Kekerasan nan Islami

Gerombolan Radikal Islam mengamuk, memukuli siapapun yang dianggap menodai Islam dengan pentungan dan bambu runcing. Tak pandang bulu, orang tua, perempuan, dan anak-anak yang pada siang itu hendak memperingati Hari Kelahiran Pancasila di Monas, 1 Juni 2008.


Aksi damai untuk merayakan keberagaman dan kebebasan berkeyakinan itu menuai kekerasan. Laskar Pembela Islam (LKI) di bawah komando panglimanya, Munarman, merasa berhak membubarkan apel dengan segala cara karena ada unsur Ahmadiyah di dalamnya. LPI, FPI, HTI, dan organisasi Islam garis kekerasan lainnya sudah menyatakan siap perang kepada Ahmadiyah dan siapapun yang dianggap mendukungnya demi kebenaran agama Islam.

Itu prolog saja. Berita kekerasan yang santer beredar diberbagai media itu tidak perlu saya ulang. Semua sudah tahu. Bahkan mungkin sudah pada mahfum dengan tabiat kekerasan para gerombolan Islam itu. Namun begitu, rasanya saya sebagai umat yang berupaya menjauhi kekerasan sejauh mungkin, dan secara tradisional pun administratif beragama Islam, merasa berhak menyampaikan pembelaan dari anasir pelaku kekerasan atas nama Islam.

Lepas dari baik atau buruk, Greet Wilders melalui “Fitna” telah melansir beberapa ayat yang memberi peluang kekerasan atas nama agama dalam Al Quran. Dia menuai kecaman keras dunia. Namun dengan kejadian Monas kemarin, saya membayangkan bahwa Wilders saat ini tengah menepuk dada kemenangan atas filemnya. Satu lagi pembenaran bagi fitnahnya. Bukti itu telah disodorkan sendiri oleh umat Islam. Dan akan digenapi oleh presiden di negara berpenduduk mayoritas Islam ini apabila memebekukan Ahmadiyah.

Ahmadiyah, saya sendiri tidak tertarik ajaran itu, pun ajaran apapun yang membawa tahayul awang-awang ke dalam kehidupan rasional dan sosial. Tuhan, atau apapun Anda menyebutnya, biarlah Dia tenang. Jangan diseret-seret pada setiap pertikaian. Tuhan, atau apapun Anda menyebutnya, boleh sekali waktu Anda datangi untuk mengadu, apabila standar kemanusiaan tidak cukup menahan perbuatan keji. Tuhan yang biasa Anda rawat dan bina dengan baik dalam koridor kemanusiaan itu, yang tidak sering dicatut namaNya, tidak akan tiba-tiba mengutus Anda memukuli anak kecil dan kaum lemah lainnya.

Dan suatu malam di Taman Ismail Marzuki, saya mendengar sebuah obrolan singkat dua orang teman.

Lantas, kapan kita diijinkan secara sah membela keyakinan?

Jawabnya adalah kapanpun. Ini berlaku bagi siapa saja yang merasa perlu membela keyakinannya. Islam, Nasrani, Komunis, Abangan, Atheis, siapapun.

Caranya?

Pakai otakmu untuk bersilat analisa, pakai mulutmu untuk bersilat lidah, tunjukkan ekspresimu untuk bersilat citra, jangan pakai tanganmu untuk bersilat. Hindari pemaksaan fisik dan pelecehan.

Dan kapan diijinkan secara sah melakukan kekerasan?

Ini masih penuh perdebatan. Bagi Gandhi, kekerasan dalam bentuk apapun tidak boleh mendapat tempat dalam ajarannya. Sepertinya begitu juga versi Yesus Kristus. Malah kita perlu menyodorkan pipi kiri bila yang kanan dipukul orang. Bagi Islam, diijinkan kita berperang sejauh apabila diperangi.

Bukankah Ahmadiyah telah memerangi Islam dengan konsep kenabian versi Mirsha Gulam Ahmad?

Mereka memerangi dengan pentungan?

Dengan konsep.

Jawab juga dengan konsep.

Tapi itu akan menunjukkan lemahnya iman (Debat). Yang paling kuat dengan tanganmu (Duel), dan selemah-lemahnya iman dengan hatimu (Doa).

Kamu musti tahu mula-buka yang melatari hadis itu sampai ke tangan sahabat. Ada juga hadis yang sanadnya mirip, dan itu acap bikin rancu. Adalah hadis untuk sholat. “Apabila tidak mampu melakukan sholat dengan berdiri, bisa dengan duduk, apabila tidak mampu sholat duduk, dengan rebahan, apabila rebahanpun sulit, lakukan dengan kedipan mata”. Para Kiyai sering meneruskan dengan bercanda, “Apabila berkedippun tak mampu, tunggulah untuk disholati”.

