Go To Hell Pedestrian!

Secara evolutif manusia tercipta menjadi mahluk bipedal. Atinya mahluk yang berjalan dengan dua kakinya. Konon itu menjadi salah satu hal yang turut memacu kemampuan motorik lain berevolusi lebih terarah.

Contoh sederhananya adalah kemampuan akomodasi mata berkembang sesuai kebutuhan khas bipedal. Tidak terlalu melebar seperti milik burung hantu atau terlalu sempit sebagaimana yang dipunyai kodok. Manusia mahluk evolutif yang juga pintar. Tidak berkelebihan pun tidak berkekurangan. Ayam juga mahluk bipedal, tapi kenapa dia lebih bodoh dari manusia itu soal lain.

Kemudian secara antropologis manusia juga menjadi pedestrian alias mahluk pejalan kaki. Maka ada jalan. Mulanya setapak kemudian melebar dan menjauh, seiring merasa tidak cukup hanya mengandalkan kaki. Maka dibuatlah alat transportasi, dan mereka memanfaatkannya secara optimal. Dan akhirnya adab berkendara turut terbangun. Di kota – kota besar negara beradab pemakai jalan saling tahu diri. Apakah para pemakai jalan di Jakarta cukup beradab? Ah, jujur saja, kita tidak punya adab berkendara yang baik. Kita jago nyetir, tapi bego berlalu-lintas. Semestinya semakin cepat dan besar kendaraan, semakin hormat kepada yang kecil dan pelan. Logikanya, kendaraan yang besar dan cepat berbanding lurus dengan tingkat bahaya yang dikandungnya. Truk sampah dengan mudah meremukkan sepeda motor, bukan sebaliknya. Kecuali pengendara motornya seorang Kopasus. ”Bahaya” yang dikandung motor itu pasti lebih tinggi. Itulah kenapa ada klasifikasi bagi kendaraan bermotor. Juga ada jenis SIM bagi pengendaranya. Logika lain, sedan yang canggih butuh lebih sedikit tenaga pengendaranya dibanding pejalan kaki. Maka wajar apabila pengendara sedan sebaiknya memberi waktu bagi orang yang hendak menyeberang jalan.

Ah, pejalan kaki di Jakarta. Mereka menjadi mahluk berkasta paling rendah dalam sistem rantai transportasi, dan pedestrian yang harus selalu dikalahkan. Teorinya sih ada jalan khusus bagi pedestrian, namanya; Trotoar. Trotoar adalah budaya baru bagi bangsa Indonesia. Ia tidak genuine. Tidak asli seperti halnya tempe atau batik. Nama itu juga tidak langsung datang dari Prancis. Ia kita kenal lewat orang Belanda yang mengambil dalam perbahasaannya dan menularkan di sini. Dengan tempe dan batik saja kita tidak begitu hormat, maka jangan kaget apabila trotoar berarti lapak kaki lima. Atau bisa berarti lahan parkir mobil. Boleh juga dimaknai sebagai jalan alternatif bagi sepeda motor. Bahkan juga dijadikan galeri out door tiang iklan atau rambu nan acak. Di banyak ruas jalan, trotoar menjadi lokasi untuk menaruh pot – pot bunga. Maunya indah, tetapi bikin repot orang lewat. Pedestrian silakan mengambil jalan aspal. Tentu harus ekstra waspada dan dengan penuh kesabaran diri. Sampai kapan?

Pedestrian Jakarta sudah menjadi ayam. Mahluk bipedal yang kalahan. Mereka mau saja dipecundangi srigala trotoar. Srigala akan menyalak lebih galak apabila diingatkan bahwa trotoar hanya untuk pejalan kaki. Sudah seharusnya pedestrian mulai menuntut haknya. Hal itu akan lebih efektif apabila dilakukan secara kolektif. Semacam Class Action. Pemda DKI Jakarta juga seharusnya tanggap persoalan ini. Saya percaya persoalan sederhana seperti di atas pasti dapat diatasi. Asalkan pihak Pemda mengoptimalkan kinerja setiap jajaran terkaitnya. Juga memutuskan setiap kebijakan dengan konsep matang dan masuk akal. Seperti misalnya dalam membangun, merawat, dan mengurus trotoar Jakarta. Tidak harus melakukan studi banding ke luar negeri. Untuk itu bisa meminta nasihat par ahli tata kota, dan itu banyak di Indonesia setidaknya di Jakarta.

