Satu Lagi Kado Islami untuk Kartini

Teriring salam sayang untuk para perempuan.

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Sebait lirik Sabda Alam karya Ismail Marzuki itu adalah rekaman semangat jaman beliau hidup. Saat ini lirik di atas terasa jelas salah secara politik. Pertama adalah pemilihan kata wanita yang memiliki nilai rasa lemah dibanding apabila menggunakan kata perempuan. Perempuan bemula dari rajutan awalan per, kata dasar empu, dan akhiran an, di mana secara filosofis perempuan memiliki otoritas sekelas empu, sementara wanita adalah proname (Jw: jarwodhosok) dalam Bahasa Jawa; wani ditata alias berani diatur/siap diatur. Di sini wanita adalah sub-ordinat lawan jenisnya. Kedua, tentu saja secara naluri dan logika tidak ada perempuan yang sudi dijajah pria. Dengan alasan agama, taqwa mengoyak naluri dan logika sehingga membuat perempuan “ridho” diperlakukan tidak adil. Seorang muslimah membolehkan suaminya menikah lagi. Bahkan pada jaman dulu seorang permaisuri harus turut bela pati dengan terjun ke dalam api Ngaben apabila sang raja alias suaminya mangkat. Ritual belapati agama Hindu di pulau Bali itu telah dilarang. Ketiga, dan ini sungguh melecehkan integritas perempuan, di mana dalam lirik lagu itu perempuan hanya akan mampu mengalahkan pria bila menggunakan keindahan fisiknya. Sejenak saya merasa keterlaluan meresensi lagu ini. Maksudnya, itu menjadi hal yang tak perlu sebab sebenarnya agama, dalam hal ini Islam, cukup menjelaskan posisi perkelaminan itu.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)… (An Nisaa’ 34)

Apakah ayat ini anti kesetaraan gender? Selintas tampak begitu. Tapi Tuhan lebih suka kepada orang-orang yang berfikir, yang tidak malas menganalisa sebuah pernyataan, pun itu ayatNya. Saya percaya Tuhan yang baik pasti mengajari kita tentang kesetaraan hak tanpa mengintip kelamin. Apa yang dilebihkan pada diri lelaki dibanding perempuan – pada ayat di atas – tentu saja bersangkut erat dengan cara mencari nafkah pada masa lalu yang lebih membutuhkan kerja fisik.

Kelebihan yang dianugerahkan pada kaum pria adalah anatomi tubuh, struktur tulang, dan perototan yang lebih kuat dibanding perempuan. Ini tidak sekadar mula terbentuknya pembagian kerja lelaki lebih banyak di luar berburu dan perempuan di rumah mengolah hasilnya, tetapi juga pemaknaan ayat di atas. Sementara ahli tafsir merasa penting untuk mengartikan “qawwamah” lebih sebagai pelindung, pemelihara, atau pendamping. Sedang untuk kepemimpinan diperlukan otak encer, kesabaran, kemampuan manajerial, tabliq, dan amanah. Yang mana syarat-syarat tersebut tidak ada hubungannya dengan kekuatan fisik melainkan otak dan kebijakan. Pelindung, pemelihara, dan pendamping bersifat fungsional, sedang pemimpin bersifat struktural. Hal itu tidak dinyatakan sebagai kelebihan lelaki (bahkan saya melihat sifat-sifat itu cenderung lebih banyak ada pada kaum Hawa). Dengan begitu ayat ini menjadi sangat relevan dengan waktu. Sifat pelindung terkait tepat dengan anugrah fisik yang kuat pada lelaki.

Ini menarik karena pada perkembangan peradaban dunia, hak memimpin tidak lagi hanya milik lelaki. Itulah kenapa saya berasumsi para tetua agama konservatif lebih bergairah menafsirkan ayat suci sejauh bisa menguntungkan lingkaran sendiri. Tentunya bagi lelaki yang merasa teritori kekuasaannya terancam, dengan segera menyatakan ayat ini final tidak boleh lagi diganggu-gugat, dianalisa, tafsir ulang, apalagi diamandemen. Artinya ayat itu tidak boleh diubah terjemahannya menjadi;

Kaum laki-laki itu adalah pelindung bagi kaum wanita,… dst

Modernitas tidak mungkin terhadang. Terlebih teknologi saat ini membuat pekerjaan semakin tidak membutuhkan kekuatan fisik. Pembagian kerja bukan lagi urusan perbedaan kelamin (lelaki ruang publik dan perempuan ruang domestik), tetapi lebih pada kekuatan otot dan kemampuan otak. Yang tidak punya otot kerja di belakang meja, yang gak punya otak jadi preman, milisi, atau tentara saja. Intinya, adalah bahwa apabila kelak bangsa ini mengidap fobia kepemimpinan perempuan, tinggal kita ucapkan “Welcomeback jaman jahiliyah”, sembari menyanyikan lagu kebangsaan;

