Prosa Sebuah Taman

(Nyastra; Sekadar Penepatan Sebuah Janji)

Perempuan

Aku perempuan. Sendiri di tengah taman. Matahari ramah hari ini. Angin segar mendatangiku. Sebelum sampai ia sempat mengelus lembut rerumput, bunga merah biru, suplir, dan perdu di depanku. Batu tua berselimut lumut dan tetes air liris jatuh di lubuk membawaku entah ke arah mana, ke waktu kapan. Sepertinya delapanbelas tahun silam. Gadis muda, dan itu aku. Oh, cantik benar dia, aku. Riang, dadanya dipenuhi sesak harapan. Berlarian di tengah taman yang berbeda, namun tetap ada batu tua berlumut dan tetes air di lubuknya. Gadis muda itu bercanda bersama teman-teman mudanya. Mereka cantik semua.

Jantungku adalah memang jantungnya, tapi delapan belas tahun silam tetap meregang beda. Jantungnya terasa lebih kuat dan berdentam penuh semangat. Darah di aortanya lebih merah. Bulir di venanya lebih lembut. Sehat. Kulitnya tak mampu menutup ranum jejaring pembuluh di baliknya. Kami sepakat untuk beristirahat. Lempeng besar batu hitam bawah rindang pohon keben adalah pilihan yang menyejukkan.

Hingga searus lembut udara sejuk mendatangi kami. Seekor kupu-kupu cantik menumpang di tengahnya. Tapi ia segera keluar arus lembut angin itu. Seperti tahu hendak kemana. Menunggu beberapa jenak, memainkan antenanya, dan datang menghujam cepat mengarah tepat jantungku. Sesuatu memintaku untuk rela menerimanya. Tanganku tergerak hendak mengincupnya, namun tiba-tiba aku terhisap kembali di saat ini, di taman yang tadi aku nikmati mentari dan anginnya. Angin segar mendatangiku. Sebelum sampai ia sempat mengelus lembut rerumput, bunga merah biru, dan perdu di depanku. De Ja Vu. Rupanya ada kupu-kupu cantik menyertainya. Yang membuatku sadar. Ia telah hinggap di Jantungku. Belum tuntas aku mengenang delapanbelas tahun silam, dia cepat kembali datang. Kupu-kupu yang rindu, telah kembali menengok jantungku.

Jantung

Aku bisa milik siapa, bisa menjadi siapa. Lelaki, perempuan, atau siapapun, manusia atau binatang. Tugasku mendistribusi kehidupan, membagi energi, dan pada momen tertentu – seperti biasa; tanpa kehendakku sekalipun –, mengakomodasi ruang dan memfasilitasi rasa sukur juga rasa gamang dan sir cinta.

Aku penuh nama dan makna. “Heart” di dunia Barat, sementara di sini adalah “Hati” pada satu sisi yang bukan berarti Liver. Aku adalah “Manah” di Jawa, yang bisa berarti “Hati”, “Jantung-hati”, dan juga “Pasangan”. Aku bisa “Qolbu” di khasanah bahasa Arab yang tiba-tiba bisa menjadi “Jiwa”, tapi bukan Ruh. Aku rumit. Kalau saja berkaki, aku pasti menapak di banyak ranah. Karena rumit itu, konon kalau mencari Tuhan, kalian bisa lewat pintuku. Sayangnya ada banyak pintu di diriku. Tapi konon juga, Tuhan menyukai mereka para pencari, mereka yang suka berusaha, mereka yang berfikir, mereka yang tidak lelah bermain petak umpet denganNya. Ah, sudahlah. Aku hanya ingin berbagi kisah singkat, tapi cukup membuatku penasaran sampai saat ini.

Siang itu aku merasa segar. Pasti aku dibawa perempuan itu di sebuah taman. Sangat terasa molekul-molekul serbuk bunga yang dikirim darah kepadaku. Degupku yang tenang menandakan perempuan ini sedang menikmati keindahan taman dan dirinya. Bau batu tua basah berselimut lumut hijau, suara tetes air jatuh ke lubuk, dan tarian anggun suplir. Kemudian desir angin terasa. Dedaun suplir itu menari lebih cepat. Dan degupkupun terbawa tariannya. Sepintas aku merasa muda, merasakan degupku yang dulu. Degup semangat yang hampir aku lupakan. Delapanbelas tahun lalu. Ada apa ini? Aku sedikit gamang, namun tiba-tiba merasa tenang dengan sebuah kejutan.

Dia datang. Seekor kupu-kupu hinggap tepat di depanku. Sedikit menghiba, menawariku serbuk bunga putih. Ah, aku sungguh ingin menghirupnya. Degupku menghebat dahaga. “Hai perempuan cantik, terimalah tawarannya, please!”, pintaku. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba degupku kembali ditarik di masa ini. Lebih lambat dari delapanbelas tahun silam. Kemudian aroma tenang taman siang itu hadir lagi.

Heran, kupu-kupu itu masih hinggap di depanku. Rupanya dia hanya datang lagi. Aku menyadari setelah tahu bahwa nafasnya tidak sekuat nafas dia yang dulu. Rentang delapanbelas tahun telah merapuhkan kekuatannya, meski begitu dia datang dengan nektar putih yang sama. Cinta yang sama.

