam bermasyarakat menjadi keharusan.

Yang seharusnya juga dipahami adalah banyaknya pilihan konsep pengatur kehidupan bermasyarakat dalam berbagai pilihan ideologi, ataupun produk hukum yang harus terbebas dari campur tangan agama. Pentingnya pembebasan pranata sosial dari agama adalah untuk menghindarkan intervensi luar logika, dimana legitimasi ketuhanan acapkali dijadikan ujung tombaknya. Perangkat atur produk mahluk Tuhan adalah pilihan yang lebih masuk akal. Artinya sederhana; Kita akan mudah bermasyarakat justru apabila dengan penuh hormat mampu menyimpan kesakralan agama jauh di lubuk hati paling dalam. Dan yakinlah, Tuhan akan lebih senang apabila hambanya lebih berinisiatif, kreatif, dan bisa berdikari dalam menyembahnya. Dengan begitu, klausul kedua tidak perlu diperbincangkan lagi karena sudah terjawab dengan sendirinya. Pemikiran sufistik justru layak diterapkan pada keragaman individu dalam bermasyarakat, karena dia sepi dan tidak rese. Sekadar catatan; Tentunya setiap orang bisa lebih lega (dan lebih khusyuk) dalam beraktifitas yang bersifat pribadi seperti misalnya bersufi ria tadi.

Tanpa lembaga spiritual, setiap orang bisa bertuhan dengan lebih sederhana. Lebih arif dan tidak mudah menyalahkan pihak-pihak. Tidak melembaga tapi mesra, begitulah. Spirit kepercayaan insan justru akan terjaga dari tuduhan mistifikasi, labeling, dan teror, daripada apabila dilembagakan. Sebab bagaimanapun kita tidak perlu – dan memang tidak akan pernah mampu – menguasai Tuhan dengan mengungkungnya dalam sebuah lembaga. Pada buhul – buhul tertentu, orang–orang yang pemahaman imannya cetek justru merasa telah benar dalam membela Tuhannya dengan mengerek bendera agama yang dianut tinggi–tinggi. Seringkali kepicikan tumbuh liar. Tidak hanya akan terjadi perobekan bendera–bendera yang berwarna beda, tetapi akan bahkan menggergaji tiang–tiang bendera yang lain. Dan yang terjadi berikutnya kekacauan, atau setidaknya tumbuh perasaan miris dan saling curiga antar masyarakat. Kecenderungan terjadinya konflik di dalam masyarakat seperti itu sangatlah besar. Imagine there’s no religion, haqul yaqiin Nothing to kill or die for.

Adalah seorang Mark David Chapman, yang duapuluh delapan tahun lalu telah menembak mati Sang Maestro di depan apartemennya di New York. Selain marah, orang pada heran kepada David. Bagaimana tidak, membunuh Lennon artinya juga membunuh kemungkinan kembali bersatunya The Beatles.

Mr Lennon tidak perlu didoakan karena hanya akan menjadi sebuah paradok. Dia sendiri adalah sudah sebuah doa. Manusia hebat itu telah wafat, namun setidaknya upaya menyemai perdamaian akan terus dilakukan bagi para pecintanya. Selamat Hari Perdamaian Internasional; Give Peace A Chance!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

23 Responses to Bertuhan dengan Sederhana

  1. martoart says:

    Gambar Tuan Lennon saya ambil dari situs internet semaksimal pixel yang diijinkan. Kemudian saya olah dengan gambar lain. Terima kasih kepada teknologi.

  2. pacarkecilku says:

    Lagu ini emang TOPselalu membawa efek yg berbeda,tiap mengenang lagu ini,lennon,dan perdamaian

  3. cechgentong says:

    kembali lagi masalah sufistik bukan dilihat dari simbol2 tetapi kepada implementasi/istiqomah dalam kehidupan sehari-hari. “jangan cari barokah/rahmat Allah yang harus dicari adalah ISTIQAMAH”

  4. zenstrive says:

    heleh, mimpi utopis,manusia akan selalu mencari alasan untuk membunuh yang beda darinya,ada organized religions atau gak;lenon sendiri berpikir picik: menyalahkan agama atas kekacauan dunia dan bukannya menyalahkan dirinya sendiri yang tidak mampu tidak menyalahkan orang lain yang merupakan subconscious logic yang menjadi dasar banyak peperangan.”Gw kurang lahan, gw ambil deh punya dia, salahnya bertetangga ama gw””Gw miskin, salah orang lain tuh yang serakah, gw bunuh deh””Agama itu kok kaya, salah dia tuh nyolong2 agama gw, gw benerin deh pake nitrogliserin gw”begitulah

  5. blackdarksun says:

    ehe……. siiippp bang………btw, ‘imagine’ juga jadi nada dering hape anakku yang 12 tahun………entah kenapa dia seneng lagu itu

  6. bbbnshoes says:

    bertuhan dengan sederhana…akur

  7. aidavyasa says:

    kak!mau nanya.kenapa sieh kok orang demen ya secara ga langsung minta disebut or di bilang or di anggap: ‘woah kamu spiritualist sekali”wah kamu sakti”whuaaaaaaaaaaaaaaahhh kamu indigoooooooooooo”wah … hebat … kamu reinkarnasinya ringo starr”wahhhh kamu …’penyakit hati atau penyakit cermin itu, kak?dan seperti biasa ….I love the whole writing, its such a brilliant phraseBoom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah

  8. goodbadtimes says:

    idem Mas…give peace a chance,moga cinta juga dpt kesempatan yang sama…;)

  9. bbbnshoes says:

    aidavyasa said: Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah

    WEH…LAGU INDIA, EUREKA !!!

