Saya Preman, Ada Yang Bisa Saya Bantu?

(Tulisan Lama dimuat di Majalah djakarta!; Commemorate to 25th The Gali’s Genocide)

Di Kota Medan, bisa saja tiba-tiba Anda disapa oleh seseorang dengan aksen Batak yang kental, “Saya Preman, ada yang bisa saya bantu?”. Bagi pendatang seperti Anda, orang tersebut akan mengulangi pertanyaannya, “Saya Preman, ada yang bisa saya bantu?”. Itu bukan sebuah lelucon, atau pun kelucuan.

Membidik Preman

Di Medan, preman adalah sebuah profesi legal bagi orang-orang yang pekerjaannya menawarkan jasa. Mereka bekerja secara partikelir, tidak di sebuah kantor atau lembaga tertentu. Bukan Orang Kantoran. Freeman – orang-orang bebas, dari sinilah istilah Preman diadaptasi – oleh orang-orang Medan yang memang masyarakatnya memiliki elan kebebasan tinggi. Jasa yang ditawarkan mulai dari mencarikan taksi bagi yang terlihat jetlag dan bingung karena baru pertama berkunjung di Medan, mengurus STNK, broker jual-beli tanah, sampai menjadi debt collector.

Lantas bagaimana ceritanya sehingga pekerjaan ini menjadi tidak professional, tidak sekadar berkonotasi negatif, tapi malah kriminal? Dalam sebuah wawancara pertelepon pada tanggal 30 Agustus 2002, Anton Medan membenarkan muasal istilah preman dan memberi penjelasan pergeseran maknanya itu. Saat ini memaknai preman adalah sebagai pelaku criminal, pun di Medan. Artinya, saat ini pula bila ada yang menawari bantuan dengan sapa seperti di atas sebaiknya segera menghindar. Di mana saja, tak harus Medan.

Setidaknya ada dua kerawanan psikologis yang mendorong pergeseran makna itu. Pertama adalah posisi tawar mereka terhadap orang yang membutuhkan bantuan sangat tinggi, sehingga kecenderungan untuk berlaku tidak profesional lebar terajangi. Kedua, karena bekerja nirmajikan, mekanisme kontrol terhadap mereka dan apa yang mereka kerjakan dipastikan tidak ada. Kecuali oleh mereka sendiri, dan itu tend to corrupt. Anton menambahkan bahwa perubahan itu juga didorong oleh kondisi sosial yang tidak kondusif. Jurang antara si kaya dan si miskin begitu lebar dan dalam. Emosi kejahatan mudah bangkit karena mereka lapar.

Jurang itu juga ada di dunia kriminal. Kejahatan ada kelas sosialnya. Anton membaginya dalam dua kelas. Kelas pertama adalah Penjahat Kerah Putih. Para penjahat ini melakukan kejahatan bukan karena kelaparan, tapi karena rakus. Mereka melakukan tindak kriminalitas dengan rapih, jaringan yang sistematis, terorganisasi, punya deking dan kedekatan dengan penguasa. Mereka adalah orang-orang yang berpendidikan yang – tentunya – memahami hukum, tapi justru karena itulah mereka selalu siap dengan perangkat antisipasinya; Pengacara nomor wahid. Hal inilah yang menurut Anton, bahwa hukum kita ini sebenarnya tidak lemah, tetapi dilemahkan.

Para pelemah hukum itu tidak lain dan tidak bukan adalah justru mereka yang kita kenal sebagai para penegak hukum; Polisi, jaksa, hakim, dan pengacara. Untuk hal ini dia memberikan metafora bahwa hukum kita ibarat sarang laba-laba. Hanya serangga kecil saja yang terjaring, sementara tikus siap menerobosnya. Senjata yang digunakan para pelaku kriminal elit ini bukan pedang, tetapi pena. Dengan itu korban akan lebih banyak.

Apa yang diprihatinkan Anton ini mengingatkan saya untuk mengutip keluhan seorang perampok tua dari Roccamondol, “Kami memang bersedih, tetapi itu karena kami selalu disiksa. Orang-orang terhormat menggunakan pena, kami menggunakan senapan; Mereka adalah tuan tanah, kami adalah penguasa gunung” (F. Molfese, Storia del brigantaggio dopo l’unita, Molise, Milan 1964, dalam Bandit Sosial, Eric J. Hobsbawm, Teplok Press, Oktober 2000).

