Si Bangsat Banksy

Begitu barangkali sebutan yang disematkan para pemegang otoritas di Inggris, khususnya polisi kepadanya. Kepada Banksy. Siapa dia?

Banksy, meskipun tidak banyak informasi yang berhasil saya himpun, tetaplah akan saya putuskan untuk berbagi tentangnya. Sebab sudahlah waktunya dia diakrabi seniman (jalanan) di Tanah Air. Karena susah itulah, saya sebagai penggemar pun merasa perlu menyebutnya begitu; Si Bangsat. Tentu dengan alasan yang berseberangan. Alasan polisi dan para pemegang otoritas adalah dibikin sewot lantaran terusiknya harga diri mereka akibat selalu kecolongan dalam menjaga kota. Sementara sedikitnya data memang juga bagian dari kekhasan Banksy. Itulah alasan berikutnya; Kekaguman kepadanya akan sebuah kerja seni greliya kota. Bahkan saat menulis inipun saya tidak begitu yakin apakah Banksy itu nama seorang seniman, ataukah nama kelompok pekerja seni. Saya hanya akan menyebut sebagai Banksy, entah itu sebagai sosok atau sebuah kelompok. Anda boleh bersepakat dengan saya.

Kucing Hitam

Coretan dinding adalah pemberontakan kucing hitam… Kucing hitam dan penindas, sama-sama resah” (Coretan Dinding – Iwan Fals).

Mulanya diberitahu seorang teman agar membuka sebuah situs dengan alamat; http://www.banksy.co.uk, untuk mengenal Banksy. Website yang kemudian saya selusuri ini didaftarkan oleh Steve Lazarides, seorang fotografer.

Ini adalah situs resmi Banksy. Halaman pertama hanya berupa paraf namanya (yang acap berubah, kadang berupa stensil, spidol, atau pensil crayon hitam); Banksy. Klik, dan dari situ ada pilihan menuju halaman-halaman berikutnya. Anda akan diajak berjalan-jalan menikmati galeri outdoor, disuguh karya seni rupa jalanan seperti graffiti, stencil, instalasi, hingga drama seni greliya kota.

Semua kerja seni Banksy seperti galibnya seni jalanan, adalah produk buru-buru. Sebagai produk ilegal, seni jalanan mengacuhkan sentuhan akhir nan sempurna. Presisi dan akurasi tidaklah penting. Yang utama adalah pesan dan kecepatan. Kecepatan di sini menandang fungsi yang berbeda dari kecepatan pelotot tube Affandi Koesoema dan sapuan Vincent Willem van Gogh. Niatan kedua maestro adalah demi mengejar ekspresi dan emosi, tapi bagi Banksy demi menghindari kejaran petugas yang ekspresinya penuh emosi. Karena itu kertas mal ataupun cat semprot menjadi senjata utama Banksy dan para Bomber (sebutan bagi seniman jalanan penyemprot cat).

Karya Banksy, dengan berbagai teknik dan/atau media apapun yang digunakannya, pantaslah disebut sebagai bentuk karya perlawanan budaya. Topik yang acap diangkatnya berada disekitar semangat anti perang, anti kapitalisme, dan anti kemapanan. Pesannya tak tampak dipaksakan untuk didengar, tidak berteriak. Bahkan saya merasakan suasana humor yang parodik, kadang puitis di sana.

Yang menarik dari cara tutur perlawanannya adalah ungkapan-ungkapan satiris yang dituangkan dalam slogan ataupun tampilan visual. Dan itu lebih menusuk. Memang ada beberapa yang cukup kasar menurut saya, tapi pasti tidak bagi Banksy. Misalnya karya yang menggambarkan Ratu Victoria sebagai seorang lesbian tengah diculiningus perempuan lain. Stensil yang karya aslinya telah dibeli Christina Aguilera itu pernah diterakan Banksy di beberapa ruas jalanan Inggris sebagai protesnya atas penolakan Mendiang Sri Ratu terhadap lesbianisme. Tapi tentu saja gambar itu secepat mungkin dihapus petugas berwenang.

Bahkan kekasarannya yang lain adalah ketika dia menanggapi sebuah pujian. Ralph Taylor, seorang spesialis di balai lelang Sotheby’s, berujar: Dia seniman yang paling cepat menjadi besar dari semua seniman yang pernah ada”. Di websitenya, Banksy malah memuat lukisan yang ditujukan untuk Sotheby’s. Lukisan itu menunjukkan seorang juru lelang tengah beraksi di depan kerumunan penawar, sementara lukisan yang dilelang itu hanyalah sepenggal kalimat yang berbunyi: “I can’t believe you morons actually buy this shit.”

Obyeknya yang sering tampil adalah polisi, tentara, kamera CCTV, anak kecil, para pesohor dunia, iklan korporasi, dan binatang seperti tikus dan monyet. Dari situ saya menangkap karya-karya Banksy, dan segera menyimpulkannya sebagai tanda kota yang sesungguhnya. Tanda keberadaan kota yang tidak sekadar sebuah pencapaian eksitensi manusia modern yang berkutat pada kesuksesan perebutan ambisi, kepemilikan, dan kekuasaan, tapi juga kepincangan, lorong gelap, dinding masif, sampah, tikus, hipokrisi, kontrol, dan ketertindasan. Karya-karya stensil-grafiti Banksy yang bertebaran adalah sebuah unjuk sikap untuk mengingatkan sisi kegagalan modernitas. Penguasa di manapun pasti jengah dengan pameran kegagalan seperti itu. Maka selain provokatif, karya-karyanya dianggap sebagai aksi vandalisme.

