May Day! Mau?

Buruh, dengan sejarah panjang. Termasuk perubahan istilah dan maknanya. Dari budak (Slave), buruh (Labour/Labor), pekerja (worker), sampai karyawan (Employee). Tapi satu hal yang tidak pernah berubah; Nasib miskin dan ketertindasannya. Oleh siapa?

Si Kaya dan Si Miskin.

Menjawabnya dengan sederhana cukuplah kita mulai dengan memetakan diri korban penindasannya, yaitu buruh. Buruh adalah juga kaum miskin. Tereksploitasi dan termiskinkan oleh sistem kepemilikan dan kepenguasaan. Kapitalisme dan feodalisme tentu saja. Konon sejarah kapitalisme diawali ketika orang mulai mengenal pagar, dan perbudakan dimulai sejak jaman sudah Sumeria. Artinya sifat kemaruk manusia – setidaknya rasa melindungi kepemilikan – sudah lebih menerap dalam diri, baru tingkat berikutnya; menguasai manusia lain. Tak terpungkiri, kapitalismelah yang menyuburkan kemiskinan, dan feodalisme yang menyemai perbudakan.

Rasanya tidak cukup sederhana perjuangan kaum buruh (dan kaum miskin lain) dalam upaya mengubah nasibnya. Akselerasi tabiat kemaruk pengusaha yang bermitra dengan penguasa menjadi semakin terlalu cepat untuk dikejar. Prinsip ekonomi klasik, meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya memakan hak buruh sebagai korban pertama. Adam Smith, bapak kapitalisme seharusnya menjadi orang pertama yang harus minta maaf kepada kaum buruh. Saya tidak tahu apakah Tuan Smith pernah mendengar sebuah hadis yang bagus untuk direnungi, “Bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya”. Tentu saja pernyataan seorang pencetus prinsip ekonomi yang bebas adab seperti Adam Smith tidak laik disepadankan (meskipun bisa saja) dengan statemen berbasis moral dari Muhammad yang seorang nabi.

Hadis itu diriwayatkan oleh Ahmad Baihaqi. Mungkin Tuan Smith tidak pernah mendengarnya, tapi rasanya hadis itu terlalu terkenal untuk tidak didengarkan oleh para majikan era sekarang, khususnya yang beragama Islam agar bersikap profesional. Atau takut dibilang komunis? Mungkin saja. Sebegitu masifnya sisa stigma yang ditanam Orde Baru, sehingga kedekatan dengan buruh dan kaum miskin (proletar) adalah sebuah perlawanan. Hadis yang lain, kefakiran dekat denga kekufuran dimaknai berbeda. Jauhi kaum miskin karena mereka berkecederungan kufur, alias kafir, alias komunis. Weleh!

Begitulah, akses untuk bernasib baik ditutup rapat. Bahkan juga para pejuangnya yang meski jelas rohaniwanpun bisa dicap komunis. Seorang Uskup Agung Olinda dan Recife. Dom Hélder Câmara dianggap sebagai salah satu tokoh Katolik yang besar pada abad ke-20. Uskup Agung katolik Roma ini terkenal dengan ucapannya, “Ketika saya memberikan makanan kepada orang miskin, mereka menyebut saya seorang santo. Ketika saya bertanya mengapa orang miskin tidak mempunyai makanan, mereka menyebut saya seorang komunis.”

Menyerah?

Katanya kapitalisme telah memenangi pertempuran ideologi melawan paham komunisme. Komunisme Uni Soviet telah runtuh, Cina bisa bertahan (dan bahkan membesar) justru dengan cara yang lebih kapitalis dari negeri manapun. Dan sekarang sang pemenang semakin meliar dengan semangat baru penguasaan dunia, Globalisasi. Dengan kekuatan dan kerakusannya, globalisasi akan merebut semuanya. Dan nasib sulit kaum miskin akan semakin terjepit.

Putus asa? Jangan sampai itu terjadi. “Get up stand up, for your right. Don’t give up the fight”, begitu kata Bob Marley. Caranya? Kita pinjam saja kalimat penyemangat dari Presiden ke 36 negeri kaum kapitalis Amerika, siapa tahu itu memang yang membuat mereka menang; “There are no problems we cannot solve together, and very few we can solve by ourselves” Lyndon B. Johnson. Atau mau kutipan yang lebih agitatif ini? “Our dreams will never come true if we just sit and do nothing. There is no future without struggle. There is no revolution without action”. Saya tidak tahu dari siapa, tetapi kalimatnya cukup berapi untuk menyulut semangat.

Jadi, mari kita mulai dengan merawat tradisi sederhana memperjuangkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Indonesia, dan mencanangkan sebagai libur nasional. Ini tuntutan sederhana tetapi tidak mudah. Sederhananya kita tahu, tetapi tidak mudahnya susah untuk dimengerti. Tentu ini berhubungan dengan fobi komunis ala Orde Baru yang masih terpelihara hingga kini. Sebenarnya Indonesia juga sudah mulai memperingati Hari Buruh tanggal 1 Mei sebagai libur nasional pada tahun 1920.Tapi sejak masa Orde Baru, peringatan itu dihentikan. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan PKI yang berpaham komunis. Sebagai gantinya dicanangkanlah Hari Pekerja Indonesia tanggal 20 Februari. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu tentang kesejarahan hari itu. Yang pasti tidak berdarah.

