Menilik Klenik

Pada awal-awal menduduki jabatan, pasangan SBY-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, tersiar rumor bahwa menurut nasihat kalangan paranormal, mereka harus berkurban limaratus ribuan ekor kambing untuk meruwat Indonesia. Sebab berdasarkan perhitungan para penggiat dunia non fisik, pasangan tersebut resmi dilantik pada tanggal 20 Oktober tahun kematian, yaitu 2004. Juga ada yang bilang 2004 sebagai kursi sungsang. Apabila hajatan ruwat tidak dilaksanakan, niscaya bencana dan kematian akan bersambungan melanda negeri. Dan itu akan membuat keduanya bakal tergulingnya dari kursi kekuasaan. Meskipun tidak disampaikan secara khusus, SBY menolak ide beraroma tahayul itu.

26 Desember 2004, Aceh dibandang tsunami. Dunia terkesiap oleh gelombang terbesar yang pernah menggulung daratan ada di depan mata mereka. Gelombang besar itu rupanya juga menenggelamkan ingatan orang Indonesia akan rumor ruwatan itu. Apakah ini membuktikan bangsa kita dikaruniai ingatan pendek, yang bahkan sementara pengamat sosial bilang bahwa kita mengidap pelupa kolektif? Meskipun kemudian bencana dan berbagai kecelakaan merundung negeri ini, rumor klenik tersebut tidak serta-merta kembali mencuat. Masyarakat juga tidak buru-buru menjadikan hal itu sebagai bukti kebenaran ucapan para paranormal. Apakah ini juga berarti masyarakat kita telah terbebas dari dunia tahayul dan menjadi mayarakat yang berfikir ilmiah? Menurut seorang pemikir dunia barat, apabila bangsa sudah mulai meninggalkan pola pikir metafisik, selangkah lagi bangsa tersebut menjadi bangsa yang maju. Kalau memang hal itu benar – bahwa kita tidak lagi tahayul -, kenapa bangsa kita tidak pernah maju bahkan selangkah? Artinya ada yang tidak beres dari kedua terminologi di atas.

Klenik Will Never Die!

Saya merasa ketidakingatan masyarakat bergeming tak terusik karena ada beberapa hal utama. Pertama adalah rumor itu tidak cukup besar, terlebih beraroma black campaign bagi sebagaian besar pemilih SBY-JK. Kedua adalah masyarakat lebih disibukkan dengan urusan dan beban keseharian yang lebih penting. Rakyat kecil yang biasanya justru menjadi konsumen utama perklenikan berhadapan langsung dengan kenyataan hidup yang merepotkan. Ketiga, justru bencana dan kecelakaan beruntun itu sendiri yang mengalihkan bahkan menindih perhatian orang dari rumor nasihat paranormal sekian tahun silam. Berbagai media, khususnya televisi sangat memukau mata. Bencana dan kecelakaan menjadi hiburan tersendiri sejauh penonton tidak mengalaminya.

Memang, dari kaca mata rasional khususnya, kemalangan yang ditandang republik ini tidak layak dipahami akibat dari melalaikan ruwatan ala paranormal. Semua yang terjadi selalu bisa diverivikasi. Entah itu karena pergerakan alam ataupun kesalahan manusia. Kalau sebuah fenomena belum ditemukan penyebab dan pemecahannya, tugas ilmu pengetahuan untuk terus menelisiknya. Begitulah metoda ilmiah. Tidak ada yang salah dengan hal ini.

Dengan begitu apakah cara kerja dunia supranatural salah? Dunia supranatural memiliki cara sendiri yang seringkali tidak bisa dimengerti oleh kaum ilmuwan. Sesungguhnya para dukun juga tidak bisa dibilang sekadar asal-asalan dalam menyampaikan ramalannya. Mereka pun membaca fenomena alam, siklus kosmis, dan kelakuan masyarakat yang diamatinya. Hanya saja akan sulit dimintai pertanggungjawaban, lantaran pelaku klenik di belahan dunia mana pun tidak pernah memaparkan proses, namun hanya produk. Hal ini yang membuat dunia perdukunan rentan dengan praktek penipuan.

