Sampah Masyarakat, Masyarakat Sampah

Judul ini berbau plagiasi. Sudah begitu banyak yang senada. Sering, dan jadi tidak asing. Slapstik, juga katro. Mudah mengingatkannya pada slogan; Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, dan semacamnya.

Tapi biar. Itu bagian dari tabiat sampah bangsa ini. Tabiat sampah yang malas berpikir kreatif, atau kalaupun punya bakat kreatif tidak pe-de sehingga menganggap karyanya tidak mungkin sebagus orang lain. Bangsa yang terbangun dari gundukan sampah peradaban.

Jaman Orde Baru dulu, ada sebutan khusus untuk orang yang kerjanya dianggap mengganggu bahkan merugikan kehidupan warga sekitar. Adalah: “Sampah Masyarakat”. Kemudian kategori melebar juga untuk pengemis dan gelandangan. Terlepas mereka merugikan orang lain atau tidak. Bagi orang yang terbiasa tajir dan wangi, kehadiran mereka amatlah menggangu pemandangan. Maka, sampahlah ia. Juga terjadi penyempitan kategori. Mulanya istilah itu dikenakan kepada siapapun mereka para pengganggu, namun ahirnya hanya untuk pelaku kriminal kelas teri dan pelacur murahan. Tidak berlaku untuk koruptor triliunan dan ledi eskort – ledi eskort-an. Keduanya berbanding lurus dengan tampilan nan tajir dan wangi. Tidak ada aroma sengatan yang mengganggu, maka tidaklah sampah.

Tapi saat ini, saat para koruptor menjalani persidangan atas sangkaan tindak korupsi, tiba-tiba mereka pada tampil relijius. Cara ampuh meraih simpati di negeri yang penganut Islamnya paling besar di dunia. Konon relijiusitas menjauhkan orang dari sifat materialistik. Orang yang relijius jauh dari keinginan duniawi. Hmm,… ngomong-omong Indonesia belum pernah keluar dari top-ten jajaran negara paling korup di dunia. Egh!.

Sementara itu pernah – dan semoga yang terahir – terjadi hal sebaliknya. Seorang ibu, Lisa namanya, ditangkap petugas Ketertiban Umum Pemda Kabupaten Tangerang lantaran dianggap tidak tertib moral. Begini, ada Perda di Provinsi Banten yang mengatur dari dan sampai pukul berapa manusia berjenis kelamin perempuan boleh dan tidak boleh berada dan bersama siapa. Nasib naas bagi Ibu Lisa yang terpaksa menunggu sendirian di sebuah halte bis sepulang kerja. Petugas memergoki. Ia dianggap bisa meresahkan moralitas kota. Pertama, ia seorang perempuan, kedua ia berada di halte bis, ketiga ia berada pada sekitar jam sembilan malam, keempat ia sendirian tanpa ditemani seorangpun muhrim. Ramuan itu berdasar standar Perda membuat Ibu Lisa sungguh tidak tampil relijius. Sangat membuat yakin gerombolan Tibum untuk melakukan tindakan tepat dan langkah – langkah yang harus segera diambil. Ibu Lisa adalah sampah, dan sampah harus ditimpal. Petugas menangkapnya. Tangerang nan islami, setiap najis harus dicuci. Hmm,… ngomong-omong pernah tersiar kabar bahwa Tangerang mendapat reputasi tersendiri, karena pasca gerakan reformasi menjadi kota yang pertama kali membakar maling sampai mati.

Bagaimana sampah Jakarta? Ah, kita selalu bertanya seperti itu seakan begitu peduli terhadap apa yang terjadi. Seakan kita bersih dari banyak hal padahal kita sendiri sampah. Kita tinggal di Jakarta, menimbun diri di TPA terbesar Indonesia. Kumpulan manusia buangan dari desa dan kota di pelosok Nusantara. Orang yang merasa terlalu hebat untuk tinggal di tanah asal. Atau kita adalah gundukan sampah asli yang menahun yang tidak mau menyingkir karena merasa lebih berhak atas bak sampah moyangnya. Lantas ada yang merasa bukan sampah lantaran sukses berkarir ataupun berhasil mengeruk duit. Ya boleh saja. Karir dan duitnya toh dikeduk dari kubangan yang sama. Asal tidak kemudian merugikan yang lain. Tapi itu juga agak muskil mengingat sesama sampah biasa saling menimpa sampah lain.