Sementara saya mendapat sejarah 1 Mei dalam dua versi (tolong komentarnya bagi yang tahu). Versi pertama; Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions. Tanggal 1 Mei dipilih karena terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872 yang menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat. Versi berikutnya; Pada Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa Haymarket di AS pada 1 Mei, yaitu penembakan terhadap buruh dan hukuman mati bagi para pemimpinnya tersebut sebagai Hari Buruh Sedunia. Tapi saya tidak peduli pada perbedaan itu, sebab saya lebih menghormati proses pencapaian 1 Mei daripada hasil jadi 20 Februari. 1 Mei berdasar perjuangan dan perlawanan buruh yang penuh pengorbanan.

Setidaknya sudah seabad lebih 1 Mei menjadi perayaan penghormatan terhadap kaum buruh internasional. Dan sudah sejak 1890, 1 Mei yang diistilahkan May Day. Apa alasan kita untuk tidak bergandeng bersama dunia? May Day, Mau?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

16 Responses to May Day! Mau?

  1. harxnext says:

    martoart said: sebab saya lebih menghormati proses pencapaian 1 Mei daripada hasil jadi 20 Februari. 1 Mei berdasar perjuangan dan perlawanan buruh yang penuh pengorbanan.

    Sepakat!! tgl 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga harimayat Marsinah ditemukan di hutan Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan…..

  2. harxnext says:

    Jadi inget lagu Darah Juang …Di sini negeri kamitempat padi terhampar luassamuderanya kaya rayatanah kami subur, Tuhan.Di negeri permai iniberjuta rakyat bersimbah lukaanak kurus tak sekolahpemuda desa tak kerjaMereka dirampas haknyatergusur dan laparBunda, relakan darah juang kamituk membebaskan rakyatpadamu kami berjanjipadamu kami berbaktituk membebaskan rakyat….by John Sonny Tobing – Andi Munajat – Teknoshit

  3. martoart says:

    seingatku penggarapan lagunya (bukan lirik) dibantu mhs musik isi.biasanya disertai sajak berslogan wiji thukul; Hanya satu kata; Lawan!.dan sumpah mahasiswa karya Afnan Malay; Kami mhs ind, mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, mengaku berbangsa satu, bangsa yg gandrung akan keadilan, berbahasa satu bahasa kebenaran. Kemudian Poster Tahura karya yayak kencrit (iskra ismaya). lengkaaaaap.

  4. harxnext says:

    hehe… soalnya saya cuma baca artikel dari Om Wiki: lirik by sony tobing. saya kenal lagu ini karna di bawain sama Teknoshit (udah bubar) denger2 Vokalisnya Anak Taring Padi ISI Jogja, kebetulan sekali Basisnya namanya Yayak, “Hanya satu kata; Lawan!” sering di ucapkan ketika berorasi sebelum nyanyi… merinding saya tiap nyetel lagu inicoba saya Upload deh lagunya buat Bung Martoart. hehe..barangkali belom punya.

  5. martoart says:

    Dah punya dong, juga pasangan mereka Black boot. Thx anyway bro

  6. luqmanhakim says:

    Baca tulisan ini, aku langsung menuduh sampeyan temen deketnya Yenni Rossa atau mantan pacarnya Wardah Hafidz, ha ha ha…

  7. martoart says:

    Tuduhan pertama betul.Tuduhan kedua… hampir. he he.. dulu pernah makan malam sama temen2 di rumah beliau, eh ada Om Wiladi juga. gak jadi ah… kekeke

  8. ohtrie says:

    haduhhhh…..rung nyandhak kii akuuu, abootttt…

  9. ayuristina says:

    Oh,,,,,, trims,,,, jadi tambah wawasan saya

  10. nitafebri says:

    martoart said: Jadi, mari kita mulai dengan merawat tradisi sederhana memperjuangkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Indonesia, dan mencanangkan sebagai libur nasional. Ini tuntutan sederhana tetapi tidak mudah.

    gimana yaa susah juga untuk bisa menjadi hari libur..karena di Indonesia udah kebanyakan tanggal merah..tapi tentu bda dg para buruh yg kerjanya liburnya sering gak jelas akibat lembur tp upah segitu2 aja😦

  11. Numpang baca pak.Suwun🙂

  12. agamfat says:

    tak terasa agak terharu membaca tulisan ini. Sentimentil? Kalau tidak sentimentil, saya lulus kuliah dulu tidak kerja di ICW

  13. jatiagung says:

    martoart said: tolong komentarnya bagi yang tahu

    abot tenan.. nek buruh keik saya belum bisa komen

  14. seblat says:

    harxnext said: saya kenal lagu ini karna di bawain sama Teknoshit (udah bubar)

    siapa bilang teknoshit bubar.. tar di marahi lisa lho..http://ladangkata.blog.com/2012/04/09/bermusik-dan-berlawan/

  15. martoart says:

    seblat said: siapa bilang teknoshit bubar.. tar di marahi lisa lho..http://ladangkata.blog.com/2012/04/09/bermusik-dan-berlawan/

    Hooh, beberapa jam yang lalu ketemu Sigit, salah satu person Teknoshit, dia ngundang nonton pentasnya besok malem, tanggal 2 Mei 2012.Nonton yuk bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s