Kupu-kupu

Mulaku mahluk androgini, tidak jantan dan bukan betina. Pelan tanpa daya. Jelajahku hanya seluas daun yang ada. Dijauhi karena bentukku yang kontra estetika, dihindari karena buluku yang membuat gatal. Aku makan dedaun seperti gila, hingga waktu mengetukku untuk bertapa. Berselimut pupa, dan membuka ketika alam meminta.

Dan inilah aku kini, ciptaan sebuah puasa. Mengembara, bersama angin dan bersih udara yang kusuka. Busanaku indah
flamboyan, kalian akan suka. Aku hanya menghirup wangi kembang dan mengecap nektar bunga-bunga. Aku kesatria dengan restu brahmana. Aku adalah individu tercukupi dan merdeka. Tak lagi butuh apa-apa. Sampai aku tiba di sebuah siang di sebuah taman.

Delapanbelas tahun lalu. Kepak sayapku sunguhlah kuat. Bersuka ria aku berselancar di tengah bayu. Yang membawaku di taman itu. Aroma seribu bunga membelaiku, tapi terecap satu yang sungguh membuatku dahaga. Mengajakku membubung meninggalkan bayu. Ah, seorang perempuan cantik di tepian lubuk. Jantungnya mengirim degup gairah bara. Dialirkan merah muda bersama pembuluh romansa. Oh, wangi yang menembus bersih kulitnya, membuatku lepas kendali. Aku menghujam tanpa permisi. Mengarah tepat jantung menawari wangi sari bunga. Nektar surga hanya untuknya.

Aku hinggap di terasnya. Dada yang sesak penuh semangat dentam muda. Kujilat lembut sebagai ketuk sapa. Jantung hati, tolong buka pintumu. Reguklah barang seteguk sariku. Aku bisa merasa jantung menggeliat mengirim bulir darah mudanya. Menjalar ingin memelukku. Tapi terhalang tabir bersih membran kulitnya. Jarak setipis ari antara aku dan jantung hatiku. Oh,…

Tapi ternyata itu sejauh waktu sejarak delapanbelas tahun lalu. Aku mendatangimu lagi kini. Hasrat ini mungkin salah, tapi aku tak tahu kenapa. Aku hanya ingat kisah tetua. Seorang Rahwana yang begitu menghendaki Shinta, istri sah Rama. Rahwana yang didakwa, dipersalahkan dunia. Tanpa dunia tahu atau menutup mata tentang sepenggal kisah untuk memaafkannya. Adalah setetes titis dari bidadari khayangan pasangan dewa cintanya. Menetes di arcapada, menusuk sesudut hati Rahwana dan Shinta. Tahukah dunia bahwa ada kohesi antar keduanya? Salahkah Rahwana mengejar sepenggal kasih untuk menuntaskan pencariannya?

Mungkin aku hanya mencari apologi. Bisa jadi aku bukan Rahwana atau Oedipus. Tapi mungkin juga mungkin. Cinta seperti menyimpan tenaga. Aku tak mau habiskan tenaga untuk melawan tenaganya. Aku tahu cinta tak pernah terkalahkan. Ikuti saja arusnya, pasti ada makna tanpa sia-sia. Setelah delapanbelastahun penantian aku datangi kamu lagi. Aku menawarimu prosa sebuah taman. Ada kamu di tengah taman, ada energi di tengah jejantung kita, dan ada kupu-kupu membawa prosa.

Prosa sebuah taman yang aku kirim bersama bayu, arus cyber, sinyal maya elektromagnetik. Meski terhalang membran monitor, tabir kaca, layar yang berbeda dengan bersih kulitmu. Tapi aku tetap menunggumu. Hinggap di dadamu, tepat di depanmu. Baca dan terimalah, please…

Janganlah ada lagi bayu yang bakal datang merebutku secepat delapanbelas itu. Untuk menuju ke arah mana dan ke waktu kapan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Prosa Sebuah Taman

  1. aidavyasa says:

    hey .. i like tiz writing verymuch …kubalik lagi nanti

  2. luqmanhakim says:

    Mas Marto! Pokoknya aku ngiri sampeyan bisa nulis selepas dan seliar ini tapi tetep mengemasnya dengan berbagai macam analogi yang mengalir!

  3. imagina1 says:

    menarik sekali, 1 cerita dari 3 POV yg berbeda dan semuanya mengerucut pada 1 saat kejadian.. walau liris tapi sbnrnya temanya kelam dan berlapis.. sgt menikmati membacanya, makasih marto

  4. ohtrie says:

    mBah Marto emang oyeee…mengalirr….

  5. rirhikyu says:

    Cak… terbuai akuKupu2 itu pun hinggap di hatiku.Ahhh… walau blum 18tahun. Tapi… eh apa ini?Kupu2 yang berbeda dari yang dahuluini bukan kupu-kupu yang sama ^_~*ahhh… hati perempuan memang nakal*

  6. penuhcinta says:

    Menarik, Rahwana disejajarkan Oedipus… hmm… cinta terlarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s