  10. aidavyasa says:

    bbbnshoes said: WEH…LAGU INDIA, EUREKA !!!

    HeadShot mu itu lhoh .. hahahahaha ….pwasa banget pose na

  11. martoart says:

    aidavyasa wrote; “kak! mau nanya.kenapa sieh kok orang demen ya secara ga langsung minta disebut or di bilang or di anggap:’woah kamu spiritualist sekali”wah kamu sakti”whuaaaaaaaaaaaaaaahhh kamu indigoooooooooooo”wah … hebat … kamu reinkarnasinya ringo starr”wahhhh kamu …’penyakit hati atau penyakit cermin itu, kak?”Karena dik,…Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah

  12. aidavyasa says:

    martoart said: aidavyasa wrote; “kak! mau nanya.kenapa sieh kok orang demen ya secara ga langsung minta disebut or di bilang or di anggap:’woah kamu spiritualist sekali”wah kamu sakti”whuaaaaaaaaaaaaaaahhh kamu indigoooooooooooo”wah … hebat … kamu reinkarnasinya ringo starr”wahhhh kamu …’penyakit hati atau penyakit cermin itu, kak?”Karena dik,…Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah, Boom-de-ah-dah

    hiyyhhhh gusar aku

  13. airapi says:

    martoart said: Tanpa lembaga spiritual, setiap orang bisa bertuhan dengan lebih sederhana

    kalo aku sih pengen yg lebih komplek dan menyeluruh… kalo cuma sederhana-sederhana saja sih kayaknya kurang…he he he…

  14. martoart says:

    airapi said: kalo aku sih pengen yg lebih komplek dan menyeluruh… kalo cuma sederhana-sederhana saja sih kayaknya kurang…he he he…

    tentu gak boleh ada yang main larang atas kepengenanmu untuk bertuhan secara komplek dan menyeluruh Air. he he he…

  15. martoart says:

    Siap, menuju TKP.Sebentar,..aku bukan dosen pembimbing.

  16. airapi says:

    wa ka ka ka… aku juga ndak kuat mbayar kok…

  17. airapi says:

    sory kang… jaringanku krodit… aku of dulu aja

  18. martoart says:

    He.. he.. ada editor cantik jarak jauh, baca, dan ngoreksi begini;”mas marto kereen ajeee neeeh tulisannyee tentang lennon… (eh tapi gua gatel neh massss cuma pengen koreksi dikiiitt aja…)kayaknya nyang bener “give peace a chance” bukan “give peace a change” (yang pertama artinya berikan kesempatan untuk perdamaian, yang kedua artinya berikan duit kembalian)” biglove from bigappleleili————————————Dengan ngucap trims n kemaluan penuh karena bahasa enggresku yang kacaw, maka kalimat terakhir tulisan ini telah saya ralat.

  19. harxnext says:

    hehe… setau saya juga give peace a change… untung saya berkunjung kesini.

  20. afemaleguest says:

    love this post very much!(ah, love other posts too ^_^)semalam, seorang rekan kerja curhat bahwasanya yang akhirnya membuatnya ‘legowo’ dalam hidup ini bukanlah shalat, mengaji, maupun berzikir, melainkan bersikap pasrah atas segala yang terjadi. dan bersikap pasrah ini bisa dilakukan oleh semua orang tanpa perlu shalat, mengaji, berzikir.aku komen, well, memang sebenarnya diharapkan dengan menjalankan shalat, mengaji, maupun berzikir dengan baik, orang akan mencapai taraf kepasrahan yang membuatnya merasa ‘nikmat-nikmat’ saja dalam hidup ini. namun sayangnya orang tidak menghubungkannya, mereka melakukan ritual keagamaan hanya agar ‘kewajibannya’ usai dikerjakan, melupakan esensi melakukan itu semua, menjadi insanul kamil. rekan-rekan di tempat kerjaku ini melihat perubahan drastis yang ada padaku, sebelum kuliah di American Studies aku rajin shalat (di kantor sekitar pukul 15.00-21.00 maka melewati jam shalat ashar dan maghrib). lulus kuliah, mereka tak lagi melihatku melakukan itu di kantor, tak sekalipun. awalnya, aku tahu aku jadi bahan pergunjingan hebat (ck ck ck ck …) “wis sok merasa pinter, mulane keblinger” bla bla bla … ah, biarkan saja anjing menggonggong, kafilah jalan terus. hohohoho …*curhat Kang, biasa*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s