Keengganan menyampaikan proses itu sebenarnya justru awalnya berangkat dari tanggung jawab spiritual terhadap sesuatu yang menguasainya. Entah itu tuhan, dewa, roh suci, arwah nenek moyang, atau apapun bentuknya. Dalam sejarah, para orang pintar itu selalu memegang prinsip untuk tidak mendahului kehendak penguasa jiwanya. Mereka tidak mau disebut sebagai orang sombong. Kewenangan publikasinya hanya sebatas simbol (metaphore), atau sanepa (code). Dari penggalan kisah lain, sebagai ahli nujum atau penasihat spiritual kerajaan, mereka kadang merasa perlu membocorkan rahasia kepada rakyat yang memungkinkan bakal menjadi korban kebijakan istana dalan bentuk pesan-pesan berkode. Pesan berkode ini akan diterjemahkan oleh saudara seperguruannya yang tidak mau berkolaborasi dengan penguasa dan lebih memilih berada di tengah masyarakat. Kalau Anda salah satu peminat teori konspirasi, Anda akan mengerti bagaimana Nostardamus sang peramal dunia bisa mengerti rahasia istana-istana Eropa dan memprediksi apa yang akan terjadi. Anda juga akan memahami bagaimana Prabu Jayabaya memiliki kemampuan weruh sadurunge winarah (tahu sebelum diberi tahu).

Permasalahannya, saat ini para penggiat supranatural itu seperti sedang didelegitimasi keberadaannya secara sistemik. Hampir setiap hari, di hampir semua stasiun televisi yang menayangkan sinetron religi, dukun digambarkan sebagai sosok jahat. Klenik dituduh melawan agama, dimana juga lantas dimaknai melawan Tuhan. Ritual klenik yang intisarinya digali dari kebijakan lokal peradaban Nusantara tiba-tiba menjadi musyrik. Lucunya hujatan semacam itu disampaikan oleh mereka yang pada dasarnya juga melakukan bentuk ritualistik dalam beragama. Kabar baiknya, hampir semua penganut ritual yang berdasar intisari kebijakan Nusantara itu juga penganut paham non-kekerasan. Dengan filosofi nrimo (berserah diri), dijamin mereka tidak akan melakukan serangan balik meskipun dicerca oleh agama dan ilmu pengetahuan. Bahkan tanpa melakukan syiar atau pengkabaran guna merekrut massa pun, mereka yakin kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat klenik tidak akan pernah mati. Klenik adalah tradisi laten dalam darah orang Indonesia.

Tradisi Ilmiah, Imaniah, dan Paganiah.

Tradisi kaum pagan pada Eropa lama (dark age) sering disejajarkan dengan tradisi penyembah berhala masa jahiliah dalam dunia Islam, dimana kelakuan masyarakatnya membuat tata kehidupan saat itu terpuruk jauh dari peradaban manusia yang semestinya. Tentu tidak sepenuhnya benar, terlebih ketika kita hanya mengacu pada sejarah formal yang tentunya ditulis oleh para pemenang. Pemenang peradaban saat itu adalah kaum agama. Di Tanah Arab, agama Islam berhasil menghentikan pembunuhan terhadap anak perempuan dan tindakan biadab lain, dan mengganti
nya dengan ahlak Islam. Di Eropa ahlak Kristiani dianggap telah memberi peradaban baru yang lebih mencerahkan.

