Riwayat Pohon Ilmu – Hikayat Pohon Hayat

[Tulisan untuk mengidupkan malam di bulan penuh rahmat]

Pada malam-malam tertentu ada laku Masangin, masuk di antara dua Beringin di Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta. Konon apabila berhasil, keinginan Anda akan terkabulkan. Warisan genetis obsesi Adam akan keabadian?

Pengekalan Rahasia Kekekalan

Allah telah mengajarkan hampir seluruh rahasia alam kepada Adam. Ya, hampir. Kecuali tentang rahasia dua buah pohon. Pohon Pengetahuan/Pencerahan dan Pohon Kehidupan/Hayat. Satu pohon telah dipertaruhkan Tuhan untuk misi pengusiran Adam. Pohon Pengetahuan, pohon yang Iblis membohongi Adam bahwa itu Pohon Hayat, pohon yang menjaga agar makhluk bisa hidup kekal. Kebutuhan selanjutnya akan kehidupan abadi setelah hal pertama, yaitu pengetahuan didapatnya dari Tuhan saat diajar nama-nama.

Maka pengetahuan manusia teruslah bertambah, tapi usia hidupnya justru cenderung menurun. Ilmu pengetahuan menciptakan teknologi yang memiliki efek samping cenderung merusak dan membinasakan, sementara rahasia di mana pohon hayat itu tumbuh terasa semakin samar. Semakin jauh. Allah benar-benar merahasiakan satu point pentingnya. Adalah rahasia keabadian. Rahasia besar yang hanya Dia berhak memilikinya. Allah menyimpan rapih, serapih Dia menyisakan satu rahasia nama penting setelah 99 nama-Nya. Nama terakhir yang tidak Dia buka saat mengajar nama-nama kepada Adam.

Dan orang-orang besar pun luput mendapati sinaran pohon yang diarahnya. Sidharta menekuri Pohon Bodhi di kerindangannya, pohon pengetahuan bukan hayat. Kepala Sir Isaac Newtown tertimpa apel – tentunya itu sebuah metafor – dan menemukan asas grafitasi. Dan kita ingat Musa mendatangi ara yang terbakar demi keingintahuannya. Orang-orang kecillah yang justru nyaris kearah pohon kehidupan. Gepeto mampu menghidupkan Pinokio, Pygmalion yang menghidupkan Galatea, orang kampung menghidupkan Jaelangkung, dan Fumeripits yang menghidupkan patung kayu pahatannya menjadi Bangsa Asmat. Sayangnya mereka acap luput dari sinaran pengetahuan. Lantas di mana kita bisa temukan pokok kekayu pohon kehidupan abadi itu? Atau mungkin pertanyaannya diubah, perlukah kita hidup kekal?

Tuhanpun telah bersumpah atas nama kedua buah pohon, Tin dan Zaitun (Q S. At Tin). Tapi rasanya tidak harus itu yang dimaksud. Curigai saja sebagai satu lagi cara Allah mengalihkan perhatian kita. Toh Dia tetap memilih pohon yang baik. Bukan Benalu pun Tali Putri. Sementara tetua agama memaknainya Quldi, tetua di sisi lain menafsir Apel, di sisi lain lagi merumuskannya dalam Gematrain Kabalistik Tree of Life lengkap dengan Metatron Kabalistik flower of life-nya. Tidaklah penting untuk diperdebatkan. Yang penting adalah bagaimana kita turut menghormati orang yang menghormati pohon-pohon. Mereka yang memuja bahkan menyembahnya. Sebagaimana moyang kita. Usahlah keburu mudah mengafirkan. Kemudian membabat pepohon besar di tengah kota. Kelakuan ini tak lebih buruk dari tabiat pelaku illegal logging. Mungkin lebih jahat, karena biasanya atas nama Tuhan.