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

25 Responses to Satu Lagi Kado Islami untuk Kartini

  1. ratnaariani says:

    Lagi blog walking, eh nyangkut di blognya mas/pak marto.Menarik untuk menikmati ilustrasinya, menggelitik juga tulisannya. Saya suka banget karena blognya mencerahkan dan membuat kita gak berhenti berpikir, walaupun solusi ada di balik jalan lain yang harus dicari.Boleh saya copyleft gambar kartini ini di blog saya http://www.tulisanperempuan.wordpress.com? Saya sedang belajar menulis, tapi tidak berani belajar membuat ilustrasi, sehingga bisanya cuma minjem ilustrasi sampeyan dulu. Terima kasih dan salam kenal dari saya.

  2. martoart says:

    Salam kenal juga. Senang tulisanku dibaca. Silakan ambil & pakai sesuai aturan copyleft saya.

  3. aidavyasa says:

    kadang berada dalam sebuah sangkar itu tidak seberapa buruk

  4. aidavyasa says:

    martoart said: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)… (An Nisaa’ 34)

    untuk ayat ini, ku punya cerita.suatu malam di djogja, aku dan temantemanku jalan-jalan. Dua orang pria dan seorang lagi, perempuan (ku hobi pake kata perempuan ketimbang wanita). Nah, gentlemen tadi bilang ke kita, ‘ladies first!!’eh?ku nyeletuck: ‘ga ah … enak dibelakang kalian ajah.’Kalau berjalan di belakang pria itu serasa apa yah … kayak anak kecil yang minta di emong :))kakakakkaka …. hush !😛

  5. martoart says:

    “gentlemen tadi bilang ke kita, ‘ladies first!!’mustinya kamu jawab; “Yes, Monkey next!”

  6. bbbnshoes says:

    kubilang; hahahahahahahahahahaha, dasar monkey !!

  7. alessie1706 says:

    Sejak SMA dulu saya emang lebih suka memakai kata ” PEREMPUAN ” , tulisan yang bagus banget …jadi nyasar kemari dari blognya mas Udi … Salam kenal ya mas …

  8. luqmanhakim says:

    martoart said: bahwa apabila kelak bangsa ini mengidap fobia kepemimpinan perempuan, tinggal kita ucapkan “Welcomeback jaman jahiliyah”, sembari menyanyikan lagu kebangsaan;Wanita dijajah pria sejak duluDijadikan perhiasan sangkar madu

    Kok ya bikin aku jadi kepingin nulis yang serupa mencermati bacaan ini…

  9. hitamterang says:

    setuju pak! itu kalo manusia dilihat secara fisik. tapi kalo manusia dipandang sebagai makhluk spiritual, perempuan harus dilihat lebih dari sekedar fisik dan apa yg bisa dilakukannya. Layla Majnun adl kisah yang sangat populer yg menunjukkan hal tersebut.

  10. martoart says:

    hitamterang said: kalo manusia dipandang sebagai makhluk spiritual, perempuan harus dilihat lebih dari sekedar fisik dan apa yg bisa dilakukannya

    tapi bukankah kalo manusia dilihat sbg mahluk spiritual… gak ada lagi yg namanya laki n perempuan?

  11. hitamterang says:

    yang ada adalah laki2, sebagaimana awal makhluk. perempuan merupakan sebuah kehendak-Nya melalui sifat kasih sayang atas makhluk-Nya yang yg berjenis laki2. Cukup kiranya kita merasakan kasih sayang seorang perempuan, yg adl sebagaian kecil kasih sayang-Nya. laki2 kadang bisa melebihi superman demi perempuan, sebuah fitrah yang bisa menjadi cermin spiritual. thx mas.

  12. martoart says:

    hitamterang said: yang ada adalah laki2, sebagaimana awal makhluk. perempuan merupakan sebuah kehendak-Nya melalui sifat kasih sayang atas makhluk-Nya yang yg berjenis laki2.

    He he.. aku tak sepakat, silakan Radhit baca yang ini:http://martoart.multiply.com/journal/item/97/God_Loves_Porn

  13. ohtrie says:

    martoart said: Yang tidak punya otot kerja di belakang meja, yang gak punya otak jadi preman, milisi, atau tentara saja.

    Merunut kalimat diatas, Kalau saya mendefinisikan bagian yang tidak punya otak adalah tentara, preman, atau milisi saja tak disalahkan dong mBah..?