Banksy seperti tidak peduli. Ia bahkan menasbih dirinya sebagai seniman teroris grafiti. Cipratan nan kacau, cat yang meleleh, dan presisi sekenanya menjadi sampah di mata penyuka karya seni elit. Selain itu Banksy terbilang sering mengusik selera tinggi para tajir itu dengan pesan olok-olok dalam karyanya. Bahkan acapkali dia menyelinap ke dalam museum seni ataupun gal
eri tingkat dunia untuk sekadar memasang karya parodikal di sebelah karya seniman ternama korban-nya. Tindakan rese-nya itu semakin menumbuhkan banyak musuh, namun banyak juga yang malah menjadikannya sebagai legenda. Sosok super hero kota yang nyata, namun identitasnya tertutup rapat. Ia seolah mengemban amanat untuk terus mengotori kota, dinding kantor, tembok toko, jembatan, jalan, perumahan, dan semua yang baginya layak dijadikan kanvas. Maka yang juga terjadi adalah permainan kucing-kucingan antara Banksy dan polisi.

Kucing Garong

Di kemudian hari teman tadi memberi saya oleh-oleh. Tak lain adalah buku berjudul; “Banksy, Wall and Piece” (The Random House Group Limited, 2005). Sebuah tajuk yang disengaja memarodi judul novel karya Leo Tolstoy, “War and Peace”. Seperti pada umumnya buku seni rupa, buku setebal 240 halaman ini didominasi tampilan visual. Dicetak full color di atas kertas mat 260 gram. Sungguh pantas untuk mengajangi karya seorang maestro. Buku berukuran 21 x 26 sentimeter ini sebagaimana halaman situsnya, diawali dengan halaman bertoreh stensilan namanya. Banksy sebelumnya juga telah menulis dan memublikasi sendiri beberapa bukunya. “Banksy, Wall and Piece” yang diterbitkan mewah oleh Random House sebenarnya adalah semacam kompilasi dari ketiga buku sebelumnya, yaitu; “Banksy, Banging Your Head Against A Brick Wall (2001)”, “Banksy, Existencilism (2002)”, dan “Banksy, Cut it Out (2004)”. Dua buku beriktnya ditulis orang lain yaitu; Banksy Locations and Tours: A Collection of Graffiti Locations and Photographs in London (Martin Bull, 2006 – yang terus diperbarui pada 2007 dan 2008), dan “Banksy’s Bristol: Home Sweet Home (Steve Wright, 2007).

Dari situ menelusuri keberadaan Banksy bukan berarti menjadi lebih mudah. Banksy yang juga dikenal sebagai “Pseudo-anonymous British graffiti artist” itu dipercaya sebagai penduduk asli Yate, Gloucestershire Selatan, dekat Bristol, Inggris. Lahir tahun 1974, dan anak seorang teknisi fotokopi. Seniman yang tidak pernah mengecap pendidikan seni secara formal ini konon memulai aktivitas grafitinya pada usia 14 tahun. Bahkan ada yang percaya Banksy sudah tertarik grafiti pada saat terjadi The great Bristol aerosol boom pada akhir 80an, artinya itu adalah saat dia berusia enam tahun. Meskipun itu bisa saja terjadi, khususnya pada orang sejenius Banksy, namun data dan cerita yang berkelindan seputar dirinya sering dianggap tidak afdol, setidaknya tidak substansial pada biografi dia. Begitupun berita-berita tentang dirinya yang beredar di surat kabar. Menurut laporan Evening Standard edisi 30 Juli 2004, lelaki ini namanya, Robert atau Robin Banks.

Tiga tahun kemudian, tepatnya bulan Mei 2007, sebuah artikel ditulis Lauren Collins dari The New Yorker, membuka kembali kontroversi identitas Banksy The Evening Standard itu. Artikel Lauren ini mengacu dari foto-foto sang seniman yang diambil saat mengerjakan sebuah proyek seni di Jamaika. Bahkan kabar terbaru ada dalam pemberitaan The Mail on Sunday bulan Juli 2008, yang mengklaim telah menemukan sosok Robin Gunningham sebagai pemilik jatidiri Banksy sebenarnya. Agen resmi Banksy menolak untuk mengakui data dan laporan yang ada. Nama asli Banksy bukanlah siapa yang disebut dan diedarluaskan oleh beberapa media tersebut. Sampai Banksy sendiri menyatakan secara langsung dalam situsnya; “Aku tidak bisa memberi komentar siapa atau bukan siapa itu Banksy, tapi kalau ada orang yang dideskripsikan sebagai pintar menggambar, itu malah terdengar tidak seperti Banksy bagiku

Namun bukan berarti Banksy benar-benar menutup diri dari pers. Adalah Guardian Unlimited satu dari sedikit media yang dia terima untuk sesi wawancara. Simon Hattenstone, wartawan dari media tersebut berhasil bertatap muka secara langsung. Hattenstone mendeskripsikan sosok Banksy layaknya seorang rapper muda yang tampil mengenakan celana jean dan T-shirt, bergigi perak, rantai perak, dan sebuah anting perak. Seakan memuja kehebatan Banksy, namun di sisi lain sekaligus seperti hendak mengatakan kredibilitas dia sebagai wartawan investigasi, Hattenstone mengatakan; ”Banksy adalah seniman grafiti yang sangat tersohor di Inggris, namun kerahasiaan identitas diri sangat utama baginya sebab grafiti itu ilegal. Hari kapan ia (Banksy) memublikasikan diri, adalah hari kapan grafiti berakhir“.

Apa yang dikatakan Hattenstone di atas sesungguhnya bukan sesuatu yang berlebihan mengingat di kota beberapa negara, khususnya London, grafiti adalah kriminal. Pada oktober 2007, situs BBC menuturkan bahwa Tower Hamlets council di London sudah memutuskan untuk memperlakukan karya Banksy sebagai vandalisme dan akan menghapusnya. Dan juru bicara Keep Britain Tidy – sebuah lembaga yang menginginkan Inggris nan bersih -, Peter Gibson, menyatakan bahwa karya Banksy itu vandalisme. Diane Shakespeare, petugas dari lambaga yang sama, menegaskan; “Kita kuatir bahwa sebenarnya seni jalanan Bansky hanyalah merayakan essensi vandalisme saja”.

