Hantu di Kepala!

Hantu adalah arwah orang mati penasaran. Penasaran karena zatnya mengambang. Tidak segera diterima di tempat dimana seharusnya arwah para orang mati berada, tapi juga tidak bisa kembali ke dunia tempat orang hidup tinggal.

Arwah yang menunggu di ruang tunggu. Yang bosan di alam antara. Arwah yang di bumi menjadi perdebatan status hukumnya, dan di langit jadi rebutan malaikat dan iblis. Kalau sudah begitu, menurut sementara orang yang percaya terhadap dunia gaib, arwah tersebut akan diberi kesempatan kembali ke bumi untuk mencari kejelasan identitasnya. Hal ini mirip ujian ulangan. Jiwa itu akan semakin bosan dan terhina karena sesungguhnya semacam ditendang dari komunitas ahirat.

Di bumi, pengembaraannyapun tidak akan mudah. Karena banyak hal, yang salah satunya adalah kenyataan yang dia temui tentang perdebatan status dirinya tadi. Ujian. Selalu menghasilkan dua hal. Sukses atau gagal, lulus atau tidak, dan memang kadang akan ada ujian berkali-kali. Semakin membosankan. Minggu – minggu ini sesosok hantu bergentayangan dan menyelusup di relung kepala hampir setiap manusia Indonesia.

Hantu itu adalah arwah seorang penguasa yang memang begitu berkuasa. Dia telah mati dan kenyataannya memang tetap berkuasa. Soeharto namanya, berkuasa sebagai presiden RI selama 32 tahun sampai akhirnya tumbang ditebang rakyatnya sendiri. Pada tanggal 27 Januari 2008, tepat pukul 13;13 WIB, bekas penguasa itu mati. Ibarat pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”, Soeharto mati meninggalkan menara gading dan sekaligus belang di sana-sini. Menara gading pasti tidak sekuat sebagaimana yang terlihat, sebab kembali merujuk pepatah, “Tiada gading yang tak retak”.

Konon negara ini terbangun perekonominya oleh Soeharto, negara yang kuat, stabil, dan memiliki ketahanan pangan takkan tertandingi. Maka di-dapuk-lah dia sebagai Bapak Pembangunan Nasional. Kalau Anda memandang sinis dan menganggap itu sebagai akal-akalan boleh saja, tetapi sejarah mencatat Soharto juga pernah mendapat penghargaan dari FAO, badan PBB yang mengurusi soal pangan. Yah, Anda juga boleh menganggap sejarah seperti itu tetap sebagai akal-akalan. Anda tidak sendiri, saya juga berpendapat sama.

Selama Soeharto berkuasa, manajemen pembangunan yang dia terapkan adalah pertumbuhan dan pemerataan. Semua digeber agar tumbuh, menghasilkan, dan berproduksi. Dibanding era Soekarno, pertumbuhan ekonomi Indonesia menanjak cepat. Sukses? Tidak, karena Soeharto gagal dari sisi pemerataannya. Pertumbuhan hanya dinikmati keluarga dan kroni. Hasil pertumbuhan digerus oleh dia dan orang sekitar sehingga tidak ada kesempatan untuk meratakannya. Fundamen perekonomian keropos oleh korupsi. Menara gading yang sangat rengat dan terbukti segera berantakan ketika terjadi krisis moneter.

Soeharto, tentu saja juga meninggalkan belang di tubuh bangsa ini. Sejarahnya penuh kubangan darah. Tidak perlu mengingkari kenyataan sejarah kekerasan dan atau genocida yang telah terjadi. Peristiwa 65, Peristiwa Priok, Talangsari, Haur Koneng, Kedung Ombo, Nipah, Malari, Peristiwa 27 Juli, Peristiwa Mei, Semanggi I dan II, Timor Leste, rangkaian peristiwa berdarah di Papua, rangkaian pembantaian Aceh, Poso, Ambon, dan banyak lagi, teramat banyak untuk disebutkan. Belum termasuk pembunuhan yang bersifat personal seperti Kasus Marsinah, Cak Munir, dan yang lainnya.

Tentu saja akan ada yang gerah dengan tulisan ini, dan mengatakan bahwa itu semua bukan tanggung jawab Soeharto seorang. Boleh saja, tapi mengingat betapa berkuasanya Soeharto, semestinya dia juga bisa menghentikan semua itu. Persoalannya memang Soeharto enggan menyelesaikan persoalan yang ada secara demokratis. Pendekatan keamanan baginya lebih efektif bagi negara yang menjadikan pembangunan sebagai panglima. Dan belang terus menodai perjalanan Orde Baru.

Selesaikah kekuasaannya pasca kejatuhan? Belum! Agenda reformasi yang digulirkan mahasiswa terhadang oleh para politisi lama yang di-back up oleh cukong dan para tentara yang masih setia. Upaya mengadili bekas presiden itu selalu gagal. Ada yang meminta agar dia dimaafkan sementara yang bersangkutan sendiri tidak pernah menyatakan bersalah apalagi meminta maaf. Bahkan sampai kematiannya, ada juga yang mengusulkan dia segera digelari sebagai Pahlawan Nasional.

Rupanya kematianpun tidak mampu membunuh kekuasaannya. Berbagai media ramai – ramai melansir kesedihan rakyat. Takut menulis kejahatan politik dan pelanggaran HAM yang pernah dilakukan semasa kekuasaannya. Gamang mengupas sisi hukum dan kasus korupsinya. Beginilah jurnalisme dengan hantu di kepala, alias jurnalisme cari selamat. Saya berkabung untuk itu. Mengibarkan bendera setengah tiang di hati. Setengah tiang yang berbeda dengan himbauan pemerintah.

Tolong dicatat, pemerintah memberi satu minggu perkabungan untuk Soeharto, empat hari untuk korban tsunami, dan hanya satu hari untuk korban bom Bali. Pemerintahan dengan hantu di kepala. Hantu yang harus dihormati dalam bingkai mikul dhuwur mendhem jero.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Hantu di Kepala!

  1. martoart says:

    Aneh nih, aku edit gambarnya doang,… eh komentar2 keren teman pada ikut ilang. sorry ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s