Kategori kedua versi Anton adalah Penjahat Kerah Dekil. Istilah parodi dia untuk preman. Tidak berorganisasi, bekerja sendiri, dan lebih mengedepankan nyali. Pendidikan rendah, atau malah tidak pernah makan bangku sekolah. Mereka tidak takut hukum, mereka takut lapar.

Nama asli Anton Medan adalah HM Ramdhan Effendy. “Anton” adalah nama aliasnya di dunia hitam. Embel-embel “Medan” didapat pada tahun 1977, ketika dia bersama dua Anton yang lain dikirim ke Nusakambangan. Untuk membedakan, petugas membaptis ketiga Anton dengan menambah nama daerah asal masing-masing; Anton Ambon, Anton Bangka, dan dia sendiri Anton Medan. Kini dia tidak lagi hidup di jalanan sebagai ketua preman, justru sekarang menjadi ketua umum At-Ta’ibin, pondok pesantren yang ia dirikan untuk pembinaan mantan nara pidana dan Preman. Nama At-Ta’ibin berarti “Tobat”. Ada ratusan preman yang sudah tobat dan nyantrik di ponpesanya yang terletak di Cisarua, Bogor itu.

Mantan Jawara

Lain Anton Medan, lain Entang Asgar. Dalam upaya mengembalikan rekan-rekannya di masyarakat, mantan preman yang pernah megang Wilayah Senen ini membuka usaha apa yang dia sebut dengan usaha Permak Mobil. Usaha jasa di Bilangan Kramat Raya ini ia dirikan pada tahun 1982, dia menamakan; Bina Mandiri. Pelayanan yang dikerjakan adalah ketok, pengecatan, reparasi, film pelapis kaca mobil, montir, dan semacamnya. Entang mengaku telah membina 300an orang, termasuk Tukang Parkir di wilayah itu.

Kisah petualangannya di dunia kekerasan dimulai tahun 1969. Itu tahun saat ia datang di Jakarta dari daerah asalnya Garut, Jawa Barat. Nama Asgar sering ia panjangkan dengan “Asli Garut”. Namun lawan dan kawan premannya memanggil dia dengan Entang Keling, nama dunia hitamnya.

Sebagai anak purnawirawan tentara, dia bergabung dengan geng anak-anak tentara juga. Nama kelompoknya adalah “BS” singkatan dari Barisan sakit Hati (yang seharusnya BSH –Penulis). Sakit hati karena apa, tidak dia jelaskan. BS ada di Cililitan dan Senen. Dia sekadar anggota BS Senen waktu itu, namun reputasinya sebagai Jawara naik setelah dia berhasil menjatuhkan penguasa Senen, anak Ambon dari Geng Alamo. Alamo, diambil dari film The Alamo (1960) nama sebuah benteng di Texas yang menjadi pusat pertempuran pada tahun 1836. Namun Alamo Senen adalah akronim dari Ambon Lapar Makan Orang. Seperti halnya nasib benteng tersebut, Geng Alamo juga tak mampu bertahan. Mereka akhirnya menyingkir jauh ke Cengkareng, dan sisanya menjadi teman baik Geng BS.

Pada tahun 75-an Entang lari ke Bogor karena diuber Ali Murtopo. Menurutnya ali Murtopo telah ngadalin para preman dengan program Preman sadar (PREM). Dengan program itu para preman mudah didata, karena merasa akan diberi pekerjaan. Belakangan para preman tahu bahwa pendataan itu justru untuk menciduk mereka. Para jawara lari pagi, tak terkecuali Entang Keling. Tiga tahun Entang bersembunyi di tempat yang sangat aman; Asrama Zeni bagian perbekalan Batalyon 328 Siliwangi, Bogor. Tahun berikutnya dia ngacir ke Yogyakarta. Tahun1980, ketika dirasa situasi telah aman, dia muncul lagi di Jakarta. Ternyata sangat aman, sehingga pada tahun itu pula ia menikahi Latifah, kekasih hatinya.

Entang Asgar, lelaki kelahiran 17 Maret 1950 itu sekarang telah memiliki tiga orang anak, dan banyak anak buah. Ada keengganan pada diri lelaki ini untuk menggunakan lagi nama kebesarannya, Keling. Di kehidupan normal ini, dia lebih suka disapa dengan”Abah”. Terdengar lebih bijak.