Seorang sampah mencaci sampah lain karena sampahnya dikotori. Uang kotor dicuci di tempat kotor. Uang panas didinginkan di tempat panas. Otak kotor menuduh karya seni sebagai barang porno. Sementara sinetron, gosip, iklan, dan acara bau sampah sejenis dihisap dalam – dalam. Ciptaan Tuhan dinistakan sebagai bangunan dosa yang membahayakan umat, sementara banyak dosa dibangun atas nama Tuhan. Masyarakat sampah yang sejak usia dini dijejali Mc. D dan junk food sejenis, dicekoki MSG, dan formalin. Bayi – bayi yang saban hari dilatih mengaji agama tanpa diajari bagaimana cara mengkajinya. Dan sebagainya.

Ibu kota ini sudah menjadi habitat masyarakat sampah. Pernyataan yang sangat pesimistis. Seperti sudah tanpa harapan sedikitpun. Bahkan sudah bersifat mengadili. Saya sebenarnya tak hendak begitu. Bukankah sampah tidak layak mengadili sampah? Saya hanya mengingatkan bahwa setidaknya ada satu peluang untuk berubah. Yaitu sistem daur ulang sampah. Sulit, tapi bisa dilakukan meski butuh waktu lama. Dari generasi ke generasi. Lebih baik daripada tidak berubah sama sekali. Sistem itu memilah dan memilih, memanfaatkannya lagi, memberdayakan, dan mengembalikan berdasarkan karakter sampah-persampah. Saya tidak tahu detilnya, tapi meyakini mendaur ulang masyarakat sampah jauh lebih sulit dibanding sampah sesungguhnya. Kemauan dan kemampuan menggerakkan kemauan itulah yang selalu menjadi rumusan klasik nan masif untuk mewujudkan perubahan. Mau?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

24 Responses to Sampah Masyarakat, Masyarakat Sampah

  1. martoart says:

    Aneh nih, aku edit gambarnya doang,… eh komentar2 keren teman pada ikut ilang. sorry ya…

  2. dekmaniezt says:

    martoart said: ada Perda di Provinsi Banten yang mengatur dari dan sampai pukul berapa manusia berjenis kelamin perempuan boleh dan tidak boleh berada dan bersama siapa

    hah?? Begini dijadiin Perda? Bujubusyeett…Macam ‘polisi kampus bersorban’ aja di kampusku =’=eh, bedanya kalo sasaran mereka ya cowo-cewe sih..Kalo jam malam, harusnya berlaku untuk perempuan-lelaki (bukan memaksa persamaan derajat) tapi lebih pada manusia-nya ketimbang jenis kelamin-nya dong. *gerundel*Wiuuh,, di Jogja ada kagak yaa =’=dulu biasanya kan gw pulang gak tentu jam, malem iya, pagi iya.. duh,, moga Perda beginian kagak dipake lagi deh (kecuali jam malam saat kerusuhan, ato jam malam kaya di Bandung gara-gara genk motor itu, masih bisa dimaklumi laah), amin amin amiiinnnn

  3. ohtrie says:

    dekmaniezt said: hah?? Begini dijadiin Perda? Bujubusyeett…

    mentah dikkk…dimentahkan tepatnya…

  4. martoart says:

    ohtrie said: mentah dikkk…dimentahkan tepatnya…

    Oh, udah jadi perda Trex. Hanya saja ga punya kekuatan menjalankannya. Lha wong gak rasional kok.