Sejarah pemenang hampir tidak pernah mengisahkan sisi baik para kalah. Tidak terbetik kabar bahwa kaum pagan sangat menyayangi alam dan dengan caranya sendiri mereka berupaya menjaga kelestariannya. Pun tak terdengar kabar para paderi yang menyiksa dukun – dukun, membakar perempuan penyihir, atau siapapun yang dicap pemuja dewa dan berhala lama. Bidah. Pada perkebangannnya, dominasi agama-agama dunia mulai tergeser oleh semangat berfikir ilmiah. Ilmu pengetahuan menghasilkan banyak temuan alat dan sistem yang lebih memudahkan orang dalam menjalani kehidupan. Segala sesuatu yang mempersulit kerja harus disingkirkan. Waktu adalah uang, maka jangan sia-siakan waktu, begitulah kira-kira. Dan sejak itu segala bentuk ritual dalam agama mulai dihilangkan atau kalau tidak, disederhanakan. Yang paling cerdas adalah mengambil tindakan sejalan dengan prinsip ekonomi. Pilgrimasi, wisata rohani, naik haji, dan sebagainya dikemas menjadi lebih bermakna ekonomi daripada ritual suci. Artinya, setiap perkembangan peradaban manusia di atas dunia selalu membawa perubahan baru baik bersifat membangun ataupun destruktif.

Tradisi yang turut hadir pada setiap datangnya peradaban baru tidak lantas melibas habis tradisi yang sudah berkelindan di tengah masyarakat. Tradisi Abangan yang lekat dengan klenik di pedalaman Tanah Jawa tidak serta-merta hilang seiring datangnya Islam ataupun pengaruh kuat lain. Yang justru muncul kemudian adalah terciptanya Islam-Abangan. Demikian pula ketika era kebangkitan nasional yang ditandai semangat akan pentingnya pendidikan mulai muncul di Indonesia, agama dan tradisi pribumi tidak terusik bahkan menjadi alat perlawanan. Seperti pelawanan diamnya kaum Samin kepada penguasa kolonial Belanda misalnya.

Berpikir global, memikirkan lokal!

Namun rupanya perkembangan yang belakangan terjadi adalah ada pihak yang mau-tidak mau harus merelakan ruangnya ketika pihak lain mendominasi. Ironisnya pihak itu adalah tuan rumah. Penganut klenik, mereka yang tanpa henti merawat dan melakoni kebijakan lokal intisari hasil perenungan filsafat Nusantara justru semakin (di)tersudutkan. Serangan citra dengan menggelapkan karakter mereka di setiap televisi pada bulan penuh kasih sayang adalah sebagian kecil upaya penyudutan itu.

Hal lain yang seharusnya lebih diperhatikan pemimpin (pelindung kaum lemah) adalah menjaga hak ulayat atas tanah dan kekayaan hutan mereka, nguri-uri keanekaragaman tradisi, dan hukum adat. Ketika hutan dijagal untuk sawit, korban pertama adalah mayarakat tepian hutan. Tatkala gunung dieksploitasi kandungan mineralnya, penduduk setempat yang pertama menelan limbah tailingnya. Ketika tanaman yang mengandung bahan obat dipatenkan, suku asli yang turun-temurun biasa mengkonsumsinya sebagai jamu tiba–tiba menjadi pelaku kriminal.

Memikirkan keselamatan kearifan lokal menjadi sangat penting ketika mata kita diajak melihat realitas untuk aktif di percaturan global. Ketidakmampuan bangsa Indonesia atau siapapun yang memimpin bangsa ini menjaga kearifan lokal adalah salah satu tolok ukur bahwa kita belum siap menghadapi globalisasi itu. Dan dengan sederhana hal itu bisa kita lihat dari seberapa sarkas media terutama televisi mengajar penonton mempecundangi tradisi moyang sendiri. Meminta media untuk tidak mencaci tradisi dan lebih khusus memintanya dihentikan dari televisi menjadi hal mokal. Tayangan semacam itu menjadi tambang emas karena nilai rating yang tinggi. Tulisan ini tidak untuk mengajak orang berfikir irasional, juga tidak mengajak orang menyuburkan perikehidupan tahayul, tapi sekadar mengingatkan bahwa kita juga perlu menghormati keanekaragaman lain yang tumbuh di tanah subur Nusantara ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Menilik Klenik

  1. aidavyasa says:

    martoart said: Kalau Anda salah satu peminat teori konspirasi, Anda akan mengerti bagaimana Nostardamus sang peramal dunia bisa mengerti rahasia istana-istana Eropa dan memprediksi apa yang akan terjadi. Anda juga akan memahami bagaimana Prabu Jayabaya memiliki kemampuan weruh sadurunge winarah (tahu sebelum diberi tahu).

    idup ini aja sebuah konspirasi menurutku.