Saya pernah bermimpi berjalan kaki dengan nyaman di Jakarta tersayang ini. Trotoar yang lapang dan tidak naik-turun. Tidak terhalang tiang listrik, lubang jalan, dan penjual pecel lele. Ada garis perdu dan pot yang membatasi antara pedestrian dan pemakai kendaraan bermotor, bukan pot yang menghadang jalan. Tidak terganggu sedan yang asyik nangkring, juga tidak khawatir bakal tertabrak motor tukang ojek. Bah, mungkin warga Jakarta yang merindukan kenyamanan trotoar juga bermimpi sama. Sayangnya kita semua malas bangun untuk mewujudkannya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

21 Responses to Go To Hell Pedestrian!

  1. tianarief says:

    hahaha. postingan yang bagus bung! terutama analogi, bahwa manusia pejalan kaki di jakarta ini sudah seperti seekor ayam. dia takut diseruduk sana-sini. akhirnya musti terus awas dan waspada, dan sesekali harus meloncat dan mengepakkan sayapnya, sambil berkaok-kaok. :))

  2. martoart says:

    he he.. iya. apalagi ayam kampung saba kota seperti saya.

  3. motulz says:

    Gue rasa..tentang trotoar ini jangan juga menghubungkan dengan kodrat manusia yang berkaki dua dan pejalan kaki, hingga terkesan gak sah kalo pake alat bantu kendaraan🙂 Karena manusia pun punya kodrat memiliki akal dan pikiran sehingga dia sah untuk meng-extend keterbatasan fisiknya (seperti contoh mata tadi)Balik ke trotoar.. Masalah ini terlalu menyebalkan buat dibahas berkepanjangan mengingat yang terlibat di sini banyak sekali.. termasuk warga kota-nya (gak cuma pemkot). Orang Jakarta itu didominasi (mayoritas) kaum pendatang.. kaum yang cuma datang untuk mencari nafkah.. bukan masyarakat asli yang punya rasa memiliki, menjaga, dan membuat nyaman tempat tinggalnya.Jakarta itu kota egois.. gak cuma trotoar, mobil besar, dan pejalan kaki.. Tapi sudah ke semua aspek. Ini sulit dipilah-pilah.. mana yang musti duluan diperbaiki.Sudahlah.. biarkan ini berjalan alami.. sampai pada akhirnya akan kena batunya. Baru pada melek.. Sementara waktu.. tetap suarakan opini-opini seperti ini.. Membantu mengingatkan, menyadarkan, kalau perlu mendidik masyarakat. Semoga gak lama lagi deh.. kita bisa menikmati jalan kaki yang lebih nyaman, aman, dan asoy

  4. silumpit says:

    tulisan yang bagus… tulisan saya dengan tema yang hampir mirip mah ga ada apa-apanya dibanding ini… well anyway.. at least kita merasakan hal yang sama mengenai masalah ini…

  5. martoart says:

    silumpit said: tulisan yang bagus… tulisan saya dengan tema yang hampir mirip mah ga ada apa-apanya dibanding ini… well anyway.. at least kita merasakan hal yang sama mengenai masalah ini…

    Betu Pit, yg penting kita sama-sama suarakan hal baik . Nulis, gambar, nyanyi, apapun. baik-buruk orang lain yg nilai. Thanks anyway atas pujiannya.

  6. f4jar says:

    yahh begitulah mass

  7. ardiyunanto says:

    Ternyata kita pernah memimpikan hal yang sama. Di Menteng Dalam tercinta yang kalau beruntung masih bisa denger burung berkicau, bahaya jagal trotoar kadang udah mengayamkan jauh lebih dulu lewat suara cempreng bajaj yang lewat di depan rumah, “Greng-greng” lalu, “Eh tadi mimpi apa ya?”

  8. karonkeren says:

    gua selalu berpikir tentang hubungan yang aneh antar pengguna jalan … sepeda motor lebih kecil ketimbang metromini ataupun mobil, tapi mereka jauh lebih kurang ajar ketimbang mobil walaupun tetep sama brengseknya dengan metromini … kemungkinan kekurang ajaran ini bisa jadi karena sepeda motor adalah kendaraan yang murah dan bisa dimiliki semua warga jakarta … dan dimana mana segala hal yang bisa dimiliki semua orang akan mendapat dukungan penuh dari semua orang, sehingga kalo motor tabrakan yang disalahin tetep kendaraan lain, walopun sepeda motor itu salah (misal tabrakan sama bus transjakarta) … mungkin gak sih logika ini dipraktekkan buat pejalan kaki … misal kita sengaja nantang sepeda motor yang ngambil trotoar buat jalan alternatif … walaupun mungkin nantinya sama sama benjut dan terkapar, tapi gua mikir kalo logika balas dendam kayak gini sedikit banyak bisa mengurangi jumlah sepeda motor kurang ajar yang make trotoar buat jalan mereka … tapi ya gak tau lagi deh yawwww

