Keluarga Cemaran

[Tulisan pertama dari tiga serial postingan] Kotak kaca ajaib alias televisi itu semakin ajaib saja. Saat ini televisi bahkan dianggap mampu meracuni budaya masyarakat. Dia adalah media cemaran, media penebar polusi budaya, meski awalnya dianggap akselerator utama tumbuh kembangnya informasi dan hiburan. Berikut ini adalah gambaran ekstrim (atau mungkin memang begitu) keseharian sebuah keluarga di sudut Indonesia;

Bapak (48 th) komandan satpam, ibu (42 th) ibu rumahtangga, anak perempuan (15 th) pelajar SMP, anak laki-laki (12 th), Keponakan (20 th) merangkap pembantu. Teman anak perempuan (15 th) pelajar SMP. Dan sebuah televisi.

Bapak menguasai tv saat penayangan program; Brutal, Patroli, Buser, Borgol, Sergap, Fakta, Sidik, Sidik Jari, Telisik, Halo Polisi, Derap Hukum, Saksi Mata, TKP, Interogasi, Investigasi, Jejak Kasus, Lacak, Kriminal, Lampu Merah, Kriminalitas, Realitas, dsb.

Ibu pemegang remote control saat program; 3 Ratu Gossip, Betis, Bibir Plus, Bolli Blitz, Buah Bibir, Canda Sinden, Cek dan Ricek, E..ko Ngegosip, Go Show, Gosip Pagi, Halo Selebriti, Hot Gosip, Hot Shot, Jejak Selebritis, Kabar Kabari, Kasak Kusuk, Kasus Selebriti, Kiss, Klise, Kroscek, Lipstik, Mata Selebritis, Off Record On Record, Otista, Paparasi, Peri Gosip, Poster, Sedang In, Selebriti Update, Sensasi Selebritis, Silet, Sensor, Star 7, Tangkis, Top Gossip, Top Less, Was Was, dsb.

Anak perempuan gak mau diganggu saat memelototi; Gentayangan, Di Sini Ada Setan, Dunia Lain, Malam Pertama 2, Pemburu Hantu, TV Misteri, Fenomena Alam Ghib, dsb.

Anak laki-laki mendekap tv tanpa ada yang berani mengusik saat acara; Desah Malam, Kopi Manis, Layar Tancap, Love & Life, Nah Ini Dia, Sang Bintang, Underground, Dewi bantal, Fenomena plus, Dunia Malam, dsb.





Keponakan diberi kesempatan menikmati sinetron saban istirahat; Cowok2 Keren, Bawang Merah Bawang Putih, Bunda, Inikah Rasanya, Kisah Sedih Di Hari Minggu, Si Yoyo, Tangisan Anak Tiri, Cinta Putri, Cinta Suci, ABG, Ada Apa Dengan Cinta, Ajari Aku Cinta, Cinta Memang Gila, Cinta SMU, Dara Manisku, Doiku Keren, Bidadari, Culunnya Pacarku, Jinny oh Jinny, Teman Ajaib, Tuyul Milenium, Untung Ada Jinny, Boneka dari India, dsb.




Anak perempuan punya teman yang kadang datang bermain, tetapi akan terlena oleh acara reality show; H2C, Playboy Kabel, Penghuni Terakhir, Katakan Cinta, MakComblang, Ajang Jodoh, dan tak lepas acara pencarian bakat macem Indonesia Idol, Mamamia, AFI, API, KDI, yang bahkan mulai ikutan nge-realityshow dsb.