Orang bisa dipenjarakan hanya karena mencoreti dinding kota, tidak – dan semoga tidak pernah akan terjadi – seperti di Jakarta. Andai Banksy itu warga Jakarta, pastilah pernyataan berikut ini tidak akan terlontar dari mulutnya; “Bayangkan ketika grafiti tidak ilegal, sebuah kota di mana setiap orang dapat menggambar apa yang mereka suka, di mana setiap jalan berisi jutaan warna dan frasa-frasa bermakna, dan di mana ketika mengantri bus tidak lagi membosankan. Sebuah kota yang memberi napas bagi semua orang, tidak hanya untuk agen real estat dan orang perusahaan multi nasional. Bayangkan sebuah kota seperti itu”. Kemudian – seperti biasa – tak lupa Banksy menambahkan sedikit humor untuk pernyataannya itu, “Dan berhentilah bersandar di dinding, dindingnya basah“.

Akhirnya saya juga membayangkan Banksy ibarat seekor kucing garong. Kucing liar yang menguasai lorong-lorong kota. Mahluk yang bertahan hidup bersama kepawaian menyelinap dan kecepatan mencengkeram sasaran. Dan kemudian memberi tanda untuk menunjukkan bahwa di sini daerah kekuasaannya. Sebuah sayatan cakar tajam, tanda kota nan satir. Dengan ketangkasan selinapnya, ia berhasil menggantung karyanya di museum-museum Kota New York; The Metropolitan Museum of Art, Museum of Modern Art, American Museum of Natural History, dan Brooklyn Museum, bersamaan dalam sehari.

Selempeng batu bergambar manusia purba tengah berburu sambil mendorong keranjang belanja, dengan tanpa sepengetahuan pihak museum dipasangnya di Galeri 49 British Museum pada petang hari. Gambar yang dibubuhi kredit “Banksymus Maximus” tersebut, sebagaimana halnya koleksi museum pada umumya, diberi sebuah catatan kecil di bawahnya sebagai keterangan karya. Pihak musem baru menyadari adanya tambahan koleksi tersebut setelah Bansky mengumumkan di situsnya. Hebatnya, karya yang berjudul Early Man Goes to Market itu malah dipertahankan oleh pihak museum sebagai koleksi tetapnya. Itu memang yang dimaui Banksy, bukan sekadar aksi-aksian belaka. Begitu yang ia sampaikan dalam sebuah wawancara melalui telepon dengan BBC untuk program Culture Show.

Penyelinapan dan pemasangan karya juga dilakukan di Louvre, Paris. Sebuah gambar plesetan dari karya Leonardo da Vinci, Monalisa. Berupa monalisa dengan wajah Smiley, yaitu Emoticon bulat kuning yang tersenyum sebagai pengganti senyum terkenal Si Monalisa. Hampir semua proses pemasangan karya secara rahasia selalu didokumentasikan dengan video oleh tim Banksy. Tentu tak lain sebagai bukti keaslian, selain untuk memamerkan kepiawaiannya dalam menyelinap. Namun berbeda dengan yang di Galeri 49 British Museum, Monalisa dengan Smiley Face di Louvre ini tak bertahan lama karena segera diturunkan petugas museum.

Si kucing garong itu semakin luas wilayah operasinya. Beberapa kota besar dunia telah dikotori dengan pesan-pesan seni grafiti satirnya. New York, California, Los Angles, Sydney, Melbourne, Paris, bahkan Tembok Tepi Barat Israel tak luput dari coretannya. Di dinding pemisah Palestina – Israel itu Banksy membuat sembilan lukisan. lukisan itu diantaranya menyindir tentang dunia indah dibalik tembok. Pada kesempatan itu Banksy mengatakan; “Bangunan tembok yang sangat katro dan jelek itu, bisa dijadikan galeri kebebasan berbicara dan seni jelek terpanjang di dunia”. Untuk melukis mural di Palestina, Banksy bekerjasama dengan organisasi Stop the Wall. Berdasar tulisan di media oleh Juru bicara yang dipercaya dalam proyek tersebut, mereka terpaksa berdebat seru dan berselisih dengan pasukan keamanan Israel selama prosees melukis mural berlangsung. Bahkan menurut laporan BBC, tentara Israel sempat menembakkan pelurunya ketika ia menggambari dinding di sisi Palestina itu. Tiba-tiba tercetus di pikiran saya, bahwa apabila ada pihak-pihak yang serius ingin mencari tahu siapa Banksy, kenapa tidak menghubungi Mossad saja? Sebab sudahlah tentu Dinas Rahasia Israel itu memiliki data lengkapnya.

Dalam websitenya Banksy menyatakan perasaannya tentang tembok itu; “Apakah salahnya berbuat vandal terhadap tembok, jika tembok itu sendiri sudah vandal lebih dulu?” Memang tidak ada tembok (yang diniatkan) seperti itu, sebagaimana Israel membangunnya. Kelak ia tegak berdiri tiga kali lebih tinggi dari tembok Berlin (di mana bias
a ia dibandingkan), dan akan sepanjang 700 kilometer. Banksy juga mengatakan; “Ini pada dasarnya menjadikan Palestina sebagai penjara terbuka terbesar di dunia. Selain itu juga menjadikannya tujuan utama wisata bagi penulis grafiti”. Dikisahkan ketika ia sedang menyelesaikan salah satu muralnya, ada orang tua menghentikan dia dan berkata;

Kamu melukis tembok, kamu membuatnya terlihat indah”.

Terima kasih”, jawab Banksy.

Orang tua itu meneruskan; “Kami tidak mau itu menjadi indah, kami benci tembok itu. Pulanglah!”.

