Tribute To The Black Brothers

(Tulisan Lama; Wawancara saya dengan Andy Ayamiseba di Majalah SAMPARI)

Andy Ayamiseba, Kepala Suku Kaum Pujangga

Kali ini kolom budaya SAMPARI menghadirkan grup musik legendaris tanah Papua Black Brothers ke hadapan sidang pembaca. Sidang redaksi menentukan pilihan tersebut dengan berbagai alasan. Alasan pertama, Black Brothers adalah grup musik besar pada masanya. Apabila membicarakan perkembangan musik Indonesia, Anda tidak bisa begitu saja meninggalkan keberadaan sang legenda ini. Kedua, membagi pengetahuan sejarah Black Brothers kepada generasi sekarang alias GEN-MTV, khususnya remaja Papua. Ketiga, Black Brothers tidak sekadar grup musik, tapi juga sebuah kelompok perjuangan, sebuah counter culture symbol bagi rakyat Papua. Pada bagian pertama seri liputan bertajuk Tribute To Black Brothers ini, kami hadirkan sosok sentral yang tanpa dia Black Brothers tidak pernah lahir.

Dia adalah seorang Andy Ayamiseba. Andy lahir di kota Biak, pada tanggal 21 April 1947. Ayahnya orang Papua dan ibu keturunan Tionghoa. Pemuda Andy adalah perwujudan remaja Papua pada umumnya, berkulit lebih gelap dari sawo matang, keriting, gagah, ganteng, penuh talenta, dan bersemangat tinggi. Bakat bermusiknya mendapat dukungan penuh dari ayahnya, Dirk Ayamiseba. Sebagai putra tertua, Andy juga terbiasa bertanggungjawab terhadap sesuatu hal. Bakat kepemimpinannya terlihat dari keberhasilannya membawa grup musik Black Brothers. Namun sebelum menapak puncak tersebut, Andy telah malang-melintang menjalani proses berkeseniannya. Sebagai seorang seniman, Andy sering berkunjung ke Museum Cendrawasih di Abepura. Di sana dia mendapati Arnold Clements Ap, Kepala Museum Cendrawasih. Arnold adalah kawan berdiskusi tentang berbagai hal. Mereka betah berdiskusi tidak hanya kesenian, tapi juga nasib bangsa Papua, sampai perkembangan politik aktual. Ujung perbincangan yang selalu seru sekaligus menyedihkan itu semakin membuat keduanya tegas menentukan sikap; Perlawanan. Hubungan perjuangan dialektis antara Arnold yang juga aktivis kelompok kebudayaan Mambesak dengan Andy itu terus berlanjut, meskipun jarak mereka terpisah jauh. Berikut jawaban Andy Ayamiseba ketika SAMPARI mewawancarainya melalui email.

“Mambesak dan Black Brothers mempunyai misi yang sama, yaitu untuk mengangkat martabat bangsa Papua Barat selaku bangsa yang beradab dan berbudaya, dan tidak layak dianggap; ‘Masih Ketinggalan’. Hubungan kerja kedua grup sangat erat, yang satu berdomisili di Jayapura dan yang lainnya di Jakarta…”.


Tapi hubungan itu tidak mungkin dilanjutkan setelah Arnold Ap dibunuh ABRI pada tahun 1984. Itu diakibatkan lantaran pemerintah RI gerah dengan aktivitas politiknya. Andy sangat bersedih dan merasa kehilangan kawan seperjuangan ketika mendengar kabar kematiannya.

Andy tidak seperti pada umumnya seniman yang jalan seenaknya, tapi seperti yang sudah disinggung pada awal tulisan, dia justru figur yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dia adalah pendiri Black Brothers, sekaligus menejer yang tangguh. Berikut ini adalah jawaban Andy Ayamiseba (AA) yang menunjukkan ketegasan penerapan kedisiplinan terhadap personal Black Brothers atas pertanyaan SAMPARI (S).

S: “Bagaimana menghadapi penggemar, khususnya cewek (Groupies)?”