  14. martoart says:

    ohtrie said: tidak punya otak

    Saya seharusnya bikin miring/italic untuk bagian itu. Tapi tanpa itupun sebaiknya kita bisa pake sedikit imajinasi. Thx kawan Ohtrie

  15. ohtrie says:

    martoart said: Saya seharusnya bikin miring/italic untuk bagian itu. Tapi tanpa itupun sebaiknya kita bisa pake sedikit imajinasi. Thx kawan Ohtrie

    You are most welcome my grand pa Maroart….:))

  16. rirhikyu says:

    thanx buat tulisannya ^_^sangat mendukung wanita .Akur …

  17. laptopmini says:

    Waw.. keren.Beneran!

  18. afemaleguest says:

    di awal pembelajaran diri tentang ideologi feminisme, yang berarti juga menggunakan teori dekonstruksi, di Jurnal Perempuan ada tulisan yang membahas tafsir kata ‘qawwamah’ yang pada tafsir konvensional diartikan pemimpin, sedangkan jika dipandang dari sudut lain, seperti yang ditulis di atas, bisa ditafsirkan ‘pelindung’. Pelindung kan belum tentu pemimpin. ^_^teori dekonstruksi yang indah, yang tentu saja membuatku jatuh cinta, yang memberiku jawaban selama beberapa dekade mengapa agama yang kuanut sewaktu kecil ini berlaku begitu diskriminatif kepada kaumku.sedangkan seorang teman kuliah yang beragama Nasrani, mengemukakan alasan mengapa Hawa (Eva) diciptakan kedua setelah Adam adalah untuk ‘membantu’ alias menjadi ‘asisten’. dalam banyak kasus, banyak asisten yang sebenarnya lebih cerdas dan mumpuni dibandingkan yang diasisteni. so? it is not a big deal that Eva was created after Adam. karena hal ini tidak selalu bermakna the second sex ataupun the weaker sex. and for sure, I love to use the term ‘perempuan’ much better than ‘wanita’, meski ada seorang sobat yang ngeyel mengatakan ‘wanita’ itu bukan hanya bisa diterjemahkan sebagai ‘wani ditata’ tapi juga ‘wani nata’. (waaahhh … kalo bahasa Sanskirt, aku ra dong blas. wkkkkk …)

  19. martoart says:

    afemaleguest said: the weaker sex

    Sekarang aku kenalkan dengan Lilith. Agar kamu, dan kaum perempuan lain tak tahu bahwa kisah langit itu tak hanya hanya kenal Adam dan Hawa. Kurang ajar banget agama2 itu, yg mengorupsi mytos kaum Pagan dengan semena2 agar cerita dahyatnya birahi dan surga tak menghadirkan dilema kuasa perempuannya.Googling nama itu.

  20. afemaleguest says:

    Lilith~ Kang Marto ~waktu membaca tentang feminisme and stuff beberapa tahun lalu, terutama waktu berkutat dengan tesis, aku sudah menemukan nama Lilith, and knew a little about it, cuma ga terlalu merhatiin, karena aku lebih fokus hal-hal yang berhubungan dengan tema tesis.juga waktu mulai ngeblog di lapak milik Inggris (di http://afemaleguest.blog.co.uk ) seorang teman ngeblog memberiku link ke myth tentang Lilith ini. But I didn’t really pay attention to this name, mungkin karena waktu itu aku masih lebih suka fokus mengangkat apa yang terjadi pada kaum perempuan di Indonesia. and hari ini aku googling Lilith. baru baca sedikit, karena kesibukan di kantor seharian.😦 jika dikatakan bahwa Lilith adalah salah satu karakter dalam Jewish mythology, berarti mulai di Bible (perjanjian baru), karakter ini dihapuskan, dengan alasan yang entah. itu sebab di alquran ga ada ya? para atheis percaya bahwa alquran kan hasil karya Muhammad sendiri. Jika dikatakan bahwa Muhammad banyak meniru apa yang ada di kitab-kitab sebelumnya, (name it zabur, injil), ternyata dia pun ngikut Isa yang juga menghilangkan kisah ‘lilith’ di injil.do I sound just bubbling to you?entar malam tak baca lagi kepekannya. hihihihi …

  21. wikan says:

    martoart said: Wanita dijajah pria sejak duluDijadikan perhiasan sangkar madu…

    namun ada kala pria tak berdaya …tekuk lutut di sudut kerling wanita …berarti wanitanya lebih kuat dong, mas?

  22. martoart says:

    wikan said: tekuk lutut di sudut kerling wanita …berarti wanitanya lebih kuat dong, mas?

    Betul, tapi kekuatan seperti itu politically incorrect. Gender bias, sebab yang dikehendakkan adalah perempuan yg berdaya karena otak dan integritasnya.Kalo karena kerling, tentu hanya akan seperti menjual tubuh dan kecantikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s