  2. klewang says:

    jika klenik didiskreditkan karena dinilai nggak rasional, kenapa ya orang mencernai ajaran agama dengan cara nggak rasional juga kok masih dapat respek?aku suka istilah sampean “berpikir global,memikirkan lokal”karena itu yang mustinya dilakukan umat agamis kita saat ini. bukannya mempopulerkan semangat “perangi yahudi” sedangkan tetangga kelaparan masih nekad naik haji.yahudi masih jauh nggak kelihatan, yang lapar ini persis disamping dia.tulisan yang menarik kang.

  3. martoart says:

    Klewang; “jika klenik didiskreditkan karena dinilai nggak rasional, kenapa ya orang mencernai ajaran agama dengan cara nggak rasional juga kok masih dapat respek?”Itulah cak, yg aku maksud dengan menulis; “kebijakan lokal peradaban Nusantara tiba-tiba menjadi musyrik. Lucunya hujatan semacam itu disampaikan oleh mereka yang pada dasarnya juga melakukan bentuk ritualistik dalam beragama”.Dan juga itu satu hal yg aku ngomentari comment Darto di blogmu yang nadanya gak solider banget sama TKI. Okaylah TKI yg ke arab itu dibilang bodoh, tapi jangan pikir naik haji ke arab itu perbuatan tidak bodoh juga. Thanks, tulisan sampeyan juga otre!

  4. klewang says:

    martoart said: comment Darto di blogmu yang nadanya gak solider banget sama TKI.

    aku berusaha memahami kang. dia sendiri TKI di riyadh, biasa bergumul dengan banyak warga negara lain sesama pekerja.Dia banyak menulis di MPku tentang kekecewaannya pada nasib TKW asal indonesia yang sering jadi korban pelecehan seks, sebagian kecil diantaranya justru menggunakannya untuk kerja sampingan.seperti halnya orang memaki “bodoh” karena motif prihatin dan kasihan, mungkin begitulah Darto.ngomong2 soal si lugu AIBNU yang sampean sobek2 di MP pembela pancasila, tadi kuintip MPnya kok doesnt exist. melarikan diri kayaknya.hehe..

  5. martoart says:

    AIBNNU, he he… hampir lupa aku dia… semoga lari untuk belajar.

  6. ohtrie says:

    martoart said: apabila bangsa sudah mulai meninggalkan pola pikir metafisik, selangkah lagi bangsa tersebut menjadi bangsa yang maju.

    Quote diatas untuk saat ini keknya dah mulai terkuak tuk bisa dilihat ketidak benarannya ya mBah…….Bisakah kita melihat ekonomi USA akhir2 ini….?atau masihkah perlu banyak bukti akan kemajuan pesat yang diraih oleh RRC beserta budaya Tiongkoknya….?!!!!hemmm….

  7. ohtrie says:

    martoart said: Tulisan ini tidak untuk mengajak orang berfikir irasional, juga tidak mengajak orang menyuburkan perikehidupan tahayul, tapi sekadar mengingatkan bahwa kita juga perlu menghormati keanekaragaman lain yang tumbuh di tanah subur Nusantara ini.

    maztrie like it…!(eFBe mode on)

  8. afemaleguest says:

    belum selesai baca … udah diserang kantuk …btw, jadi ingat diskusiku dengan seorang teman tentang ilmiah versus mistis … tapi di lapak mana ya, lupa …^_^besok balik lagi, lanjutin baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s