  5. dekmaniezt says:

    sekarang gimana ?*postingan ini kan setaun lalu*

  6. rengganiez says:

    dekmaniezt said: sekarang gimana ?*postingan ini kan setaun lalu*

    sebulan lalu : Pemkot Tangerang Terus Razia PSK03 Dec 2010RAZIA terhadap pekerja seks komersial (PSK) tanpa henti digelar petugas Satuan Polisi Pamong Praja Pemkot Tangerang, Banten, terutama pada hotel dan penginapan kelas melati sesuai Peraturan Daerah. Tidak ada lagi alasan bagi petugas untuk tidak merazia PSK karena dasar hukumnya sudah ada, yakni perda,” kata Kepala Satpol PP Pemkot Tangerang, Irman Pujahendra dihubungi di Kota Tangerang, Kamis (2/12). Dia mengatakan, upaya yang dilakukan petugas untuk menjadikan Kota Tangerang terhindar dari kegiatan prostitusi, yakni setiap saat dilakukan razia terutama di tempat penginapan dan hotel kelas melati daerah itu. Pernyataan itu terkait sorotan kinerja Satpol PP yang dinilai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mulai kendur dalam melakukan operasi penertiban bagi kegiatan prostitusi, padahal telah ada Perda No.7 dan 8/2005 tentang larangan penjualan minuman keras dan kegiatan asulila. Menurut dia, razia juga dilakukan di tempat pemondokan pekerja lajang yang dicurigai warga setempat membawa wanita penghibur ke kamar. Selama dua pekan ini petugas Satpol PP Kota Tangerang menangkap sebanyak 37 PSK dan wanita penghibur yang berkencan di hotel melati serta beroperasi di jalan malam han Ant

  7. martoart says:

    dekmaniezt said: bukan memaksa persamaan derajat

    kenapa enggak? kesetaraan harus dipaksakan. Gak usah malu2, memang itulah yg manusiawi. Memaksakan kesetaraan yg tak manusiawi adalah yg tak sesuai kodrat. Dan Kodrat adalah bawaan alami.

  8. martoart says:

    rengganiez said: Pernyataan itu terkait sorotan kinerja Satpol PP yang dinilai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mulai kendur dalam melakukan operasi penertiban bagi kegiatan prostitus

    Whada kinda fuckin NGO?Shit!

  9. dekmaniezt says:

    Sebagian kodrat gw sebagai perempewi, masih ada di bawah lelaki. Gak semua hal bisa disetarakan dan dipaksa kesetaraannya, makanya gw bilang : bukan memaksa persamaan derajat.Kalo hal beginian digembor dengan pernyataan dan pembelaan “persamaan derajat untuk kaum wanita”, gw mikirnya tuh kaum perempewi jadinya lebay pisan euyy.Eh, bentar..“Memaksakan kesetaraan yg tak manusiawi adalah yg tak sesuai kodrat”duh, Gusti, bikin kata kok ribet banget =’= hahaaa*baca berulang, tapi belon bisa mencerna*

  10. dekmaniezt says:

    Hehee… malah jadi inget drama musikal ONROP ^_^Di mana nanti, para PSK, pekerja seni, dan lainnya dibuang di satu pulau. Dan lebih menyenangkan tinggal di sana, karena begitu bebas.

  11. rengganiez says:

    martoart said: Whada kinda fuckin NGO?Shit!

    biasalahh…

  12. afemaleguest says:

    “Sebagian kodrat gw sebagai perempewi, masih ada di bawah lelaki.”~ dekmaniezt ~waaahhh … “kodrat” perempuan yang kayak mana yah yang ada di bawah lelaki?*binun*http://nana-podungge.blogspot.com/2009/10/kesetaraan-jender.html

  13. afemaleguest says:

    “Bayi – bayi yang saban hari dilatih mengaji agama tanpa diajari bagaimana cara mengkajinya.”~ Kang Marto ~jadi ingat perbincangan “ringan” beberapa bulan lalu dengan beberapa teman sepedahan. waktu itu seorang teman — perempuan usia di bawah tigapuluhan — menyitir ucapan anak seorang teman, yang ‘masih’ duduk di bangku kelas 4 SD, begini:”kalau mencari jodoh itu yang penting pendidikan agamanya, bukan fisiknya …”temanku yang menyitir itu mengucapkannya sembari terheran-heran anak ‘sekecil’ itu memiliki cara pandang yang demikian ‘dewasa’.aku, sembari diam saja waktu menyimak obrolan, berkata pada diri sendiri, “apa dia ngerti tuh yang dia katakan sendiri? paling juga cuma ngekor apa kata orang tuanya, atau yah … paling tidak guru sekolahnya.”seperti fenomena dai cilik, mereka kan hanya menghafalkan yang harus mereka ‘sampaikan’ di depan publik, seberapa yakin kita bahwa mereka benar-benar paham atas apa yang mereka ‘khotbahkan’?^_^v