Kucing Besar

Bagian ini adalah wilayah yang tidak membuat nyaman bagi penyuka Banksy. Banksy yang secara jelas bersikap anti korporasi, melawan kemapanan perusahaan multinasional, dan segala yang berbau kapitalisme termasuk periklanan, menandang tuduhan hipokrasi. Adalah bahwa dia dan kelompoknya telah melakukan kerjasama dengan produsen sepatu dan alat olahraga berlogo kucing besar, Puma. Kalau semua itu terbukti, integritas dan kredibilitas Banksy akan segera terjun bebas. Siapa yang kira-kira mengharapkan citra buruk itu? Kalau didaftar barangkali salah satu (atau kemungkinan persekongkolan) dari kelompok musuhnya berikut ini;

Pertama adalah Polisi, sebagai karakter utama bahan olok-oloknya. Ke dua para Amtenar Kota dan para warga pecinta kebersihan, mereka yang dibikin jengkel akan olah vandalismenya. Ke tiga penyuka karya seni keraton, yang keki lantaran sering diledek sebagai sok tahu dengan selera elitnya. kemudian perusahaan multi-nasional, musuh ideologis akan sikap kirinya yang anti kapitalisme. Berikutnya perusahaan periklanan, corong kapitalisme yang papan iklannya acap dikerjain banksy. Bisa juga keluarga Kerajaan Inggris, yang bagi Banksy adalah sebuah anomali di tengah modernitas, feodalisme di tengah alam demokrasi. Terakhir, meski kemungkinannya kecil, tentara pendudukan Israel, di mana Banksy pernah menggambari tembok pembatasnya di Palestina. Tapi yang paling mendekati sebagai tersangka, adalah perusahaan sepatu Nike. Banksy pernah menolak tawaran dari Nike untuk mengerjakan iklan. Kalau rumor itu benar adanya, pastilah hanya sebuah perang dagang saja mengingat – seperti kita tahu – Puma adalah salah satu pesaing utama Nike. Banksy telah menjawab melalui situs resminya dan menyatakan semua itu tidaklah benar.

Meskipun tidak harus memuaskan beberapa pihak, hal itu tidak lagi menjadi perdebatan penting. Nama Banksy tak terusik oleh itu. Kisah berkesenian dan kontroversi yang mewarnai perjalanannya tak terelak membuatnya bahkan semakin terkenal. Para kolektor memburu karyanya, namun dia tidak menjual foto-foto grafiti jalanannya. Pasti sulit menjual stensil dengan menjebol temboknya yang mungkin itu dinding dari kamar tidur seseorang. Atau memungut bayaran bagi setiap orang yang berfoto di samping karyanya. Sementara pameran-pameran yang digelar lebih bersifat insidental dan cenderung rahasia dalam persiapannya. Lantas bagaimana apabila seseorang berkeinginan mengoleksi karyanya? Sebab penyuka karya-karya Banksy tak sekadar berasal dari kalangan seni rupa saja. Selain Christina Aguilera, para pesohor dunia lainnya seperti Madonna dan Angelina Jolly, konon juga telah membeli karyanya Banksy. Siapa yang harus dihubungi?

Tak lain adalah mereka harus lebih dahulu menghubungi pengelola website resmi Banksy yang disebut di atas; Steve Lazarides. Dialah agen Banksy. Lazarides saat ini bahkan telah memiliki galery di Greek Street, London. Laz Inc. nama galeri miliknya itu, di mana para pesohor dunia ataupun mungkin, Anda hendak membeli karya asli Banksy, Si Bangsat Banksy.

BOX—————————————-

Grafiti Indonesia, Kucing dalam Karung

Banksy bukan yang pertama yang bermain grafiti stencil. Setidaknya ada seorang Blek Le Rat. Blek Le Rat lahir sebagai Xavier Prou di wilayah elit paris tahun 1952. Dia belajar melukis dan arsitektur. Karyanya sangat besar pengaruhnya terhadap grafiti dan gerakan seni greliya hingga saat ini. Banksy pun mengakui akan pengaruh Blek, “Setiap aku pikir telah menggambar sesuatu yang sedikit orisinal, aku mengetahui bahwa Blek Le Rat telah melakukannya juga, duapuluh tahun lebih dulu”.

Seorang pemuja Blek Le Rat menyatakan; “Orang Prancis berusia 56 tahun itu telah menstensil dinding kota di saat Banksy mulai memainkan crayon. Jika Banksy layak disebut sebagai bapak para seniman grafiti yang sadar politik, maka godfathernya adalah Blek Le Rat”. Perbedaan keduanya hanya pada keberadaan.
Blek Le Rat tidak bersembunyi, sedangkan Banksy, masih misteri. Introdusir ini sekadar untuk mengingatkan kepada para seniman grafiti di Indonesia untuk tidak berkecil hati menjadi bukan yang pertama.

Di jalanan kota-kota besar Indonesia, Graffiti Art seperti Mural, Bomb, dan Tagg lebih menjadi pilihan para seniman jalanannya. Bukan Stencil yang biasa disukai Banksy ataupun Blek le Rat. Mural Art lebih tidak buru-buru dalam penyelesaian karya dibanding tiga lainnya. Lebih terkonsep dan mengutamakan nilai estetika. Dikerjakan bersama dalam sebuah team work, karena media (dinding) yang dihadapi umumnya lebih luas. Pasca penghapusan mural oleh pihak Pemda Jakarta pada era Sutiyoso, Karya mural di Jakarta tampak lebih “resmi”. Terlebih saat ini ada beberapa mural pesanan dari perusahaan-perusahaan dalam rangka memenuhi kewajiban menjalankan program CSR, pun bahkan semata-mata iklan. Itu lebih menyesakkan daripada yang saya lihat di beberapa perempatan jalan utama, mural dengan pesan-pesan dari Polisi Lalu-lintas. Selain menandang penghapusan oleh Pemda DKI, terkooptasi kemauan korporasi, dan mengalami penjinakan oleh Polisi, tantangan yang dihadapi para muralis juga datang dari kelompok Islam konservatif. Ini dialami oleh mahasiswa Seni rupa UNJ Rawamangun, Jakarta (Propagraphic?). Karya mural mereka yang terpampang di dinding tepi Jalan Pemuda dilabur dengan coretan lain yang bernada marah dan hinaan, karena dianggap menyuarakan semangat pluralisme, sekulerisme, dan liberalisme.