  9. martoart says:

    karonkeren said: dimana mana segala hal yang bisa dimiliki semua orang akan mendapat dukungan penuh dari semua orang, sehingga kalo motor tabrakan yang disalahin tetep kendaraan lain, walopun sepeda motor itu salah (misal tabrakan sama bus transjakarta)

    He he,.. teorimu ini terlalu konspiratif dan keknya kurang punya dukungan data bung. Agak kurang sepakat sih. Gimanapun kalo ada motor ketimpe bus transjak (karena misalnya nylonong masuk jalurnya) tetep aja disukurin ma pengendara yang laen (termasuk sesama pengendara motor) deh.Dan kenapa pemake motor lebih byayakan dibanding pengendara mobil… rasanya karena tak setakut pemunya mobil kalo catnya lecet aja kali.thx anyway..

  10. intan0812 says:

    panjang, tar lagi deh balik

  11. intan0812 says:

    jarang nemu troatoar yang nyaman buat jalan kaki di jakarta… mungkin hanya di sekitar jalan thamrin, sebagian jalan sudirman……. lainnya kadang tempat mangkal kaki lima atau jadi lahan parkir motor….kapan ya, jalan kaki dijakarta nyaman ?….. semoga ga mimpieh ya pamit dulu, terima kasih mbah marto … numpang komen

  12. intan0812 said: terima kasih mbah marto … numpang komen

    woooo cuma buang komen doang dimarih

  13. afemaleguest says:

    Jadi ingat sekitar setahun yang lalu komunitas b2w Semarang mengadakan talk show mengusahakan diadakannya bike lane di Semarang. http://nana-podungge.blogspot.com/2010/04/jalur-sepeda-please.htmlbukan hanya para pejalan kaki yang tidak bisa menikmati berjalan di trotoar yang nyaman, para pesepeda harus pula menggadaikan keselamatannya karena harus berbagi jalan dengan para pemakai jalan lain, sebangsa truck, bus, dlsb. beberapa bulan terakhir ini jalan Pahlawan — dekat simpang lima, dan di jalan ini berlokasi gubernuran — tempat gubernur ngantor — dan polda — dibangun. baru di jalan inilah, sekarang warga Semarang menemukan trotoar yang lapang dan tentu nyaman untuk dilewati. bebas dari parkir mobil maupun pedagang yang sok mangkal di trotoar. entah bakal ‘awet’ seperti ini sampai berapa lama. katanya sih, jalan pahlawan ini telah dipilih untuk menjadi tempat pertama akan disediakan bike lane. *jadi kangen nggowes di Jogja dimana bike lane tersedia di banyak jalan*

  14. rirhikyu says:

    huauhahahahahahaha…..jadi knapa ayam tetep bodoh? *nggak penting dibahasternyata banyak yang punay impian sama :)berjalan kaki nyaman di jakartabahkan sejak taun 2008 :pen gue keluarin uneg2 gue di taun 2011 ini

  15. martoart says:

    gw selalu merasa minder kalo lihat trotoar di beberapa negara beradab. Malu sendiri. Gile bener, ngurus trotoar aja susah, gimana mo ngebangun PLTN? Gila mereka itu!

  16. rirhikyu says:

    martoart said: gw selalu merasa minder kalo lihat trotoar di beberapa negara beradab. Malu sendiri. Gile bener, ngurus trotoar aja susah, gimana mo ngebangun PLTN? Gila mereka itu!

    huahahahaha….kirim aja nuklir ke rumah yg mau bangun

  17. mayamulyadi says:

    Tulisan yang bagus, Om…Saya juga memimpikan bisa berjalan kaki dengan nyaman. Ga di Jakarta saja, di Bandung pun banyak trotoar yang terhalang pot bunga segede gambreng, pohon-pohon yang tumbuh di tengah-tengah trotoar (paling parah di area Cihampelas) dan pejalan kaki yang harus mengalah dengan pedagang kaki lima (seputaran pasar Simpang Dago, misalnya)…Entah kapan kita bisa jalan kaki dengan tenang…

  18. Sayang ya..pada malesMasih suka mimpi gitu…

  19. fendikristin says:

    trotoar malah jadi tempat nyaman buat para pedagang😦

  20. itsmearni says:

    trotoar bukan buat pejalan kakaiada motorada pklbahkan ada yang bikin rumah di atas trotoar hehe

  21. martoart says:

    itsmearni said: trotoar bukan buat pejalan kakaiada motorada pklbahkan ada yang bikin rumah di atas trotoar hehe

    Di kantor kedutaan, dipake buat nambah area aman ledakan bomDi kantor pemerintah, dipake buat parkiran mobil patroli pulisiDi depan masjid, dipake perluasan shaft Ayo siapa mau nambah daftar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s