Premanisme Soeharto

Pada tahun 1983 terjadi peristiwa Penembakan Misterius (Petrus). Banyak preman dan gali mati di-Dor. Mayatnya dikarungi dan diletakkan di jalanan. Seorang kriminolog menyebutnya dengan istilah “Matius” akronim untuk Kematian Misterius. Karena mereka dieksekusi mati tanpa proses pengadilan, kenapa dimatikan juga misterius, siapa sosok yang mati juga menyimpan misteri. Dan sangat tidak tepat disebut Petrus, karena jelas eksekutornya ABRI. Dalam buku Biografi Soeharto; Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang ditulis oleh Ramadhan KH, Soeharto mengakui, bahwa itu dilakukan untuk shock therapy. Untuk hal itu, baik Anton maupun Abah tidak sepakat. Anton mengatakan, bahwa pada prinsipnya kejahatan harus dibasmi,tapi dengan kekerasan dia tidak setuju. Abah berpendapat, itu (shock Therapy) hanya entaran aja (efeknya), dan gak manjur.

Mantan preman dan mantan presiden rupanya berbeda dalam menyikapi pelaku kriminalitas. Anton dan Abah membina mereka, Soeharto membinasakan. Anton dan Abah berhasil mengubur masa lalu mantan preman, Soeharto mengubur masa depan mereka. Anton dan Abah mengembalikan mereka dan diterima masyarakat dalam keterbukaan, Soeharto melemparkan mereka dan masyarakat menerimanya, dalam karung.

Sekarang cerita sedikit berbalik. Setelah kejatuhannya tahun 1998, Soeharto terus dirundung masalah. Salah satunya adalah dakwaan KKN yang menimpanya. Tapi bukan Soeharto namanya, kalau tidak mampu menyiapkan perangkat antisipasinya; Adalah pengacara nomor wahid. Andai saja dakwaan itu menimpa orang sekelas Entang – atau barangkali Anda sendiri – , saya tidak yakin akan disapa oleh seseorang dengan aksen Batak nan kental, “Saya Pengacara, ada yang bisa saya bantu?”.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

34 Responses to Saya Preman, Ada Yang Bisa Saya Bantu?

  1. martoart says:

    Kredit foto; Dhimas ArdianIlustrasi Preman; Bimo H UntungIlustrasi Soeharto; Saya olah dari Cover Majalah Tempo karya S. Malela.

  2. cechgentong says:

    Ini baru preman kang:

  3. blackdarksun says:

    hmmm…. kadang-kadang berlaku seperti preman seperti Soeharto itu diperlukan, negara jadi aman, orang jahat takut, orang yang merongrong pemerintah jadi ngungsi ke negara lain, rakyat juga jadi adem, nggak pernah liat tayangan kriminal dan pornografi tiap hari di media elektonik…….

  4. chanina says:

    idupnya di mana seh? baca buku sejarahnya salah nih, jelas aja rakyatnya adem, wong teriak dikit langsung diabisin…:(

  5. martoart says:

    Ladies n Gentlemen, Marto Art present, The Black Dark Sun Vs Chania;blackdarksun wrote today at 5:40 AMhmmm…. kadang-kadang berlaku seperti preman seperti Soeharto itu diperlukan, negara jadi aman, orang jahat takut, orang yang merongrong pemerintah jadi ngungsi ke negara lain, rakyat juga jadi adem, nggak pernah liat tayangan kriminal dan pornografi tiap hari di media elektonik……. chanina wrote today at 5:54 AMidupnya di mana seh? baca buku sejarahnya salah nih, jelas aja rakyatnya adem, wong teriak dikit langsung diabisin…:(

  6. blackdarksun says:

    hehehe…….. aku justru ga baca sejarah, tapi ada dalam jaman itu. Hidup enak, sejahtera, aman di jaman Soeharto. Susu import untuk anakku 1 kg cuma 35ribu perak, belanja bulanan 100ribu udah tergolong kaya raya. Kalau berteriak di jaman itu langsung dihabisi, ya itu karena menghambat dan merongrong pemerintah, coba tanya saja petani2 miskin dan wong cilik, mereka hidup senang di jaman Soeharto, sejahtera dan tidak kelaparan.Ku sekolah tidak mahal, buku-buku tak selalu beli karena disediakan di perpustakaan sekolah……..