Sementara bagi para bomber, karya yang dicoretkan tidak harus begitu ketat terhadap tema seperti halnya kaidah yang dianut kaum muralis. Tetapi mereka tetap mengacu kepada estetika bentuk dan warna. Seringkali mereka sekadar menuliskan nama kelompok dengan jenis huruf yang khas, yang mereka temukan secara spontan. Kadang terlihat sebagai tampilan huruf yang pata-patah, zig-zag, kesan tribal, atau melembung seperti balon permen karet. Karakter font yang berbeda dari masing-masing pengebom akhirnya menjadi bagian identitas kelompok. Rangkaian huruf-huruf itu kadang sulit terbaca, dan sepertinya hanya diperuntukkan bagi sesama anggota. Namun seberapapun beda, huruf-huruf ciptaan bomber tersebut tampak benar terlihat semua sebagai sebuah karya berdasar kecepatan. Belakangan jenis huruf ciptaan bomber ini menjadi salah satu pilihan karakter huruf yang tersedia di dalam jajaran fontasi komputer.

Bomber mengklaim lebih baik dari saudara dekatnya, kaum Tagger, sebab sasaran utama Bomber adalah tembok yang tidak terawat, dibiarkan kumuh, warna catnya sudah memudar, banyak ditumbuhi lumut hingga rusak, dan banyak tempelan poster iklan. Bagi mereka Tagger, yang hanya meninggalkan coretan (tagging) memperburuk citra grafiti di masyarakat. Tagging tak lebih hanya untuk menunjukkan keberadaan diri dan atau kelompok saja. Di Jakarta aksi tagging dilakukan oleh kelompok seperti Boedoet, K-Pal, Bonser, XTM, dan sebuah kelompok yang acap menoreh simbol Bintang Daud dengan kode angka tertentu. Di Yogyakarta Anda akan menemukan coretan bertulis JXZ (akronim dari Joxin, singkatan pleset dari Joko Sinting), QZR singkatan pleset dari Kisruh, TRB singkatan dari Trah Budeg. Ataupun terkadang gabungan huruf dan angka yang membentuk frasa seperti AN3NK (terbaca Anti Gang, singkatan dari Anak Teuku Umar Timur Bergang). Tentunya akan banyak ditemui hal semacam ini di berbagai kota besar di Indonesia.

Terlepas dari coretan para tagger yang tidak artistik, karena memang tidak diniatkan untuk itu, Banksy pasti lebih menyukai Tagger karena kelakuan mereka ada kemiripan dengan keusilannya dalam mengganggu kenyamanan kaum elitis kota. Namun bagaimanapun disisi lain Banksy tetap menghormati hak milik perorangan, bahkan dia pernah menyatakan bahwa harus membikin bagus, karena tembok itu properti orang. Artinya dalam hal ini Banksy lebih bersepakat dengan kaum Bomber yang tidak asal coret. Sementara bagi saya, karya Banksy lebih bermakna dan bernas. Bukan sekadar toreh gambar di jalanan sebagaimana yang dilakukan para Bomber, apalagi sekadar tera nama seperti tabiat para Tagger. Entah apa maunya, bagi saya keduanya ibarat menawari kucing dalam karung.

About these ads
This entry was posted in Seni. Bookmark the permalink.

63 Responses to Si Bangsat Banksy

  1. martoart says:

    Tulisan ini untuk turut meramaikan “Bulan Street Art” yang seolah dirayakan oleh Salihara dan Ruang Rupa. Alasan termanis yang saya bikin karena tak diterima di media masa.Karya Banksy saya unduh tanpa ijin darinya, karena susah banget nyari dia siapa dan di mana :). Toh ini tak untuk niat komersil. Jadi sepertinya tak apa. Kalau dia berkeberatan, akan saya akan buang dari tulisan ini. Sembari mencemoohnya sebagai sesama pejalan copyleft, yang juga dinyatakan dalam bukunya: Copyright is for losers!Disulam dari beberapa sumber, di antaranya dari situs Banksy dan buku yg saya punya.Bagi yg ingin nikmati gambarnya aja, bisa klik http://harxnext.multiply.com/photos/album/3/BANKSY_ART_WORK (kalo ke situsnya Banksy langsung, akan ngeklik satu-satu)

  2. nitafebri says:

    saya gak paham siapa dia.. yang jelas saya mau tanya kenapa nulis ketarangan bukan di bagian bawah posting??kan saya jadi gak bisa PERTAMAX :(

  3. ohtrie says:

    M’4ih pencerahane mBah..!

  4. arddhe says:

    antihero begini emg selalu disukai banyak orang…makasih info sangat lengkapnya om!!

  5. martoart says:

    nitafebri said: saya gak paham siapa dia..

    Makanya aku tulis buat dibaca.

  6. nitafebri says:

    udah cak..klo baca grafiti kenapa konotasinya selalu negatif, apa karena medianya yg pake tembok. Tuuh buktinya di jakarta banyak grafiti di tertibkan dg di cet kembali tembok yg ada coret2annya..