AA: “Biasa-biasa saja bung, sama dengan grup-grup yang lain, hanya Black Brothers dimenej seperti satu peleton komando, jadi mereka agak segan terhadap kehadiran saya dalam setiap show”.

S: “Era gaya hidup hippies SEX-DRUG-ROCK n’ ROLL saat itu berpengaruh terhadap Black Brothers?”

AA: “Iya juga bung, tetapi untungnya saya pakai ‘Tangan Besi’, jadi ketakutan juga satu-dua anggota yang coba-coba mau memakainya, atau mengikuti gaya hidup tak bermoral ini”.

Namun begitu, Andy ternyata bukan sosok yang sekaku kita bayangkan. Interaksinya dengan Black Brothers di luar panggung sungguh berbeda.

S: “Bagaimana hubungan Anda dengan personal Black Brothers di luar pentas?”

AA: “Bung, saya adalah bapak, kakak, pimpinan, dan kreator Black Brothers. Hubungan kami sudah bisa dibilang lebih dekat dari (sekadar) saudara kandung, karena hidup bersama lebih dari 30 tahun. Anak-anak kami (Black Brothers second generation), hampir tidak mengenal orang lain selain sesama kami di luar negri, sehingga saya kini menjadi kepala suku Black Brothers”.

Para penggemar Black Brothers di Indonesia tentu juga sangat memahami semangat perjuangan yang diemban grup ini, sehingga ada sementara yang mengkhawatirkan sikap primordial mereka terhadap musisi lain yang non-Papua.

S: “Bagaimana interaksi dengan grup lain, misalnya yang dari aliran rock AKA, SAS, Duo Kribo, God Bless, juga yang dari pop misalnya Koesplus, Panbers, Favourit, dan D’Loyd?”

AA: “Bung, kami dari Black Brothers itu berkawan akrab dengan bang Ahmad Albar dari God Bless, Ucok Harahap dari AKA, dan anggota serta menejernya God Bless. Kita saling menghormati prestasi masing-masing sebagai musisi berprestasi. Semuanya ini kawan-kawan yang tak terlupakan, terutama bung Barce van Houten, dan mas Nomo Koeswoyo. Saya sering main ke rumah mereka sewaktu masih di Jakarta”.

Kekhawatiran itu pada akhirnya memang tidak beralasan. Andy adalah orang yang mampu menarik garis tegas antara perjuangan dengan interaksi sosial. Dia sudah melampaui spirit kepicikan sukuisme yang sebenarnya justru akan mengotori perjuangan. Ini terlihat dalam susunan keluarganya.

“Isteri saya bernama Mariana Lilo dia berasal dari Timor, Kupang, dari dia saya dikaruniai dua putera, masing-masing Mac dan Erol, dan dua puteri, Isadora dan Virei. Sementara partner saya berasal dari Vanuatu, bernama Gloria Jimmy, dari dia saya mendapat seorang putera bernama Max. Anak-anak yang dari isteri semuanya sudah menikah. Saya diberkati dengan tiga cucu laki-laki dan empat cucu perempuan, semuanya berwarga-negara Australia”.



Vanuatu, meskipun Produk Domestik Bruto (PDB)-nya menempati peringkat ke-207 di dunia, kepulauan itu menurut survei The New Economics Foundation (NEF) merupakan tempat paling bahagia di planet bumi. Di negeri kecil di Pasifik Selatan inilah Andy Ayamiseba menetap sambil terus menyuarakan kemerdekaan bagi Papua Barat.

