10 Kado Islami untuk Kartini

Mengenang Kartini adalah juga mengenang perjuangannya yang berat sekaligus ironi. Lahir sebagai perempuan yang hidup di tengah sistem feodalistik Jawa, penjajahan Belanda, dan kungkungan tradisi Islam. Seorang aktivis feminis awal yang dipeluk Poligami.

Tulisan ini untuk adalah kado ulang tahun untuknya, juga untuk bangsa yang mayoritas perempuan, sekaligus bangsa yang mayoritas Islam. Kado dengan bungkus berlapis untuk dikupas secara saksama dalam tempo sesingkatnya; Poligami.

Poligami adalah persoalan klasik yang sempat kembali menyeruak tatkala ustad sejuta ibu-ibu dikabarkan melakukannya. Kemudian terjadi polemik. Saya juga tertarik untuk ikut arus dan merawat poligami, eh maksudnya polemik tersebut. Sehingga bola salju itu terus menggelinding. Toh perdebatan untuk mencapai kebenaran (ijstihad) memiliki nilai positif di Mata Allah. Maka, mari kita bantu Kartini mengupas kadonya secara tuma’ninah agar tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang true mana yang bid’ah.

0. Satu suami dengan lebih dari satu istri

Salah. Poligami, istilah ini tepatnya berarti perkawinan (bukan pernikahan) yang berpola satu dengan dua atau lebih pasangan. Bukan berpasang-pasang, dan bukan hanya satu jantan dengan banyak betina seperti aksioma selama ini. Poligami tersusun dari dua kata; Poli (poly) yang berarti banyak, dan Gami (Gamos) yang berarti perkawinan. Poligami bisa berupa satu jantan dengan banyak betina (Poligini), ataupun satu betina dengan banyak jantan (Poliandri). Poin awal ini sengaja saya tulis penomorannya dengan angka “0” karena sudah menjadi kesalah-kaprahan hampir semua orang. Karena kesalah-kaprahan itu juga dalam tulisan ini sengaja saya tetap menggunakan istilah poligami sekadar keakraban pendengaran saja.

1. Mengakomodasi hasrat seksual lelaki yang tak terbendung

Salah. Yang benar hasrat seksual lelaki bisa dibendung. Ada banyak cara untuk itu. Misalnya berolahraga, giat belajar, aktif bekerja, sholat, berpuasa, dan sebagainya. Selain itu kemampuan seksual lelaki lebih terbatas dibanding perempuan. Begitu sperma memancar, dibutuhkan interval yang cukup lama untuk kembali horny. Memang sih hal ini tergantung usia dan stamina seseorang, tetapi tetap masih berbeda dibanding perempuan. Scrotum harus kembali memproduksi spermatozoid, darah harus dipompa ke arah penis, otot penis harus kembali tegak, stamina harus kembali disiapkan bagi yang berkecenderungan aktif dalam mengendalikan permainan seks, yang biasanya lelaki dan ini hampir tidak begitu perlu dilakukan perempuan. Namun apabila ada suami yang kemampuan seksualnya sangat tinggi, penyelesaian yang sakinah tidak harus dengan menikah lagi. DR Nurcholis Majid pernah mengatakan apabila kita tidak mampu melawan setan besar, pilihlah yang kecil. Saya setuju itu mengingat Allah tidak akan menguji manusia diluar kemampuannya. Artinya, para suami yang lagi tinggi tidak perlu kawin lagi, ataupun beli jadi, tapi cukuplah beronani.

2. Perempuan rela dimadu

Salah. Yang benar tidak ada perempuan yang dengan sukarela dimadu baik secara nurani maupun logika. Ketidakrelaan kaum perempuan bisa berdasar banyak hal. Yang pasti adalah cinta yang tak boleh dibagi. Selain itu juga alasan ekonomi, perhatian kepada anak, dan sebagainya. Terkadang ada kasus yang cukup pelik dimana istri rela dimadu karena dia sendiri juga menyembunyikan rahasia seksual dengan lelaki lain. Sang istri mencoba bertepaslira atas kelakuan suaminya karena dia melakukan perselingkuhan tersebut.

3. Boleh asal adil

Salah. Yang benar sifat adil dalam konteks poligami hanya berhenti pada diri Nabi. Para tetua agama telah melakukan kesalahan berwacana, dan parahnya mendakwahkan kesalahan itu. Mungkin hal itu mereka sengaja karena menguntungkan.

“…maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi; dua,tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja…” (An Nisaa’ 3).

Ayat favorit para ustad yang hobi kawin-mawin tersebut sebenarnya telah gugur begitu turun ayat yang menjelaskan tentang rasa adil dalam surat yang sama.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (An Nisaa’ 129).

Namun begitu, ayat penggugur ini hampir tidak pernah meluncur pada setiap dakwah tentang poligami.

4. Mengikuti Sunah Nabi

Salah. Yang benar, umat hendaknya menyadari rentang waktu Rasulullah monogami selama 28 tahun. Kemudian menduda selama dua tahun setelah wafatnya Khadijah. Monogami Nabi jauh lebih panjang daripada hidup poligami beliau. Perkawinan Nabi yang ketiga sampai yang terakhir terjadi dalam rentang waktu yang pendek (antara tahun kedua sampai tahun ketujuh Hijriyah) hanya lima tahun. Beliau wafat pada tahun 632 M atau tahun ke-10 H, tiga tahun setelah perkawinan terakhirnya. Sejarah mencatat beliau berpoligami setelah lewat 54 tahun, usia di mana kemampuan seksual lelaki mulai menurun. Artinya aktivitas poligaminya lebih bersandar pada dakwah dan bukan nafsu. Yang juga menarik, Nabi justru tidak mengijinkan Ali ketika Fatimah putrinya hendak dimadu. Pernyata
an keras ini beliau ucapkan saat berpidato di atas mimbar;

“Sesungguhnya anak-anak Hisyam bin Mughirah meminta ijin kepadaku untuk menikahkan putrinya dengan Ali. Ketahuilah bahwa aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, kecuali jika Ali menceraikan putriku dan menikahi anak mereka. Sesungguhnya Fatimah bagian dari diriku. Barangsiapa membahagiakannya berarti ia membahagiakanku. Sebaliknya barangsiapa yang menyakitinya, berarti ia menyakitiku” (Diriwayatkan dari Al-Miswar ibn Makhramah).

Hadis tersebut ditemukan dalam berbagai kitab hadis yaitu; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tarmidzi, Musnad Ahmad, dan Sunan Ibnu Majah, dengan redaksi yang persis sama, menandakan keakuratan sumber. Dari prespektif ilmu hadis, itu menunjukkan diriwayatkan secara lafzhi. Pernyataan yang diulang tiga kali menunjukkan betapa hal itu sangat penting dan perlu diperhatikan.