  7. cechgentong says:

    semua itu subsidi bu dan subsidi itu uangnya darimana? dari utang luar negeri yang sekarang makin membengkak. Dan siapa yang bayar? Yaa kita2 juga yang dibohongi oleh soeharto bagaimana nich ibu? Kalo emang Soeharto bikin sejahtera kita mana mungkin kita ancur seperti sekarang karena gelombang tsunami ekonomi (krisis ekonomi) tahun 1997 dan Dan kalo pondasinya kuat seperti korea dan thailand maka kita akan cepat pulih ekonomi kita serta tidak ancur2an bu…Ya nikmatilah dampaknya bu asal kuat iman aja TQ

  8. blackdarksun says:

    soal itu aku tau, itulah preman gaya Soeharto…. aku menikmati dan menyukai gayanya dalam menumpas preman2 seperti Anton Medan,dan petrus… jadi gak ada macem2 lah yang mau jadi jagoan karena memang tak ada preman yang boleh menyaingi preman Soeharto, kadang2 rakyat seperti Indonesia ini diperlukan juga seorang diktator untuk memimpinnya. Lihat saja sekarang, semua merasa jagoan, naik motor di jalan saja seperti jalan punya nenek moyang, gak ada kepalanya, coba saja jaman Soeharto, semua teratur, jalan minggir di sebelah kiri, mematuhi aturan lalu lintas dengan tertib. PILKADA saja selalu ribut, karena apa, rakyat kita itu belum siap untuk dewasa, karena memang masih perlu banyak belajar dan menjauhi berpikir bodoh. Beasiswa sudah tidak ada lagi bagi yang tidak mampu. Entahlah…… kita ini tetap butuh pemimpin yang disiplin tinggi, kadang tangan besi, hati bersih dan mencerdaskan rakyat.

  9. cechgentong says:

    Benar bu butuh pemimpin tagas kalau perlu tangan besi yang berpegang teguh terhadap ideologi negara terserah mau kapitalis, komunis atau apapun tetapi karena sudah Pancasila ya pegang Pancasilanya dengan benar dan bawa negara ini jadi makmur. Untuk jadi pemimpin harus lahir batin kalo perlu tidak usah digaji. Apa kalo ga digaji presidennya mati kelaparan beserta keluarganya khan ga? Fasilitas yang diberikan negara sudah banyak. Jadi Pemimpin adalah pengabdian, kalo pengabdian artinya ya lahir batin, walaupun mati taruhannya karena pertanggungan jawabannya tidak hanya kepada manusia tapi juga Tuhan

  10. cechgentong says:

    Soeharto mengerti sekali dan memanfaatkan falsafah budaya jawa walaupun akhirnya falsafah jawa jua yang melengserkan beliau contoh kalo ada orang berkoar2 diluar sistem dengan gampangnya beliau pake falsafah huruf jawa kalo dipangku mati misalnya ha na ca ra ka dipangku jadi h,n, c,r, k. Jadi ga kaget banyak aktivis yang berkoar diangkat jadi dubes atau jabatan apapun di luar negeri dech dikasih fasilitas ini itu langsung diam dech. Itu salah satunya Tq

  11. blackdarksun says:

    wah keren banged yaa……… aku setuju itu……. siapapun, yang masih rakyat Indonesia yang dulunya bekoar-koar, sekarang di kasih jabatan, ya diem….. dari Andi Malarangeng, Prajoto, Sri Mulyani, dan wah…….. buanyak lagi…… mana? udah menikmati gaji dari negara ya…… anteng saja…..termasuk pak SBY

  12. blackdarksun says:

    Dan jangan pula berlindung dari ‘ini kan kesalahan jaman Soeharto hingga rakyat menderita sekarang’ padahal apa pula yang dilakukan dengan pemerintah sesudahnya selain menambah kebrobokan tanpa ada perbaikan malah memperparah keadaan, lihat saja mobil mewah semakin banyak dan bagi masyarakat Jakarta bukan hal yang aneh lagi, di mana berseliweran mobil mewah berharga milyaran, pun bukan hanya 1 atau 2 tapi puluhan……

  13. cechgentong says:

    Kesalahan Soeharto adalah tidak jujur dari awal pemerintahan yaitu pertama dimana supersemar asli (kok tidak ada dokumen/arsipnya) yang katanya sebagai bukti hukum/legal beliau untuk menjadi presiden, tidak bisa mengendalikan keluarga dan kroni-kroninya sehingga denga barbar mencaplok, menjualbelikan aset negara, memperkaya diri, korupsi,kolusi yang menjadi semacam kebiasaan, menanamkan kepada generasi muda bahwa yang namanya sukses adalah punya materi yang banyak seperti punya rumah mewah, mobil mewah, konglomerat dan lain2. Padahal yang namanya sukses adalah apa yang ada dalam diri pribadi kita baik sifat, ilmu, pengalaman dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ini semua kesalahan kita semua yang dari awal tidak menawal, melaksanakn, mengawasi segala warisan/amanah/ajaran para pendiri bangsa sehingga kita kualat apalagi ada yang berpikiran mengubah pancasila menjadi ideologi yang lain makin kualat kita. Jadi jangan kaget sampai 2013 kita akan terus seperti sekarang bahkan makin parah ini prediksi saya dan kita harus makin kuatkan iman, sabar, bersyukur dan lain2.

  14. martoart says:

    Chanina… tok..tok..tok…

  15. blackdarksun says:

    yup……. koq 2013? 2012 aja udah bubar, ga di Indonesia aja ya di seluruh bumi ini… belum baca ttg 2012? baca deh di http://blackdarksun.multiply.com/journal/item/17/ADA_APA_DI_TAHUN_2012_hihihi…. sekalian biar mampir ke tempatku…..

  16. cechgentong says:

    blackdarksun said: yup……. koq 2013? 2012 aja udah bubar, ga di Indonesia aja ya di seluruh bumi ini… belum baca ttg 2012? baca deh di http://blackdarksun.multiply.com/journal/item/17/ADA_APA_DI_TAHUN_2012_

    ya lihat saja nanti khan itu prediksi

  17. Seru juga bahasannya…….Mana nih penonton yang lain…?

  18. rixco says:

    sebenarnya ada sisi negatif dan positifnya……!! coba dilihat sekarang perampokan, penodongan, bahkan pemerkosaan semakin menjadi-jadi bahkan tak kenal tempat sekaan nyawa orang ngak ada harganya. penjara bukan menjadi efek jera tapi lebih “mempersakti” tingkah lakunya dan bahkan semakin bringas kalo orang yang lebih dari satu kali di penjara

  19. martoart says:

    tul bung. Sampeyan menginspirasi saya tuk pan-kapan mo nulis ttg penjara.

  20. remangsenja says:

    keren nih tulisannyaa..salam kenal ya

  21. thanks for sharing….

  22. bbbnshoes says:

    eh, dah pernah baca ini kok, gak jadi komen ah ..di sebelah saya ada preman ..hiks

  23. sandec says:

    maaf…itu ga akurat…gw asli anak kramat bukan pendatang.Coba itu entang bicara di depan dedengkot alamo.Om wali bernandus yang hajar yapto di senen sampai ancur”.Atau Om Ongky Pietersz…jangan ngaku” preman Atau Christ Berland atau Jonny Syarif hehe…Mungkin dia preman di kalangan tukang” bajaj haha…bukan pegang wilayah jakarta

  24. sandec says:

    kalo mo sharing tentang sejarah mafia jakarta…bisa sy datangin true story nya…pasti kalo entang pernah denger dong Odon si raja tega atau kalo di penjara biasa di panggil pala gede…Beberapa bulan yg lalu Sdyney anak nya Om Wali datang n kita kumpul sama eks jagoan jakarta dari berbagai suku di jalan jaksaMaaf…yang saya tau alamo bubar bukan itu…hehehe

  25. kalawai says:

    Hei…loe yg nulis soal ALAMO jgn sembarangan loe ngarang, ALAMO tidak pernah di bubarkan oleh Geng siapapun….supaya loe tau generasinya masih ada sampe sekarang termasuk gue….mending loe klarifikasi deh, termasuk narasumber loe si asgar itu, kalo mau up date sesuatu literatul harus mendetail…….jgn bikin orang lain jadi gerah…..

  26. martoart says:

    Bung Sandec dan Bung Kalawai, Salam.Terima kasih atas inputnya. Seperti yang menjadi prolog di awal tulisan, ini adalah repost dari tulisan lama di majalah djakarta!. Pernyataan tentang Alamo saya dapat dari hasil wawancara dengan narasumber saya. Komentar Anda di sini akan memperkaya tulisan blog ini sehingga membantu pembaca lain yang mungkin ingin tahu lebih jauh tentang kronika preman.

