Stockholm Sweet Stockholm!

(Nglayap; Dimuat di Tabloid Koktail)

Beberapa menit sebelum mendarat, saya masih ragu apa benar pemandangan hijau di bawah yang saya saksikan dari jendela pesawat itu Swedia? Betapa tidak, Swedia adalah salah satu negara industri yang di dalam benak saya negara seperti itu penuh dengan pabrik, konstruksi baja, limbah, asap, dan jelaga. Tapi rupanya saya telah sampai di sebuah negara dengan kehijauan hutan yang terjaga. Saya mendarat di Arlanda Airport dengan perasaan terpedaya.

Kartu Sakti

Dari Arlanda, Stockholm berjarak 43 km ke arah selatan. Ada beberapa pilihan alat transport yang bisa membawa kita menuju Ibukota Swedia tersebut. Kalau Anda buru-buru, ada kereta dengan ongkos 140 Krona (1 Krona setara dengan 1000 Rupiah). Duapuluh menit kemudian sudah di stasiun pusat. Tapi kalau mau santai, cukup naik bus dengan harga separuh tiket kereta dan waktu tempuh dua kalinya. Atau pakai taksi? Siapkan 400 Krona. Bagi Anda yang akan tinggal lama, saya sarankan membeli kartu gesek seharga 600 Krona yang masa berlakunya satu bulan. Dengan kartu ini Anda bisa berkeliling kota naik transportasi umum sepuasnya seperti bus, kereta, trem, dan feri. Saya menyebutnya kartu sakti.

Saya biasa berkereta dari Sollentuna – suburb tempat saya tinggal sementara – menuju Stockholm. Waktu tempuhnya cukup 15 menit. Saya teringat KRL Depok – Jakarta. Bedanya, sistem transportasi satu ini benar benar teratur, nyaman, dan aman. Aman, barangkali karena tidak ada orang iseng lantaran nganggur di negara makmur ini. Berdasar data bulan Juli 2004, jumlah penduduk Swedia 8,9 juta, namun pendapatan perkapitanya sebesar US $ 26.800, atau setara Rp 241.200.000 pertahun perorang. Sekadar catatan, Indonesia dengan populasi 238,5 juta, pendapatan perkapitanya sebesar US $ 3200 atau sekitar Rp 28.800.000.

Euis Darliah Never Die!

Stockholm adalah kota yang sesungguhnya. Itulah yang saya rasakan ketika menyusuri kota ini. Berbekal City Sky Map, pagi itu saya menuju Drotninggatan. Jalanan khusus bagi pejalan kaki dan pesepeda. Mobil yang boleh lewat hanya milik petinggal di jalan ini, itupun tidak boleh melaju lebih cepat dari pejalan kaki. Namun begitu tidak selambat yang kita bayangkan, sebab kecepatan berjalan kaki warga Stockholm sepertinya tiga kali berjalan kaki kita.

Jalan sepanjang satu kilometer yang nyaman. Tidak ada warung dan/atau lapak kaki lima mangkal sembarangan. Untuk sekadar mengganjal perut, di setiap persimpangan tersedia kios makanan ringan seperti hotdog, kottbullar, dan palt. Dua yang saya sebut terakhir adalah makanan ringan khas Swedia. Di jalan ini ada semacam Walk of Fame. Membagi jalan ibarat marka, tertanam plat logam warna perak beretsa kutipan kalimat terpilih dari buku karya sastrawan Swedia August Strindberg (1849 – 1912).

Tak dinyana saya berjumpa Euis Darliah, lady rocker era 80an yang ngetop dengan lagu “Apanya Dong?”. Bungah rasanya ketemu dan ngobrol dengan sesama “Pribumi”. Kami masuk toko asesori musik cadas. Euis membeli t-shirt ketat bertulis grup favoritnya; ACDC. Menurutnya cocok dipakai manggung di kota kota Eropa untuk rangkaian Summer Tour bersama suami. Suami Teh Euis adalah juga pemain bass dalam grupnya. Nama Teh Euis boleh tidak terdengar lagi di Indonesia, tapi rupanya dia justru berkibar di negeri manca. Kami berpisah setelah tiga jam keluar masuk pertokoan. Saya meneruskan perjalanan menuju Gamla Stan.