5. Sarana sosial membantu kaum janda dan anak yatim

Salah. Yang benar apabila ingin membantu mereka dalam hal harta dan perhatian, bisa dilakukan tanpa harus dengan mengawini sang janda atau ibu para yatim. Justru itu lebih baik, ikhlas, tidak bersuasana membeli tubuh janda, juga tidak menimbulkan fitnah. Santunilah kaum dluafa tanpa pamrih.

6. Sarana memperbanyak generasi

Salah. Apabila Allah berkehendak segera memperbanyak keturunan manusia di muka bumi, tentu sudah dilakukannya pada awal-awal saat penciptaan Adam. Allah hanya menciptakan Adam berpasangan dengan Hawa. Allah tidak “mengorbankan” Hawa demi percepatan populasi. Kalau itu yang terjadi, pastilah Allah akan menciptakan Adam dengan Hawa, Maria Eva, Teh Rini, Teh Ninih, Mulan, dan sebagainya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya. Dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (An Nisaa’ 1).

7. Populasi perempuan lebih banyak dari lelaki

Benar, menurut data populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki. Karena perempuan lebih menjaga kesehatan, tidak boleh menjadi sasaran dalam perang, dan lebih bisa menyiasati kematian. Tapi bukan lantas karena itu, jumlah boleh dijadikan alasan untuk dinikahi. Statistik juga menyatakan sebagian besar kelebihan “kuota” perempuan itu ada pada usia renta, tidak produktif, dan janda korban perang. Artinya apabila ini dijadikan alasan, pelaku poligami hendaklah tidak memilih mereka yang masih berusia muda.

8. Simbol ujian dan ketinggian derajat tetua agama

Salah. Dahulu ada citra bahwa semakin banyak istri, semakin diakui tingkatan ilmu dan derajat para pemuka agama. Maka tidak heran banyak ulama dan kiyai yang beristri lebih dari satu. Aa’ Gym, rupanya terarus mitos itu. Dia menyatakan secara tersirat bahwa hendak belajar adil pada tataran yang lebih tinggi. Dia juga menyatakan agar hal ini tidak diikuti karena dibutuhkan tingkat ketakwaan yang lebih. Aa’ juga menyatakan bahwa ia juga baru pemula, dan perlu belajar. Pernyataan ini bersuasana riya’. Yang benar;

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman (laki-laki dan perempuan) di antara kamu dan mereka yang berilmu (laki-laki dan perempuan) beberapa derajat” (Al-Mujadah 11).

Untungnya mitos bahwa derajat lelaki berbanding lurus dengan semakin banyak istri itu sudah berkurang pengaruhnya. Pamor Aa’ segera turun ketika berpoligami.

9. Simbol ujian dan tingkat ketaqwaan istri

Salah. Perempuan, istri yang akan dimadu, dan calon istri, didoktrin konsep agama yang apabila tidak menerimanya berarti bukan muslimah yang taqwa. Taqwa, kata ini sangat memukau ketika mengalir bersama kalimat;

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu..”. (Al Hujurat 13).

Ya betul sih, tapi ayat ini berlaku untuk semua jenis kelamin. Ayat ini tidak hanya untuk perempuan, sehingga ketika menolak dimadu suami, tidak lantas berarti dia bukan istri soleqah atau kurang taqwa. Menerima tawaran dimadu suami juga bukan berarti contoh istri yang lulus ujian ketaqwaan. Yang biasanya beriringan dengan hal itu adalah tatkala para istri koleksian ditanya tentang harapan mereka akan pemenuhan cinta dari suami, para istri tersebut memiliki jawaban standar. Mereka menyatakan bahwa cinta dari Allah lebih penting daripada cinta dari suami. Tepatnya, “Mencintai Allah adalah segalanya. Apabila kita mencintai Allah, insyaallah kita akan dicintai suami”. Begitulah istri yang soleqah. Tolong.

10. Identitas Kaum Muslim

Salah. Poligami sudah mentradisi pada beberapa kepercayaan dan agama sebelum Islam datang merombak konsep lama itu. Raja-raja Persia, Babylonia, Mesopotamia, dan Sumeria, para Firaun Mesir dan para kepala suku Afrika, Kaisar China dan Roma, Para kepala suku di Indian Astek, Maya, dan Inca, dan banyak lagi. Para raja Hindu di India dan Idonesia melakukan polig
ami sebagai hal biasa. Bahkan dalam pernikahan Nasrani, ada kalimat yang selalu disampaikan;

“Semua yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia”.

Klausul itu jelas tidak mengijinkan perceraian. Namun juga menyiratkan untuk tidak melarang menikahi yang lain lagi. Pada praktiknya justru kaum Nasrani tampak lebih arif untuk tidak memanfaatkan ayat cinta itu. Jadi terserah Anda sekarang untuk mengidentifikasi sebagai siapa dengan cara bagaimana.

Selamat merayakan Hari Kartini tanpa Poligami.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

61 Responses to 10 Kado Islami untuk Kartini

  1. blackdarksun says:

    itulah ciri wanita muslim yang ‘sholehah’mmmm….. mungkin aku termasuk bukan muslimah yang sholehah dan menentang kaum suami yang mau enak sendiri (seperti yang ditulis di atas)biarlah aku dibilang kafir karena ndak mau menjadi kekasih Allah gara-gara marah2 dan nda ikhlas mengijinkan suaminya kawin lagi……..duh….. klo mau jadi kekasih Allah bukan berarti harus bodo dulu kan?

  2. martoart says:

    he he.. makin bodo n makin mudah dibodohi artinya makin solehah. makin dikasihi Allah. Mau?

  3. aidavyasa says:

    konon istri lain adam namanya Lilith. And she’s a bitch :))brarti istri yang selain istri pertama adalaaaaaaaaaaaaaaahhh …… :(hahahahahaha) Mbouh ah sak karepna tuh lakilaki mau ngapain

  4. nabilhabsyie says:

    walah gue kaga ikut2!!! halal pada zaman nabi Muhammad SAAW maka halal sampai ahir zaman

  5. martoart says:

    Demikian juga Perbudakan dan Pedophilianya? C’mooon man!

  6. tukangtidur says:

    martoart said: Pedophilianya? C’mooon man!

    Wedew! Kebanyakan berkunjung di faithfreedom mas? Dari mana mas marto bisa beranggapan demikian? Jangan-jangan nanti akan ada lagi tuduhan-tuduhan ga berdasar lainnya, seperti: penyakit ayan, berkepribadian ganda, dan lain sebagainya.Permasalahan terbesar umat manusia bukan poligami. Jangan dipusinginlah. Kalo ada sebagian muslimah yang enggan dan gak mau dipoligami, yaudah, dia ajuin aja syarat nikah ke calon suaminya untuk jangan di poligami. urusan selesai. minta aja maskawinnya “jangan poligami”. urusan beres. Enggak ada tuh yang akan menganggap bahwa muslimah yang menolak dipoligami itu nggak shalihah dan nggak bertaqwa. Kaum muslim juga ga bego-bego amat, ketaqwaan dan keshalihan seseorang nggak dinilai dari mau atau tidaknya dipoligami.salam,Muslim Against Teror!