Kotak kaca kecil itu begitu menyita perhatian dan waktu. Aku tidak tahu harus seperti apa tulisan berikutnya. Akan aku teruskan apa tidak. Mungkin ini sekadar prolog, mungkin juga memang sekadar ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

14 Responses to Keluarga Cemaran

  1. caturstanis says:

    aku pernah bikin naskah dengan setting serupa ini untuk sebuah teater berbasis kampus di jogja..tapi belum sempat dipentaskan dan di print out, komputernya mengalami “komplikasi akut”..akhirnya jiwa naskah itu tak tertolong lagi alias lenyap ditelan kepongahan teknologi..hehehe apes!!! Tapi gagahnya..aku ngga kehilangan semangat untuk berbuat dan berbuat lagi bagi teater. Dongakke pentas kelilingku ke Semarang dan Tuban,bersama Eko Ompong dan kawankawan menuai sukses ya di akhir bulan ini..

  2. ujiarso says:

    teruske mas marto, pengin tahu strategi penyadaran medianya

  3. juraganerot says:

    Ojo tanggung – tanggung masssssssssssssss…….

  4. ravindata says:

    Yok opo nik ending-e : kabeh kepruk-2an rebutan remote ? Terus matek kabeh ….. Tivine gak onok sing ndelok ?(terjemahan : Gimana kalau ending-nya : saling pukul untuk berebut remote ? Kemudian tewas semua… Tv nya gak ada yg lihat)

  5. luqmanhakim says:

    Kikikikikikkkkk…Istilahe, “buruk muka cermin dikampak”, televisi disalahin atas segala kebejadan moral dan kebobrokan generasi.Ini mungkin saja sama seperti Ade Armando yang ngomandoi ‘MARKA’ (Media Ramah Keluarga), di mana media ini udah kayak Watch Dog, memantau semua tayangan televisi dalam konteks pendidikannya untuk keluarga. Namun ketika kabar poligami Ade Armando merebak, MARKA diambil alih istrinya, Nina dan kasus poligami itu tertutup dengan sendirinya dan MARKA tetap berjalan meski timpang…Kita nggak ngebahas MARKA dan poligami Ade Armando, kita ngebahas kotak ajaib yang banyak menyita perhatian orang. Kebetulan aku juga kerja di salah satu content kotak itu, di mana secara gamblang dan jujur harus aku katakan bahwa kami memang nggak pernah mau peduli sama masalah edukasi, yang terpenting adalah tayangan yang dibuat itu memiliki rating/sharing-nya tinggi sehingga menarik pengiklan menempatkan slot-nya di program tersebut. Udah bukan rahasia umum lagi, AC Nielsen sebagai Dewa Televisi di Indonesia punya peran dan andil yang besar dalam menentukan tayangan televisi di Indonesia.Prolog-mu bener-bener bikinku meres otak Mas. aku juga punya anak yang jauh lebih hafal dialog iklan dan alur cerita sinetron ketimbang pelajaran dan pengajiannya. Ambigu abis, dualisme dan dua sisi keping koin yang kita hadapi dengan kotak ajaib ini.Terusin Mas, aku pengen liat karya akhirnya, akankah jadi penetrasi yang lepas dan benar-benar orgasme puncak atau sekedar ejakulasi tanpa orgasme yang berbentuk prolog saja. He he he, maaf, bahasaku agak porno, tapi beneran kok, tuntaskan Mas Marto… Tuntaskan!

  6. ravindata says:

    luqmanhakim said: Istilahe, “buruk muka cermin dikampak”, televisi disalahin atas segala kebejadan moral dan kebobrokan generasi.

    memang kok mas lukman, karena kotak itu adalah salah satu referensi moral dan acuan gaya hidup bagi mereka … smoga insan pertelevisian sprti mas lukman semua, yg merasa turut bertanggung jawab secara moral terhadap fenomena itu …. mari kita merenung bersama …. siapa saja… termasuk pak RAAM PUNJABI …

  7. luqmanhakim says:

    ravindata said: karena kotak itu adalah salah satu referensi moral dan acuan gaya hidup bagi mereka … smoga insan pertelevisian sprti mas lukman semua, yg merasa turut bertanggung jawab secara moral terhadap fenomena itu …. mari kita merenung bersama …. siapa saja… termasuk pak RAAM PUNJABI …

