Mengenang Mei

Mei Ling namanya. Gadis cantik, berkulit kuning, bermata sipit. Sebelum ulang tahunnya yang ke tigabelas, ia jalani hidup sumulus kulitnya. Segala yang dimintanya segera tersedia. Bagaimana tidak, papahnya adalah seorang pedagang mobil yang sukses, dan mamahnya pedagang berlian dengan klien ibu-ibu tajir bilangan Menteng.

Namun segala kebahagiaan itu segera terhenti. Itu terjadi sepuluh tahun silam, saat papah dan mamahnya terjebak kerusuhan Jakarta. Rumahnya yang terletak di Jakarta Utara kosong. Semua pembantu keluar, juga satpam. Rumahnya, entah bagaimana bermula, terbakar hebat. Orang-orang dengan wajah tak pernah dikenalnya merangsek, menjarah harta yang ada. Sampai akhirnya datang delapan orang penuh keberingasan membiadabinya di sudut kamar yang tersisa. Sejak itu, setiap hari adalah awan hitam.

Mengenang Mei, sepuluh tahun lalu, seharusnya tidak sekadar mengingat keberhasilan menjatuhkan seorang diktator, namun juga kisah sedih orang kecil yang dibakar masal setelah diprovokasi untuk menjarah toko. Kisah etnis Cina yang dikeroyok mati para orang bodoh dan perempuannya dihinakan. Mei sepuluh tahun lalu bukan hanya gemilang harapan bersama teriakan reformasi. Mei adalah juga gelimang darah dan teriakan anti Cina. Itu terjadi, bagai hantu, memang. Karena ada korban dan sedemikian susah mencari bukti. Korban tidak mau melakukan testimoni. Entah karena menganggap itu aib, menambah lara, atau karena diancam. Hukum seperti tidak memfasilitasi itu. Akhirnya kedukaan itu mengembara di setiap relung bangsa, khususnya etnis minoritas.

Dalam angka, Tim Relawan Kemanusiaan membilang 1217 orang tewas dalam kerusuhan Mei. Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) menyebutkan 1.190 orang mati terpanggang dan 52 (sebelum direvisi TPGF menyebut 168) perempuan diperkosa. Artinya ada data dan fakta, tetapi terlalu berat para pejuang kemanusiaan menghadapi para penghadangnya. Yang utama adalah para tentara, ke dua terhadang hukum positif Negara. Para tentara, karena merekalah yang paling tahu situasi keamanan saat itu, tahu bagaimana seharusnya bertindak, dan tahu bahwa dalam keadaan ibu kota seperti itu, merekalah yang seharusnya bertanggung jawab. Sedang hadangan hukum positif adalah – dari salah satunya – tentang definisi perkosaan. Hukum Indonesia menyatakan tindak perkosaan terjadi apabila ada pemaksaan hubungan antarkelamin, sementara bagi para penggiat kemanusiaan berpengertian, penyerangan terhadap kelamin yang tidak harus dengan alat kelamin, dan/atau memaksakan alat kelamin ke dalam lubang tubuh yang tidak harus alat kelamin.

Tapi itu Mei sepuluh tahun silam, Ibu Kota penuh asap. Asap politik, kepentingan, dominasi, dan kekuasaan para binatang. Asap yang menutup mata hati kemanusiaan, asap yang mengaburkan kejernihan akal dalam memaknai setiap pengertian. Asap yang memekatkan jalan menuju hari depan Mei Ling dan korban yang lain. Sekarang asap telah pergi, cepat pergi. Bagai pendeknya daya ingat bangsa ini (Tapi tentu tidak bagi Mei. Asap itu terus menyesak dalam paru dan mimpi buruknya). Bangsa yang pelupa, tidak pernah mau belajar bahkan dari tragedi. Bangsa yang tumbuh dalam budaya ngrumpi, belumlah sampai tingkat beropini, apalagi berpikir analitik. Ini mungkin juga lantaran belum usai menarik nafas lega, gelombang euforia keburu kencang melanda. Tiba-tiba, setiap orang pintar unjuk rasa, para bandit menjadi pahlawan, dan yang dulu pendiam jadi jago bicara. Bising! Maka,data menjadi tidak penting. Yang ada adalah pameo media; Terbunuhnya satu nyawa adalah berita, dan seribu nyawa adalah statistik.

Mengenang sepuluh tahun silam adalah agar anyir darah Mei dan bau asap daging rakyat tidak segera mengendap di dasar lupa. Kepedihan yang terlalu mahal untuk cita-cita reformasi yang tak kunjung terbukti.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Mengenang Mei

  1. luqmanhakim says:

    11 tahun silam tepatnya Mas…Iya, aku bergidik baca data-data Mei 98, belum lagi video real tanpa take ulang dan cut dari sang sutradara yang kutonton, milik seorang kawan yang memang membuat film dokumenternya. Perempuan Cina di daerah Kota diperkosa sekumpulan orang-orang liar dan kesetanan. Inget itu aku jadi inget film X-Men Original : Wolferine yang baru kutonton, di mana ketika Logan diperingatkan istrinya bahwa, “You’re not an animal”, Logan berusaha mati-matian meredam insting dan naluri kebinatangannya. Di akhir cerita, Logan sadar bahwa ia cuma dibodohi istrinya yang cantik, diperankan Lynn Collins (ini jelas bukan orang Madura meski namanya perulangan, ha ha ha), ada konspirasi antara istrinya dengan Kolonel William Striker, orang yang pernah jadi atasannya di militer. Instingtif, naluri, atau apalah namanya, itu hal yang alamiah. Namun saja apabila meliar dan tak mengarah, kebinatangan itu yang muncul, sama seperti seekor kucing jantan yang bila tiba-tiba libidonya timbul, ia akan mencari kucing betina untuk segera melampiaskan nafsu kebinatangannya. Tapi, bukannya manusia itu Animal Symbolicum? Ini yang sering bikinku tak habis pikir….

  2. luqmanhakim says:

    Eh salah, nulis ini pas tahun 2008 ya? Berarti bener emang 10 tahun dan aku yang salah baca nggak liat tanggalnya, ha ha ha…

  3. martoart says:

    iya. kutulis 2008. Bukannya yg namanya tolong-menolong itu orang sunda Man; Maman Suleman, Ajad-sudrajad, kiki syahnarki (musuhnya xanana gusmao) , nana-xanana (kawin ma orang timor leste setelah damai) jaja-kopaja, lelet-mikrolet, dede-pepede, mimi-kopami (itu mereka yg pengusaha transportasi), ice-juice (penjua es jus), dll kekekeke..manusia itu binatang yg berpikir. masalahnya pikiran baik atau burukkah yg tengah menguasai kemanusiaannya?

  4. zaffara says:

    Tulisan thn 2008…saat itu mas Marto sdh di Jkt ? Aku nggak bisa membayangkan mnjd komunitas minoritas pd saat itu yang pasti sedang merasakan kiamat. Semoga hal spt itu tdk pernah akan terjadi lagi di negri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s