  7. martoart says:

    setuju dngan Anda. komentar balasan itu lantaran komentar dari nabil. Salam juga

  8. klewang says:

    disurga kelak, sungai dialiri anggur dan banyak bertaburan bidadari cantik.percayalah wahai orang2 yang beriman, surga didesain bagi para pria..

  9. luqmanhakim says:

    martoart said: Selamat merayakan Hari Kartini tanpa Poligami.

    Tulisanmu terlewat kubaca sampe ada seorang temen yang memasukkan link ini dalam MP-nya. Cukup dalam mas, sampe terpikir, seperti ini Mas Marto? Penjunjung Monogami? He he he…aku nanya doang lho Mas.

  10. martoart says:

    luqmanhakim said: Penjunjung Monogami?

    dah jelas kan Man?

  11. ukhtihanifah says:

    Sebelumnya saya mau ucapkan terimakasih atas undangan saudara marto dalam diskusi ini. dalam islam, poligami itu diperbolehkan,,, bukan diharuskan,,, itupun harus mampu memenuhi syarat-syaratnya, dan bagi yang mampu dalam banyak hal (berbuat adil dalam nafkah lahir dan batin, tidak menelantarkan istri-istri dan anak-anaknya)serta mampu menjadi imam dalam keluarga (tentunya mencakup banyak hal,,,, karena imam adalah pemimpin)Ketaqwa’an bukanlah diukur dari mau tidaknya di-poligami,,,karena masih banyak amalan-amalan yang lainnya, ketaqwa’an adalah ibadah kita kepada Robb Pencipta alam semesta,,,Jadi, baik monogami maupun poligami,,, tidak menjadikan tolok ukur ketaqwa’an manusia kepada Penciptanya,,,, bukan jaminan masuk surga,,,Hanya Alloh yang tahu mana-mana hamba-Nya yang akan menempati ruang surga ataupun neraka. Terimakasih,,,,,,,,,,,, hanya sekedar ungkapan,,,, pabila ada yang kurang berkenan,,,, mohon ma’af yang sebesar-besarnya.

  12. martoart says:

    Thanks telah berkunjung Ukhti.Kalau Ukhti membaca lebih cermat point 3 (pengguguran ayat), didukung poin 4 (ketidakrelaan nabi), masihkah menganggap poligami diperbolehkan?Mengenai ukuran ketaqwaan, kita saling sepakat. jadi gak menggugurkan poin 9. Masukan Ukhti malah menebalkan point 9 itu.Terima kasih kembali. Komentar Ukhti tdak ada yang membuat tidak berkenan. Artinya, tak ada yang perlu dimaafkan.

  13. dollantefran says:

    Iyesss… postingan nya serius nih… bookmark aahh…

  14. aisyahrany says:

    Assalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh… Saya sebenarnya sudah terlalu sering menyampaikan ini kepada kelompok-kelompok gerakan feminisme dan aktivis-aktivis islam jebolan amrik mengenai kasus-kasus seperti ini. Sebab masalah agama harus dibahas dari sisi agama, dengan para ahlinya yaitu ulama dan para kyai, bukan aktivis yang bicara. Karena maqomnya sangat salah. Apalagi dengan bahasa-bahasa menuduh atau menghujat yang menjadi khas gerakan ini.Ada beberapa kalimat yang menurut saya agak mengganggu, yaitu butir 00 butir 1…apa ini …..? “para suami yang lagi tinggi tidak perlu kawin lagi, ataupun beli jadi, tapi cukuplah berXXXXX..” maaf saya tidak mengcopynya lengkap karena saya tidak terbiasa menulis kata ataupun mengucapkannya itu sama saja, apalagi dalam konteks agama.” Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [An-Nisa.148]Dan jelas-jelas haram hukum berXXXXX bagi laki atau perempuan Butir 2Tuduhan ?.. istri rela dimadu karena dia sendiri juga menyembunyikan rahasia seksual dengan lelaki lain. Sang istri mencoba bertepaslira atas kelakuan suaminya karena dia melakukan perselingkuhan tersebut. Jawab:Kita tidak bisa menjawab masalah dengan jawaban yg bersifat kasuistik.kemudian di generalisasi Butir 3Yang benar sifat adil dalam konteks poligami hanya berhenti pada diri Nabi. Jawab : Mana dalilnya… ?“…maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi; dua,tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja…” (An Nisaa’ 3).Jawab: Ayat lengkapnya :Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An Nisaa’ 3).Kata adil pertama dalam surah Annisa ada pada ayat ini, kata Dan diawal kalimat ayat menandakan ada kalimat sebelumnya, yaitu (An-Nisa :2) : “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.Definisinya saya persingkat saja karena terlalu panjang nanti malah pusing.Pengertian adil disini bermakna meletakan sesuatu pada tempatnya. Tidak tertukar (menukar) dengan yg lain atau mencampurnya,(memakan harta mereka bersama hartamu), itu terjamahan yg lebih mendekati ayat ini…(tentu saja definisi kata itu dari istlah agama dan dalam bahasa arab lho)Supaya mudah saya berikan contoh kita tidak boleh meletakan nasi disaku baju atau meletakan pulpen di rice cooker atau mencampur keduanya kedalam rice cooker. Mungkin seperti itu adil (lagi-lagi bukan keadilan dalam bahasa kita)Selanjutnya …“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (An Nisaa’ 129)ayat penggugur ini hampir tidak pernah meluncur pada setiap dakwah tentang poligami.Jawab: hm….ini ayat andalan yg sering di plintir sehingga kesannya ayat 3 surat anNisa jadi mustahil dilakukan..dan ini penghujatan atas al-qur’an dengan menapikan ayat 3 dan menyodorkan ayat 129…dan dikesankan seolah kedua ayat saling bertentangan…Lengkap bunyi ayat tersebut sebenarnya :“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(An-Nisa:129) Kata istri-istri menjawab poligami dibolehkan, jika tidak boleh maka bunyinya akan istri saja. Ini bukan ayat penggugur sebenarnya, tapi malah pengukuh jadinya…ya kan? Karena mustahil kita temui ayat al-Qur’an saling bertentangan seperti ayat(2)membolehkan poligami dan ayat(129)seolah mementahkan poligami. Kesannya seolah-seolah demikian jika membaca ulasan anda pada butir 3 Butir 4Nabi justru tidak mengijinkan Ali ketika Fatimah putrinya hendak dimadu. Pernyataan keras ini beliau ucapkan saat berpidato di atas mimbar Jawab:Betul dan hadis ini shohehMungkin ada baiknya baca riwayat yang melatarbelakangi hadis itu, karena muatan sejarah dan kondisi saat hadis itu keluar sangat istimewa menyangkut posisi istimewa Baginda Rasul dan tidak cukup saya jelaskan disini. Butir 5No comment. Saya anggap ini asumsi anda saja Butir 6ini asumsi anda sajaurusan Adam-Hawa adalah ketentuan Allah, hanya Allah yang tahu alasannya. Butir 7Benarkan perempuan lebih banyak dari laki-laki ?. Anda mulai bingung mencari solusi jawaban…saya jugaGimana supaya quota perempuan sebesar itu kebagian semua…..he..he Butir 8No comment. Saya tidak ingin menghujat sesama muslim. Apalagi menyebut nama..maaf ! Butir 9.Pernyataan anda Apabila kita mencintai Allah, insyaallah kita akan dicintai suami”. Begitulah istri yang soleqah. Tolong. Jawab:Istri yang mencintai Allah pasti istri yang taat beragama dan memelihara kehormatannya, jika saya suaminya pasti saya sangat sayang. Ada yang salah ? Butir 10Pada praktiknya justru kaum Nasrani tampak lebih arif untuk tidak memanfaatkan ayat cinta itu. Jawab:Saya tidak berani mengatakan mereka lebih arif karena tolak ukurnya perkawinan, dalam islam apa saja tolak ukurnya selalu keimanan dan ketaqwaan. Karena bisa jadi opini itu seolah mengatakan mereka lebih baik dari para kyai kita yang berpoligami.“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.( An-Nisa: 159) Saya hanya mengikuti perintah untuk menanggapi dengan dalil yang ada agar gugur kewajiban saya atas ayat :“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam”( An-Nisa: 140) Mohon maaf karena keterbatasan, tidak dapat sampaikan jawabannya dengan dalil-dalil yg lebih detail. Dan akhirnya saya ucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas ucapan yang mungkin kurang baik.“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa”.( An-Nisa.149) wassalam