  7. rirhikyu says:

    karya yg hebatgraffity yg keren

  8. gambar favorit saya yg “queen elizabeth” tapi tadi sempet mikir itu lagi smack down trnyata diculiningus tho hahahahah….keren euy :Dklo kita di indonesia punya BANKSY jg yg namanya WORMO itu ya, tp dia g misterius & selalu ngasih identitas dikaryanya….kurang cihuy jadinya :D

  9. luqmanhakim says:

    Nice inpoh, Gan… Grafiti marak di Indonesia paska kerusuhan Mei 98, kalo dulu ada lebih banyak tagger ketimbang seniman grafiti. Nulisin tembok-tembok kota nama gang, nama sekolahnya aja tanpa artistik. (Tolong koreksi kalo salah). Ngelukis dinding emang punya tingkat kesulitannya tersendiri Gan, ane udah nyoba dan emang sulit. Salut buat Bansky atas inspirasinya. Salut atas tulisan ini atas gugahan semangatnya…

  10. anazkia says:

    Panjang, Mas. Bacanya harus perlahan2. Makasih ilmunya :) Saya betul2 baru tahu, asal muasal graviti dan keunikan2nnya.

  11. thebimz says:

    ta’ bookmark sik.. panjang euy..

  12. rasikiniin says:

    martoart said: Orang bisa dipenjarakan hanya karena mencoreti dinding kota, tidak – dan semoga tidak pernah akan terjadi – seperti di Jakarta. Andai Banksy itu warga Jakarta,

    Menarik sekali membaca tulisan Mas Marto tentang Banksy si Misterius, menyeret saya untuk terlibat dalam kemisteriusannya. Salut….. Tapi kenapa ya kok ada kalimat yang tendensius seperti kutipan di atas? Bisa gak ya sepotong kalimat itu di “penggal”….bukankah seburuk apapun realita republik ini, sebaiknya kita hindari hal-hal yang mempertontonkan ‘kekurangan’ “kita”, apalagi jika kalimat itu tidak menambah bobot tulisan dan kalau pun di “penggal” tidak akan mengurangi bobot tulisan…waduh saya nasionalis banget ya…he….he….he….

  13. t4mp4h says:

    foto nyolong dari Mas Wicak….. anjrit terpesona tenan Kemaren aku misuh-misuh karena liat gardu listrik lawas di orek-orek cantik, tapi themanya promosi rokok. Jadi ra nyeni babar blasssss

  14. t4mp4h says:

    martoart said: Di Yogyakarta Anda akan menemukan coretan bertulis JXZ (akronim dari Joxin, singkatan pleset dari Joko Sinting)

    sekarang yang marak REM dan GNB, embuh kuwi opo maksude, tapi blas ora nyeni.

  15. martoart says:

    rasikiniin said: waduh saya nasionalis banget ya…he….he….he….

    Ha ha ha… terimakasih pengakuan Anda, juga terima kasih pujiannya.Begini – rasanya Anda juga pasti tahu -, secara tata bahasa banyak cara menulis. Salah satunya adalah dengan memberi sisipan kalimat seperti yang saya pakai di tulisan di atas (juga seperti yang ada dalam jawaban komentar ini).Ke dua – saya yakin Anda juga tahu -, banyak pilihan gaya menulis. Memberi sisipan kalimat adalah salah satunya.Dan tendensiusitas memang saya perlukan. Saya menulis opini, bukan menulis kitab suci atau hukum. Tendensi negatif yang saya pilih lebih saya sukai daripada saya menutup rapat kekurangan di realita republik ini, Tak peduli itu akan menambah atai mengurangi bobot tulisan saya. Kalau ada tulisan yang taat dan teramat baik hati, itu bukan MartoArt.Oh ya, saya amat menunggu pendapat Anda tentang Nasionalisme di edisi berikutnya (saya akan menulis panjang tentang Nasionalisme).

  16. luqmanhakim says:

    martoart said: Kalau ada tulisan yang taat dan teramat baik hati, itu bukan MartoArt.

    Martoart = Gemblungisme

  17. sepunten says:

    diampuuut…. ini yg aku tunggu dari sampean cak!tulisan ini sangat sangat layak dimuat dimedia (umum maupun art magz)momentnya juga pas, ketika Salihara sedang memberi jalan seniman grafiti.Di Jakarta aku sudah jarang ngeliat grafiti yg manteb (seperti era 2002an ketika pertama kali Jakarta dibanjiri mural sama anak2 IKJ) Yang aku salut di Jogja, Pemda-nya sampai menganggarkan dana 50juta per tahun (buat beli cat) bagi siapa yg mau membikin mural, menghiasi kota…Kalau mural, grafiti ditangan perupa yg talented memang bisa menyegarkan & mencerdaskan estetika visual kota, masalahnya aku pernah liat mural (di jakarta) yg seperti dibikin orang ga jelas, yg sedang melaksanakan tugas bayaran, memvisualisasikan pesan setingkat kelurahan dengan taste yg ala kadarnya… yg ini malah merusak pemandangan kota…Salah satu kota yg ketat terhadap Grafiti & propaganda iklan, adalah Beijing. saya ga pernah liat grafiti di sekeliling kota selain di distrik seni 798, pun iklan Billboard yg kalau dijakarta masangnya sudah lumayan mengganggu estetika kota. disana kecuali di mall & di halte ga ada tuh billboard iklan di prapatan atau di dinggir jalan…Grafiti disana pun sepertinya dilokalisir rapi, hanya di wilayah seni saja boleh ditorehkan & aku sempet motret grafiti ala Banksy yg kecina-cinaan heee… http://sepunten.multiply.com/photos/album/46/798_Art_District_-_China#photo=33

  18. martoart says:

    sepunten said: diampuuut….

    Dan ini yang aku tunggu dari sampeyan. Ekspresif! etanane metu.Emang gak ahu kenapa, pada gak mau muat nih tulisan, hernan aku.

  19. rasikiniin says:

    martoart said: Kalau ada tulisan yang taat dan teramat baik hati, itu bukan MartoArt.

    Terima kasih Mas marto telah memberi ruang terbuka pada saya untuk berdiskusi tentang Nasionalisme……Penggalan kalimat di atas membuat saya salut pada Jati diri Mas Marto yang kokoh….Kalau bahasa ‘muda’nya gini kali ya ” Inilah Gue “….Salut…salut…..

