Antri Pada Sebuah Mei

Saya tidak begitu tahu cara penulisannya, Antri, Antre, Ngantri, atau apa. Mungkin In Line, atau Queue atau apa terserah.

Saya tidak peduli itu. Biar ahli bahasa saja yang mengurusi. Yang saya tahu, saat ini banyak jerigen berjejer menunggu diisi minyak tanah atau bakar minyak lain. Tapi yang ini sayapun luput. Antri, bukan hanya terjadi saat ini. Anti seperti sudah biasa terjadi di negeri ini. Orde Lama ngantri, Orde Baru ngantri, Orde Reformasi Ngantri. “Budaya Antri”, sudah dari dulu berjalan dengan baik di negeri ini.

Budaya yang tercipta akibat keterpaksaan, bukan kesadaran. Orang-orang biasa dan rela ngantri, menunggu berjam-jam untuk sekantong sembako, atau sejerigen minyak tanah. Tapi juga menyerobot antrian untuk segera mendapatkan tiket kereta. Rela antri sembako adalah keterpaksaan, dijalani dengan sepenuh kesabaran karena menyadari ketidakkuasaannya. Sedang memotong antrian tiket adalah kesewenangan. Ini dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa dirinya memiliki kuasa.

Entah mana yang lebih dulu tercipta, saya hanya berilah-ilah, bahwa dengan itulah maka tercipta birokrasi. Tentu itu karena berangkat dari tabiat manusia pada umumnya. Birokrasi hadir untuk mempermudah urusan. Mengatur agar orang tidak main kuasa, dan member ruang bagi mereka yang merasa tidak berdaya. Namun tentu saja segala hal tidaklah akan berjalan dengan mudah. Termasuk birokrasi itu sendiri. Sistem yang sebenarnya untuk urusan mempermudah itu justru seperti hadir untuk mempersulit urusan. Fitrah awalnya sudah beringsut. Ketika para birokrat mulai sadar nilai penting kata “Mudah”, maka mejadi sulitlah orang mendapatkannya. Kemudahan menjadi bermakna pemasukan. Maka ada canda satir sekaligus ngarep di hampir setiap meja para birokrat; “Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”. Dan akhirnya, sistem birokrasi tidak lebih dari cara legal mengakomodasi tabiat para manusia yang merasa punya kuasa. Salah satunya untuk menyerobot antrian misalnya.

Tabiat sok kuasa tidak hanya berlaku bagi mereka yang biasa berpunya. Tentu saja, karena pada saatnya, ada momen di mana si miskin tiba-tiba saja berkuasa. Ketidakbiasaan berkuasa sering menjadikan mereka lengah. Peristiwa Mei sepiluh tahun lalo adalah contoh nyata. Kekuasaan tiba-tibanya adalah sebuah momen yang diciptakan. Kaum miskin sesaat merasa memiliki segalanya. People power yang tidak pada tempatnya. Menjarah toko dan beberapa detik kemudian mereka terpanggang. Orang kecil, bahkan saat menjarahpun mereka tidak pintar.

Saya tidak bicara sah dan tidak sahnya penjarahan. Bagi saya pencurian sekecil apapun tidak layak mendapat pembenaran. Hanya mengandaikan hal yang lebih berhasil guna pada Mei itu. Terlebih ketika rumor tentang kesengajaan pembakaran secara sistematis itu mendekati kemasukakalan. Hal yang saya maksud lebih berhasil guna pada Mei itu tentu saja antri. Saya membayangkan, apabila saat itu mereka mampu memenej emosinya, membuka pintu pertokoan dengan seksama, kemudian mengatur antrian, masuk pelan-pelan, memilih dan membagikan barang yang ada dengan merata, pasti akan lebih bernilai jarah daripada kacau dan terbunuh.

Mei adalah memang bulan yang layak untuk mengenang kenyataan sebuah penindasan. Mengenang kebodohan orang miskin dan kemiskinan orang bodoh. Mereka yang dengan mudah menjadi umpan kepintaran orang kaya dan kekayaan orang pintar. Kebodohan dan Kepintaran di sini haruslah Anda maknai dari sudut yang sama saat memaknai Budaya Antri di awal tulisan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

11 Responses to Antri Pada Sebuah Mei

  1. inyong says:

    iya kalo bacanya ndak antri ato buru2 ndak dapet esensinya ngantriterkadang antri ituidentik dengan pengorbanan hidup

  2. luqmanhakim says:

    Sepuluh tahun lalu, Kontras pernah nerbitin jurnal tentang tragedi 1998, ‘Annus Horriblis’, alias tahun yang mengerikan. Jurnal berisi tindak kekerasan, penyimpangan, penyelewengan dan sabotase hak azasi manusia. Belum pernah ada tahun yang sebegitu mengerikannya ketimbang tahun itu…Aku masih ada darah Jawa, di mana orang Jawa selalu bilang masih beruntung, sama seperti aku sekarang bilang, masih beruntung tahun-tahun ini masih lebih baik ketimbang tahun 1998 itu, he he he…* Ketawa satir…

  3. martoart says:

    ternyata ndak antri. karena postingan ini dikit yg kasih komen (hik hik sedih)

  4. martoart says:

    Aku juga orang suku Jawa. Mengidap penyakit keturunan yg sama; Homo Untunginis.

  5. bbbnshoes says:

    martoart said: Homo Untunginis.

    bedanya sama homo oportunis??

  6. martoart says:

    bbbnshoes said: oportunis?

    opor ya opor, tumis ya tumis. jangan dicampur

  7. bbbnshoes says:

    lah..orang solo emang suka gitu…semua mua dicampur..ntar kalo opor n tumis yg single dah gak kemakan dicampur tu jadi oblok oblok..kwkwkkwkw

  8. rirhikyu says:

    Knapa nyambung ke mei *ketawa satir*

  9. ichamary says:

    Mei yang mana yeuh ?

  10. martoart says:

    rirhikyu said: Knapa nyambung ke mei *ketawa satir*

    ini tulisan jadul pas lagi apa2 pada ngantri di bulan mei itu loh? Terus meledak perisitiwa mei. inget gak?

  11. martoart says:

    ichamary said: Mei yang mana yeuh ?

    Rangkaian peristiwa mei bro.. sebenarnya ini nyambung ma tulisan berikutnya (Next itu).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s