  15. martoart says:

    Trims untuk tanggapannya AisyahBaik, ini tanggapan balik saya;Saya percaya Anda sering menanggapi hal seperti ini, tapi percayalah saya jauh lebih sering mendengar dakwah, khotbah, pengajian, tulisan, dan sebagainya dari kelompok yang segaris dengan Anda, yang isinya syiar poligami. Bahkan ada poligami award segala.Saya bukan aktivis islam jebolan amrik. Mungkin anda lebih setuju pendapat aktivis islam jebolan Al Azhar seperti Ullil? atau melawan yang jebolan Chicago seperti Amin Rais?Eh, siapa yang membatasi agama harus dibahas secara agama? Dan hanya ustad yang berhak membicarakannya? Terus, institusi apa yang punya kewenangan menasbih seseorang ustad atau bukan?Untuk urusan berbahasa santun atau tidak, itu pilihan orang. Silakan. Tapi menurut saya, asal itu kontekstual ya gak papa. Pada tempatnya. seperti pulpen di saku dan beras di rice cooker. Kata onani sopan-sopan aja dong dalam hal ini. Toh saya juga tidak pilih “Ngocok”, meskipun pembaca tahu yang saya maksud ngocok peler, bukan ngocok telur (Kata peler saya pakai di sini karena memang juga kontekstual).Itu bukan tuduhan, dan tidak untuk menggeneralisasi. Kata “kadang” sudah menyatakan sebuah kekhususan. Jangan khawatir.Butir 3, apabila Anda lebih teliti membacanya (tentu dengan sedikit saja membuka pintu fikir, sedikit aja gak pa-pa), Anda akan bisa sedikit (gak pa-pa juga) memahami maksud saya. Kemudian lengkapnya ayat yang Anda sertakan sama-sekali tak mengurang apa yang saya maksud, apalagi membatalkannya.Ketika melansir hadist soheh itu, saya tentu sudah mempelajarinya. Saya belum kenal Anda, dan kalau sudah kenalpun tak perlu kiranya melaporkannya dulu sebelum memosting.Butir 7, Untuk kelebihan kuota perempuan itu baca lagi yang cermat. Saya tidak ingin memberikan solusi orang lain untuk berpoligami.Butir 8, Saya juga seperti Anda, hanya mengikuti perintah atas sabda nabi; “Sampaikanlah kebenaran walau cuma satu ayat”. Kebenaran itu meski phaitpun harus kita sampaikan. Jangan menyembunyikannya, apalagi menjadi golongan kaum munafikin. Karena itu saya sebut nama Aa Gym. Anggap saja sebagai ajang berlatih otokritik. Tanggapan Anda terhadap butir 9 tidak ada yang salah. Kesalahan hanya terjadi apabila “ketaqwaan” dimanfaatkan untuk menimbang tingkat kecintaannya kepada Allah untuk suami bisa nikah lagi.Butir 10, adalah apa yang sering saya temui. Tentu Anda dipersilakan untuk tak sepakat.Sejauh ini tak ada kalimat buruk yang menyinggung saya, jadi tak ada yang perlu dimaafkan.Damai dan selamat siang.

  16. masarcon says:

    wah, mantep nih mas marto. seneng ketemu dengan postingan yang senada nih. ini link saya http://masarcon.multiply.com/journal/item/185/KARTINI_TERCERAHKAN_

  17. martoart says:

    Dapet “Tanggapan Senada” juga gak Mas? he he..Meluncur segera! sediakan kopi ya…

  18. harxnext says:

    meskipun kurang bagus, tapi boleh to mas…. biar bisa 3some hehehe….

  19. martoart says:

    hush! untuk itu pelan-pelan aja… hik hik…

  20. ekohm says:

    *ikutmenyimaksaja*

  21. utara19 says:

    benar juga ya… gue setuju dengan tulisanmu To.. tapi gue tetap setuju dengan poligami karena tidak semua laki laki itu sepertimu dan sepertiku… ya, setidak tidaknya dengan berpoligami bisa jadi pelindung bagi laki laki hidung belang dari dosa dosa zina, ya mungkin bagi sebagian orang berzinah dengan wanita lain meski sekali saja lebih baik dari pada berpoligami.. kira kira kalau orang berpoligami karena nafsunya yg gede kagak mampu menahan diri menurutmu dosa kagak ya ?

  22. martoart says:

    Setuju-tak setuju tuh terserah. Dan yang penting penentunya adalah si Istri yang mo dimultiply sama si lakinya. Dan tentu bukan atas dasar pahala surga pa ancaman neraka.Melindungi dengan poligami? ah, kamu musti belajar yg namanya Contradictio-interminis man.Menurut gua poligami itu sendiri dosa. Kalo nafsu gedhe, kenapa gak selesaikan aja dengan sang istri? Kamu nanyain apa sih?