    Hiks… Merenung kalo nggak ada solusinya sulit Mas Elvin. Solusiku simple aja, kalo nggak bisa dilurusin, mending diancurin sekalian.NGELURUSINDi sini lewat berbagai mediasi, lewat berbagai kritikan dari terhalus sampe terkasar perlu disampein ke media penyampai informasi alias televisi ini. Sampe satu saat, di mana media ini mampu beredukasi untuk masyarakat nggak melulu industri. Pun bila nggak sampe 100%, setidaknya ada edukai aliran yang mengarahkan masyarakat untuk memilih tayangan yang sesuai dengan kebutuhannya. Nggak mungkin juga dong anak usia 5-10 tahun dikasih tayangan berkategori 18+ gitu.NGANCURINYah… paling gampang, sewa pembunuh bayaran, tembak tuh orang-orang yang punya ide industrialisasi kapitalis kotak ajaib. Kalo masih ada, bikin maklumat akan ada yang kedua, ketiga dan seterusnya… Tapi, mungkin nggak?Ha ha ha… Memang mimpi sih Mas,mending sama-sama yuk, kita mulai dari hal yang kecil-kecil. Di mulai dari rumah, dari keluarga kita sendiri, dari lingkungan, gimana kita memproteksi efek buruk kotak ajaib ini sendiri…

  8. ravindata says:

    luqmanhakim said: Ha ha ha… Memang mimpi sih Mas,mending sama-sama yuk, kita mulai dari hal yang kecil-kecil.Di mulai dari rumah, dari keluarga kita sendiri, dari lingkungan, gimana kita memproteksi efek buruk kotak ajaib ini sendiri…

    oh ya sangat setuju mas lukman….. itu adalah langkah awal kita bersama agar terhindar dari terjangan arus banjir itu. naik pohon, pergi ke gunung, atau naik balon udara adalah pilihannya. tapi mestikah selalu kita susun agenda untuk pergi dari rumah kita ? mungkinkah kita bersama : bikin kanal air, waduk, atau penghijauaan ?mbooh wes mumet…., kok malah jadi satpam TV ….!TV ini saya beli dari keringat saya sendiri, lho kok saya harus awasi tayangannya ? kepruk aeeeee THHHOOOOOOOORRR !!!!

  9. martoart says:

    perca said: spt yuda…:D

    Syapa Yuda Ndah?

  10. luqmanhakim says:

    ravindata said: mbooh wes mumet…., kok malah jadi satpam TV ….!TV ini saya beli dari keringat saya sendiri, lho kok saya harus awasi tayangannya ? kepruk aeeeee THHHOOOOOOOORRR !!!!

    He he he…Diskusi ini menarik banget Mas Elvin, tapi ada baeknya kita serahin sama moderatornya, Mas Marto yang ngambil kesimpulan. Kalo di televisi tempatku cari nafkah, paling anti sama slogan ‘HVS’ alias Horor, Violance & Sex , kontekstualnya udah pas banget sama karakter yang ditonjolin Mas Marto bahkan lebih lengkap. Sekarang bener-bener kita kembaliin lagi ke Mas Marto, mau diterusin apa nggak nih Keluarga Cemaran-nya? Kita bener-bener nungguin lanjutannya ketimbang orgasme nggak jadi begini, ha ha ha…

  11. martoart says:

    Sabar temans. OTW neeh. Yang postingan awal ini kan sekadar nulis disela nulis (lagi nulis orderan buat salah satu media). Jadinya ya acak-adut. Pasti diterusin, lagi memulung data, juga lagi bikin ilustrasinya. Sambil nyelem, eh men-temen ngasih masukan yg asek-asek juga. Ayo-ayo terusin diskusinya sambil tak curi ilmu kalian. he he…

  12. perca says:

    martoart said: Syapa Yuda Ndah?

    tokoh dlm “Bilangan Fu” yg sgt membenci televisi🙂

  13. chanina says:

    kalo acara gosipnya par acara patroli apa nggak bunuh2 an?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s