Iklan Televisi Kita; Behind The Sin

(Tulisan Lama; Dimuat di Majalah CAKRAM. Tidak dibayar)

Sistem perekonomian yang kapitalistik menempatkan posisi iklan jauh di atas posisi buruh. Belanja iklan sebuah produk sangat senjang dengan UMR keringat orang di pabrik. Seorang pengamat periklanan menyarankan kepada para pelaku bisnis untuk tidak memangkas budget iklan pada pilihan pertamanya dalam menghadapi kondisi keuangan yang sulit.

Pilihan yang menurutnya lebih masuk akal, adalah menjual sebagian aset atau PHK. Iklan adalah panglima. Tentara maya dunia usaha yang mampu merangsek masuk langsung ke benak sasarannya. Sampai disini tidak ada yang salah dalam dunia kaum modal. Persoalan timbul ketika kuasa iklan dirasa berdampak negatif pada psikologi audien dan budaya masyarakat.

Iklan televisi bersama dampak yang menyertainya adalah sebuah persoalan – bukan permasalahan – lama. Artinya baru berada pada tataran pergunjingan, kekhawatiran, dan atau masih menjadi permakluman. Sejauh yang saya tahu belum ada kasus seorang anak yang tiba-tiba menerkam teman nonton tv di sebelahnya karena ingin membuktikan dia “sekuat macan”. Untunglah praktisi iklan televisi kita belum berhasil menciptakan efek instan sebagaimana Noordin M Top. Entah setelah dewasa nanti (maksudnya anak-anak penonton televisi tadi).

Persoalan yang ada tidak hanya pada kapan dampak yang tidak diharapkan itu muncul. Namun juga berkelindan pada wilayah etika, kejujuran dalam menyampaikan informasi, serta pertanggungjawaban karya bagi praktisi dan pertanggungjawaban tayang bagi stasiun televisi. Hal yang disebut terakhir ini cukup sensitif sebab bisa terjadi lempar tanggung jawab apabila permasalahan muncul. Bagaimanapun, kode etik periklanan yang ada belum cukup mrantasi menghadapi perkembangan yang sedang dan terus terjadi, juga dengan legowo sebaiknya mau mengakui bahwa kita masih perlu belajar etos beriklan.

Tentu saja pernah sekali-dua iklan televisi menuai protes. Ingat iklan PT Newmont? Iklan yang menggambarkan Teluk Buyat tidak tercemar itu segera diprotes masyarakat Buyat bersama kelompok pecinta lingkungan hidup. Demi menjaga citra perusahaan, Newmont membuat iklan yang dianggap membohongi publik. Rupanya teluk yang tercemar tidak bisa bersih cukup dilap dengan iklan. Iklan Newmont cukup menjadi contoh kasus untuk kejujuran informasi. Di tempat lain, Iklan layanan masyarakat keluaran Jaringan Islam Liberal (JIL) “Islam Warna Warni” yang digarap Garin Nugroho (SET) disomasi kelompok Islam yang sepertinya kurang colorful. Iklan JIL bukan contoh pelanggaran wilayah etika, tapi lebih pas untuk sebuah contoh keragaman kelompok penonton televisi. Bagaimanapun di sebuah negara demokrasi boleh ada kelompok yang tidak sepakat dengan pluralisme. Sebuah paradoks.

Yang menjadikan wilayah etika sering dilanggar iklan televisi adalah ketidakpekaan akan kesetaraan gender. Perempuan menjadi obyek langgar iklan utama. Sebuah pompa air yang dari sudut manapun tidak ada keterkaitan dengan gender, tiba-tiba ditawarkan oleh perempuan seksi. Berangkat dari asumsi bahwa barangkali para pembuat iklannya punya alasan tepat, saya mencoba menarik korelasi antara pompa air dengan buah dada perempuan. Meskipun tidak tahu darimana penciptaan iklan tersebut berawal – Based on Copy, “Sedotannya Kuat, Semburannya Kenceng,” atau Based on Visual, Perempuan seksi bersama dadanya – , saya merasa ide kreatif masih bisa disedot walaupun Based onUnsexy Product; Pompa air it self. Luputnya, saya lengah melihat para penonton tv yang diarah iklan tersebut, kaum lelaki sebagai decision maker.

Sementara itu, meskipun Indonesia tidak mengakui gender ketiga, bukan berarti kaum waria ataupun transeksual bebas dijadikan bahan banyolan dalam iklan. Biarlah itu untuk Extravagansa atau Srimulat saja. Ada juga iklan pasta gigi dan permen mencoba ndagel dengan menampilkan figur yang dikisahkan memiliki orientasi seksual sejenis. Sepertinya kaum minoritas dianggap tidak perlu memiliki rasa tersinggung. Sebagai penonton televisi, saya berhak prihatin dengan iklan semacam itu, tapi termasuk yang belum sampai tahap khawatir.

Kalau diibaratkan dosa, iklan televisi kita baru melakukan dosa-dosa kecil dan masih bisa diampuni. Apalagi mengingat hitungan amal yang juga mereka perbuat, meskipun itu tidak boleh dijadikan bahan berapologi. Tulisan singkat ini tidak dibuat untuk mengadili, rasanya tidak cukup kapling untuk itu. Namun, sekecil apapun dosa, hendaknya segeralah membuat iklan yang bermutu sebagai bentuk pertobatan paling bijak.

Penulis adalah penonton televisi, tinggal di Jakarta.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

9 Responses to Iklan Televisi Kita; Behind The Sin

  1. utara19 says:

    ha..ha..ha..gue beri 4 jempol deh..

  2. raravebles says:

    yup, setuju.. segeralah membuat iklan yg bermutu dan bertanggung jawab. *udah pernah dimuat di Majalah Cakram? *blm pernah liat majalah ini* coba dikirim ke koran2 ibukota dong mas, artikel bagus*

  3. martoart says:

    raravebles wrote; *udah pernah dimuat di Majalah Cakram? *blm pernah liat majalah ini* coba dikirim ke koran2 ibukota dong mas, artikel bagus*Ra, Ra, ini majalah Ibu Kota. Majalah Marketing n Advertising ternama dan utama di Jakarta. Tapi ga jamin professionalismenya.Thx komentnya ya

  4. utara19 says:

    he..he..he…thanks ya marto..maaf nih kasih komen disini, abis buku tamu tidak ada sih.. :Dsukses dan sehat selalu untuk karir dan keluarga.. amiin

  5. martoart says:

    Lho, buku tamu kan aku siapin di setiap kamar, termasuk di Kamar “Mimpi” Ruang Blog (di situ kan maksudmu?). Emang di Ruang Depan (Gudang) ga disediakan sih. Juga ga da satpam, karena siapapun boleh nylonong.

  6. utara19 says:

    he..he..he..seep deh..😀

  7. aidavyasa says:

    martoart said: Perempuan menjadi obyek langgar iklan utama.

    tidakkah kita kaum yang menarik wahai Adam?

  8. afemaleguest says:

    aku punya tulisan di blog tentang perempuan dan iklan, but in English …berhubung aku tidak nonton tipi, maka iklan yang kuamati dari majalah Cosmopolitan …http://afeministblog.blogspot.com/search/label/advertisement

  9. afemaleguest says:

    salah satu alasan aku menghindari nonton tipi juga karena iklan-iklan yang memperlakukan perempuan hanya sebagai tontonan menarik secara fisik, mana iklannya mbodohin masyarakat pula!capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s