Keluarga Cemar

[Tulisan kedua dari tiga serial postingan] Siapa Pegang (Remote) Control? Itulah pertanyaan yang merentang di antara televisi dan penontonnya.

Kita kembali mengunjungi Keluarga Cemaran tadi. Katakanlah, jalan cerita berkelanjutan semakin ekstrim (atau mungkin memang bisa begitu). Keluarga Cemaran yang rentan, telah menjadi Keluarga Cemar. Tetap di sudut Indonesia yang sama;

Si Bapak semakin menghargai laku kekerasan. Dia salut dengan semangat anak muda yang tak lelah menyiksa seorang maling hingga tubuhnya biru-lebam, iganya patah dua, kulitnya penuh sundutan Marlboro, dan sebuah biji matanya lepas. Mensyukuri maraknya milisi sipil yang dengan kekerasan merasia minuman keras. Kabar terakhir, dia bercerita dengan bangga telah memberi istri tanda merah di pipi dengan tangan kanannya. Dia sebel istrinya terlalu suka ngegosip.

Si Ibu semakin mudah hanyut dalam rumor apapun. Ngomongin tetangga, ngrumpiin teman, ngerasanin keponakan, dsb. Gosip sebagian dari imannya. Dia juga semakin mudah curiga, syak-wasangka, suudzon, dan curios. Korban terakhir adalah suami sendiri, yang ia curigai karena selalu pulang semakin lambat. Dan pertengkaran membuat pipinya tertanda merah kemplangan.

Anak perempuan semakin paranoid. Phobia ruang gelap, mudah terkejut, jantungnya berdetak kencang ketika adiknya mengageti. Bulu kuduknya segera meremang jika angin membelai kulitnya. Semua hal dimaknainya sebagai hantu. Ketika ada sesuatu yang membuatnya takut, dia segera rapat menutup selimutnya, merangsek erat memeluk adiknya. Kemandiriannya rapuh.

Anak laki-laki itu semakin mudah sange. Melihat tante sebelah rumah, membuatnya ingin segera co’li. Dia cepat-tanggap kapan waktu mandi kakak sepupunya yang nyambi pembantu itu. Tentu untuk mengintipnya. Kejadian terakhir yang melambungkannya adalah merasakan empuk tetek kakaknya yang baru tumbuh. Malam itu, saat angin berhembus kencang dan anjing tetangga melolong aneh, kakaknya memeluk erat hingga pengalaman itu ternikmati. Libidonya liar.

Si Keponakan semakin neurosis, senang menandang kesengsaraan. Semakin masochist, menikmati penderitaan. Fantasinya menyalahkan diri-sendiri. Menyerah pasrah akan nasib bahwa dirinya pantas jadi pembantu keluarga pamannya. Menjadi bahan gosip, tertawaan, cercaan dari nyonya rumah adalah bagian dari takdirnya. Takut melawan ketika sepupu lelaki mengobel susu dan pupunya. Dia merasa sebagai Bawang Putih, Upik Abu, dan anak tiri. Harapannya adalah suatu saat datang mujizat menjadi putri, menjadi cinderala, dan akhir bahagia.

Teman si anak perempuan semakin aneh. Sering bernyanyi penuh vibrasi, bercermin mematut diri, rajin belanja baju-baju yang hanya layak buat pentas. Berdandan sengkrelip penuh gliter. Hobi potret diri, sembari belajar mengeja kata narsis yang lagi ngetrend, Tak putus mengirim data diri ke alamat pencari bakat. Juga belajar merangkai kalimat seakan dua jam lagi kepergok wartawan infotainment.

Kembali kepada pertanyaan di atas “Siapa Pegang (Remote) Control?”. Jawaban yang masuk akal adalah orang yang paling berkuasa di depan tv, tapi sejauh ini saya semakin percaya bahwa televisilah yang sesungguhnya memegang control. Jadi terserah Anda mau matikan tv, atau rebut (Remote) Control darinya…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to Keluarga Cemar

  1. martoart says:

    Gambar keluarga di depan TV adalah karya lama saya untuk sampul buku terbitan ISAI.Gambar orang dikontrol TV adalah karya untuk tender iklan layanan masyarakat KPI versi media cetak. Kalah.

  2. cechgentong says:

    Kok komentari postingan sendiri. Gantian biar tak komentari : gambar lucu banget, tulisan mengena dgn kondisi sekarang heheheheh

  3. martoart says:

    Lho itu kan Kredit kang. Biasanya ruang commet pertama langsung aku kasih kredit untuk foto dan/atau gambar di setiap postingan.Anyway (apa sih bahasa Idonesianya?), trims dah kasih komentar (pertama lagi! he he).

  4. cechgentong says:

    martoart said: Anyway (apa sih bahasa Idonesianya?),

    Eni jalan2 (biasa baru bangun tidur lgs MP trus melek dech sampai pagi)

  5. wiloemanies says:

    tajam, sarkastis, tapi mengena dan enak dibaca…btw, sdh beberapa bulan ini aku ga nonton tv tapi malah ditonton tv, hehehe… maless… tv isinya sinetron, talent show, gosip, etc yg bukannya menghibur malah bikin tambah pusing dan jadi manusia2 spt dalam tulisannya Mas Marto.

  6. chanina says:

    (standing applaus mode on) jadi inget bapak ibu, sodara sebangsa dan setanah air, menghabiskan sepertiga atau lebih hidupnya depan tipi. contoh bapakku jam 12-14 trus jam 18-01, 8 jamx365(hari) ….:( bukan cuma matiin tivi tapi dari awal ga usah beli, tipi yg ada dibuang aja atau dibikin akuariaum

  7. kisminis says:

    secara sekilas saya sangat skeptis nyikapin keadaan seperti ini, hampir frustasi untuk ngingetin dan nganjurin untuk bijak memilih tontonan di keluarga sendiri, tapi pasti ada jalan keluar yang lain, tapi apa ya…..????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s