Blue Energy Terbukti!

Memang dahsyat negeri ini. Hampir setiap hal acap memberi kejutan. Tidak hanya kepada rakyatnya, tapi juga kepada pemimpinnya.Mungkin juga kepada dunia. Kejutan kali ini adalah Blue Energy. Sebuah tenaga yang menurut Joko Suprapto, penemunya, dihasilkan dari bahan baku air. Weleh! Blue Energy nan mengharubiru!


Kepob-Kebop

Dan benar, setelah melalui proses dialektis dan polemik media yang cukup seru, maka Blue Energy akhirnya terbukti. Terbukti bohong besar! Sekaligus juga membuktikan bahwa masih banyak orang bodoh di Indonesia. Rakyat, kalau banyak yang bodoh masih bisa dimaklumi, tapi kalau pemimpin bodoh, dia seharusnya mundur. Itulah yang dilakukan Rektor Unifersitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Rektor UMY mundur karena sempat juga ketepu oleh si Joko. Lantas, kira-kira siapa yang juga seharusnya mundur ya? Atau setidaknya siapa yang seharusnya menyadari bahwa dirinya juga bodoh? Bodoh itu boleh, tapi kalau orang bodoh mau menjadi pemimpin itu kriminal. Atau saya salah sangka. Atau sekadar bodoh seperti halnya rakyat kebanyakan?

Kita tinggalkan saja urusan energy yang buang-buang energi itu. Saya lebih tertarik Kejadian pembohong masuk istana, dan orang istana terbohongi. Dan tahukah Anda bahwa itu bukan hal baru? Semua presiden kita sempat dibodohi rakyat kecil, dengan hal-hal bodoh. Itulah anomali tentang kepintaran orang-orang bodoh dan kebodohan orang-orang pintar (Kita sebut saja dengan istilah Kepob-Kebop). Berikut ini kisah Kepob-Kebop dalam sejarah Indonesia.

Pada era kekuasaan Orde Lama, seorang tukang becak dan seorang pekerja seks mampu memperdaya seorang Soekarno. Mereka mengaku sebagai Raja Idrus dan Ratu Markonah. Aneh bin Khotob, presiden yang juga seorang insinyur, menguasai berbagai bahasa, intelektual dan penulis buku tebal-tebal itu percaya.

Pada zaman Orde Baru (pastinya dengan Presiden Soeharto), tatkala Wakil Presidennya adalah Adam Malik, kalangan istana dibodohi oleh Cut Zahara Fona. Adalah perempuan tak lulus SD yang mengaku janin di dalam perutnya bisa mengaji. Konon setelah digeledah, ketahuan bahwa Fona menaruh tape recorder di tubuhnya.

Era transisi, Presiden Habibie. Entah dari mana datangnya ide, entah dari siapa gagasan muncul, Eh, keberanian (Jawa; kewanen) banget beliau menjalankan referendum untuk Timor Lorosae. Pasti ada pembisik yang bertabiat asal bapak senang (ABS) dan melaporkan bahwa suara pro-integrasi lebih banyak, pasti menang. Dan kita tahu hasilnya.

Di zaman Gus Dur, ada Soewondo, tukang pijat yang berhasil membobol Rp 35 miliar uang (Yanatera-Bulog).

Zaman Megawati, Menag Said Agil Al-Munawar puny aide nyleneh untuk menggali situs Batutulis. Menag percaya kata seorang paranormal yang konon di bawah situs itu tersimpan harta karun yang berlimpah. Weleh!

Dan sekarang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono percaya banget kepada Joko Suprapto, yang tidak memiliki latar belakang penelitian dan dengan jelas disebut sebagai penipu oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penipu Di Sarang Pembohong

Saya merasa pas dengan sub judul ini. Semua presiden kita pembohong, setidaknya ingkar janji kepada rakyatnya. Maka kalau ada rakyat yang bisa masuk ke sarang mereka haruslah pintar-pintar menyesuaikan diri. Agar tak terlacak setidaknya. Tapi analisa yang lebih jelas mengapa Istana bisa dipecundangi para penipu, adalah apa yang disampaikan Sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong. Menurutnya kasus penipuan dengan korban Istana umumnya muncul saat terjadi krisis.

Raja Idrus dan Ratu Markonah berhasil membodohi sang presiden karena waktu itu Soekarno sedang mengalami krisis untuk membebaskan Irian Barat. Sedang Megawati dibelit kasus utang negara yang menumpuk, maka mimpi harta karun dianggap nyata. Pemerintah SBY terjerat krisis energi akibat harga minyak dunia yang terus melonjak, maka energy alternatif Mas Joko dilahap mentah-mentah.

Penipu bisa masuk Istana juga karena aturan protokoler yang lemah. Protokoler harus lebih ketat. Ini bukan berarti kemudian tidak mau menerima tamu. Tapi tamu yang diterima harus betul-betul diketahui identitas dan latar belakangnya sehingga presiden tidak akan tertipu lagi.