Black Brothers, Panah yang Menghujam Jakarta

Tahun 70-an adalah eranya perkembangan musik moderen Indonesia. Sejarah mencatat meroketnya berbagai grup musik dari berbagai aliran atau genre. Sebutlah Koesplus, The Mercy’s, Panbers, D’Loyd, Favourite, Bimbo, Rollies, dan lain sebagainya. Grup asal Jakarta atau Bandung itu rata-rata membawa aliran pop atau cabang terdekatnya. Sementara aliran keras seperti rock lebih banyak diusung oleh para musisi yang berangkat dari kota-kota di Jawa Timur seperti Malang dan Surabaya. Sebut saja AKA, SAS, God Bless, dan sebagainya. Hadir juga grup aliran melayu seperti Soneta, dan belakangan Tarantula. Perusahaan ataupun studio rekaman seperti Irama Tara, Remaco, Yukawi, Musica, dan sebagainya meraup banyak keuntungan dari mereka. Terlebih pada saat itu sistem hak cipta (Copyrights) belum disyahkan di Indonesia, maka dipegang pihak studio rekaman. Pada masa itu, yang menjadi kitab suci kaum muda adalah majalah musik ternama Aktuil. Media lain adalah TVRI, yang saat itu merupakan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. Melalui Aktuil dan TVRIlah para musisi dan grup dikenal luas. Kedua media tersebut sekaligus menjadi alat pemasaran utama.

Tiba-tiba, pada awal tahun 1975 ada enam anak panah melesat kencang dari timur mengarah Jakarta. Panah yang meluncur dari busur Andy Ayamiseba itu bernama Black Brothers. Formasi mereka terdiri dari; Hengky Mironthoneng – Lead Vocal, Guitarist, Benny Bettay – Bassist, Backing Vocal, Yochie Pattipeiluhu – Keyboardman, Backing Vocal, Stevie Mambor – Drummer, Backing Vocal, David (Dullah) Rumagesan – Saxophonist, dan Amry Kahar – Trumpet.

Sejak tahun itu Black Brothers mulai merekam album-albumnya. Perusahaan rekamanan yang mereka pakai adalah PT Irama Tara, rekaman dilakukan di studio Remaco. Teknologi rekaman saat itu sangat ketinggalan dibanding sekarang. Andy mengisahkan.

“Suka-duka rekaman pada saat itu sangat menarik, periode itu adalah masa transisi studio dari 8 track ke 24 track. Karena pengalaman para teknisi studio yang kurang terhadap multy track recording, maka mereka banyak memakai grup-grup musik sebagai kelinci percobaan. Bila dibandingkan dengan teknologi rekaman di Indonesia sekarang yang sudah memakai alat-alat digital, memang sangat berbeda kualitasnya”.

Sampai tahun 1979 Black Brothers berhasil menelorkan delapan buah album. Generasi 70-an pasti masih ingat dengan hits-hits yang dihasilkan grup ini. Antara lain; Persipura, Tejalin Kembali, Kisah Seorang Pramuria, Derita Tiada Akhir, Hari Kiamat, Lonceng Kematian, Doa Pramuria, Hilang, Gadis Lembah Sunyi, Balada Dua Remaja, dan sebagainya. Kesuksesan Black Brothers juga terlihat pada setiap road show yang selalu dibanjiri tidak kurang dari 50000 penonton. Karena itu Black Brothers hanya tampil di stadion utama kota-kota besar agar penonton yang membludak bisa tertampung. Setiap kali Black Brothers show, Andy Ayamiseba sebagai menejer menyertakan enam crew dan mengusung peralatan seberat lima ton agar tampil sempurna. Itu semua untuk memuaskan penggemar. Karena itu bisa dimengerti bila Black Brothers masuk dalam jajaran tiga grup termahal untuk show. Dua grup yang lain adalah God Bless dan SAS yang beraliran rock. Black Brothers sendiri cenderung membawakan lagu-lagu berirama sweet pop, padahal pada awalnya mereka sangat terpengaruh grup-grup hard rock seperti Deep Purple, Grand Funk Rail Road, dan Led Zeppelin. Mungkin dikarenakan mereka lebih banyak berhubungan dengan Rinto Harahap dan Charles Hutagalung (The Mercys) para pengibar lagu melankolis.

Menapaktilas kembali Black Brothers, artinya kita juga harus merunut sejarah awal mereka. Andy Ayamiseba mengisahkannya sebagai berikut.