  23. utara19 says:

    martoart said: Setuju-tak setuju tuh terserah. Dan yang penting penentunya adalah si Istri yang mo dimultiply sama si lakinya. Dan tentu bukan atas dasar pahala surga pa ancaman neraka.Melindungi dengan poligami? ah, kamu musti belajar yg namanya Contradictio-interminis man.Menurut gua poligami itu sendiri dosa. Kalo nafsu gedhe, kenapa gak selesaikan aja dengan sang istri? Kamu nanyain apa sih?

    aku setuju poligami sebenarnya bukan soal pahala atau tidak pahala, tetapi semata mata karena aku lihat laki laki itu emang sangat egois banget, nah, dari pada terjadi perselingkuhan ya, poligami lah jalan keluarnya..dari pada berselingkuh ya pilih lah berpoligami sebagai pelindung dari perbuatan zina… ini menurut ku ya..

  24. utara19 says:

    menurut kamu, kenapa Allah menuliskan di Al Quran laki laki boleh beristri sampai 4 ?

  25. martoart says:

    begitu kamu bicara zina dan dosa, tak pelak kamu bicara pahala dan siksa. tak usah pungkiri itu, dan jangan berkedok hindari perselingkuhan seolah cuma lelaki yg bisa selingkuh. Eh, kalo alasanmu itu bukannya sebaiknya persilakan istri melakukan poliandri sebagai jalan keluar juga demi menghindari selingkuhnya?Mau poli mau mono selingkuh must go on man!Dan kalo manusia yakin kelak zina itu bakal terkena siksa lantaran dosa, ya tanggung jawabnya sendiri. Kalo di dunia nambah bini, jadinya malah nambah dosa coy. usahlah melegalisasi perzinahan dengan berpoligami.

  26. martoart says:

    Baca lagi poin ke tiga.

  27. utara19 says:

    martoart said: begitu kamu bicara zina dan dosa, tak pelak kamu bicara pahala dan siksa. tak usah pungkiri itu, dan jangan berkedok hindari perselingkuhan seolah cuma lelaki yg bisa selingkuh. Eh, kalo alasanmu itu bukannya sebaiknya persilakan istri melakukan poliandri sebagai jalan keluar juga demi menghindari selingkuhnya?Mau poli mau mono selingkuh must go on man!Dan kalo manusia yakin kelak zina itu bakal terkena siksa lantaran dosa, ya tanggung jawabnya sendiri. Kalo di dunia nambah bini, jadinya malah nambah dosa coy. usahlah melegalisasi perzinahan dengan berpoligami.

    gini To, sama seperti menikah, salah satujuannya untuk menghalalkan perbuan seks antara pria dan wanita, nah, begitu juga dengan poligami, menurutku Allah itu maha pengasih maha penyang pada hambanya, poligami itu menurutku adlaah pelindung bagi pria pria berhidung belang yang tidak tahu diri, egois, tepatnya, poligami itu untuk menghalalkan selingkuh..

  28. utara19 says:

    martoart said: Baca lagi poin ke tiga.

    udah. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa harus di tulis menikah satu, dua, tiga atau empat, bukankah jika Allah tidak berkata demikian di dalam al quran maka secara otomatis tidak ada pembolehan berpoligami dalam al quran ?. nyamuk saja tidak sia sia kok dalam penciptaannya, apalagi ucapan Allah yang jelas mengatakan silahkan menikahi satu, dua, tiga atau empat yang kamu senangi… tentu saja pengucapan itu ada tujuan dan maknanya bukan sekedar ucapan melantur bukan ?

  29. martoart says:

    utara19 said: nah, begitu juga dengan poligami, menurutku Allah itu maha pengasih maha penyang pada hambanya, poligami itu menurutku adlaah pelindung bagi pria pria berhidung belang yang tidak tahu diri, egois,tepatnya, poligami itu untuk menghalalkan selingkuh..

    Hamba allah tuh kan gak cuma cowok coy? Mekanisme poliandry rasanya perlu juga buat melindungi cewek dari selingkuh. Kecuali Allah gak anggap perempuan sebagai hambanya.

  30. martoart says:

    utara19 said: Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa harus di tulis menikah satu, dua, tiga atau empat,

    Mangkanya kalo pelajarin ayat, pahami juga azbabul wujud n Azbabun nuzulnya coy. Nabi sampekan statemen Allah tuh berlatar banyak hal. salah satunya karena betapa masa sebelumnya istri koleksian gak cuma stu dua, tapi puluhan bahkan ratusan bagi para pemimpin kabilah. Ayat itu sangat berani dan revolusioner pada masanya. Nah, itu yg hampir gak dilihat bagi kebanyakan pemimpin umat sekarang. Yang ditarik justru kemungkinan yg menguntungkan bisa kawin-mawin dengan alasan ayat itu. so, rasanya bukan Allah yg ngelantur. Para dai itu yang ngelantur. Dan kamu gak perlu ikutan terlantur pemikiran para ulama pencari dalil birahi cem gitu.

  31. utara19 says:

    martoart said: Mangkanya kalo pelajarin ayat, pahami juga azbabul wujud n Azbabun nuzulnya coy. Nabi sampekan statemen Allah tuh berlatar banyak hal. salah satunya karena betapa masa sebelumnya istri koleksian gak cuma stu dua, tapi puluhan bahkan ratusan bagi para pemimpin kabilah. Ayat itu sangat berani dan revolusioner pada masanya. Nah, itu yg hampir gak dilihat bagi kebanyakan pemimpin umat sekarang. Yang ditarik justru kemungkinan yg menguntungkan bisa kawin-mawin dengan alasan ayat itu. so, rasanya bukan Allah yg ngelantur. Para dai itu yang ngelantur. Dan kamu gak perlu ikutan terlantur pemikiran para ulama pencari dalil birahi cem gitu.

    Sepertinya ini perlu di tarik lagi kajian lebih dalam, apakah ayat itu turun sebelum nabi berpoligami atau sesudah berpoligami atau dalam situasi seperti apa ? ada sebuah kejadian dimana saat itu nabi belum hijrah ke madinah, seseorang yang baru masuk islam mendapat tekanan dari abu jahal cs, waktu itu abu jahal menusukkan tombak pada ibu orang tersebut yang sedang hamil dari vagina sampai ke ubun ubun, dan tidak hanya itu bapaknya juga disiksa termasuk orang yang baru masuk islam itu. orang itu hanya akan di bebaskan dari siksa oleh abu jahal kalau dia mau keluar dari islam dan kembali ke agama penyembah berhala. karena tidak tahan dengan apa yang ia alami akhirnya ia terpaksa mengaku murtad. dari peristiwa itu turunlah ayat yang bunyinya kira kira seperti ini. meski dia mengaku telah murtad sesungguhnya bagi Allah orang itu tetap beriman. ingat lo To, Al Quran itu kan berlaku hingga akhir zaman, Nah, jika ada seorang muslim saat ini yang terpaksa mengaku murtad agar tidak disiksa oleh orang kafir, bagi manusia mungkin murtad tetapi bagi Allah, tentu saja tidak.sama saja dengan bunyi ayat itu, benarkah ayat itu hanya berlaku untuk dimasa nabi saja, tetapi tidak berlaku untuk umat akhir jaman ?

