Smurflah Daku, Kau ku F@#k U!

Masih ingat iklan Telkom tentang pemasyarakatan internet ke pelosok desa? Satu scene menghadirkan surau kecil dengan adegan bocah santri bertanya kepada guru ngajinya; “Pak Ustad, main internet gak dosa kan?” Ustad tersenyum tanpa jawaban sepatah katapun.

Dan sekaranglah kita mendapat jawabannya. Bukan dari Sang Ustad kampung itu, tapi dari Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh. Langkahnya adalah dengan melakukan upaya pemblokiran situs-situs yang dianggap mengandung unsur pornografi dan kekerasan mulai awal April ini. Pak mentri seperti tidak perduli bahwa ada banyak benturan persoalan antara niat dan penguasaan teknologi. Atau memang sebenarnya dia sok tahu saja? Juga perdebatan mendasar tentang batasan porno yang begitu samar dan belum pernah ada titik temu. Tentu juga tentang seberapa kadar dosa sebuah gambar ataupun kata. Atau jangan-jangan dia mulai berpikir untuk sekaligus menjadi menteri pencatat amal dan dosa? Pasti Muhammad Nuh bukan temannya Iwan Fals, atau setidaknya bukan penggemar. Karena dengan begitu dia akan tahu untuk tidak sok ngurus moral masyarakat. Beginilah sejumput lirik Bang Iwan itu; “Urus saja moralmu, peraturan yang sehat yang kami mau”. Tapi sepertinya Nuh penggemar komik Smurf, dan terinspirasi mengedit kata-kata menjadi sumir.

Di sebuah warnet yang dikelola aktivis partai Islam di bilangan Utan Kayu, keasyikan saya menyusur situs-situs tiba-tiba terhenti. Ada program yang diinstal khusus untuk memblokir kata-kata yang dianggap bersentuhan dengan pornografi. Jangan pikir saya hendak masuk situs Bangbross, Hentai, atau Miyabi. Saya hendak menyusur Play Word, sebuah situs tentang pembuatan kaligrafi ambigram. Lantaran secara pendekatan “Keadilan dan Kesejahteraan” kata “Play” biasa menempel pada kata “Boy”, situs tujuan saya terhadang. Sebagai konsumen saya cuma bisa marah karena terganggu, dan tiba-tiba tergolong nista karena situs saya ke-gap. Itu dulu, beberapa tahun lalu sebelum pak menteri punya ide moralis itu. Saya membayangkan sebuah kelucuan, kelak Keliek Pelipur Lara harus ganti nama yang lebih sopan kecuali dia rela ditulis dengan Keliek ****pur Lara. Atau nama pesohor lain seperti menjadi DR. Karlina Soe****, penyanyi jadul Eddy *****onga, penyanyi sekarang Ari ****, mantan petinggi ABRI ****** Karseno, Juga sebuah perusahaan terkenal PT. ****ndo, dan sebagainya. Ini tidak lucu.

“Buruk rupa, cermin dibelah!” Itulah peribahasa bagi mereka yang enggan mengakui kelemahan diri. Itu juga termasuk bagi mereka yang malas mencari jalan keluar dari lingkaran persoalan. Membelah cermin jauh lebih gampang, langsung, tak berkeringat dan tidak capek berpikir. Bangsa Indonesia mengidap penyakit kejiwaan ini. Makanya jangan heran banyak sekali pecahan beling di jalanan dan kambing hitam merumput di seluruh persada ini. Ya kambing hitam, kalau si buruk rupa masih tidak pede dengan dirinya, dia akan mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Situs porno adalah kambing hitam bagi Muhammad Nuh. Situs porno adalah cermin yang harus dibelah lantaran kegagalan pemerintah menghentikan laju kriminalitas (Kalau bentuk kejahatannya adalah tindak pemerkosaan barangkali – sekali lagi barangkali – masih nyambung, tapi pada kenyataannya kejahatan yang dominan dan sangat merugikan bangsa ini adalah korupsi). Tindakannya itu sepadan dengan kasus lelaki yang tidak mampu menjaga syahwatnya, dan perempuanlah yang dipaksa menjaga auratnya.

Kalau Menteri Komunikasi dan Informatika mau sedikit berkeringat, optimalkan saja program pendampingan orangtua saat anaknya menikmati teknologi komunikasi. Meskipun begitu, ada yang berfikiran cekak,”Kan orangtua tidak bisa terus menerus mendampingi anaknya 24 jam penuh?”. Seakan pendampingan anak adalah sekadar urusan kuantitas. Mentri bisa saja menghentikan penayangan program pembodohan dan kekerasan di televisi. Dan sebagainya yang pasti berdampak bagus bagi generasi, dibanding sistem blokir instannya itu. Selain itu pak, Anda akan putus asa menghadapi pengusaha warnet yang berpikir pasar karena lebih laris kalau ada situs esek-eseknya, akan capek menghadapi para pakar IT dalam negeri yang jagoan ngakali urusan internet terbaru, juga bingung sendiri dengan ide norak tadi. Anyway, pornografi akan terus membayangi para “orang baik” sampai kiamat nanti. Hadapi saja dengan cara bijak, dengan akal sehat, bukan dengan men-smurnya!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Smurflah Daku, Kau ku F@#k U!

  1. Setubuh oomKuatkan moral bangsa dulu, klo moral dan kontrol diri dah kuat biar ada situs esek-esek juga kagak bakal ngaruhAda temen yang hobby banget nonton bokep, baca stensilan, buka situs esek-esek, tapi selama ini gak pernah kedenger dia bikin pelecehan seksual, penyerangan seksual, memperkosa dll

  2. martoart says:

    Sepokat! n thanks comment-nya. salam kenal ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s