  14. afemaleguest says:

    “Perda di Provinsi Banten yang mengatur dari dan sampai pukul berapa manusia berjenis kelamin perempuan boleh dan tidak boleh berada dan bersama siapa.”~ Kang Marto ~untung ga di Semarang, (jelek ya bilang begini? sama jeleknya kah dengan mereka yang suka nonton bencana alam sebagai turis? T_T)beberapa bulan lalu, waktu sedang gilanya suka naik sepeda, kadang pulang ngajar jam 9pm, aku masih suka muter sepedahan keliling kota sampai sekitar satu jam, karena hanya jam segitu itu aku bisanya sepedahan, pagi masuk kantor jam 7, lokasi kantor yang di kaki ‘bukit’ Gombel, namun harus melewati dua tanjakan lain sebelumya membuatku malas berbike-to-work jika berangkat ke sekolah.pulang dari sekolah jam 3 sore, berangkat kerja lagi ngajar di sebuah kursus bahasa inggris yang lokasinya ga jauh dari rumah, tanpa melewati tanjakan, ngajar jam 5-7, kadang gantiin teman sampai jam 9. praktis kalau pengen sepedahan ya setelah jam 9 malam.kalau perda tidak cerdas begini ada di Semarang, wedew …, ga bisa sepedahan sampai di atas pukul 9 malam.*curhat Kang, biasa*heheheheh …

  15. rikejokanan says:

    Pun mumet kula, Pakdhe… Makin hari makin muak dengan orang yang sok relijius tapi pada saat yang bersamaan mematikan hati nurani…

  16. martoart says:

    rikejokanan said: muak dengan orang yang sok relijius tapi pada saat yang bersamaan mematikan hati nurani…

    Ini kalimat yg asyik.

  17. martoart says:

    depingacygacy said: numpang baca mas.

    Monggo Mah, siapa tahu mo pindah ke tanggerang..

  18. wkwkwkwkwk… Ogah!!!Nek kejadian kaya aku dulu juk piye mas? Nganter suami ke rs jam 1 malem (naek motor). Gitu suami masuk igd kudu pulang krn yg ga bisa nitip anak lama2. Blaik no nek ditangkep satpol pp

  19. martoart says:

    depingacygacy said: juk piye mas?

    nyamar jadi cowok, ato sekalian ganti kelamin

  20. ganti kelamin? Carane? Pasang dildo? *mikir*

  21. martoart says:

    depingacygacy said: ganti kelamin? Carane? Pasang dildo? *mikir*

    Nek dildo tuh fungsinya gantiin kelamin suami. he he..*karena kalo suami keluar rumah, kelaminnya ikut dibawa sih…

  22. owgh… Kirain bisa dipasang gt mas. Jd ga perlu repot2 oprasi tinggal dilem *mrenges*

  23. dekmaniezt said: hah?? Begini dijadiin Perda? Bujubusyeett…Macam ‘polisi kampus bersorban’ aja di kampusku =’=eh, bedanya kalo sasaran mereka ya cowo-cewe sih..Kalo jam malam, harusnya berlaku untuk perempuan-lelaki (bukan memaksa persamaan derajat) tapi lebih pada manusia-nya ketimbang jenis kelamin-nya dong. *gerundel*Wiuuh,, di Jogja ada kagak yaa =’=dulu biasanya kan gw pulang gak tentu jam, malem iya, pagi iya.. duh,, moga Perda beginian kagak dipake lagi deh (kecuali jam malam saat kerusuhan, ato jam malam kaya di Bandung gara-gara genk motor itu, masih bisa dimaklumi laah), amin amin amiiinnnn

    Jangan2 besok penari gambyong atau bedhaya disuruh pake cadar tuh..hwakakakaakkakaakakkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s