  27. kalawai says:

    saya menghargai maksud baik anda, tetapi harapan saya ke depan sebelum menampilkan penulisan di blog literatul dan data yang lngkap itu sangat perlu…saya setuju dengan Bung Sandec kalau anda ada waktu bisa di lakukan sharring dengan dia.dan pasti bnyak pembaca termasuk saya akan penasaran menunggu untuk di tampilkan di blog ini,perlu di ramu dengan kata2 yang lebih baik sehingga kesan yang di dapat lebih baik dalam suasana harmonis,saya sangat tertarik dengan artikel2 tentang preman Djakarta tempo doeloe yg terkenal “Singel figths” atau “Gangters”. dan apabila penulisan yg di angkat itu sesuai fakta yg benar saya rasa pihak2 yg terlibat dulu akan menerima,karena sekarang orientasi mereka lebih ke kerja dan menata hidup. yang lebih lagi karena mereka cukup “Fair” dari pada preman2 sekarang…PEACE….

  28. martoart says:

    Masukan via PM dari Bung Romi, Mahasiswa UI yang tengah melakukan penelitian ttg riwayat warga di stovia jakarta pusat:Salam Bung Marto. saya romi, mahasiswa Universitas Indonesia. saat ini sy sedang penelitian ttg riwayat warga di stovia jakarta pusat. dari artikel anda tentang Saya Preman, Ada Yang Bisa Saya Bantu? dan Diposting olehanda sendiri pada Jul 20, ’08 4:12 AM , pada paragraf ke 11 yg isinya “… menjatuhkan penguasa Senen, anak Ambon dari Geng Alamo. Alamo, diambil dari filem The Alamo (1960) nama sebuah benteng di Texas yang menjadi pusat pertempuran pada tahun 1836. Namun Alamo Senen adalah akronim dari Ambon Lapar Makan Orang. Seperti halnya nasib benteng tersebut, Geng Alamo juga tak mampu bertahan. Mereka akhirnya menyingkir jauh ke Cengkareng, dan sisanya menjadi teman baik Geng BS.”ini menarik perhatian saya! yg ingin sy tanyakan data ini anda peroleh darimana? apakah ambil dari sumber lain lagi? ini perlu sy pertanyakan krn dari data yg sy peroleh langsung dari preman ambon pd era 60, gang alamo memang berasal dari stovia tapi mereka tdk kuasai senen. yg kuasai senen itu gang ambon anak2 dari polisi brimob dan tentara di kwini/kwitang. selain itu ada juga gang beerland. mereka jg yg main di senen. informasi sy peroleh dari paman sy langsung yg menjadi gang beerland pd era itu.ini hanya konfirmasi saja, bung marto. informasi anda sangat sy hargai utk meluruskan byk hal. trima kasih bung.sukses slalu dlm berkarya.

  29. darnia says:

    tulisane Mbah Marto ini apik-apik tapi selalu ketinggalan*kode**nyari tombol add-nya gak ada*😐

  30. Ikut nyimak, bung.Yang tentang penjara, sudah di sharing belum?

  31. martoart says:

    fightforfreedom said: tentang penjara

    itu baru rencana, tapi udah jiper duluan banyak yg nulis di banyak tempat. tapi kalo ttg oleh2 penjara udah pernah aku singgung di sebuah tulisanku yg lain.http://martoart.multiply.com/journal/item/40/Meraba_Wilayah_Kampung_Bawah

  32. martoart said: “Kami memang bersedih, tetapi itu karena kami selalu disiksa. Orang-orang terhormat menggunakan pena, kami menggunakan senapan; Mereka adalah tuan tanah, kami adalah penguasa gunung” (F. Molfese, Storia del brigantaggio dopo l’unita, Molise, Milan 1964, dalam Bandit Sosial, Eric J. Hobsbawm, Teplok Press, Oktober 2000).

    As long as they only robbed the robbing landlords, I have no problem with that. However, like the Sicilian mafia who started as a fighting champion of the people but later became corrupted and make their fellowmen their prey, many of these lords of the mountain had betrayed everything they used to stand for.

  33. martoart says:

    edwinlives4ever said: As long as they only robbed the robbing landlords, I have no problem with that. However, like the Sicilian mafia who started as a fighting champion of the people but later became corrupted and make their fellowmen their prey, many of these lords of the mountain had betrayed everything they used to stand for.

    Batasannya jels. Ketika seorang/kelompok mulai menindas karena memiliki power di atas kita, maka mendiamkannya adalah sikap pro kekerasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s