Kembali ke rindang pepohonan

Saya sebenarnya cukup tertarik kepada investigasi nenek moyang manusia. Mereka seperti saling memiliki arah yang sama bahwa pohon yang dirahasiakan Tuhan itu; Beringin. Penelusuran saya atas akar dan sulurnya mengarah ke jaman sebelum masuknya Hindu di Tanah Air kita. Jaman di mana sejarawan menyebutnya sebagai Masa Prasejarah. Kepercayaan terhadap pohon hayat yang muncul pada masa itu berkaitan dengan paham animisme dan dinamisme. Masyarakat percaya bahwa beberapa pohon tertentu menyimpan kekuatan ghaib sebagai sumber hidup dan mampu mengabulkan segala permohonan manusia.

Suku Dayak Ngaju menghormati kekeramatan dan kesucian pohon kehidupan. Mereka percaya bahwa dari pohon yang tumbuh di atas puncak gunung ini lahir sepasang manusia, yang kelak menurunkan generasi Dayak di beberapa lapisan masyarakat. Pohon kehidupan dalam mitos acap dihuni oleh roh-roh nenek moyang. Hal semacam ini yang juga dipercaya oleh masyarakat Batak Toba. Bagi Suku Jawa pohon yang dianggap penting adalah pohon Waringin, yang berasal dari akar kata ‘Angan’ dan menjadi ‘Ingin‘. Kemudian mendapat awalan ‘War‘, yang dalam Bahasa Indonesia menjadi Beringin. Di Pulau Karimunjawa, tepatnya di Desa Nyamplungan, sampai sekarang masih ditemukan sepasang pohon keramat yang diberi nama Dewadaru, yang mungkin lekat dengan nama pasangannya Jayadaru. Di Desa Trunyan, kintamani, Bali, mayarakat Bali Aga – masyarakat Bali asli yang menganut kepercayaan Pra-Hindu – menaruh mayat di bawah pohon Taru Menyan. Mayat tersebut tidak menimbulkan bau busuk, karena imbas dari wangi pohon tersebut. Mungkin saya salah, tetapi ini mengingatkan saya kepada kayu Cendana yang harum dan membuat saya harus menyebut juga Gaharu yang wangi. Dari sanalah nama desa Trunyan berasal. Taru ataupun Daru berarti pohon, dan Menyan berarti harum. Entah berhubungan atau tidak, dalam kitab Rgveda dikenal pohon Asvattha tempat tinggal Dewa Yama bersama arwah-arwah dari orang yang sudah meninggal. Rupanya penyebutan nama pohon di Karimunjawa ataupun Bali Aga dengan menggunakan bahasa Sansekerta merupakan irisan masa keterpengaruhan Hindu.

Kemudian kedatangan Hindu ataupun Budha seperti memberi referensi penegasan pemahaman moyang kita akan pohon hayat yang dihormatinya. Dalam Agama Hindu, karena begitu dipuja, pohon ini dikenal dengan banyak nama; Kalpataru, Kalpawrksa, Kalpadruma, Kamadugha, kalpalata, kalpapāda, dan Devataru. Dalam Agama Buddha, pohon hayat ini dikenal sebagai Pohon Bodhi.
Atau juga disebut dengan Pohon Ara Suci, di mana
di bawah kerindangannya Pangeran Sidharta Gautama mendapat Pencerahan.