  32. utara19 says:

    martoart said: Hamba allah tuh kan gak cuma cowok coy? Mekanisme poliandry rasanya perlu juga buat melindungi cewek dari selingkuh. Kecuali Allah gak anggap perempuan sebagai hambanya.

    bukankah karakteristik Pria dan Wanita itu berbeda ? Misalnya wanita itu lebih setia daripada priakalau poligami jelas siapa bapaknya.kalau poliandri, bapaknya yang mana To ?😀

  33. martoart says:

    wanita lebih setia dari pria? Hmm…Kenapa kamu gak coba lihat kejelasan dari sisi “Ibu” nya? Pola pikirmu masih macho coy!

  34. martoart says:

    utara19 said: Sepertinya ini perlu di tarik lagi kajian lebih dalam, apakah ayat itu turun sebelum nabi berpoligami atau sesudah berpoligami atau dalam situasi seperti apa ?

    Ndak ada urusan beliau udah atau belom poligami. Yang harus kamu lihat adalah Nabi bawa aturan main baru yg sangat revolusioner bagi pemuja harem dan kolektor meki masa itu.Quran berlaku hingga akhir jaman? Sebenarnya yg ini agak bikin melebar dari topik poligami. Tapi sebaiknya saling PM aja deh untuk diskusi berikutnya. Gimana? aku terbuka banget untuk diskusiin ini. Thanks anyway Choy!

  35. rinilestari says:

    saya ingin menulis kartini melalui cerita…….. tidak terlalu menggebu, namun cerminan kesejatian kartini…. ia adalah nama depan dari ibuku …. he..he..http://rinilestari.multiply.com/journal/item/5/KARTINI

  36. afemaleguest says:

    Kang Marto,aku sudah cukup banyak menulis tentang poligami di blog-ku, dalam English maupun Bahasa Indonesia. Dan selalu aku belum bisa mengontrol emosi diri kalau membaca komen orang yang ngepro poligami, apalagi kalo yang ‘mendukung’ poligami itu sendiri perempuan. Betapa mereka membiarkan otak mereka dicuci bersih oleh para ulama yang keblinger itu yah?

  37. afemaleguest says:

    utara19 said: sama saja dengan bunyi ayat itu, benarkah ayat itu hanya berlaku untuk dimasa nabi saja, tetapi tidak berlaku untuk umat akhir jaman ?

    menggunakan teori Sastra, aku mencoba mendedah poligami di postingan berikut ini:http://nana-podungge.blogspot.com/2009/03/poligami.html

  38. martoart says:

    afemaleguest said: aku sudah cukup banyak menulis tentang poligami di blog-ku, dalam English maupun Bahasa Indonesia. Dan selalu aku belum bisa mengontrol emosi diri kalau membaca komen orang yang ngepro poligami, apalagi kalo yang ‘mendukung’ poligami itu sendiri perempuan.

    Aku dah meluncur dengan cepat dan tanggap di celah-celah blogmu. Cuma yg bahasa Indonesia aja, bhs inggrisku dapet F hehehe..Sabar aja lah ngadepin kaum yg propol. Yg penting kita tetep syiar walo satu ayat (cieee bahasa ustad keluar neeh).

  39. okeboo says:

    “pastilah Allah akan menciptakan Adam dengan Hawa, Maria Eva, Teh Rini, Teh Ninih, Mulan, dan sebagainya. “Hehe aku suka sekali kalimat ini :pTulisannya bagus bgt mas, harusnya semua pelaku poligami picik yg berkedok agama baca tulisan ini.

  40. martoart says:

    okeboo said: harusnya semua pelaku poligami picik yg berkedok agama baca tulisan ini.

    Biar tahu poligami tuh haram.

  41. klewang said: surga didesain bagi para pria..

    …and lesbians.

  42. martoart says:

    edwinlives4ever said: …and lesbians

    Iyessss! aku lesbian.

  43. martoart said: Iyessss! aku lesbian.

    You are a lesbian she-male.

