Seni Membara, Jenggot Terbakar

(Tulisan Lama; Tidak dimuat di Media Indonesia, gak tahu)

Sungguh rawan bermain api dekat jenggot. Mudah terbakar. Ini sudah biasa dan acap terjadi pada wilayah agama yang lantas terusik harga dirinya. Seperti yang terjadi dalam kasus kartun Muhammad yang dimuat pada surat kabar Denmark; Jyllands Posten. Apinya cepat menyebar ke negara-negara yang didominasi Islam. Lidahnya menjulur liar ke segala arah. Arah terdekat yang mudah terjilat kemarahan itu adalah Yahudi dan ini sudah menjadi kewajaran, meski tidak harus mereka yang melakukan. Di tempat yang agak jauh, semangat Nasionalismepun ikutan meranggas. Tak lain seorang Permadi yang sontak menyatakan ini semua karena Indonesia dijajah Amerika. Hmm..

Media yang bersangkutan telah meminta maaf, tapi dengan tetap terus melanjutkan proyek kartun tersebut untuk buku pelajaran di sekolah. Pemerintah Denmark memahami perasaan umat Islam, namun di sisi lain tidak bisa memberi sangsi kepada media bersangkutan karena melawan prinsip kebebasan pers yang dianut negara itu. Bahkan PBB pun turut menyerukan agar mereka yang tersinggung harga dirinya mau menerima permohonan maaf itu. Namun jenggot telah menjadi abu, dan akan sulit menumbuhkannya lagi. Kantor kedutaan yang dibakar dan korban yang berjatuhan rasanya belum cukup. Hukum mati bagi para penghina Nabi adalah rabuk yang dirasa pantas untuk menumbuhkan kembali kepercayaan dunia Islam terhadap Barat. Di Afganistan, Taliban memasang bandrol 100 kg emas untuk kepala sang kartunis. Kelompok Islam di Indonesia cukup menuntut pemutusan hubungan diplomatik dan menyerukan pemboikotan produk Denmark. Hanya sedikit berbeda pada sebuah pesantren di Jawa Timur yang di sana tampaknya lebih maju, yaitu merekrut relawan bela Nabi. Tugasnya menampar orang Denmark yang tidak mau ditegur. Ditegur untuk apa, tidak dijelaskan. Mungkin proyek itu bisa jadi akan gagal lantaran para milisinya tidak dibekali sarana komunikasi utama; Bahasa! Pemerintah Denmark yang telah menarik stafnya dari Indonesia berencana balik lagi.

Keindahan. Sayangnya hanya itulah wilayah dalam seni yang dicintai Allah. Dalam literatur suci tidak pernah disinggung seni yang eksploratif apalagi ide – ide yang liar membara. Tak kan. Kaligrafi ataupun arsitektur berhenti sampai pada keindahan klasik. Klausul lain menyebutkan larangan menggambar manusia dan binatang sehingga harus disarukan dalam sulur-sulur pohon atau huruf Arab. Bahkan ancaman neraka bagi para pembuat patung, pun yang bukan berhala. Sementara berangkat dari fitrahnya yang merdeka, membuat kesenian tidak mau berkelindan hanya di sana. Seni terus berproses dan pernah melalui – juga masih suka berada di – wilayah yang sementara orang baik menyebutnya tak patut. Dengan semangat seperti itu, seni turut membentuk dan meramaikan peradaban manusia bahkan jauh sebelum ayat keindahan itu turun. Namun titik temu sepertinya tidak pernah benar – benar terjadi. Lihatlah misalnya yang tengah berlangsung di negeri ini, menggalaknya semangat anti terhadap seni – yang dituding – berbau pornografi sungguh menyesakkan bagi banyak kalangan khususnya seniman. Ini dirasa akan menjadi kontra kreatif pabila standar moralitas agama menjadi bahan rujukan berkesenian.

Kartun Jyllands Posten adalah satu dari sekian bentuk seni yang terus berproses. Sesungguhnya juga termasuk proses belajar menghadapi hadangan kreativitas berikut konsekuensinya. Ini contoh kali kesekian seni kembali menorehkan wajah Nabi, dus kesekian kali pula kembali menggurat luka umat Islam di banyak tempat. Menggambar wajah yang disebutkan sebagai Nabi Muhammad adalah sebuah pantangan, dan itu luka pertama. Penggambaran wajah dan fisik yang berbeda dari yang digambarkan para perawi sahih adalah luka kedua. Dan menggambarkan Nabi sebagai sosok jahat adalah pelecehan berat, dan luka ketiga yang sangat dalam. Kartun Jyllands Posten merabaskan tiga luka sekaligus. Jyllands Posten dan media barat lainnya suka sekali menguji diri menghadapi mata pelajaran lama tersebut meski tahu tidak pernah lulus. Sehingga yang terjadi adalah kekonyolan nan tolol.