Pada zaman kedatangan Islam, kepercayaan Orang Jawa terhadap pohon hayat mengalami perkembangan menuju dua arah. Para wali yang mengajarkan kemurnian Islam cenderung mengajak umat menjauh dari teduhnya pohon. Namun di sisi lain, para Wali Islam Putih itu justru menyarankan pepohonanlah sebagai obyek yang boleh digambar, karena tidak “sehidup” binatang apalagi Manusia. Dalam satu ayat Al Quran dikatakan apabila seseorang mengambar atau membuat patung mahluk hidup, seniman tersebut akan ditagih Tuhan untuk menghidupkannya. Kalau tidak bisa, tentu seperti biasa api nerakalah balasannya. Seperti itulah nasib mereka yang berani coba-coba menyaingi Tuhan. Karena itu, di beberapa karya senirupa klasik era tersebut banyak muncul gambar binatang atau figur manusia yang terbangun dari susunan akar atau jalaran tanaman. Bahkan agar semakin Islami, figur manusia tersebut terbangun dari susunan huruf Arab. Sementara itu para wali yang berprinsip Islam harus membumi lebih bisa menerima kehadiran penghormatan akan pohon hayat. Maka hadirlah Gunungan atau Kayon dalam wayang kulit sebagai representasi Kalpataru. Hiasan semacam ini juga dapat dilihat di kompleks masjid dan makam Sunan Sendang. Namun begitu, para Wali Islam Abangan itu juga berkompromi mendeformasi bentuk wayang Jawa untuk semakin jauh dari kesan realistik mirip manusia seperti halnya wayang Bali. Mereka bahkan menambah tiga guratan di setiap leher tokoh wayang untuk menunjukkan penggambaran telah tersembelih sebagai mahluk mati.

Pada jaman moderen, kesakralan keluarga pepohon kalpataru menjadi terpuruk sejak dipakai sebagai simbol-simbol kenegaraan dan partai. Pohon Beringin sebagai lambang Pengayoman tidak memiliki kekuatan untuk mengayomi. Sebagai lambang Koperasi, tidak mampu menyejahterakan anggotanya. Hadir sebagai emblem KORPRI, tak mampu melayani. Dan ketika menjadi tanda gambar Partai Golongan Karya, pohon ini lebih dianggap sarang genderuwo dan begal-kecu. Perhutani yang menghendaki logo Kalpatarunya memicu semangat pelestarian hutan, malah menjadi ironi ketika departemen ini patut dicurigai sebagai biang pembabat hutan Jati.

Ficus Connection

Barangkali ketika Tuhan menyebut Tin dalam sumpahNya, itu memang sebuah petunjuk yang mengarahkan juga. Tin yang semai di tanah lahirnya Monotheisme itu adalah Ara (Ficus Carica – Adriatik). Masih satu keluarga dengan Bayan/Kalpataru (Ficus Benghalensis), pohon yang dihormati dalam Hindu. Pun masih satu genus dengan Bodhi (Ficus Religiosa), yang tumbuh di tanah Gaya daerah Bihar kelahiran Buddhisme. Seperti bukan kebetulan ketika disandingkan dalam Biologi, ketiga Fig Tree (Ficus Carica – Ficus Benghalensis – Ficus Religiosa) itu merupakan Tiga Percabangan Utama untuk memilahkan ratusan speciesnya. Sementara pohon yang ditumbuhsuburkan Tuhan sebagai pujaan moyang Nusantara adalah Beringin (Ficus Benjamina).

Eka Budianta, seorang Budayawan mengatakan Ia tanaman universal yang dihargai semua agama. Lima kitab suci; Amzal (Sulaiman), Taurat (Musa), Zabur (Daud), Injil (Isa), dan Al Quran (Muhammad) mengabadikannya. Karenanya pohon tin/ara/fig/ficus itu layak disebut pohon perdamaian”. Flora lain, yang kerap disebut pohon perdamaian ialah zaitun. Soeharto juga pernah memopulerkan pohon Keben sebagai pohon perdamaian, namun rupanya gagal populer. Kenakalan saya mencurigainya karena pohon tersebut ditasbih oleh seorang berbasis militer. Tak begitu dekat dengan kedamaian. Apalagi Soeharto.