Kodok Ngorek di Swedia

Gamla Stan yang berarti Kota Tua adalah pulau di mana komplek gedung tua berada. Menapaki jalanan batu Gamla Stan bagai menyusuri selasar museum raksasa. Saya seketika bisa merasakan apa yang pernah ditulis Marco Kusumawijaya, pemerhati kota tentang pedestrian dan bangunan tua, “…orang melewati sejarah dan peradaban, dapat menyentuhnya, dapat berkomunikasi dengannya…”. Di sini banyak toko yang menjual suvenir khas Swedia dari masa lalu seperti helm Viking, sampai kerajinan terkini kaos bola bertulis nama punggung Henrik Larsson. Kumpulan gedung yang dibangun antara tahun 1300 hingga 1800 di Gamla Stan menjadikan bangunan tua di Jakarta Kota terasa ABG.

Di sebuah bangku taman terbuat dari kayu saya istirahat. Saat seperti ini biasanya saya pakai untuk mengenal lebih dekat orang Swedia. Saya punya dua resep berkenalan dengan mereka. Cara pertama, menawari rokok kretek. Hasilnya ada dua jenis orang Swedia. Adalah mereka yang sangat senang dengan rokok kita, dan satu lagi yang langsung batuk tersengal-sengal. Untuk jenis kedua biasanya perkenalan gagal, sedang untuk yang pertama beresiko tinggi; persediaan rokok cepat habis. Sekadar tahu, berdasar kadar nikotin dan tar yang ditentukan, di Swedia rokok kita melampaui ambang aman dan tidak boleh dijual alias ilegal. Kalau nagih, akan susah mendapatkannya lagi, dan hanya ada di Kedutaan RI. Karena itu untuk mendekati orang Swedia saya pakai cara kedua yaitu pendekatan “Jurus Kodok”. Cukup menyanyikan lagu anak anak dari Jawa “Kodok Ngorek” ke sasaran. Pada mulanya mereka akan berpikir kita aneh, tapi berikutnya akan tertarik. Karena kalau diperhatikan, nada, tema, dan peruntukan lagu ini sama dengan lagu yang mereka punyai; “Smo Grodorna”. Anda bisa dengar lagu ini dilantunkan oleh seorang yang berperan sebagai perawat dalam “Minority Report”, film yang dibintangi Tom Cruise.

Djurgarden; Menginspirasi Surga

Djurgarden adalah taman pulau di selatan kota. Pulau yang sangat indah dengan rumput subur, bunga bunga liar warna ungu, dan berbagai ungas. Taman ini adalah tempat sempurna untuk bermandi matahari musim panas. Gratis dikunjungi siapa saja. Pepohonnya beragam, besar, dan tua. Hutan di mana tupai riang bercanda dan burung hantu pulas tidur siang ini, tidak homogen seperti umumnya hutan pinus Skandinavia. Djurgarden adalah keindahan yang luas dan tenang.

Di tengah Djurgarden terdapat musium luar ruang pertama di dunia; Skansen. Tiket masuknya 60 Krona. Di sini terdapat lebih dari 150 jenis bangunan asli Swedia Lama. Bangunan – bangunan tersebut disusun berseling dengan kebun binatang di kerimbunan Skansen. Hutan alam Skansen menyempurnakan keindahan Djurgarden. Barangkali Tuhan plesir di Djurgarden sebelum mencipta Surga.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

19 Responses to Stockholm Sweet Stockholm!

  1. utara19 says:

    he..he..he..ngapain ke Swedia om ? mau nangkep Hasan Tiro ?😀

  2. raravebles says:

    asiknyaaa.. jalan2.. oleh2!!😀

  3. martoart says:

    Kredit untuk foto dan gambar.1. Tiket kereta dan Sky Map dapet dari sono, milik publik (copyleft).2. Pedestrian/lorong jalan Gamla Stan diunduh sebatas ukuran maksimal copy dari; http://www.hamu.com,tw. (and thanks for that. Nice shot dude!)3. Selebihnya hasil jepretan amatiran saya dan Stina Carlsson.4. Smo Grodorna, adalah Kodok Ngorek versi Swedia:

  4. martoart says:

    belum selesai ngasih kredit dah pada nongol

  5. cechgentong says:

    Mo beli celular phone SE kang sampai kesana

  6. ritmanto says:

    yah To, knapa ga ngomong2 kalo mo ksono… gw pan pengen nitip beliin kaviar yg kemasannya tube… uenak tenan tuh!