Selain itu, ini juga menunjukkan lemahnya koordinasi antardepartemen. Anhar mengungkapkan, ketika menjabat Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, ia tidak pernah dilibatkan saat Menteri Agama hendak menggali mimpi di Batutulis Bogor. Sedihnya, pihak Istana tidak mengecek ke departemen terkait bila ada sesuatu yang penting. pemerintah suka kerja sendiri-sendiri.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto menyarankan pemerintahan SBY sebaiknya mengadopsi sistem kepresiden Amerika Serikat (AS). Di AS, terdapat kelompok West Wing yakni para ahli yang bertugas menyaring informasi, sebelum masuk ke Ruang Oval (ruangan Presiden AS ). “Nah, West Wing itu diisi orang profesional, bukan partisan. Ada baiknya ini dicontoh,” kata Arya.

*) Diadaptasi dari tulisan; “Ada Krisis, Penipu Gentayangan”, Iin Yumiyanti – detikcom

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Blue Energy Terbukti!

  1. martoart says:

    Bung, polemik tentang Blue Energy masih terus jalan. Saya masih nunggu endingnya. Sampai secara formal (maksudnya laboraturium, para pakar terkait, dan lembaga berwenan) dibuktikan. Bukan sekadar di depan wartawan, masyarakat awam, dan Dandim. Info dari Plin-Plan menarik. Joko memang memang ngedab-edabi. Thanks untuk itu. Saya sih berharap ini bukan bohong. Kalau memang terbukti sahih, sebagai jurnalis opini di blog, dengan penuh tanggung jawab akan saya ralat dengan tulisan berikutnya. Pasti. Tapi nunggu.Meskipun begitu, sebenarnya Blue Energy saya ambil hanya sebagai pintu masuk untuk tulisan pembohong di Istana Pembohong.Thanks banget atas komentar kritisnya.

  2. ravindata says:

    Banyak peristiwa yang bila kita ikuti satu sisi saja terkadang akan sangat meyakinkan. Tapi bila kita coba berpikir terbalik, kadang-2 banyak hal-hal yang aneh dari pers itu sendiri. Bagaimana gencarnya kasus FPI dan Banser, yang tiba-2 menghilang bagai ditelan bumi ? Yang sebelumnya ramai-2 dikipas-kipasi. Lalu berganti dengan berita kekalahan GD di meja hijau, Maftuh dsb…. yang selalu hangat-hangat tahi ayam, tanpa ending dan cara berpikir filosofis. Tentang Suwondo, saya pernah baca bukankah itu gerakan kontra intelejen yang dilakukan GD ? Kendati akhirnya pers lebih banyak menamainya sekedar ‘Tukang Pijat’ belaka ….*Sambil dengerin Planet Rock*

  3. martoart says:

    Betul Bung, hampir tak ada yang bisa lepas dari lilitan politik, bahkan politik itu sendiri.Juga media dan jurnalisme. sampai sekarang aku masih belajar juga. Senang aku sempat lama berinteraksi dengan PANTAU dulu, yang sejauh itu aku anggap paling kredibel untuk belajar. Meski banyak beda pendapat denga Andreas, tapi justru di situ serunya.GD, bagaimanapun slengean beliau, Tak ada yang lebih hebat dari beliau dalam merawat kebhinekaan. Kursi Kepresidenan sebenarnya terlalu sempit untuk mengakomodasi kehebatannya. Aku barusan bela dia di Pembela Pancasila MP. Kunjungi aja.Eh, Speedyku juga terlalu sempit untuk mengakomodasi Planet Rock. Aku coba lagi.

  4. utara19 says:

    he…he..he..menurutku yg salah media dan keserakahan kaum intelektualnya.. media terlalu mengembar gemborkan demi menaikkan omsetsedangkan kaum intelektualnya terlalu serakah, main terima aja karena membayangkan keuntungan yg ia dapat tanpa menggunakan penelitian ilmiah seharusnya kita juga jangan terlalu mencerca sebuah usaha yg dilakukan orang meskipun gagal,kalau setiap penemuan atau usaha itu gagal lalu di hujat seantero negeri, besok besok kagak bakal ada orang yg mau melakukan sebuah kegiatan seperti ini..seharusnya..apa pun itu penemuan dan usaha seseorang, pemerintah harus tetap peduli dan memberi kesempatan tentu saja semua harus dibuktikan secara ilmiah dulu, kalau lulus uji, baru di plokamirkan..

  5. martoart says:

    utara19 wrote; “Seharusnya..apa pun itu penemuan dan usaha seseorang, pemerintah harus tetap peduli dan memberi kesempatan tentu saja semua harus dibuktikan secara ilmiah dulu, kalau lulus uji, baru di plokamirkan..”Setuju Non. Jangan tentara (palagi setingkat kodim) yg datang ngebuktikan. he he..

  6. Udah 3 tahun nih, Bung Marto… dan Joko sang ilusionist itu “hilang” entah kemana.Sementara yg sedang berkuasa sekarang masih tebal muka, gak mau mundur seperti yg dilakukan rektor UMY, gak mau mengakui kebodohannya apalagi minta maaf kepada rakyat.

  7. bimosaurus says:

    paling sebentar lagi ada yang kepeleset lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s