  20. widaperret says:

    Misterius sampe skrang si banksy ini

  21. martoart says:

    widaperret said: Misterius sampe skrang si banksy ini

    kemaren gak lu ajak cek in ya? (Teplaaaaxxx!)

  22. bbbnshoes says:

    ou ou…makanan bergizi tinggi…tengkyu pakde

  23. martoart says:

    bbbnshoes said: ou ou…makanan bergizi tinggi…tengkyu pakde

    mo dibikin Quicknote kepanjangan. he he he

  24. seblat says:

    walah..tulisan dinggo salihara to..wis ra menarik meneh… takkiro dinggo salahore….

  25. martoart says:

    seblat said: walah..tulisan dinggo salihara to..

    Ngaco! diwoco sik.. lagi komen.

  26. agamfat says:

    Paper saudara Marto saya kasih A. Saudara Marto telah berhasil memberikan inspirasi bahwa setiap orang, apakah dia seniman profesi, seniman parttime, pekerja kantoran, atau siapapun, harus menyampaikan pesan profetis yang jelas. Seniman menyampaikan pesan lewat karya senirupanya. Wartawan lewat tulisannya. Orang kantoran lewat kerja yang benar, mencegah korupsi dengan kerjanya, produktif untuk kemajuan negara. Soal bomber dan tagger, saya kira mereka tak membawa pesan apapun, selain soal eksistensi diri

  27. martoart says:

    agamfat said: Paper saudara Marto saya kasih A

    Komen bapak saya kasih A++ Makasih prop.. :)

  28. agamfat says:

    Kang, dinilai dong secara jujur mural dari Cicak, soal Cicak vs Buaya, yg dikerjakan anak2 Ruang Rupa dan UNJ Serrum

  29. sepunten says:

    Mural Cicak buaya… cuma satu jeleknya…yaitu GAK BERLAJUT!!!(mana seri berikutnya?)

  30. martoart says:

    Pesan gak kuat n normatif, visual standar. Sorry ya Ardi.. he he… Jauh dari keren! Mereka bisa bikin yg jauh lebih bagus sebenarnya.

  31. agamfat says:

    Hehehe jujur sekali nih kang Marto.Kalau menurut ane, visualnya memang sederhana, hanya merah puti (dan hitam untuk garis), dengan pesan memang soal selamatkan KPK dan korupsi secara umum. hanya bisa dipahami kalau melihat konteks cicak vs buaya saat itu.Her, soal berlanjut, sudah kehilangan stamina

  32. bimosaurus says:

    martoart said: dari saudara dekatnya, kaum Tagger,

    hihihi, ini juga yang banyak di facebook, ngetag gambar wudel, diarahkan ke facebook e kyaipeace Cak.. aku ndak bisa ngomong banyak dengan info hebat seperti ini, TFS

  33. martoart says:

    agamfat said: visualnya memang sederhana, hanya merah puti (dan hitam untuk garis)

    Justru tiga warna itu adalah pilihan warna perlawanan yang kuat. Lihatlah icon yang “Galak”, acap pake tiga warna itu. wajah CHE, logo PDI Perjuangan (meski “perju”-nya udah abis nylepret kemana tahu), warna Anarchy, bahkan swastika, juga huruf KPK.Cuma kurang ngaceng dalam maininnya aja.

  34. martoart says:

    bimosaurus said: banyak di facebook, ngetag

    Wakakakak OOT Berdasi!

  35. bimosaurus says:

    martoart said: Wakakakak OOT Berdasi!

    sekali kali ora ming kang T*i wae sing OOT…, maaf ra duwe dasi..

  36. seblat says:

    {{Tulisan ini untuk turut meramaikan “Bulan Street Art” yang seolah dirayakan oleh Salihara dan Ruang Rupa. Alasan termanis yang saya bikin karena tak diterima di media masa…}}kesusu moco iki aku.. soale begitu moco salihara langsung eneg… hahahahaha

  37. ohtrie says:

    martoart said: Tendensi negatif yang saya pilih lebih saya sukai daripada saya menutup rapat kekurangan di realita republik ini, Tak peduli itu akan menambah atai mengurangi bobot tulisan saya.

    ahaaa, I like this… Thats Why aku serius waktu moment Kang Tambir posting candaan di rumahnya ttg pesawat jatuh itu mBah…. Kok waktu itu sampean lain banget n tak seperti jadi diri mBah Marto… entah, mungkin emang cara sampean ngebuka wacana lain lagi (mungkin). Btw, Its enough n case-closed….n the last, Nice posting for this artickle, thanks…

  38. ohtrie says:

    bimosaurus said: kang T*i wae sing OOT

    eh eh eh… apa apaan ini Lik Bimooo…. Yang jelas kalo ngomong, ntar kenba pasal pencemaran nama yang statusnya sudah terdaftar tapi belum diakui lho…!!

  39. bimosaurus says:

    ohtrie said: eh eh eh… apa apaan ini Lik Bimooo…. Yang jelas kalo ngomong, ntar kenba pasal pencemaran nama yang statusnya sudah terdaftar tapi belum diakui lho…!!

    kabur

  40. jatiagung says:

    terima kasih sekali sudah mengenalkan si bangsat banksy..nais inpo

  41. nitafebri says:

    martoart said: Justru tiga warna itu adalah pilihan warna perlawanan yang kuat. Lihatlah icon yang “Galak”, acap pake tiga warna itu. wajah CHE, logo PDI Perjuangan (meski “perju”-nya udah abis nylepret kemana tahu), warna Anarchy, bahkan swastika, juga huruf KPK.