“Awalnya, saya menyeleksi dari tiga grup band, masing-masing Benny Bettay, Stevie Mambor, dan Musa Fakdawer dari band PdK di Jayapura, sedangkan Jochie Pattipeiluhu dari Pattilapa Bersaudara di Jayapura, dan yang terakhir adalah Hengky Mironthoneng dari Martini Band di kota Biak. Mereka saya kumpulkan, dan membentuk grup band diberi nama Iriantos Primitives”.

Boleh dibilang Iriantos Primitives adalah akar dari sebuah pohon yang kelak tumbuh besar. Hingga, pada pertengahan tahun 1974 Black Brothers resmi berdiri dengan formasi awal personal Iriantos Primitives ditambah Corry Rumbino. Menurut Andy, nama Black Brothers dipilih berdasarkan identitas orang Papua sebagai saudara-saudara berkulit hitam yang bersignifikasi dengan ciri-ciri khusus tersendiri dan sangat berbeda dari saudara-saudara lain di RI.

Dari penuturan Andy tersebut kita bisa memastikan Black Brothers memang bukan grup asal jadi. Mereka adalah para pemuda penuh talenta yang tiada henti menempa diri. Bahkan di saat suksespun mereka tetap rajin melakukan latihan rutin tiga kali dalam seminggu. Anak panah yang terus diasah, yang ketajamannya menembus hati kawula muda Nusantara. Kehadirannya di TVRI dalam bentuk clips yang mahal produksi Irama Tara terus ditongkrongi jutaan penggemar. Maka tidak mengherankan jika Black Brothers dinobatkan sebagai kelompok musik terpopuler Indonesia versi lima majalah ternama diantaranya Femina dan Gadis. Luka cinta rindu dendam kepada grup legendaris ini masih membekas di hati remaja angkatan 70-an dan terbawa hingga tua. Yang membuat trenyuh, lagu-lagu mereka juga didendangkan oleh remaja sekarang. Melihat hal itu, SAMPARI menanyakan kemungkinan reborn Black Brothers.

“Yah, memang benar ada, tetapi bukan dalam bentuk personal melainkan karya-karya Black Brothers yang mau kita kumpulkan dalam koleksi khusus. Rencananya kita reproduksi dengan aransemen baru demi menghidupkan grup legendaris yang telah mewarnai sejarah musik Indonesia dan Pasifik Selatan, khususnya di negri asalnya Papua”.

SAMPARI juga menanyakan kerinduannya untuk pentas di Indonesia.

“Rindu sih rindu, cuma apa daya tangan tak sampai. Black Brothers telah kehilangan orang depannya, dan suaranya sulit untuk diganti dengan suara orang lain”.

Yang dimaksud Andy adalah Agustinus Rumwaropen yang meninggal di Canberra, Australia, pada tanggal 16 Mei 2005, dan Hengky Mironthoneng meninggal di Rotterdam, Nederland, pada 19 April 2006. Kesedihan itu sangat beralasan, tapi apakah ada alasan lain mengingat Black Brothers menyandang status sebagai kelompok seniman exile? Andy Ayamiseba berjanji akan menuntaskan penuturannya pada edisi SAMPARI berikutnya. Tetapi sayang sekali lantaran SAMPARI tidak lagi terbit, maka bagian terakhir (Road to Exile) pun urung muat.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

15 Responses to Tribute To The Black Brothers

  1. ravindata says:

    punya catatan diskografinya nggak mas ?

  2. martoart says:

    Wah, sayang banget nggak. Kalo aja waktu itu dah kenal sampeyan, pasti hasil wawancara itu lebih afdol.

  3. raravebles says:

    😦😦 Black Brothers, generasi kakak saya yg ‘mbarep’..

  4. kakatya says:

    waduh… belum lahir deh… tapi aku suka gayanya…kribo abis (hihihihi)btw hit songnya apa ya???