Adakah kesamaan ide spiritual manusia di Tanah Tuhan, Ladang Dewa-Dewi, dan Belantara Roh Moyang tentang pohon ini bisa kita jadikan satu petunjuk untuk menemukan induk Sang Hayat? Saya ingin sekali menapaktilas dan berteduh di kerindangannya. Memang sih di kota-kota kabupaten masih acap tertanam sepasang Ringin Kurung di tengah alun-alun kota, namun sekarang kepercayaan terhadap pohon hayat di bumi kita ini semakin samar. Seiring pembantaian hutan untuk disawitkan, juga pendeskriditan kepada roh para moyang.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

27 Responses to Riwayat Pohon Ilmu – Hikayat Pohon Hayat

  1. martoart says:

    Tulisan ini saya sulam dari berbagai sumber di internet, gambar seperti biasa saya olah dengan photoshop. Materi juga dari internet.

  2. bbbnshoes says:

    tulisan yang keren mas…tapi bacanya tak cicil yo

  3. aidavyasa says:

    bbbnshoes said: tulisan yang keren mas…tapi bacanya tak cicil yo

    aku aja ku copas ke folder tersendiri,trus ku print …tinggal nunggu kopdaran dan minta tangan ma ni penulisnya🙂

  4. martoart says:

    ayo silakan, mo mencicil, mo ngeprint, mo minta tangan (?) sebelum penulisnya ngetop.. he he..

  5. cechgentong says:

    martoart said: ayo silakan, mo mencicil, mo ngeprint, mo minta tangan (?) sebelum penulisnya ngetop.. he he..

    saya ga mau ikut2an abiznya penulisnya sdh terkenal …….dengan urat lehernya hahahhahahahahahahaa

  6. ujiarso says:

    martoart said: Pada jaman moderen, kesakralan keluarga pepohon kalpataru menjadi terpuruk sejak dipakai sebagai simbol-simbol kenegaraan dan partai.

    Bila aku jalan – jalan ke desa – desa di kawasan gunug kidul, setiap bertemu dengn pohon beringin, aku masih merasakan kesakralannya mas, juga rasa syukur, pasti ada sumber air yang tak akan habis di musim kemarau. pohon itu juga penyimpan air yang luar biasa.

  7. deyoyok says:

    tulisan yang bernas !

  8. orangketiga says:

    Keren! Ini tema misteri lama yang dulu sempet membuatku terobsesi pas SMA. Kenapa legenda pohon hayat ini bisa ada di seluruh dunia? Apa hubungannya dengan pohon khuldi dsb? Tapi waktu itu aku dianggap terlalu iseng, ga ada yang mau jawab pertanyaanku. :(Ada bacaan yang recommended untuk ini mas?

  9. airapi says:

    martoart said: Mereka bahkan menambah tiga guratan di setiap leher tokoh wayang untuk menunjukkan penggambaran telah tersembelih sebagai mahluk mati.

    ha ha ha….ini diplomasi para seniman…biar besok tidak ditagih…

  10. martoart says:

    Wah, tamu berikutnya cowok semua, nih;Buat cech; Konon tuhan sedekat urat nadi di leher kita kang..Buat Ujiarso: Pak dhe, jangan-jangan tempat yg kita kunjungi sama. waktu itu pas kkn, ketemu sendang di bawah ringin. wah suejuuk…Buat Yoyok: Komentarmu yang bernas! Hua ha ha ha…Buat Ivan: Waktu aku berselancar, ketemu juga satu kitab yang mengatakan pohon surga itu termasuk Ficus Carica, tapi gak aku comot. Pertanyaan kita waktu remaja (Ciee…) mulai terjawab oleh teknologi. Internet misal. Tapi tetep harus cek n ricek data n kerajinan menyulam kegelisahan aja. Belum ketemu bacaannya Van, cuma daya ingat n surfing.Buart Airapi: he.. he.. dari jaman nenek moyang tabiat seniman sama ya? Kekekek… Diplomasi Visual.

  11. juraganerot says:

    kepanjangan bozzzzposo-2 ngantuk mboco kedawan, mengko tak sambung maneh wes…hehehehehe

  12. martoart says:

    yo ra sah poso.. wakakaka….