Menyerahkan urusan kesenian kepada agama (Islam) sungguh tidaklah mengasyikkan. Sebaliknya menyerahkan urusan agama kepada kepada orang-orang kreatif bisa menimbulkan kebakaran. Lagi pula sepertinya tidak akan ada yang mau bertukar atau memberikan tempat. Tidak ada yang salah dalam hal berkeyakinan. Baik meyakini agama sebagai jalan kebenaran tertinggi, pun meyakini seni sebagai jalan kebebasan berekspresi. Adalah menjadi masalah tatkala kedua jalan bertemu membentuk persimpangan. Benturan dan bahkan tabrakan tak pelak pasti bakal terjadi. Tentulah untuk itu dibutuhkan perangkat atur yang murakapi. Perangkat atur yang bebas dari kepentingan pihak-pihak, dan penuh mutu. Semacam traffic light super canggih barangkali. Namun yang terpenting dari itu adalah kelakuan masing-masing pengguna jalan keyakinan tersebut. Prasyarat melewati perempatan itu adalah melaju tanpa berniat melanggar pemakai jalan yang lain, juga berkendara tanpa syak wasangka. Sikap santun dan toleran para peyakin seperti itu adalah hal yang sangat baik untuk kenyamanan dan keamanan di persimpangan manapun. Hingga pada akhirnya traffic light tidak lagi diperlukan. Tulisan ini tentu bukan hal baru, pun bukan untuk menawarkan sebuah solusi yang belum ter
pikirkan. Hanya menjadi upaya mengingatkan pihak-pihak bahwa dialog terus-menerus tanpa lelah adalah cara terbaik untuk membuka ruang saling pengertian, daripada olok-olok dan bakar – bakar.

Marto Art, Pekerja seni yang berjenggot.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

13 Responses to Seni Membara, Jenggot Terbakar

  1. utara19 says:

    pertanyaannya mungkin kenapa harus nabi muhammad saw ? coba seandainya aku memasukkan photo kelamin ibu si posten itu dengan kelamin kuda, kira kira bisa disebut seni tidak ya ?😀

  2. martoart says:

    Aku juga ga tertarik berkesenian dengan niatan kebencian. Media itu memang banyak disuport oleh kalangan ultra kanan konservatif di sana. Kekhawatiran para orang tajir akan invasi kaum imigran maroko dsb, yang menurut mereka cepat atau lambat akan merebut lahan kerja. Tapi kebebasan media perlu dijaga. mestinya kita bisa balas dengan hal yang tidak kontra produktif.Tapi idemu menarik juga. cuma gimana kalo kuda diganti sama lele jumbomu itu? kkkkeekkkeekkee… geyol-geyol!

  3. utara19 says:

    he..he..he..nah itu dia..seni dan kebebasan pers sering disalah gunakan…soal lele…ada benarnya juga😀

  4. martoart says:

    agama juga sering disalahgunakan om…

  5. utara19 says:

    martoart said: agama juga sering disalahgunakan om…

    yup…seharusnya orang yang menyalahgunakan itu harus dihukum.. sayang, terkadang hukum juga sering disalahgunakan

  6. martoart says:

    wah, kamu asik.wakakakak…

  7. utara19 says:

    martoart said: wah, kamu asik.wakakakak…

    ah..belum kenal aja, banyak kok yang bilang aku menyebalkan😀http://forum.detik.com/showthread.php?t=48309&page=23he..he..he..

  8. martoart says:

    belum kenal juga sering disalahgunakan hwakakaka…

  9. utara19 says:

    martoart said: belum kenal juga sering disalahgunakan hwakakaka…

    wakakakakakkaka

  10. martoart says:

    wakakaka sering… wis mandeg. stop.jangan salahgunakan lageeee…..

  11. afemaleguest says:

    dan aku pun bermain apidengan hatiku sendiri …qiqiqiqiqi …dijamin ga ada yang kusalahgunakan …hanya kumanfaatkan^_^v

  12. wayanlessy says:

    Aku sering menghayalkan semacam “trafic light” yg cak Marto sebutkan itu sejak dari kecil…beruntung interaksi dalam hidupku sejak lahir ceprot udah nggak terlalu ‘terpolarisasi’ dan membayangkan aliran antar irisan irisan yg ada disekitarku nggak chaotic. Mirip aliran darah ke jantung paru paru jantung otak jantung paru seluruh tubuh….Mungkin karena Denmark lebih dekat dengan kutub ya jd lebih banyak org yg terpolarisasi? :p Tulisanmu apik banget cak..seneng aku bisa bacanya..walau rada telat..somehow..skrg jd rada aktual bagiku.

  13. martoart says:

    wayanlessy said: .seneng aku bisa bacanya

    trims apresiasinya Lessy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s