  44. martoart said: Mengenang Kartini adalah juga mengenang perjuangannya yang berat sekaligus ironi. Lahir sebagai perempuan yang hidup di tengah sistem feodalistik Jawa, penjajahan Belanda, dan kungkungan tradisi Islam. Seorang aktivis feminis awal yang dipeluk Poligami.Tulisan ini untuk adalah kado ulang tahun untuknya, juga untuk bangsa yang mayoritas perempuan, sekaligus bangsa yang mayoritas Islam. Kado dengan bungkus berlapis untuk dikupas secara saksama dalam tempo sesingkatnya; Poligami. Poligami adalah persoalan klasik yang sempat kembali menyeruak tatkala ustad sejuta ibu-ibu dikabarkan melakukannya. Kemudian terjadi polemik. Saya juga tertarik untuk ikut arus dan merawat poligami, eh maksudnya polemik tersebut. Sehingga bola salju itu terus menggelinding. Toh perdebatan untuk mencapai kebenaran (ijstihad) memiliki nilai positif di Mata Allah. Maka, mari kita bantu Kartini mengupas kadonya secara tuma’ninah agar tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang true mana yang bid’ah. 0. Satu suami dengan lebih dari satu istri Salah. Poligami, istilah ini tepatnya berarti perkawinan (bukan pernikahan) yang berpola satu dengan dua atau lebih pasangan. Bukan berpasang-pasang, dan bukan hanya satu jantan dengan banyak betina seperti aksioma selama ini. Poligami tersusun dari dua kata; Poli (poly) yang berarti banyak, dan Gami (Gamos) yang berarti perkawinan. Poligami bisa berupa satu jantan dengan banyak betina (Poligini), ataupun satu betina dengan banyak jantan (Poliandri). Poin awal ini sengaja saya tulis penomorannya dengan angka “0” karena sudah menjadi kesalah-kaprahan hampir semua orang. Karena kesalah-kaprahan itu juga dalam tulisan ini sengaja saya tetap menggunakan istilah poligami sekadar keakraban pendengaran saja. 1. Mengakomodasi hasrat seksual lelaki yang tak terbendung Salah. Yang benar hasrat seksual lelaki bisa dibendung. Ada banyak cara untuk itu. Misalnya berolahraga, giat belajar, aktif bekerja, sholat, berpuasa, dan sebagainya. Selain itu kemampuan seksual lelaki lebih terbatas dibanding perempuan. Begitu sperma memancar, dibutuhkan interval yang cukup lama untuk kembali horny. Memang sih hal ini tergantung usia dan stamina seseorang, tetapi tetap masih berbeda dibanding perempuan. Scrotum harus kembali memproduksi spermatozoid, darah harus dipompa ke arah penis, otot penis harus kembali tegak, stamina harus kembali disiapkan bagi yang berkecenderungan aktif dalam mengendalikan permainan seks, yang biasanya lelaki dan ini hampir tidak begitu perlu dilakukan perempuan. Namun apabila ada suami yang kemampuan seksualnya sangat tinggi, penyelesaian yang sakinah tidak harus dengan menikah lagi. DR Nurcholis Majid pernah mengatakan apabila kita tidak mampu melawan setan besar, pilihlah yang kecil. Saya setuju itu mengingat Allah tidak akan menguji manusia diluar kemampuannya. Artinya, para suami yang lagi tinggi tidak perlu kawin lagi, ataupun beli jadi, tapi cukuplah beronani. 2. Perempuan rela dimadu Salah. Yang benar tidak ada perempuan yang dengan sukarela dimadu baik secara nurani maupun logika. Ketidakrelaan kaum perempuan bisa berdasar banyak hal. Yang pasti adalah cinta yang tak boleh dibagi. Selain itu juga alasan ekonomi, perhatian kepada anak, dan sebagainya. Terkadang ada kasus yang cukup pelik dimana istri rela dimadu karena dia sendiri juga menyembunyikan rahasia seksual dengan lelaki lain. Sang istri mencoba bertepaslira atas kelakuan suaminya karena dia melakukan perselingkuhan tersebut. 3. Boleh asal adil Salah. Yang benar sifat adil dalam konteks poligami hanya berhenti pada diri Nabi. Para tetua agama telah melakukan kesalahan berwacana, dan parahnya mendakwahkan kesalahan itu. Mungkin hal itu mereka sengaja karena menguntungkan. “…maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi; dua,tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja…” (An Nisaa’ 3). Ayat favorit para ustad yang hobi kawin-mawin tersebut sebenarnya telah gugur begitu turun ayat yang menjelaskan tentang rasa adil dalam surat yang sama. “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (An Nisaa’ 129). Namun begitu, ayat penggugur ini hampir tidak pernah meluncur pada setiap dakwah tentang poligami. 4. Mengikuti Sunah Nabi Salah. Yang benar, umat hendaknya menyadari rentang waktu Rasulullah monogami selama 28 tahun. Kemudian menduda selama dua tahun setelah wafatnya Khadijah. Monogami Nabi jauh lebih panjang daripada hidup poligami beliau. Perkawinan Nabi yang ketiga sampai yang terakhir terjadi dalam rentang waktu yang pendek (antara tahun kedua sampai tahun ketujuh Hijriyah) hanya lima tahun. Beliau wafat pada
    tahun 632 M atau tahun ke-10 H, tiga tahun setelah perkawinan terakhirnya. Sejarah mencatat beliau berpoligami setelah lewat 54 tahun, usia di mana kemampuan seksual lelaki mulai menurun. Artinya aktivitas poligaminya lebih bersandar pada dakwah dan bukan nafsu. Yang juga menarik, Nabi justru tidak mengijinkan Ali ketika Fatimah putrinya hendak dimadu. Pernyataan keras ini beliau ucapkan saat berpidato di atas mimbar; “Sesungguhnya anak-anak Hisyam bin Mughirah meminta ijin kepadaku untuk menikahkan putrinya dengan Ali. Ketahuilah bahwa aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, aku tidak mengijinkannya, kecuali jika Ali menceraikan putriku dan menikahi anak mereka. Sesungguhnya Fatimah bagian dari diriku. Barangsiapa membahagiakannya berarti ia membahagiakanku. Sebaliknya barangsiapa yang menyakitinya, berarti ia menyakitiku” (Diriwayatkan dari Al-Miswar ibn Makhramah). Hadis tersebut ditemukan dalam berbagai kitab hadis yaitu; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tarmidzi, Musnad Ahmad, dan Sunan Ibnu Majah, dengan redaksi yang persis sama, menandakan keakuratan sumber. Dari prespektif ilmu hadis, itu menunjukkan diriwayatkan secara lafzhi. Pernyataan yang diulang tiga kali menunjukkan betapa hal itu sangat penting dan perlu diperhatikan. 5. Sarana sosial membantu kaum janda dan anak yatim Salah. Yang benar apabila ingin membantu mereka dalam hal harta dan perhatian, bisa dilakukan tanpa harus dengan mengawini sang janda atau ibu para yatim. Justru itu lebih baik, ikhlas, tidak bersuasana membeli tubuh janda, juga tidak menimbulkan fitnah. Santunilah kaum dluafa tanpa pamrih. 6. Sarana memperbanyak generasi Salah. Apabila Allah berkehendak segera memperbanyak keturunan manusia di muka bumi, tentu sudah dilakukannya pada awal-awal saat penciptaan Adam. Allah hanya menciptakan Adam berpasangan dengan Hawa. Allah tidak “mengorbankan” Hawa demi percepatan populasi. Kalau itu yang terjadi, pastilah Allah akan menciptakan Adam dengan Hawa, Maria Eva, Teh Rini, Teh Ninih, Mulan, dan sebagainya. “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya. Dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (An Nisaa’ 1). 7. Populasi perempuan lebih banyak dari lelaki Benar, menurut data populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki. Karena perempuan lebih menjaga kesehatan, tidak boleh menjadi sasaran dalam perang, dan lebih bisa menyiasati kematian. Tapi bukan lantas karena itu, jumlah boleh dijadikan alasan untuk dinikahi. Statistik juga menyatakan sebagian besar kelebihan “kuota” perempuan itu ada pada usia renta, tidak produktif, dan janda korban perang. Artinya apabila ini dijadikan alasan, pelaku poligami hendaklah tidak memilih mereka yang masih berusia muda. 8. Simbol ujian dan ketinggian derajat tetua agama Salah. Dahulu ada citra bahwa semakin banyak istri, semakin diakui tingkatan ilmu dan derajat para pemuka agama. Maka tidak heran banyak ulama dan kiyai yang beristri lebih dari satu. Aa’ Gym, rupanya terarus mitos itu. Dia menyatakan secara tersirat bahwa hendak belajar adil pada tataran yang lebih tinggi. Dia juga menyatakan agar hal ini tidak diikuti karena dibutuhkan tingkat ketakwaan yang lebih. Aa’ juga menyatakan bahwa ia juga baru pemula, dan perlu belajar. Pernyataan ini bersuasana riya’. Yang benar; “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman (laki-laki dan perempuan) di antara kamu dan mereka yang berilmu (laki-laki dan perempuan) beberapa derajat” (Al-Mujadah 11). Untungnya mitos bahwa derajat lelaki berbanding lurus dengan semakin banyak istri itu sudah berkurang pengaruhnya. Pamor Aa’ segera turun ketika berpoligami. 9. Simbol ujian dan tingkat ketaqwaan istri Salah. Perempuan, istri yang akan dimadu, dan calon istri, didoktrin konsep agama yang apabila tidak menerimanya berarti bukan muslimah yang taqwa. Taqwa, kata ini sangat memukau ketika mengalir bersama kalimat; “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu..”. (Al Hujurat 13). Ya betul sih, tapi ayat ini berlaku untuk semua jenis kelamin. Ayat ini tidak hanya untuk perempuan, sehingga ketika menolak dimadu suami, tidak lantas berarti dia bukan istri soleqah atau kurang taqwa. Menerima tawaran dimadu suami juga bukan berarti contoh istri yang lulus ujian ketaqwaan. Yang biasanya beriringan dengan hal itu adalah tatkala para istri koleksian ditanya tentang harapan mereka akan pemenuhan cinta dari suami, para istri tersebut memiliki jawaban standar. Mereka menyatakan bahwa cinta dari Allah lebih penting daripada cinta dari suami. Tepatnya, “Mencintai Allah adalah segalanya. Apabila kita mencintai Allah, insyaallah kita akan dicintai suami”. Begitulah istri yang soleqah. Tolong. 10. Identitas Kaum Muslim Salah. Poligami sudah mentradisi pada beberapa kepercayaan dan agama sebelum Islam datang merombak konsep lama itu. Raja-raja Persia, Babylonia, Mesopotamia, dan Sumeria, para Firaun Mesir dan para kepala suku Afrika, Kaisar China dan Roma, Para kepala suku di Indian Astek, Maya, dan Inca, dan banyak lagi. Para raja Hindu di India dan Idonesia melakukan poligami sebagai hal biasa. Bahkan dalam pernikahan Nasrani, ada kalimat yang selalu disampaikan; “Semua yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia”. Klausul itu jelas tidak mengijinkan perceraian. Namun juga menyiratkan untuk tidak melarang menikahi yang lain lagi. Pada praktiknya justru kaum Nasrani tampak lebih arif untuk tidak memanfaatkan ayat cinta itu. Jadi terserah Anda sekarang untuk mengidentifikasi sebagai siapa dengan cara bagaimana. Selamat merayakan Hari Kartini tanpa Poligami.