  7. martoart says:

    Untuk Pengembara;Aku ke sana buat ngecengin kamu bahwa aku lebih utara dari kamu. uweeek…Untuk Rara;Oleh-olehnya dah abiez. itu 2005 he he. kita lom dlm ikatan sister-brotherhood, jadi ga kebagian dee..Untuk Mbah Gentong;Sony Erickson ga asik. yang asik Erection..Untuk Ritmanto;Betul. Itu wenak banget. Aku bawa 5 tube n satu yg dlm kemasan pack. Telor ikan beluga (kalo gak salah) itu sisanya aku masukin aquarium biar netas. buat kamu. wakakakaa…

  8. bundaafkar says:

    naek bis/kereta dari Arlanda ke stockholm sambil bawa2 koper, enak2 aja gak yah?

  9. martoart says:

    Waktu itu cuma bawa satu koper mbak. Gak repot sih kalo pake taxi atawa kereta, tapi sungkan sama yg lain kalo koper kebanyakan akan merebut kapling penumpang lain. tradisi ewuh-pekewuh mereka keterlaluan, tapi baik itu.

  10. s1mpl3l1f3 says:

    hadiiiiiiiiiiir, tak moco sek yo mas

  11. s1mpl3l1f3 says:

    ohhhh mas Marto maksude mo crita Djurgarden yaaaaaa, iya bener mas, mirip sekali, berapa lama mas wektu ke swedia, pas musim apa mas?

  12. martoart says:

    s1mpl3l1f3 said: maksude mo crita Djurgarden yaaaaaa,

    skansen adalah area yang bayar di dalam djurgarden (meski djurgarden sendiri udah indah minta ampun).Sempat dapet spring dikit, langsung sumer. tapi pas maen di utara, ketemu salju yg ga pernah mencair. di swedia sekitar dua bulan. mayan

  13. s1mpl3l1f3 says:

    martoart said: skansen adalah area yang bayar di dalam djurgarden (meski djurgarden sendiri udah indah minta ampun).Sempat dapet spring dikit, langsung sumer. tapi pas maen di utara, ketemu salju yg ga pernah mencair. di swedia sekitar dua bulan. mayan

    ohh asiiiiiiiiik timing yang pas tuh mas, mas betah disana?dalam rangka apa kalo ku leh tau

  14. martoart says:

    s1mpl3l1f3 said: dalam rangka apa

    sowan Hasan Tiro, wakakakaa…

  15. s1mpl3l1f3 says:

    ohhhhh good idea mas……….

  16. afemaleguest says:

    very interesting, ‘kodok ngorek’ dalam bahasa lain!^_^

  17. penuhcinta says:

    Catatan perjalanan yang padat dan menarik, Cak. “Kodok Ngorek” bisa sama begitu nadanya. Pasti ada org Swedia yang pernah berkunjung ke Indonesia dan memperkenalkan lagu ini yg kemudian diadaptasi oleh org Indonesia. Atau sebaliknya.

  18. martoart says:

    penuhcinta said: Catatan perjalanan yang padat dan menarik, Cak. “Kodok Ngorek” bisa sama begitu nadanya. Pasti ada org Swedia yang pernah berkunjung ke Indonesia dan memperkenalkan lagu ini yg kemudian diadaptasi oleh org Indonesia. Atau sebaliknya.

    Itu juga pertanyaanku. Sebab seolah ada keterputusan koneksi masa lampau antara Nusantara dengan Skandinavia. Inggris dan Belanda, atau penjajah lain gak bawa kodok untuk ngorek di Indonesia. eh, lha kok tiba2 ada kemiripan.

  19. rengganiez says:

    woooooooooooooo wis njajah swedia to mbahhhhhhhhhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s