Kawan, hadis yang disabda Rasul itu disampaikan saat perang fisik. Pada masa itu ada beberapa pemuda yang penakut dan yang tidak memiliki ketrampilan kanuragan/tarung. Ucapan nabi itu bernada kronologis, tapi sebenarnya lebih bersifat pilihan. Persoalannya adalah ketika tingkat iman seseorang dilekatkan dengan kemampuan fisiknya. Karena yang mengucapkan seorang Nabi, ya tentu saja menjadi dilemma bagi penganutnya. Sampai sekarang. Ada anak muda FPI yang pemahaman agamanya pas-pasan memilih angkat pentungan demi terangkatnya iman secara instan. Dan kalau kamu lihat para preman berjubah itu menyerang anak-anak, apakah kamu akan mengacungi jempol atas tingginya tingkat keimanan mereka?

Bulan bertambah pucat, udara malam di bawah banner semakin dingin. Saya pulang sambil menakar keberanian SBY membubarkan gerombolan barbarian yang mengatasnamakan Tuhan. Saya pulang sambil mengumpat Wilders atas kemenangannya yang licik.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

12 Responses to Kekerasan nan Islami

  1. raravebles says:

    Bubarkan saja.. !!

  2. martoart says:

    Eit,… mereka galak-galak loh non

  3. jolanda25 says:

    soal fp….doakan saja….untuk diri kita juga….btw, kok bisa nemu mas ?ke blogku yg blogspot dong….gabung di milis kampus gampingan ya….waduh mas marto katanya jadi penghuni utan kayu ni….masih ‘melayang’ juga….he…he…he….

  4. sal3ho says:

    kronologisnya gimana tuh mas ??? kan aakkbb bawa pistol tuh…dan juga tidak mendapat izin untuk demo pada hari yang sama di HI oleh polisi kan, coz nanti ndak terjadi bentrok..??? kalau gitu yang salah siapa ??? tidak ada asap kalau tidak ada api kan ???

  5. martoart says:

    Terimakasih komentarnya mas,Berita terbaru dah ketahuan bahwa yang bawa pistol itu Polisi (konon menurut Polisi, itu pistol mainan. Sampai sekarang pihak kepolisian masih merahasiakan anggota yang bersangkutan). Perlu diketahui, bahwa era sekarang untuk melakukan aksi damai tidak perlu ijin kepolisian, tetapi cukup surat pemberitahuan.Rencana aksi damai mereka memang rencananya di HI. Sebelumnya berkumpul di Monas untuk persiapan. Namun baru pada tahap ini mereka sudah diserang. Ternyata dari rekaman filem yang didapat dari hasil penggerebegan polisi di Petamburan, tampak rencana penyerangan itu juga sudah dipersiapkan matang. Yang salah siapa? Serahkan saja itu pada keputusan pengadilan dan hukum yang berlaku. Tidak ada asap kalau tidak ada api, He he.. bercanda dikit ya, Peribahasa itu harus ditinjau ulang kalau mau sesuai hukum fisika atau kimia. Banyak anomali asap tanpa apikan? (jadi ingat waktu SMP main di laboraturiom). Yaaah,.. saya setuju dengan Anda, Namanya juga peribahasa sih.

  6. arieharja says:

    lindungi keberagaman, dari para preman berjubah!salam kenal, mas : )

  7. aidavyasa says:

    arieharja said: lindungi keberagaman, dari para preman berjubah!salam kenal, mas : )

    hihihi …. sipz ….ngikut!lelah dengan orang keras kepala!

  8. sudah saya baca Bung, bagus. Bumi Nusantara niscaya lebih teduh tanpa kehadiran FPI dan laskar-laskar bigot berkedok agama lainnya. Salam Indonesia!

  9. 2nggul says:

    Wealah keren ta tulisanmu kang… Mari kita saksikan sendiri hancurnya FPI.. karena ulah sendiri menodai hukum, agama, dan kemanusiaan. Semoga bangsa ini mau menjunjung tinggi Ahimsa terhadap semua ini, dan bertindak benar untuk kepentingan banga…

  10. klewang says:

    FPI jangan dibubarkan begitu saja dong,mereka punya hak untuk dipentungi juga kan?sori bercanda.lha iya,segerombolan mahasiswa berwarna islam demo didepan kedubes belanda memprotes film fitna sambil melempari gedung itu. bukankah berarti mereka membuktikan kebenaran film tersebut.susah2 disekolahkan kok nggak pinter juga mereka.

  11. rinilestari says:

    yang saya bingung organisasi seperti FPI siapa yang mendanai yah…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s