    Pantesaaaan HS cak Marto juga cuma make 3 Warna..(merah, putih, hitam) n betaaah amat dg HS yang ini apa biar terkesan gualak juga yaa Cak.. tp tar cewe -cewe apalagi ABG malah takut looh cak

  42. imagina1 says:

    waa tulisan bagus, saya baru tahu tentang seniman grafitti yg ini, makasih mas.kalo di jakarta ada yang beginian, seru juga ya :D …seru banget!

  43. martoart says:

    seblat said: kesusu moco iki aku.. soale begitu moco salihara langsung eneg..

    Ingat diskusi kecil kita di rumah Blat. Eneg boleh, asal gak maen gebyah uyah (pukul rata). Salihara bisa dibaca Salib Haram oleh FPI, juga terbaca Salah Arah oleh Anarchy.Aku tak ingin salah baca aja. he he..

  44. martoart says:

    nitafebri said: apa biar terkesan gualak juga yaa

    Walah nit… HS ini aku pilih penuh perenungan je. Juga akibat komplain dari temans yang melihat HS sebelumnya tampak lebih galak. http://martoart.multiply.com/photos/album/9/Ilustrasi_Blog#photo=41Tapi boleh juga tuh pengamatanmu. he he

  45. inyong says:

    kenyamanan apa yang di peroleh dari Bansky?

  46. martoart says:

    inyong said: kenyamanan apa yang di peroleh dari Bansky?

    pertanyaanmu amat filosofis! gile….ntar, aku mo istiqaroh dulu buat jawab

  47. karonkeren says:

    hahahahaha taeeeeesebagai mantan tagger di era 90an gua juga mengamini hal yang sama … bahwa tagging nama geng di tembok kota adalah sebuah bentuk penandaan eksistensi dan kekuasaan versus geng laenera 90an … selain perang tagging antara boedoet vs israel ataupun vs camp java … aslinya juga perang beneran … tawuran hahahahatapi asli banksy itu favorit gua … dia teroris sejati … dan mustinya jakarta juga harus punya orang kayak dia … hahahaha

  48. martoart says:

    karonkeren said: dan mustinya jakarta juga harus punya orang kayak dia …

    sumpe! gw ga akan ngaku!

  49. dollantefran says:

    gw suka karya-karyanya… entah memang satu orang atau ada sekelompok orang dengan gaya desain yang sama…setidaknya mereka sudah berbuat sesuatu untuk perubahan yess…thanks buat link-linknya.. sampe dapet ebook nya nih.. salah satu gambarnya bahkan gw jadiin wallpaper kompi…:p

  50. martoart says:

    dollantefran said: salah satu gambarnya bahkan gw jadiin wallpaper kompi…

    yg lempar bunga? aku pernah pake itu

  51. chanina says:

    membaca post munih, aku malah jadi inget grafiti favoritku; reverse grafiti http://www.youtube.com/watch?v=5lX-2sP0JFw&feature=related

  52. cenilhippie says:

    salah satu seniman grafiti favoritku….pesannya slalu kena…ga pake tedeng aling2…..:)

  53. ichamary says:

    Keren si Bansky, menyampaikan pesan moral dengan berseni bebas. banyak kepuasan bathin yg diperoleh doi

  54. harblue says:

    selalu ada yag baru setiap baca tulisan mas Marto. mantaff lah..hehebtw, saya baru tahu kalau lukisan di anak kecil yang bergantung di tembok tepi barat palestina itu ternyata dibuat banksy. saya ada buku yang jdulnya Jalan-jalan di palestina. cover depannya gambar itu, saya suka gambarnya dan saya kira gambar orang lokal sana, hehehe..

  55. afemaleguest says:

    WOW!mengingat aku bukan orang seni, bukan pula pengamat seni rupa, the writing about this guy opened my mind bahwa ada orang yang menggarap graffiti (atau dianggap vandalism bagi pihak lain) sebegitu serius … duh baru kali ini denger nama Bansky(selalu ada pepatah ‘better late than never’ lol)

  56. martoart says:

    afemaleguest said: duh baru kali ini denger nama Bansky

    Tenang, banyak kok. Bukan dosa, dan tak dihukum. Terlebih sampeyan sangat dimaafkan mengingat bukan pemerhati senirupa.

  57. afemaleguest says:

    martoart said: Terlebih sampeyan sangat dimaafkan mengingat bukan pemerhati senirupa.

    ^_^

  58. harxnext says:

    wuuiih….. lama ga OL, apa lagi buka MP selain sibuk ngurus “sandang Pangan” juga inet kantor yg lemot nya ga ketulungan… makasih banget kang Marto.. rekuwes saya bikin artikel tentang Banksy keturutan juga.tapi kali ini tulisan Kang Marto ko kayaknya jadi serius banget ya… mungkin jakarta masih ada peluang buat “ikut2an jejak nya Banksy biar tembok2 jakarta nggak cuma berisi coretan gambar bintang david…ada yang tau ga apa artinya….?

  59. rawins says:

    sepakat mbah…yang pasti muralis tidak pernah menulis buser sebagai grafitinyabutuh uang segera..

  60. martoart says:

    harxnext said: ikut2an jejak nya Banksy biar tembok2 jakarta nggak cuma berisi coretan gambar bintang david..

    Kalo misal ntar Si Banksy nggambar Bintang David boleh Har?

  61. martoart says:

    rawins said: muralis

    Nah, kabar Bram, Apotik komik, dkk itu pada di mana sekarang ya? Konon Bram punya akun MP loh..

  62. wayanlessy says:

    Baru baca saja, belum baca dgn seksama.Ada ya orang yg berpendapat membuat tembok indah tapi orang yg memandang gambaran itu indah tak ingin tembok itu indah…:( jd dia ingin tembok memang jd penyiksa.Oh ya, Aku tertarik tahu lebih banyak ttg Bansky yg menghormati milik perorangan dlm mewujudkan karyanya itu, cak.Tulisan panjang dan bernas..harus duduk anteng bacanya. :) Flagged!

  63. Pingback: Si Bangsat Banksy |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s