  5. martoart says:

    kakatya wrote; waduh… belum lahir deh… tapi aku suka gayanya…kribo abis (hihihihi) btw hit songnya apa ya???Wah, umuran kita sama dong…Wakakaka…”Sampai tahun 1979 Black Brothers berhasil menelorkan delapan buah album. Generasi 70-an pasti masih ingat dengan hits-hits yang dihasilkan grup ini. Antara lain; Persipura, Tejalin Kembali, Kisah Seorang Pramuria, Derita Tiada Akhir, Hari Kiamat, Lonceng Kematian, Doa Pramuria, Hilang, Gadis Lembah Sunyi, Balada Dua Remaja, dan sebagainya”. Wo’o.. Kamu ketauan ga baca…

  6. kakatya says:

    martoart said: kakatya wrote; waduh… belum lahir deh… tapi aku suka gayanya…kribo abis (hihihihi) btw hit songnya apa ya???Wah, umuran kita sama dong…Wakakaka…”Sampai tahun 1979 Black Brothers berhasil menelorkan delapan buah album. Generasi 70-an pasti masih ingat dengan hits-hits yang dihasilkan grup ini. Antara lain; Persipura, Tejalin Kembali, Kisah Seorang Pramuria, Derita Tiada Akhir, Hari Kiamat, Lonceng Kematian, Doa Pramuria, Hilang, Gadis Lembah Sunyi, Balada Dua Remaja, dan sebagainya”. Wo’o.. Kamu ketauan ga baca…

    hahahaha… kebanyakan… jadi gak tuntas

  7. fhioyapz says:

    salam jumpa buat Bapa tua Andy Ayamiseba dan keluarga, saya Fiona Yapsawaky. Dulu saya pernah bertemu dengan Virei dan Mama Tua waktu ke biak, dan saya waktu itu juga sempat bernyanyi dengan Virei di sebuah gereja di Biak.Bagagimana kabarnya Virei? Saya rindu sekali dengan Virei dan berharap suatu saat nanti dapat berjumpa dengan Virei.Semoga pesan ini dapat sampai buat Virei. Salam Hormat untuk semua keluarga disana. Tuhan Memberkati.

  8. poppydrews says:

    Yang paling menarik perhatian dunia musik internasional adalah lagu2 Papua yang diolah BB dengan gaya jazz rocknya, yg ditahun 70an setarap dengan band2 jazz rock terkenal lainnya spt Osibisa dll.Wah bangga punya temen2 yang memperkenalkan lagu daerahnya sendiri dengan gaya yang bisa dicerna oleh dunia internasional.

  9. afemaleguest says:

    Judul lagu ‘Kisah seorang pramuria’ jauh lebih terkenal dibanding nama penyanyinya di telingaku, hehehehe … baru ngeh sekarang kalau yang nyanyiin tuh lagu ‘Black Brothers’. Btw, apakah mereka masih aktif di blantika permusikan Indonesia pada dekade lapanpuluhan dan sembilanpuluhan Kang?

  10. martoart says:

    Yang saya dengar dari Andy Ayamiseba di luar wawancara itu adalah mereka tak lagi begitu aktif karena tinggal di beberapa tempat terpisah, mulai menua, dan ada yg sakit bahkan meninggal.

  11. papahende says:

    Mas Marto, “Tetapi sayang sekali lantaran SAMPARI tidak lagi terbit, maka bagian terakhir (Road to Exile) pun urung muat.”, ada bahannya nggak Mas? Kalau ada dipos di MP-nya Mas Marto aja agar tidak hilang begitu saja. Tks banget atas wawancara ini. Belum dengar ada band penerusnya sekarang di Papua.

  12. martoart says:

    papahende said: ada bahannya nggak Mas? Kalau ada dipos di MP-nya Mas Marto aja agar tidak hilang begitu saja.

    Waktu itu saya hanya wawancara setiap akan terbit saja Pak, dan begitu sadar tak ada dana menerbitkan lagi, saya ‘sungkan’ nerusin wawancara dengan Bung Andy Ayamiseba.Malu sendiri saya ha ha…

  13. papahende says:

    martoart said: ‘sungkan’ nerusin wawancara dengan Bung Andy Ayamiseba.

    Wah, sayang banget yo Mas. Ijin, tulisan ini saya link di tempat saya, tks.

  14. martoart says:

    papahende said: saya link di tempat saya, tks.

    Monggo Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s