    You are a lesbian she-male.

  45. martoart says:

    edwinlives4ever said: You are a lesbian she-male.

    No wayAndrogyny kekeke..

  46. tjapplien says:

    kelewat banyak cak aku baca2 topik beginian yg ujung2nya pada pro kontra..terserah lah teriak apaan..aku pilih jadi orang gebleg aja yg gak ngerti dalil, tentunya masih mengandalkan insting dan prasaan sensitifku buat alasan ketidaksetujuanku tentang poligami atawa menilai mana yg benar dan mana yg salah, haha..soalnya menurutku, hati itu gak bisa bohong, apalagi bikin orang jadi munafik..gitu aja kok repot.. 😛

  47. konefly says:

    Ada perempuan yg mau dimadu tapi ga semua tentunya dan ada perempuan ketiga dan seterusnya yang mau dijadikan istri kedua dan seterusnya……faktor utamanya ya di orang ke tiga dan seterusnya ( wanita lain ) yg mau dimadu…..!!!Kalo saya ga mau berpoligami karena belum ada mau….kalaupun mau dia harus mengikuti catatan kaki yg banyak dari saya dan istri pertama saya…..kalau ngak, satu aja udh lebh dari cukup……hahaha

  48. martoart says:

    tjapplien said: gitu aja kok repot..😛

    Tul Plien, jangan poligami jugankalo gak pengin nambah repot.

  49. martoart says:

    Seeep!!Meski itu berlaku setara. Coba aja ganti kata Perempuan dengan Laki-laki dan kata Istri ganti Suami.

  50. 25102004 says:

    klewang said: disurga kelak, sungai dialiri anggur dan banyak bertaburan bidadari cantik.percayalah wahai orang2 yang beriman, surga didesain bagi para pria..

    duh…nelangsanya wanita,,,

  51. konefly says:

    Kang pertanyaan ku belum dijawab….kalau seperti kasusnya mayang sari gimana….dia mau dimadu,….tulisan ini bukan untuk mayang sari khan…???

  52. martoart says:

    edwinlives4ever said: You are a lesbian she-male.

    Gagak, aku lesbian yg terjebak di tubuh laki-laki. hehehe

  53. martoart says:

    konefly said: pertanyaan ku belum dijawab

    Lho, nanya to? Apa motiv si Mayang mau dimadu? Duit? Laki ganteng? Kuasa? Peduli gak dia dengan istri orang lain (khususnya, peduli gak dia sama harga diri dia sendiri). Tulisan ini buat semua, gak kusus buat dia.

  54. anazkia says:

    Komentarnya, sama seperti di blog Mas Luqman waktu menulis artikel yang hampir sama. “Aku nggak mau dipoligami” Dan mas Luqman bilang, “berarti, Anaz masih normal”😀

  55. martoart says:

    anazkia said: Komentarnya, sama seperti di blog Mas Luqman waktu menulis artikel yang hampir sama. “Aku nggak mau dipoligami” Dan mas Luqman bilang, “berarti, Anaz masih normal”😀

    demikian juga Luqman. kirain dia dah keblinger.. hehehe

  56. intan0812 says:

    numpang baca aja, ga mudeng urusan poligami

  57. Puff…baru pernah denger ada yg bilang poligami haram…ati2 deh kalo bikin statement

  58. jampang says:

    saya condong lebih sependapat dengan poin-poinnya…. masalah penjelasan sampeyan yang bilang itu salah… ya silahkan aja, saya nggak bisa ngasih argumen banyak….cuma yang saya tahu…“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (An Nisaa’ 129). ayat itu bukan penggugur akan rasa adil,dan tidak terbatas pada diri Nabi. karena ada penjelasan para ahli tafsir tentang rasa adil yang dimaksud yaitu, adil yang tidak mungkin dimiliki oleh orang adalah adil dalam rasa

  59. martoart says:

    jampang said: walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (An Nisaa’ 129)

    Kalimat penegas dalam ayat ini sudah cukup tegas bahwa ‘Sangat ingin’ itu bersifat paripurna, maksudnya juga menyangkut keadilan rasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s