  13. beringin..takpikir identiknya dgn alun2 & omah gendruwo, 1 lg yaitu parpol warna kuning. baru ngerti “ada yg lain”…makasih Mas udh kasih tau. btw tulisannya selalu “nakal” ya…

  14. juraganerot says:

    ush…… tanggung nich bentar lagi…… lebaran hehehehehe

  15. ravindata says:

    Ning Bali, wet kok malah diseweki ?

  16. martoart says:

    wedi nek wudo dianggep pornografi terus ditebangi. kekekek….

  17. aidavyasa says:

    martoart said: Wah, tamu berikutnya cowok semua, nih;Buat cech; Konon tuhan sedekat urat nadi di leher kita kang..Buat Ujiarso: Pak dhe, jangan-jangan tempat yg kita kunjungi sama. waktu itu pas kkn, ketemu sendang di bawah ringin. wah suejuuk…Buat Yoyok: Komentarmu yang bernas! Hua ha ha ha…Buat Adrian: Waktu aku berselancar, ketemu juga satu kitab yang mengatakan pohon surga itu termasuk Ficus Carica, tapi gak aku comot. Pertanyaan kita waktu remaja (Ciee…) mulai terjawab oleh teknologi. Internet misal. Tapi tetep harus cek n ricek data n kerajinan menyulam kegelisahan aja. Belum ketemu bacaannya Dri, cuma daya ingat n surfing.Buart Airapi: he.. he.. dari jaman nenek moyang tabiat seniman sama ya? Kekekek… Diplomasi Visual.

    buat aku mana?🙂

  18. martoart says:

    lho… itu buat yg sesi cowok. kamu sama Erwina dah di atasnya. tapi jangan-jangan kamu cowok juga V? hmm…

  19. aidavyasa says:

    martoart said: lho… itu buat yg sesi cowok. kamu sama Erwina dah di atasnya. tapi jangan-jangan kamu cowok juga V? hmm…

    bisajadi wong aku easy lali :))

  20. tulusjogja says:

    Wah mah yess kedudut atiku..maturnuwun Dimas…

  21. martoart says:

    236789 said: Buat aidavyasa kren komennya

    iki sopo maneeeeeh, lapakku jadi ajang cari jodoh!

  22. maytaro says:

    bacaan yang bagus nihsuwun kang, jaid ingat filem Avatar baik yang kartun AAng – Last Air Blender maupun AVATAR karya James Cameron, di situ ada 1 pohon kehidupan yang dipercaya induk dari semua kehidupan

  23. manikamanika says:

    Wah menarik banget ki mbah, putumu iki lagi seneng moco sejarah dan napak tilas manusia. Btw dari mana aja to sumbernya kok kumplit tenan? Nek aku dikon moco buku2 gini mesti wes tak nggo bantalan turu huehehhehe..

  24. martoart says:

    manikamanika said: dari mana aja to sumbernya kok kumplit tenan?

    Aku hapus satu komenmu karena dobel;Ok, sumber dan bahan itu dari bayak tempat. pertanyaanmu sama seperti pertanyaan Ivan (Orangketiga) di atas. Teknologi Internet misalnya, adalah perangkat yang amat membantu buat mencari data. Tapi tetep harus cek n ricek apa data yang ada dpt dipertangungjawabkan, kemudian semua yg pernah kita sinau selama ini, semua hasil diskusi, berbagai trivia, perpustakaan, aya ingat, banyak lah.. yang penting adalah kreativitas kita dalam menyulam semua itu. Biar jadi bagus dan indah. (terus dibikin sarung bantal.. he he nggo turu juga ujung2nya)

  25. ohtrie says:

    Tag tempat sik ahh……..

  26. penuhcinta says:

    martoart said: Biar jadi bagus dan indah. (terus dibikin sarung bantal.. he he nggo turu juga ujung2nya)

    Ono opo Cak? Manggil aku kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s