Tertawalah, sebelum tertawa itu disomasi

(Tulisan Lama; Lupa dikirim ke Media)

Begitu kira-kira plesetan dari kalimat parodi terkenal grup lawak ternama Warkop Prambors. Kalimat itu sendiri tepatnya berbunyi “Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang”. Warkop meluncurkan kalimat satir itu lantaran mereka sangat mahfum banyolan-banyolannya acap kali membuat gerah penguasa orde baru (Orba) kala itu.

Orba, yang menerapkan sistem kekuasaan kontrol ketat dengan membreidel media, menyensor buku, mencabut izin pentas teater, dan sebagainya tak pelak menjadikan humor satir menjadi perhatian tersendiri. Penguasa otoriter di belahan dunia manapun selalu gerah menghadapi humor satir rakyatnya, yang sebenarnya justru tumbuh dari situasi pengekangan oleh pihak penguasa. Artinya secara tidak langsung penguasa sendiri yang menumbuh-suburkan banyolan kritis tersebut. Warkop dengan cerdas menyiapkan jargon unik tersebut, namun sayangnya mereka keburu pindah di jalur slapstick dengan bumbu perempuan seksi sebelum sempat menuai tulah slogan kreatifnya sendiri itu.

Tentu saja Warkop tidak perlu berkecil hati. Setelah sekian tahun tidak menampakkan keampuhannya (Alias dunia lawak cukup aman – bahkan – dari gangguan penguasa Orba sampai keruntuhannya), berita mutakhir menampakkan tanda-tanda keampuhan tulah tersebut. Adalah Mentri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil yang mengancam akan mensomasi program News.com di Metro TV. Sofyan Djalil rupanya kegerahan tatkala bosnya, alias Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diparodikan dalam acara Republik Mimpi yang diracik Effendi Ghazali itu.

Penguasa yang gerah akan banyolan rakyat sebenarnya bukan barang baru dalam sejarah Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, Cak Durasim, budayawan ludruk dari Surabaya dijebloskan di dalam penjara oleh tentara negeri matahari terbit tersebut. Lantaran seniman tradisional ini dengan lantang melantunkan tembang pantun jula-juli. Jula-juli yang satu ini dia gubah liriknya menjadi lirik satiris; “Pagupon omahe doro, melu Nipon tambah sengsoro” (Pagupon sangkar burung dara, ikut Jepang tambah sengsara).

Lirik itu diciptakannya agar rakyat lebih mendukung Soekarno daripada mengikuti propaganda Jepang. Jepang menyatakan bahwa mereka adalah saudara tua bangsa Indonesia, dan akan membebaskan dari belenggu bangsa Eropa dalam semangat Asia Timur Raya. Tapi orang seperti Cak Durasim melihat agenda tersembunyi, terlebih saat menyaksikan Tentara Jepang yang justru lebih kejam dari tentara sebelumnya. Rupanya jula-juli Cak Durasim dianggap mendelegitimasi Jepang dan membuatnya harus meringkuk di sel. Nama Cak Durasim sekarang diabadikan untuk nama gedung Dewan Kesenian Surabaya, sebagai bentuk penghormatan bangsa atas perjuangannya.

Itu adalah sebuah penggalan sejarah tersendiri, sejarah dimana budaya berkomunikasi antara rakyat dengan penguasa ataupun sebaliknya amatlah muskil terjadi. Bangsa Indonesia telah melewati sejarah seperti itu, dan hendaknya telah cukup belajar lebih beradab. Adab komunikasi ini sekarang tengah diuji.

Mentri Komunikasi dan Informatika melawan Ahli Komunikasi, pasti seru. Kita akan melihat persepsi komunikasi dari sudut berbeda dalam kasus news.com ini. Sofyan Djalil menyatakan presiden diolok-olok, dan tentu Effendi Ghazali akan bersikukuh bahwa itu sebuah parodi. Juga tentang penghormatan terhadap seseorang, entah itu presiden ataupun – menurut Pak Mentri – hanya seorang kepala desa. Sofyan Djalil merasa perlu mensomasi karena tayangan tersebut dianggap tidak menghormati dan mendelegitimasi figur SBY, sementara Effendi Ghazali tentu saja akan menyangkal hal itu, dan pasti memiliki pendapat berbeda tentang bagaimana cara menghormati seseorang.

Media menyebutkan bahwa, Pak Mentri juga mengatakan, “Mau dibawa kemana negeri ini?”, membuat saya merasa perlu menitipkan kalimat yang rasanya cocok buat beliau. Kalimat yang menyinggung tentang humor dan negeri berikut ini berasal dari Bertold Brech seorang sastrawan satiris Jerman; “Sengsara hidup di negara tanpa humor, tapi lebih sengsara hidup di negara yang membutuhkan humor”. Dengan begitu semoga Pak Mentri mahfum adanya. Namun rasanya saya juga perlu menitipkan pesan bijak buat Effendi Ghazali. Dik Fendi, pesan berikut juga dari seorang penulis satiris ternama, Werner Trautmann; “Seorang humoris harus banyak memaafkan. Dia tahu, bahwa kebodohan, kebrengsekan, atau kecacatan disediakan tempat juga di alam nyata ini. Seorang humoris menerima dunia apa adanya – tanpa mencari siapa yang bersalah atau bertanggung jawab”.

Lepas dari itu, setidaknya kita juga akan melihat bagaimana cara kedua orang komunikasi tersebut berkomunikasi. Apakah dengan komunikasi ala republik ini, dengan cara Republik Mimpi, atau mereka punya cara tersendiri. Wherever you are, we welcome you to the dreaming country!

*) Penulis tinggal di Kota Yaharta, Republik Mimpi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Tertawalah, sebelum tertawa itu disomasi

  1. utara19 says:

    he..he..he..nice artikel..kagak nyangka ternyata SBY muka badak yang masih punya malu juga ya :Dsukses selalu untuk news.com

  2. cechgentong says:

    no comment takut keminter😀

  3. martoart says:

    buat Syech Gentong, he he,.. itu sudah komen yang sangat pinter..buat Pengembara, aku ngomongin mentrinya loh…

  4. utara19 says:

    martoart said: buat Syech Gentong, he he,.. itu sudah komen yang sangat pinter..buat Pengembara, aku ngomongin mentrinya loh…

    he..he..he..mentrinya ngomong kan karena presidennya malu ngomong.. jadi, omongan mentri itu ya omongan presiden😀

  5. raravebles says:

    mau dibawa kemana negeri ini? ya negeri mimpi.. dan, semua telah lelah bermimpi..

  6. martoart says:

    asal mimpinya enak jeng, dan jangan keburu terjaga.

  7. utara19 says:

    mimpi basah maksudnya ?wah…emang aparat kita paling senang di tempat basah😀

  8. martoart says:

    jeng, yang bilang mimpi basah si pengembara loh.

  9. utara19 says:

    martoart said: jeng, yang bilang mimpi basah si pengembara loh.

    wakakakakakakakakaahus… jangan diulangin dong, kan jadi kedengaran😀

  10. afemaleguest says:

    ga pernah nonton tipi, so meski sering denger istilah republik mimpi, I dunno what it was really like … ^_*mending ikutan sang pengembara mimpi basah aja ah … wekekekeke …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s